Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18 Rico bertanya
"Biar aku yang belikan dia, Sis," cetus Bimo tiba-tiba, langsung masuk ke mode kakak senior yang baik hati.
"Katamu tadi lagi menghemat?" Siska menatap Bimo heran, tidak setuju dengan perubahan sikap rekannya yang mendadak itu.
"Ya, tapi aku lagi ingin beliin dia," balas Bimo defensif. Sebagai sesama laki-laki di dalam ruangan ini, ego dan rasa simpati Bimo terketuk. Dia tidak tega membiarkan anak SMA yang harus kerja sambilan justru mentraktir dirinya yang sudah berpenghasilan tetap.
"Terima kasih Bang, tapi aku akan mentraktir semua senior hari ini. Anggap saja sebagai perayaan aku magang disini," ujar Kenzo yang akhir diiyakan yang lain.
"Tapi kita gak malak ya, Ken. Kamu sendiri yang mau traktir kita," ujar Bimo tegasin dulu.
"Iya, kalau manajer Fela tanya, kamu harus bisa tanggung jawab." Siska kasih peringatan.
"Siap. Aku keluar dulu." Kenzo bangun dari tempat duduknya.
"Enggak beli online saja, Ken?" tanya Siska cemas.
"Enggak. Biar aku keluar aja. Enggak jauh kan tempat chicken kranz-nya." Rupanya Kenzo tahu betul letak jalanan area sini. "Aku keluar dulu ya," pamit Kenzo.
"Ya!" sahut mereka hampir barengan.
Setelah Kenzo keluar, Rico muncul di ruangan. "Fela ada di ruangannya?" tanya Rico.
"Ada, Direktur." Mirin menyahut.
"Terima kasih." Setelah itu Rico berjalan mendekat ke pintu ruangan kubus Fela. Tok, tok. Dia mengetuk pelan.
Mendengar ketukan di pintunya, Fela mendongak dari tumpukan berkas revisi yang sedang ia periksa dengan kening berkerut.
"Masuk!" Fela mempersilakan.
Pintu kubus itu terbuka, memperlihatkan Rico yang melangkah masuk dengan pembawaan tenang namun sorot matanya menyimpan rasa peduli yang jelas sebagai atasan sekaligus rekan kerja.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Rico.
Fela menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pelipisnya perlahan untuk meredakan pening yang mampir sejak rapat dengan Dion selesai.
"Belum. Aku lelah untuk sekedar makan siang."
Rico tidak langsung menjawab, ia hanya menatap manajernya itu dengan maklum, tahu betul bahwa perdebatan dengan Direktur Pemasaran yang baru tadi telah menguras seluruh energi Fela.
"Direktur yang baru memang terlihat sedikit ...angkuh." Rico menyimpulkan. Fela menghela napas. Dia tidak yakin dulunya, tapi ia yakin kalau sekarang pria itu memang sangat angkuh. "Dia terlihat sangat ingin menyerang mu, Fela."
Fela mencoba tersenyum tipis untuk menutupi gemuruh di dadanya yang mulai sesak. "Aku punya vibe pejuang mungkin," ujar Fela dengan candaan.
Namun, Rico bukanlah orang baru yang mudah dikelabui oleh candaan hambar seperti itu. Sorot matanya justru semakin menajam.
"Apa kalian pernah bertemu sebelumnya dengan pria itu?" tanya Rico mengejutkan.
Gerakan tangan Fela yang hendak merapikan pulpen di atas meja mendadak terhenti. Ia mendongak, menatap atasannya dengan dahi berkerut.
"Apa maksudmu?"
"Dia mungkin memang orang asing angkuh, tapi kalau ingin menyerang ... aku pikir dia harusnya menyerang aku yang posisinya sama dengannya. Tapi yang aku lihat, dia sengaja menyerang mu." Rico mengatakan dengan tepat.
Fela diam.
Suasana di dalam ruang kubus itu mendadak menjadi sangat sunyi. Keheningan yang tercipta justru mengonfirmasi kecurigaan Rico bahwa ada sesuatu yang personal di antara manajernya dan klien baru mereka.
"Makanya aku tanya apa sebelumnya kalian pernah bertemu?" Ulang Rico. Dia merasa ini benar-benar sedikit menganggu.
Fela memejamkan matanya sejenak. Berbohong pada Rico hanya akan membuat situasi kerja mereka ke depan semakin rumit, apalagi Dion jelas-jelas berniat mempersulit proyek ini.
"Ya. Kita pernah bertemu sebelumnya," jawab Fela.
"Jadi kalian kenal?" selidik Rico bukan bermaksud menyelidiki untuk kepentingan pribadi.
Fela paham perdebatan dirinya dengan direktur pemasaran di awal pertemuan terasa janggal. Karena itu Rico bisa menyimpulkan apa yang ia katakan barusan.
Fela menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menyuarakan kenyataan pahit yang selama ini ia kubur rapat-rapat.
"Dia mantan kekasih ku." Menilik hubungan dia dan Rico begitu dekat, akhirnya Fela mengatakan yang sebenarnya.
"Mantan kekasih?" Rico terkejut.
Kedua mata Rico melebar. Tubuhnya yang bersandar kini refleks menegak di kursi. Informasi ini benar-benar di luar dugaannya.
"Ya. Aku tidak tahu kenapa dia bisa menyerangku. Padahal dia yang buat masalah. Aku memutuskan untuk tidak jadi menikah karena dia seli ..."
Suara Fela mulai bergetar, dan ada jeda yang menyakitkan di akhir kalimatnya saat ingatan buruk itu mendadak berputar kembali di kepalanya.
“Cukup Fela,“ potong Rico cepat. Dia paham apa yang akan dikatakan Fela selanjutnya.
Rico langsung mengangkat tangannya, menghentikan kalimat Fela sebelum Manajer Kreatifnya itu semakin terluka karena harus mengingat kembali pengkhianatan masa lalu yang merusak rencana pernikahannya.
"Maaf, aku bukan ingin menginterogasi mu." Rico merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu gelisah," ujar Fela paham.
"Kamu benar tidak apa-apa?" tanya Rico cemas sebagai sahabatnya.
"Lumayan bikin pusing tapi aku masih kuat. Tenang saja."
"Hmmm ... kalau soal dia yang tahu Kenzo anak magang? Secara fisik dia mirip dengan orang dewasa, tapi kenapa bisa tahu?" Rico yakin Fela punya penjelasan soal itu.
"Itu ..." Lagi-lagi Fela menceritakan hal yang terjadi sebelum perkenalan dengan tim kreatif. Fela pun menjabarkan secara singkat tentang interaksi tidak sengaja antara Kenzo dan Dion di lobi pagi tadi, yang membuat Dion langsung bisa menebak status Kenzo di kantor ini.
Rico menghela napas. Terlalu banyak hal yang ia tahu sekarang. "Lebih baik Kenzo tidak perlu ikut rapat penentuan iklan besok."
Fela mengernyitkan dahi, merasa keputusan Rico ini terlalu ekstrem untuk anak baru. "Apa tidak apa-apa? Bukannya dia anak titipan?"
Mendengar kekhawatiran Fela yang salah fokus, ketegangan di wajah Rico tergelak. "Kamu terpaku pada kata titipan, ya?"
Mata Fela memutar malas. Kalau bisa dia tidak ingin peduli. "Secara ... anak titipan itu kan istimewa. Ordal gitu."
Rico menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sinisme Fela terhadap istilah 'orang dalam. "Tidak seistimewa itu. Lagipula dia hanya anak yang baru lulus SMA."
Fela menyipitkan mata, menangkap nada bicara Rico yang seolah menyembunyikan informasi lebih dalam tentang latar belakang anak magang baru mereka. "Benarkah? Sepertinya kamu tahu betul siapa Kenzo?"
"Aku tahu pun tidak banyak perubahan. Aku tetap bekerja sebaik-baiknya demi aku dan tempat ini." Rico tersenyum bijak. "Sudah. Semangat ya. Meski tahu jadi kamu berat, tapi perusahaan adalah nomor satu."
Mendengar kalimat luhur yang super formal khas petinggi kantor dari mulut atasannya itu, Fela tidak bisa menahan diri untuk tidak mencibir demi mencairkan sisa sesak di dadanya.
"Huh, dasar budak korporat," maki Fela lucu. Rico keluar. Pintu ruangan kubus itu kembali tertutup rapat seiring langkah kaki Rico yang menjauh, meninggalkan Fela yang kini mulai menata kembali fokusnya untuk menghadapi hari esok.
...----------------...