NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

Bab 13: Cinta untuk Nona Muda

---

Pagi itu, Lucy terbangun dengan perasaan segar. Tidurnya nyenyak—mungkin karena semalam dia makan terlalu banyak dan tubuhnya memproses semua makanan itu dengan bantuan metabolisme ilahi yang dia modifikasi. Dia meregangkan tubuhnya di atas kasur, mendengar bunyi krek yang memuaskan dari tulang punggungnya.

Hari ini jadwalnya berbeda. Tidak ada pelajaran di kelas—seluruh jam pelajaran digantikan dengan olahraga. Materinya basket.

"Basket," gumam Lucy sambil menyisir rambutnya di depan cermin. "Olahraga yang sama dengan yang dimainkan Kaito."

Lili, yang sedang menjilati bulunya di atas bantal, mendongak. "Kau punya rencana?"

"Selalu." Lucy mengikat rambutnya menjadi ekor kuda tinggi. Tidak ada kepang. Tidak ada kacamata. Dia memakai softlens hitam seperti biasa, tapi tanpa kacamata tebal, wajahnya terlihat jauh lebih terbuka—lebih cerah, lebih segar.

Dia menatap bayangannya di cermin. Pipinya sedikit lebih tembem dari sebelumnya. Efek samping kebanyakan makan tengah malam, pikirnya. Tapi anehnya, justru itu yang membuatnya terlihat lebih imut. Pipi yang sedikit bulat, kulit yang putih bersih, mata besar dengan bulu mata lentik. Dia tidak lagi terlihat seperti kutu buku yang kurus kering. Dia terlihat seperti... gadis normal yang menggemaskan.

"Kau terlihat berbeda," komentar Lili.

"Aku tahu." Lucy mencubit pipinya sendiri. "Tembem."

"Itu karena kau makan terlalu banyak."

"Aku tidak bisa menahan diri. Makanan manusia terlalu enak."

Dia meraih tas olahraganya—kaos putih dan celana pendek olahraga yang sudah disiapkan dari semalam—lalu berangkat ke sekolah.

---

Gedung olahraga SMA Seiran sudah penuh ketika Lucy tiba. Seluruh kelas 2-C berkumpul di lapangan basket indoor, beberapa sudah berganti pakaian olahraga, beberapa masih bermalas-malasan di tribune. Guru olahraga—Pak Tanaka, pria berotot dengan peluit di leher—berdiri di tengah lapangan dengan papan klipboard di tangan.

"Baik, hari ini kita akan belajar basket!" suaranya menggema.

"AAAAHHH MASA BASKET SIH?!" protes seorang gadis dari barisan belakang.

"Aku nggak bisa basket, Pak! Bola selalu mental!"

"Pak, ganti voli aja!"

Pak Tanaka mengabaikan semua protes. "Minggu depan adalah pengambilan nilai. Setiap siswa wajib memasukkan minimal satu bola ke ring untuk lulus. Tidak ada tawar-menawar."

Erangan kolektif terdengar dari kelompok perempuan. Sebaliknya, kelompok laki-laki bersorak gembira.

"YES! BASKET!"

"Akhirnya olahraga beneran!"

Lucy berdiri di pinggir, mengamati. Dia bisa melihat Kaito di seberang lapangan, dikelilingi anggota Five Shadows seperti biasa. Dia memakai jersey basket tanpa lengan—karena dia kapten tim, dia diizinkan memakai seragam timnya sendiri. Otot-otot lengannya terlihat jelas, dan perban di perutnya sudah tidak terlihat.

Cepat sekali sembuhnya. Bagus. Berarti obatku bekerja.

"Lucy! Lucy!" Dua orang gadis berlari menghampirinya. Yang pertama berambut pendek dengan jepitan bunga, yang kedua berkuncir dua dengan pita kuning. "Kita satu kelompok latihan!"

Lucy mengenali mereka. Teman sekelasnya—teman asli pemilik tubuh ini. Dulu mereka bertiga sering duduk bersama di kantin, sebelum tubuh ini menjadi sasaran bully. Sekarang, dengan penampilannya yang berubah, kedua gadis itu kembali mendekatinya.

"Ah... iya." Lucy tersenyum. "Ayo latihan bersama."

"Aduh kamu sekarang cantik banget sih, Lucy!" Gadis berjepit bunga—Namanya Yuki—mencubit pipi Lucy. "Pipi kamu tembem gini lucu banget!"

"Iya! Dulu kamu kurus banget, sekarang lebih berisi. Sehat!" tambah gadis berkuncir dua—Namanya Aoi.

Lucy hanya bisa tersenyum pasrah. Ini akibat kebanyakan makan mi kuah tengah malam, pikirnya. Tapi dia tidak membenci perubahan ini. Justru ini membantunya terlihat lebih... manusiawi.

Mereka bertiga mengambil bola basket dan mulai berlatih di ring samping. Yuki melempar duluan—bolanya mental kena papan. Aoi mencoba—bolanya menggelinding di bibir ring lalu jatuh.

"Gini caranya," Lucy mengambil bola, membidik ring. Dia bisa dengan mudah memasukkannya jika menggunakan kekuatannya. Tapi dia tidak mau. Terlalu mencurigakan. Jadi dia melempar dengan kekuatan normal—dan bolanya juga meleset.

"Yah! Masa kamu juga gagal!" Aoi tertawa.

"Kita sama-sama payah!" Yuki ikut tertawa.

Lucy ikut tertawa, tapi dia tidak sedang berpikir tentang bola basket.

---

Di sisi lain lapangan, Kaito Fujiwara sedang menggiring bola dengan satu tangan. Gerakannya otomatis—dribble, dribble, dribble—tapi matanya tidak fokus pada bola. Matanya tertuju pada satu titik di lapangan sebelah.

Gadis itu.

Lucy.

Rambut ekor kuda. Tanpa kacamata. Kaos putih dan celana pendek olahraga yang memperlihatkan kaki putihnya. Pipinya yang sedikit tembem saat dia tertawa bersama teman-temannya. Sama sekali berbeda dengan gadis kutu buku yang dulu duduk diam di pojok kelas.

Tapi yang paling mengganggu pikirannya adalah matanya.

Biru. Matanya biru. Tapi sekarang hitam lagi. Kenapa?

Apa dia berhalusinasi semalam? Tapi lukanya—lukanya hampir sembuh dalam semalam. Itu bukan halusinasi.

"Dia lagi. Kaito ngeliatin si kutu buku lagi." Riku tiba-tiba muncul di sampingnya, menyenggol bahunya. "Wah, tumben."

"Aku tidak melihat siapa-siapa."

"Oh ya? Terus yang dari tadi ditatapin siapa?"

Teman-teman lainnya mulai berkumpul. "Woi, Kaito tertarik sama cewek?!" seru Yuta, pemain berambut cepak.

"Ini pertama kalinya dalam sejarah!"

"Diam." Kaito melempar bola ke arah Riku yang menangkapnya sambil tertawa.

"Tapi serius, dia cantik sekarang," komentar Riku, menatap ke arah Lucy. "Padahal dulu dia kutu buku yang nggak menarik. Sekarang... entahlah. Ada sesuatu yang beda."

"Pipinya tembem gitu lucu," tambah Yuta. "Kayak mochi."

"Kalian mau latihan atau gosip?" Suara Kaito dingin.

Teman-temannya saling pandang, lalu tertawa. "Cemburu! Dia cemburu!"

Kaito tidak menjawab. Dia merebut bola dari tangan Riku dan melakukan dunk dengan keras, membuat ring bergetar. Tapi di dalam pikirannya, hanya ada satu hal.

Matanya biru. Kenapa dia menyembunyikannya?

---

Latihan berakhir dengan peluit panjang dari Pak Tanaka. Para siswa berhamburan keluar, sebagian menuju ruang ganti, sebagian langsung pulang. Lucy berganti pakaian dengan malas—dia tidak langsung pulang. Dia punya rencana.

"Kau mau ke mana?" tanya Yuki saat mereka bertiga berjalan keluar gedung olahraga.

"Pulang. Tapi aku mau ke perpustakaan dulu," bohong Lucy. "Kalian duluan saja."

Setelah kedua temannya pergi, Lucy berbalik dan berjalan kembali ke gedung olahraga.

Rencananya sederhana: dia akan berpura-pura berlatih sendiri. Kaito masih ada di sekolah—dia tahu karena Lili memberitahunya bahwa antagonis pria itu dihukum oleh guru olahraga karena tidak membawa tugas. Dia disuruh membersihkan gedung olahraga setelah semua orang pulang.

Jadi Lucy masuk, mengambil bola basket, dan mulai melempar. Gagal. Lempar lagi. Gagal lagi. Lempar lagi. Gagal.

Sengaja, tentu saja.

Dari sudut ruangan, Kaito memperhatikannya. Dia sedang memegang sapu—hukuman dari Pak Tanaka—dan melihat gadis itu melempar bola dengan cara yang salah. Sikunya terlalu rendah. Pergelangan tangannya tidak menekuk. Bola selalu meleset ke kiri.

Siapa yang mengajarinya seperti itu? pikirnya.

Dia berdehem.

Lucy berbalik dengan ekspresi terkejut—akting sempurna. "Eh? Kaito?!"

"Kau salah cara melemparnya."

"A-aku tahu! Aku cuma... cuma latihan..." Dia pura-pura gugup. "A-aku duluan—"

"Cara memegang bolanya salah."

"Yaudah sih, nggak usah banyak bacot kalau nggak mau bantu!" Lucy berdecak, memasang ekspresi kesal. Strategi: semakin kujauhi, semakin dia mendekat.

Kaito terdiam. Biasanya, gadis-gadis akan memohon padanya untuk mengajari. Tapi yang ini? Dia malah marah. "Baiklah."

Lucy berbalik, wajahnya berubah menjadi berbinar. "Serius? Kau serius mau bantu aku?"

Kaito mengangguk. "Hm."

"Idih, sok cool banget ni orang satu. Dia pikir dia karakter novel apa," batin Lucy, sedikit kesal dengan jawaban singkat itu. Tapi di luar, dia tersenyum semangat.

"Yaudah ayok! Nanti malam malah dikurung satpam pula kita!" Dia meraih tangan Kaito dan menariknya ke tengah lapangan.

Kaito menatap tangan kecil yang menggenggam tangannya. Hangat. Kecil. Dan saat tangan itu terlepas, dia merasakan sesuatu yang aneh.

Kosong.

"Ayo jangan bengong doang, kemasukan setan kau baru tau rasa!" seru Lucy.

Kaito tersadar. Dia memasukkan tangannya ke saku jaket, lalu berjalan mendekat. "Kemarilah. Biar kuajari."

Dia berdiri di belakang Lucy, lalu—dengan sedikit keraguan—meletakkan tangannya di atas tangan Lucy yang sedang memegang bola. Posisinya seperti memeluk dari belakang.

Lucy merasakan otot-otot lengannya yang kokoh. Aroma kayu cendana—parfumnya mungkin—menyeruak ke hidungnya. Enak sekali aromanya. Indra ilahinya bergetar. Jiwa ini... aku ingin mencicipinya.

"Fokus." Suara Kaito di telinganya. "Siku dinaikkan. Pergelangan tangan ditekuk. Bidik ring, lalu lepaskan."

Bersama-sama, mereka melempar bola. Bola melayang dalam busur sempurna—dan masuk ke ring tanpa menyentuh pinggirannya.

"SWOOSH."

"AAAAHHH MASUK! MASUK!" Lucy berteriak kegirangan, melompat-lompat seperti anak kecil. Tanpa sadar, dia berbalik dan memeluk Kaito. "TERIMA KASIH! TERIMA KASIH!"

Tubuh Kaito membeku.

Tangannya menggantung di udara, tidak tahu harus diletakkan di mana. Dia bisa merasakan tubuh kecil Lucy di pelukannya—hangat, lembut, dengan aroma samar bunga sakura. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Perlahan, dia mulai mengangkat tangannya untuk membalas pelukan itu—

Brak!

Pintu gedung olahraga terbuka. "KALIAN! SUDAH MALAM! GEDUNG MAU DIKUNCI! PULANG!"

Satpam sekolah berdiri di pintu, peluit di tangannya. Lucy langsung melepaskan pelukannya, wajahnya memerah—kali ini bukan akting, dia benar-benar malu karena tertangkap.

"Ba-baik, Pak!" serunya, lalu meraih tasnya dan tas Kaito. "Ayo!"

Dia menarik tangan Kaito lagi, membawanya keluar dari gedung olahraga menuju gerbang sekolah. Mereka berhenti di depan gerbang, terengah-engah karena setengah berlari.

Lucy melepaskan tangannya. "Terima kasih untuk hari ini."

Kaito berdehem. "Sama-sama."

Keheningan sesaat. Lalu, saat Lucy berbalik untuk pergi—

"Tunggu."

Lucy berhenti.

"Mau pulang bersama?"

Lucy menatapnya, pura-pura terkejut. "Eh? Tapi... kau sudah membantuku... aku tidak enak..."

"Tidak masalah."

Tepat seperti yang kuduga. Lucy tersenyum kecil. "Baiklah kalau begitu. Ayo."

Mereka berjalan berdampingan di trotoar senja. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan jingga dan ungu. Kali ini, berbeda dengan saat bersama Ren. Ren pendiam dan tenang. Tapi Kaito... Kaito terasa seperti api yang ditahan. Ada intensitas di setiap gerakannya, setiap tatapannya.

Saat mereka tiba di depan apartemen Lucy, Kaito berhenti.

"Aku sampai."

Kaito mengangguk, siap berbalik.

"Tunggu!"

Kaito berhenti. Lucy masuk ke apartemennya, lalu keluar lagi dengan membawa jaket—jaket basket yang semalam dia pakai—dan sekotak susu stroberi.

"Ini jaketmu. Sudah kucuci. Dan ini susu... untuk ucapan terima kasih hari ini." Dia meletakkannya di tangan Kaito. "Aku tidak tahu kau suka apa, jadi aku hanya ambil susu favoritku."

Kaito menatap jaket itu, lalu susu stroberi, lalu Lucy.

"Terima kasih."

"Sa-sama-sama!" Sebelum Kaito bisa berkata apa-apa lagi, Lucy sudah masuk ke apartemen dan menutup pintu. Pipinya merah—akting atau bukan, dia sendiri tidak yakin.

Kaito berdiri di depan pintu itu selama beberapa detik. Lalu dia menatap susu stroberi di tangannya. Susu stroberi. Manis.

Dia tersenyum—senyum kecil yang akan mengejutkan siapa pun yang mengenalnya. Lalu dia berbalik dan berjalan pulang.

---

Di dalam apartemen, Lucy menghempaskan tubuhnya ke kasur. "AHHH! MELELAHKAN!"

Lili muncul dari balik bantal. "Presentase rasa suka Kaito: ♡♡♡♡ | 40%. Naik 10%."

Lucy terkekeh. "Antagonis pria cukup mudah didekati, ya?"

"Dia bukan antagonis yang sulit. Dia hanya butuh seseorang yang tidak mencoba mengambil apa pun darinya."

"Dan aku adalah seseorang itu." Lucy bangkit, meregangkan tubuhnya. "Aku akan mandi dulu. Berkeringat seharian."

Dia masuk ke kamar mandi dan membiarkan air hangat mengaliri tubuhnya. Saat dia mengeringkan rambutnya dengan handuk, dia menatap cermin.

Beberapa helai rambutnya mulai berubah. Di antara helai hitam, ada kilauan biru samar. Cat rambutnya mulai memudar.

"Aku harus mewarnainya lagi," gumamnya.

"Atau kau bisa mulai menunjukkan warna aslimu sedikit demi sedikit," saran Lili dari luar.

Lucy menatap bayangannya. Tanpa softlens, matanya biru. Tubuhnya—yang dulu kurus kering karena malnutrisi—kini mulai berisi di tempat yang tepat. Kakinya putih, kulitnya bercahaya, dan wajahnya yang dulu kusam kini terlihat segar dan sehat.

"Perlahan," katanya. "Aku akan menunjukkan semuanya perlahan."

Dia keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur hitam selutut. Rambutnya masih sedikit basah, dan beberapa helai biru terlihat jelas di antara hitam. Dia duduk di depan meja rias, mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Ponselnya bergetar.

Dia melihat layar. Satu pesan baru.

Ren: Bagaimana kabarmu?

Lucy tersenyum. Protagonis pria. Aku hampir lupa tentangmu hari ini.

Dia membalas dengan kata-kata manis—"Jaga kesehatan, jangan lupa makan, kalau capek istirahat dulu"—dan merasa sedikit geli dengan tulisannya sendiri. Aku terdengar seperti pacar yang perhatian, pikirnya. Padahal aku hanya ingin nilai suka.

Balasan Ren singkat: Baiklah.

Tapi Lili, yang duduk di sampingnya, berkata, "Dia senang. Aku bisa merasakannya."

Lucy terkekeh. "Protagonis pria ini ternyata manis juga."

Dia meregangkan tubuhnya, merebahkan diri ke kasur. Di luar, malam semakin larut. Dua hari lagi, Ren akan kembali. Dan beberapa hari lagi, Hana Himura akan muncul.

Tapi untuk sekarang, dia akan tidur dengan perasaan puas. Rencananya berjalan lancar. Baik Ren maupun Kaito, perlahan-lahan, mulai terjebak dalam permainannya.

"Selamat malam, Lili."

"Selamat malam, Tuanku."

Dan Lucy menutup matanya, tersenyum dalam tidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!