NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️

Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda" 13

Pagi itu, Lucy terbangun dengan perasaan yang sangat segar. Tidur tanpa gangguan setelah menghabiskan dua kotak mochi stroberi ternyata memberikan efek ajaib bagi tubuh manusianya. Dia meregangkan tubuh, menguap lebar, lalu berjalan ke kamar mandi dengan langkah yang terasa sangat ringan.

Di depan cermin, dia menyadari kalau rambutnya kini sudah hampir setengah biru karena cat hitamnya memudar semakin cepat. Namun dia tidak peduli dan membiarkannya begitu saja. Softlens hitam dipasang seperti biasa, seragam sekolah dikenakan, lalu rambutnya diikat rapi dengan model ekor kuda.

"Lili," panggilnya sambil meraih dua kotak bekal kosong dari dalam lemari. "Bangun."

"Dari tadi juga sudah bangun," jawab Lili dari atas bantal. "Aku mau memberi tahu sesuatu."

"Sebentar. Aku sedang sibuk."

Lucy mulai mengisi kotak bekal itu dengan makanan seperti nasi kepal, telur gulung, sosis gurita, dan beberapa potong buah segar. Tangannya bergerak dengan sangat cekatan hingga dua kotak bekal yang identik kini sudah tersusun rapi.

"Itu untuk siapa?" tanya Lili penasaran.

"Rencananya sih buat makan siangku sendiri." Lucy menyeringai tipis. "Tapi kamu tahu kan, aku bisa pura-pura memberikannya sebagai hadiah untuk Ren. Kalau dia menolak? Bagus. Makanannya tinggal masuk ke perutku sendiri."

"Jadi kamu membuat bekal dobel hanya untuk jaga-jaga kalau ada yang menolak?"

"Tepat sekali. Dan kalau dua-duanya menolak, aku akan memakan keduanya. Sebuah solusi yang saling menguntungkan." Lucy menutup kotak bekal itu dengan perasaan puas. "Tadi kamu mau bilang apa?"

"Ah, iya. Semalam..."

"Oh iya! Chat dari Ren!" Lucy segera mengambil ponselnya dan mendapati puluhan notifikasi bertumpuk. "Dua puluh pesan? Gila. Dia benar-benar..." Lucy membuka ruang obrolan itu lalu membaca isinya sekilas. "Dia minta maaf, dia bilang sedang sibuk, dan dia... merindukanku?"

Lucy terkekeh geli. "Manis juga."

"Kamu tidak berniat membalasnya?"

"Tidak untuk sekarang." Lucy mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Biarkan dia menunggu dulu. Aku tidak membalas pesannya semalaman, itu sudah cukup membuat pikirannya tidak tenang. Kalau kubalas sekarang, efek dramatisnya bisa hilang."

"Jahat sekali."

"Aku tahu." Lucy tersenyum manis. "Oh iya, satu lagi. Rasa suka Ren pagi ini entah kenapa mendadak naik jadi lima puluh persen. Padahal aku tidak melakukan apa pun kecuali mengabaikan pesannya. Manusia memang aneh."

"Itu karena dia merasa bersalah sekaligus merindukanmu. Rasa bersalah selalu bisa memperkuat rasa suka."

"Psikologi manusia memang selalu bisa diandalkan."

Dia segera meraih tasnya setelah memastikan kedua kotak bekal sudah aman di dalam. "Ayo berangkat. Kaito pasti sudah menunggu di bawah."

Benar saja, Kaito sudah berdiri tegap di depan apartemen sambil memegang sebotol susu stroberi impor di tangannya.

"Pagi," katanya dengan nada datar.

"Pagi!" Lucy mengambil susu itu lalu mengumbar senyum cerah. "Kamu selalu tahu bagaimana cara membuat pagiku menjadi lebih baik."

Telinga Kaito seketika memerah mendengarnya. Dia buru-buru menaiki motornya untuk menutupi rasa salah tingkah. "Ayo naik. Nanti kita bisa terlambat."

Lucy naik dengan lancar lalu langsung memeluk pinggang cowok itu. Motor pun melaju, dan di sepanjang perjalanan, Lucy tampak bersenandung kecil menyanyikan lagu Kesenanganku adalah Milikku Sendiri, sebuah lagu yang sama dengan yang dulu pernah dia nyanyikan di atas panggung. (perlu diingatkan kembali, Kaito nih bilang cuman lewat tapi selalu bawa helm 2 untuk Lucy)

Kaito mendengarkan senandung itu dengan saksama. Di balik helmnya, sudut bibir cowok itu perlahan terangkat.

Sementara itu, di gerbang SMA Seiran, ada sebuah pemandangan yang berbeda pagi ini.

Sebuah mobil hitam mewah tampak berhenti tepat di depan pintu masuk. Seorang supir berseragam keluar dengan sigap untuk membukakan pintu belakang. Dari dalam mobil tersebut, melangkahlah seorang gadis dengan rambut cokelat lembut sebahu dan sepasang mata hazel yang terasa hangat.

Gadis itu bernama Hana Himura.

Seragam yang dikenakannya terlihat sangat rapi dan sempurna, tampak baru, mahal, dan berbeda dari seragam murid biasa yang terkadang sudah mulai lusuh. Sepatunya juga terlihat sangat mengilap. Dengan postur tubuh yang tegak dan anggun, dia tersenyum kepada supirnya sebelum berbalik untuk melangkah memasuki gerbang sekolah.

"Akhirnya," pikir Hana bersemangat. "Ini hari pertamaku."

Di dalam kepalanya, sebuah suara mendadak menyahut.

"Tuan Putri, sesuai dengan prediksi saya, semua perhatian akan segera tertuju kepada Anda. Mobil mewah, penampilan yang sempurna, serta status sebagai nona muda dari keluarga Himura akan langsung membuat Anda menjadi pusat perhatian di sini."

Hana tersenyum tipis mendengarnya. "Tentu saja. Aku ini kan tokoh protagonisnya."

"Benar, Tuan Putri. Anda adalah protagonis di dunia ini. Semua hal akan berputar di sekitar Anda."

"Baguslah."

Namun begitu Hana melangkah lebih jauh ke dalam halaman sekolah, dia merasakan ada sesuatu yang ganjil.

Beberapa murid memang sempat meliriknya, tapi itu hanya berlangsung sebentar sebelum mereka kembali sibuk dengan obrolan masing-masing. Tidak ada yang terlihat terpana, tidak ada yang berbisik kagum, bahkan sekelompok cowok yang berdiri di dekat pintu masuk hanya menatapnya sekilas sebelum kembali tertawa meributkan hal lain.

"Kenapa mereka tidak terlihat terpana?" Hana mulai mengerutkan keningnya kesal.

"Mungkin mereka belum menyadari bagaimana status sosial Anda yang sebenarnya, Tuan Putri."

"Tapi aku datang menggunakan mobil mewah! Seragamku baru dan sepatuku bermerek! Bagaimana mungkin mereka tidak menyadarinya?"

"Sabar dulu, Tuan Putri. Hari ini masih sangat panjang."

Hana menarik napas dalam-dalam lalu mencoba memasang kembali senyum manisnya, sebuah senyuman khas protagonis wanita yang sempurna, polos, dan hangat. "Baiklah, aku akan bersabar. Toh sebentar lagi semua mata pasti akan tertuju padaku."

Tepat saat itulah, Ren Arisugawa berjalan keluar dari gedung utama sekolah.

Seragam OSIS yang dikenakannya terlihat sangat rapi. Wajahnya seperti biasa tampak datar dan dingin. Dia sedang fokus membaca sesuatu di ponselnya dengan langkah kaki yang terukur.

Mata Hana seketika berbinar melihatnya. "Itu dia! Protagonis pria kita, Ren Arisugawa!"

Hana segera menghampirinya dengan langkah kaki yang ringan. "Ren! Selamat pagi!"

Ren mendongak dari ponselnya. Matanya menatap Hana dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. "Ah. Kamu itu... Hana?."

"Kamu masih mengingatku!" Hana tersenyum semakin lebar. "Kita kan bertemu di perlombaan kemarin. Aku sama sekali tidak menyangka kalau kita ternyata satu sekolah. Ini pasti yang dinamakan takdir!"

"Hm."

Hana sempat menunggu respons yang lebih panjang, namun tidak ada kelanjutan apa-apa. Ren justru kembali menatap layar ponselnya, seolah-olah kehadiran Hana di dekatnya tidak lebih dari sekadar angin yang menumpang lewat.

"Kenapa dia cuek sekali?!" Hana mulai berteriak kesal di dalam hatinya. "Aku ini kan protagonis wanita! Dia seharusnya langsung tertarik padaku!"

"Mungkin dia tipe cowok yang memang sulit untuk didekati, Tuan Putri."

"Aku juga tahu soal itu! Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja."

Hana kemudian mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tasnya. Bekal itu sebenarnya dibuat oleh koki pribadinya pagi tadi, namun dia berniat mengakuinya sebagai buatan sendiri. "Ren, aku membuatkan bekal ini untukmu sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantuku saat perlombaan kemarin."

"Aku tidak butuh."

"Tapi..."

Belum sempat Hana menyelesaikan kalimatnya, suara raungan mesin motor yang keras mendadak memecah keheningan pagi.

Semua mata yang berada di halaman sekolah langsung menoleh serempak. Sebuah motor sport hitam tampak memasuki gerbang dengan sangat bergaya. Di atas motor itu ada Kaito Fujiwara, si ketua klub basket sekaligus sosok antagonis pria yang terkenal sangat dingin, dan di bagian belakangnya...

"Itu Lucy!"

"Pasangan terbaik kita!"

"Mereka berangkat bersama lagi!"

Bisik-bisik itu langsung menyebar dengan sangat cepat seperti api. Kali ini, sama sekali tidak ada lagi yang melirik ke arah Hana. Semua mata benar-benar tertuju penuh pada motor hitam itu dan dua orang yang berada di atasnya.

Kaito turun terlebih dahulu dari motornya, lalu mengulurkan tangannya dengan jantan untuk membantu Lucy. Gadis itu menerima uluran tangannya dan turun dengan gerakan yang anggun.

"Terima kasih ya, Kaito!"

"Hm."

Lucy menyerahkan kembali helmnya, lalu mulai berjalan menuju gedung utama. Namun langkah kaki gadis itu mendadak terhenti begitu melihat pemandangan yang ada di depan pintu masuk.

Di sana ada Ren yang sedang berdiri bersama seorang gadis berambut cokelat, yaitu Hana Himura.

Mereka berdiri cukup berdekatan, dengan Hana yang masih mengulurkan kotak bekalnya ke arah Ren, sementara Ren sendiri justru sedang menatap lurus ke arah Lucy.

Kontak mata di antara mereka akhirnya terjadi.

Lucy menatap Ren, lalu beralih menatap Hana, hingga akhirnya pandangannya tertuju pada kotak bekal yang ada di tangan gadis itu. Ekspresi wajah Lucy mendadak berubah, menampilkan gurat sakit hati yang berlangsung singkat namun cukup jelas untuk bisa ditangkap oleh mata Ren.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lucy langsung meraih tangan Kaito dan menarik cowok itu pergi menjauh dari pemandangan tersebut.

"Lu..." Ren sempat melangkah maju hendak mengejar, namun Hana dengan cepat menahan lengannya.

"Ren! Kotak bekalnya..."

"Aku bilang aku tidak butuh." Ren melepaskan cengkeraman tangan Hana dengan kasar. "Dan jangan lancang menyentuhku."

Cowok itu langsung berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Hana yang berdiri terpaku dengan kotak bekal yang masih menggantung di tangannya. Wajah gadis itu seketika memerah karena menahan rasa malu sekaligus amarah yang luar biasa.

"Siapa sebenarnya gadis itu?!" bentak Hana di dalam hatinya. "Kenapa Ren sampai berniat mengejarnya?! Dan kenapa semua orang di sini malah menatap ke arahnya?!"

"Sepertinya gadis itu adalah saingan Anda, Tuan Putri."

"Aku tidak peduli! Aku ini protagonisnya! Seharusnya akulah yang menjadi pusat perhatian di sini!"

Sementara itu, Lucy dan Kaito akhirnya berhenti di depan ruang kelas mereka. Lucy melepaskan genggaman tangannya dari Kaito lalu menghela napas panjang.

"Lucy," Kaito akhirnya memecah keheningan di antara mereka. "Kamu baik-baik saja?"

Lucy mengangguk pelan, masih mempertahankan ekspresi sedih yang sengaja dibuat-buat. "Aku... tidak apa-apa kok. Hanya saja..." Dia sengaja menggantung kalimatnya agar Kaito bisa menyimpulkan sendiri apa yang terjadi.

Lalu dia mendadak teringat dengan dua kotak bekal yang dibawanya. Karena Ren baru saja membuatnya pura-pura sakit hati, cowok itu jelas tidak pantas mendapatkan bekalnya sekarang.

Lucy membuka tasnya lalu mengeluarkan satu kotak bekal dari sana. "Kaito."

"Apa?"

"Ini untukmu." Dia menyerahkan kotak bekal itu ke tangan Kaito. "Aku sengaja membuatnya untukmu sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah selalu menjemputku."

Kaito menatap kotak bekal di tangannya dengan pandangan tidak percaya. Tangannya bahkan sempat sedikit gemetar, meskipun dia berhasil menyembunyikannya dengan sangat baik. "Ini benar-benar untukku?"

"Iya. Aku harap kamu menyukai rasanya."

Sebelum Kaito sempat memberikan jawaban, suara seruan dari arah kelas sebelah mendadak memanggil nama Lucy.

"LUCY! SINI!"

Ternyata itu adalah Nao, Rina, dan Mika, teman-teman dari klub musiknya yang sedang melambaikan tangan dari depan pintu kelas.

"Aku ke sana dulu ya!" Lucy melambaikan tangannya pada Kaito lalu berlari kecil menghampiri teman-temannya.

Kaito masih berdiri diam di tempatnya sambil menatap kotak bekal yang dipegangnya. Ketika dia mendongak, dia menyadari kalau Ren Arisugawa ternyata sedang berdiri di ujung koridor.

Ren tampak menatap lurus ke arah kotak bekal tersebut, lalu beralih menatap Kaito. Sepasang mata abu-abu gelap milik Ren seketika berubah menjadi jauh lebih gelap, memancarkan rasa tidak suka yang tidak bisa disembunyikan lagi.

Melihat hal itu, Kaito justru menyunggingkan sebuah senyuman kemenangan. Dia mengangkat sedikit kotak bekalnya seolah-olah sedang memamerkannya. Pesan implisitnya sangat jelas bahwa Lucy memberikan bekal ini untuknya, bukan untuk Ren.

Ren mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum akhirnya memilih berbalik dan berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kaito melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan perasaan menang yang mutlak. Namun begitu dia duduk di bangkunya, teman-temannya langsung datang menyerbu.

"WOY! ITU BEKAL DARI MOCHI-CHAN?!"

"BAGI DONG!"

"GILA! INI PERTAMA KALINYA KAMU DAPAT BEKAL DARI PEREMPUAN!"

"Ini milikku." Kaito langsung menjauhkan kotak bekal itu dari mereka. "Jangan ada yang berani menyentuhnya."

"Pelit banget sih!"

"Tapi kamu merasa senang, kan? Mengaku saja!"

Kaito tidak repot-repot menjawab, meskipun kedua telinganya kini sudah memerah sempurna. Dia membuka kotak bekal itu perlahan lalu menatap isinya yang berupa nasi kepal, telur gulung, dan sosis gurita dengan binar mata yang tidak bisa dia sembunyikan lagi. Gadis itu benar-benar memasak ini khusus untuk dirinya.

Di tempat lain, Lucy sedang asyik bercanda dengan teman-teman klub musiknya ketika Lili mendadak mengirimkan sebuah laporan di dalam kepalanya.

"Rasa suka Kaito Fujiwara kini berada di angka lima puluh persen, sedangkan tingkat kejahatannya turun drastis ke angka empat puluh persen."

"Turun banyak ya," pikir Lucy santai. "Padahal hanya gara-gara diberi satu kotak bekal."

"Dan tokoh protagonis wanita kita sepertinya sudah resmi muncul. Tapi dari gelagatnya, dia tampaknya tidak sepolos penampilannya."

"Aku tahu. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari dirinya." Lucy menyeringai tipis di dalam hati. "Dia juga punya sistem kan, sama sepertiku? Hanya saja dia itu cuma manusia biasa, bukan seorang Dewi."

"Kamu tidak merasa khawatir?"

"Kenapa aku harus khawatir? Dia boleh saja memiliki sistem, tapi aku punya ini." Lucy menunjuk dirinya sendiri. "Aku sudah hidup selama ribuan tahun sebagai seorang Dewi Rubah. Aku tidak akan mungkin bisa kalah dari manusia mana pun."

Saat jam makan siang akhirnya tiba, Lucy berjalan sendirian menuju perpustakaan dengan membawa satu kotak bekal tersisa. Dia berniat untuk menikmati makan siangnya dengan tenang di sudut favoritnya.

Namun di tengah koridor, sebuah suara mendadak menghentikan langkahnya.

"Lucy."

Ternyata itu adalah Ren Arisugawa. Wajah cowok itu yang biasanya selalu terlihat datar kini tampak sangat berbeda. Ada sebersit kegelisahan dan rasa urgensi yang terpancar jelas dari sepasang matanya.

Lucy dengan cepat langsung memasang kembali ekspresi wajah sedihnya. "Ada apa, Ketua OSIS?"

"Aku... aku perlu bicara denganmu."

"Bicara tentang apa?" Lucy sengaja menundukkan kepalanya. "Bukankah kamu sudah punya teman baru? Gadis cantik yang memberimu bekal pagi tadi?"

"Itu tidak benar! Dia hanya... aku bahkan sama sekali tidak menerima bekal darinya!"

"Oh." Suara Lucy terdengar datar. "Lalu kenapa kamu harus repot-repot menjelaskan hal itu kepadaku? Lagipula kita kan bukan siapa-siapa."

Lucy segera berbalik dan berniat untuk melangkah pergi.

Namun sebelum dia sempat menjauh, tangan Ren dengan cepat menangkap pergelangan tangannya. Tarikan itu terasa lembut namun sangat tegas, dan sebelum Lucy sempat memberikan reaksi apa pun, tubuhnya sudah ditarik masuk ke dalam sebuah pelukan yang erat.

Tubuh Lucy seketika membeku.

"Maafkan aku," bisik Ren dengan suara rendah tepat di dekat telinganya. "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu sedih. Aku tidak bisa membalas pesanmu kemarin karena ada acara keluarga yang sangat ketat, jadi aku tidak bisa datang ke sekolah. Tapi aku... aku benar-benar merindukanmu."

Lucy hanya berdiri diam di dalam dekapan hangat itu. Dia bisa merasakan detak jantung Ren yang berdegup dengan sangat cepat dan tidak beraturan, sangat bertolak belakang dengan sikap luarnya yang selama ini selalu terkenal dingin dan tidak tersentuh.

Dari sudut matanya, Lucy kemudian menangkap sesosok gadis yang sedang berdiri mematung di ujung koridor.

Gadis itu adalah Hana Himura yang saat ini sedang menatap ke arah mereka berdua dengan mata yang membelalak sempurna.

Melihat pemandangan itu, Lucy menyunggingkan sebuah senyuman kemenangan yang sangat tipis dan nyaris tidak terlihat oleh siapa pun.

Dia kemudian melepaskan diri dari pelukan Ren secara perlahan, berakting seolah-olah dia adalah seseorang yang hatinya masih menyisakan rasa terluka. "Ren..."

"Aku serius dengan ucapanku. Aku minta maaf dan aku berjanji tidak akan mengabaikanmu lagi."

Lucy menatap wajah cowok itu dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca demi sebuah akting yang sempurna. "Aku... aku juga mau minta maaf. Aku tadi merasa cemburu, padahal hubungan kita belum jelas apa-apa. Tindakanku itu sangat bodoh, kan?"

"Tidak." Ren menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Sama sekali tidak bodoh. Aku... aku justru merasa senang karena kamu cemburu."

Di ujung koridor, Hana masih berdiri diam dengan tangan yang mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya merah padam karena menahan rasa murka yang luar biasa. Dia akhirnya memilih berbalik dan berjalan pergi dari sana dengan langkah kaki yang menghentak marah.

"Sialan!" bentaknya habis-habisan di dalam hati. "Sialan, sialan, sialan! Siapa sebenarnya gadis itu?! Kenapa dia yang dipeluk oleh Ren?! Kenapa bukan aku?! Padahal kan AKU yang menjadi protagonis di sini!"

"Tuan Putri, harap tenang dulu..."

"DIAM! Kamu ini sebenarnya sistem macam apa sih?! Kenapa kamu tidak memberi tahuku tentang keberadaan gadis itu sebelumnya?! Kenapa kamu tidak memperingatiku?! Apa gunanya kamu kalau tidak bisa membantuku sama sekali?!"

"Aku... aku benar-benar tidak mendeteksi keberadaannya sebelumnya, Tuan Putri. Sepertinya ada yang salah dengan pembacaan data di dunia ini..."

"Aku tidak mau tahu, cepat bereskan masalah ini! Aku tidak peduli bagaimana caranya, gadis sialan itu harus segera disingkirkan dari sini! Akulah yang seharusnya menjadi pusat perhatian di sekolah ini, bukan dia!"

Hana segera menghilang di balik tikungan koridor dengan amarah yang meluap-luap. Sementara itu, Lucy yang masih berdiri di depan Ren menyaksikan kepergian saingannya itu dengan sebuah senyuman misterius.

"Kamu boleh saja memiliki sistem di kepalamu, Nona Muda," pikir Lucy meremehkan. "Tapi aku sudah memainkan permainan seperti ini jauh sebelum kamu lahir ke dunia."

"Lucy?" panggil Ren membuyarkan lamunannya. "Kamu baik-baik saja?"

Lucy menatap wajah Ren lalu mengulas sebuah senyuman yang tampak sangat hangat, meskipun senyuman itu sebenarnya menyembunyikan seringai tajam dari seorang predator ulung. "Iya, aku sudah baik-baik saja sekarang. Ayo kita ke perpustakaan. Aku membawa satu bekal lagi, kamu mau kan makan siang bersamaku?"

"Tentu saja."

Mereka berdua akhirnya berjalan berdampingan menuju perpustakaan. Namun di belakang mereka, Kaito yang baru saja keluar dari dalam kelas tidak sengaja menangkap pemandangan kebersamaan mereka. Wajah cowok itu seketika menegang drastis, dan tangannya mencengkeram kuat kotak bekal kosong pemberian Lucy yang baru saja dihabiskannya dengan penuh rasa bangga tadi.

Pandangannya tertuju lurus pada punggung Ren Arisugawa.

"Kamu tidak akan pernah bisa menang," pikir Kaito dengan penuh tekad. "Tidak untuk kali ini."

Di sudut lain sekolah, Hana Himura tampak membanting tas mewahnya ke atas lantai kamar mandi yang sepi. Dia meluapkan seluruh emosinya dengan memarahi sistemnya yang tidak mampu memberikan jawaban memuaskan. Air mata yang mengalir di pipinya bukanlah air mata kesedihan, melainkan murni karena rasa murka yang teramat sangat.

​"Aku pasti akan menghancurkan gadis itu," bisik Hana dengan nada penuh ancaman. "Aku tidak peduli siapa dia sebenarnya, dia tidak akan pernah boleh merebut apa yang sudah seharusnya menjadi milikku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!