NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 : Fajar di Karang Tumpuk dan Jejak Hitam yang Tertinggal

Fajar merekah lentera emas di ufuk timur, membiaskan sinar hangat yang mengusir sisa-sisa kegelapan malam bulan mati dari atas Pegunungan Tengger. Embun pagi menetes bening di atas kelopak bunga kemuning putih yang tumbuh subur di halaman rumah panggung Sari. Udara yang terhirup kini terasa begitu murni, membawa aroma tanah basah dan wangi dedaunan segar tanpa sedikit pun menyisakan bau busuk belerang atau uap racun yang sempat mencekam.

Di sepanjang jalan utama Desa Karang Tumpuk, pintu-pintu rumah panggung warga mulai terbuka lebar. Suara derit kayu dan gelak tawa anak-anak yang berlarian kembali terdengar, menggantikan suasana mencekam yang melingkupi desa selama berminggu-minggu.

Di balai desa, Pak Karto RT bersama Mbok Sumi sedang berkumpul mengelilingi sumur utama warga. Pak Karto menimba seember air jernih dari dasar sumur, lalu menuangkannya ke dalam mangkuk tanah liat. Air itu bening bagai kaca kristal, tanpa pendar keruh atau aroma bau amis darah.

"Segar... Air sumur kita sudah benar-benar murni kembali!" seru Pak Karto RT penuh keharuan, mengusap air mata gembira di pipinya yang keriput.

Mbok Sumi tersenyum lebar, memegang dada tua-nya yang kini terasa lapang. "Sari, Marno, dan Si Mbah benar-benar telah menyelamatkan Karang Tumpuk dari kehancuran."

Tak jauh dari balai desa, Sari berjalan perlahan menyusuri teras rumahnya, menuntun Marno yang langkah kakinya masih sedikit pincang akibat luka bakar di pundaknya. Si Mbah berjalan dengan bangga di depan mereka, mengapit sebuah tempat minum bambu baru sembari sesekali melompat ke atas pagar kayu.

Sari meletakkan Kitab Usada Tengger di atas meja kayu di teras. Benda tua bersampul kulit kerbau jantan itu kini memancarkan pendar tenang, tak lagi membawa aura menakutkan seperti saat pertama kali ditemukan di Gua Sendang Biru.

"Kang Marno, istirahatlah dulu di bangku," kata Sari lembut sembari menyiapkan ramuan penyejuk dari tumbukan daun pegagan dan air kelapa hijau. "Luka bakar di pundakmu butuh waktu beberapa hari untuk benar-benar pulih."

Marno duduk perlahan, menyandarkan martil besinya di samping bangku kayu. Pande besi bertubuh kekar itu menatap telapak tangan kanannya yang kaku dan keriput—telapak tangan yang dulu cacat terkena racun petunduk. Meski bekas lukanya masih ada, rasa nyeri ghaib yang biasanya menusuk-nusuk hingga ke tulang setiap kali angin utara bertiup kini telah hilang sepenuhnya.

"Racun di tanganku... rasanya sudah benar-benar mati, Sari," gumam Marno, matanya menerawang menatap puncak bukit di kejauhan. "Sejak ketiga obor di puncak bukit itu padam dan Mbah Jiwo Suro tenggelam di Sendang Biru, beban berat di dadaku selama dua puluh tahun ini rasanya menguap begitu saja."

Sari mengoleskan ramuan herbal ke pundak Marno dengan penuh kehati-hatian. "Itu karena Kang Marno bertarung bukan untuk dendam, tapi untuk melindungi orang banyak. Bibiku dulu tersesat karena memilih jalan kegelapan, tapi Kang Marno memilih jalan keberanian."

Si Mbah melompat naik ke atas meja, lalu mengetuk-ngetuk sampul Kitab Usada Tengger dengan jari-jarinya yang kecil. “Uuk! Uuk-uuk!” kera hitam itu menunjuk ke arah barisan tulisan di halaman paling belakang kitab yang sebelumnya belum sempat terbaca oleh Sari.

Sari mengerutkan kening. Ia mengusap jemarinya dari ramuan, lalu membuka lembaran kulit paling akhir tersebut.

Di lembaran terakhir itu, tulisan tangannya tidak lagi diukir dengan rapi menggunakan tinta emas seperti halaman-halaman awal, melainkan digoreskan secara terburu-buru menggunakan mata belati—tulisan pribadi dari Nyai Seruni sebelum ajal menjemputnya.

Marno yang melihat raut wajah Sari mendadak tegang ikut condong ke depan. "Ada apa, Sari? Apa yang tertulis di sana?"

Sari membaca kalimat demi kalimat dalam hati, suaranya tercekat di tenggorokan saat ia memberanikan diri membacakannya keras-keras untuk Marno:

'Bagi siapa pun keturunanku yang menemukan kitab ini... Ketahuilah bahwa Perguruan Gunung Tengger hanyalah satu dari empat cabang sekte ghaib yang pernah dibentuk oleh Tuan Besar Ranubaya seratus tahun lalu. Jika Mbah Jiwo Suro tumbang, ingatlah bahwa Kunci Pusaka Kerajaan Selatan masih tersimpan di dalam Kitab ini. Sekte Lembah Tengkorak Barat akan datang berburu begitu pangeran mereka menyadari pendar Sendang Biru telah padam...'

"Tuan Besar Ranubaya? Sekte Lembah Tengkorak Barat?" desis Marno, matanya membelalak tajam.

Sari menelan ludah, tangannya meraba lipatan tebal di bagian dalam sampul kulit kerbau kitab tersebut. Di sana, di antara dua jahitan benang serat naga, tersembunyi sebuah lempengan logam tipis berwarna perak kehitaman yang terukir dengan gambar Empat Kepala Naga yang Saling Menggigit Tail.

"Kunci Pusaka Kerajaan Selatan..." bisik Sari, tubuhnya berguncang pelan. "Jadi... Kitab Usada Tengger ini bukan hanya berisi resep obat dan penawar racun? Bibi Seruni menyembunyikan kunci pusaka rahasia di dalam sampul kitab ini!"

Sebelum Marno sempat menjawab, dari arah pintu gerbang selatan Desa Karang Tumpuk, terdengar suara derap langkah kaki kuda yang sangat kencang! Suara cangkul besi sepatu kuda yang menghantam batu jalanan bergaung memecah ketenangan pagi.

Pak Karto RT dan beberapa warga yang berada di balai desa seketika berteriak waspada. "Ada penunggang kuda asing masuk desa! Siapkan bambu runcing!"

Marno langsung berdiri tegak, mengabaikan rasa perih di pundaknya. Ia merogoh martil besinya, sementara Sari dengan cepat memasukkan kembali lempengan perak rahasia dan Kitab Usada Tengger ke dalam ransel terpalnya.

Sebuah kereta kuda kayu berwarna hitam kelam tanpa lambang kerajaan berhenti tepat di depan halaman rumah panggung Sari. Kuda penariknya berwarna putih perak dengan mata yang aneh—berwarna merah menyala seperti bara api.

Seorang pria paruh baya mengenakan jubah sutra biru tua berlapis baju zirah tipis melompat turun dari atas punggung kuda utama. Pria itu bertubuh tegap, memiliki kumis tipis yang rapi, dan di pinggangnya terikat sebilah pedang panjang berukir lambang Naga Laut Selatan.

Pria itu tidak membawa aura racun berbau bangkai seperti para murid Tengger, melainkan memancarkan aura tekanan angin dingin yang amat kuat—aura seorang jawara ilmu pedang tingkat tinggi dari wilayah pesisir!

Warga desa yang mengepung tempat itu dengan bambu runcing menahan napas, tak berani melangkah terlalu dekat karena tekanan udara dingin yang memancar dari tubuh pria asing tersebut.

Pria menjubah biru itu melangkah tenang melewati pagar kayu rumah Sari. Matanya yang tajam menyapu Marno, Si Mbah, dan akhirnya tertuju tepat pada ransel terpal di dada Sari.

"Siapa kau?!" gertak Marno seraya melangkah maju menghalangi jalan sang pria asing. "Jika kau utusan sisa-sisa Perguruan Tengger, kau datang ke tempat yang salah!"

Pria asing itu menghentikan langkahnya sepuluh tengadah dari Marno. Ia menggelengkan kepala secara perlahan, mengukir senyuman tipis yang dingin namun penuh tata krama.

"Aku bukan murid Mbah Jiwo Suro yang picik dan gemar bermain racun bangkai itu," kata pria itu, suaranya berat dan bergaung laksana gelombang ombak di laut dalam. "Namaku Pangeran Arya Braja, utusan langsung dari Kedatuan Pantai Selatan."

Sari meremas tali ranselnya. "Apa mau kalian di Desa Karang Tumpuk? Kami baru saja memusnahkan ancaman racun di tanah ini!"

Pangeran Arya Braja menatap Sari dengan pandangan dalam. "Aku datang bukan untuk merusak desamu, Gadis Pembuat Soto. Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hak Kedatuan kami—lempengan perak Kunci Pusaka Ranubaya yang disembunyikan oleh bibimu di dalam Kitab Usada Tengger."

Atmosfer di halaman rumah panggung seketika membeku. Marno memperketat genggamannya pada gagang martil besi, otot-otot lengannya menegang siap meledak kapan saja.

"Kitab ini adalah milik keluarga Sari dan warisan penawar untuk Karang Tumpuk!" seru Marno garang. "Kami tidak akan menyerahkan apa pun kepada orang asing yang datang membawa senjata!"

Pangeran Arya Braja meletakkan tangan kirinya di atas gagang pedang naganya. "Mbah Jiwo Suro hanyalah seekor cacing di lereng gunung. Tapi musuh yang sedang berbaris menuju tempat ini dari Lembah Tengkorak Barat... adalah pasukan ilmu hitam yang tidak akan sudi bernegosiasi dengan kalian. Mereka telah membakar tiga desa di pesisir barat tadi malam demi mencari kunci itu!"

Pangeran itu menatap langit utara yang mulai tertutup gumpalan awan merah ganjil. "Serahkan kunci itu padaku agar aku bisa mengamankannya di Istana Bawah Laut, atau biarkan desamu ini rata dengan tanah dihantam oleh Pasukan Tengkorak Hitam yang akan sampai di sini sebelum matahari terbenam!"

Sari menatap Marno, lalu menatap warga desanya yang memucat ketakutan di balik pagar. Perjuangan memusnahkan racun Mbah Jiwo Suro ternyata barulah awal dari pusaran konflik ghaib yang jauh lebih besar dan mengerikan—sebuah perebutan Kunci Pusaka Purba yang kini menyeret nasib seluruh Kerajaan Selatan dan Desa Karang Tumpuk ke dalam bahaya baru yang tak terbayangkan.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!