NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

"Tapi, siapa orang yang menolongmu itu?" tanya Haru penasaran. Matanya menatap Kazura lekat, menunggu jawaban.

Kazura hanya mengangkat bahu pelan.

"Entahlah. Aku tidak terlalu memikirkannya."

"Kau tidak penasaran sama sekali?"

"Satu hal yang pasti, dia sudah menyelamatkanku. Orang yang rela membantu tanpa mengharapkan imbalan seperti itu pasti bukan orang jahat."

Haru terdiam sejenak, senyum tipis di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan penuh pikir.

Haru menundukkan pandangannya. Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Namun entah mengapa, Haru merasa jawabannya tidak sesederhana itu.

Haru melirik Kazura yang tampak santai dan tidak terlalu memusingkan kejadian itu.

Meski begitu, rasa penasaran mulai tumbuh di dalam hatinya.

Dan untuk pertama kalinya, Haru merasa ingin mengetahui identitas orang misterius yang telah menyelamatkan Kazura.

---

Dimalam ini Kaisar dan Master Seijun tengah membicarakan sesuatu di sebuah ruangan istana. Dengan wajah serius, Kaisar perlahan meletakkan sebuah surat di atas meja di hadapan Master Seijun.

“Apa ini, Kaisar?”

“Bacalah.”

Master Seijun membuka surat itu lalu membacanya dengan saksama. Seketika, alisnya berkerut dan tatapannya berubah tajam.

“Siapa yang berani mengancam Kaisar?” ucapnya serius.

“Surat ini sampai kepadaku sebelum insiden makhluk kutukan menyerang Desa Nagamari. Mungkin jika aku turun takhta saat itu, tragedi malam itu tidak akan terjadi dan rakyatku pasti masih bisa diselamatkan.”

Nada suara Kaisar terdengar penuh penyesalan.

“Kaisar, jangan menyalahkan diri sendiri. Semua pelakunya pasti akan terungkap saat waktunya tiba. Namun siapa sebenarnya penulis surat ini?”

Kaisar menghela napas panjang sebelum menjawab,

“Sepertinya ada seseorang yang mencoba merebut takhta dengan memanfaatkan makhluk kutukan. Jika situasi ini semakin memburuk, kemungkinan besar aku akan dikudeta.”

Dia menundukkan pandangannya sejenak.

“Aku telah gagal melindungi rakyatku. Sebagai seorang pemimpin, aku merasa sangat tidak kompeten.”

Master Seijun menatap Kaisar dengan penuh keyakinan.

“Kaisar, jangan berkata seperti itu. Rakyat masih membutuhkanmu.”

Kaisar terdiam beberapa saat sebelum kembali berbicara.

“Seijun.. kau adalah sahabatku. Aku meminta bantuanmu untuk menangkap para penghianat di istana.”

Master Seijun segera memberikan hormat.

“Dengan senang hati Kaisar. Kita pasti akan memenangkan pertarungan ini.”

Tanpa mereka sadari, sesosok misterius diam-diam menguping percakapan itu dari balik dinding ruangan.

Master Seijun tiba-tiba melirik ke arah dinding samping. Dia merasakan keberadaan seseorang yang sejak tadi mengawasi mereka.

"Kaisar, semakin kupikirkan, semakin banyak kejanggalan dalam insiden Makhluk Kutukan Harimau Putih."

Kaisar mengangguk pelan.

"Aku juga merasakan hal yang sama."

"Kita berhasil menangkapnya hidup-hidup. Itu adalah kesempatan terbaik untuk mengungkap siapa dalang di balik tragedi Desa Nagamari."

"Benar."

Master Seijun menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Namun tepat saat investigasi akan dimulai, seseorang menyerang istana."

Tatapan Kaisar berubah serius.

"Pria berjubah hitam corak emas itu."

"Ya. Serangannya terjadi pada waktu yang terlalu sempurna."

Master Seijun melanjutkan,

"Semua pemburu elit, termasuk aku, terpaksa meninggalkan Aula Sihir untuk menghadapi ancaman tersebut. Saat itu kami tidak terlalu khawatir karena Harimau Putih telah dikurung di balik dinding sihir tingkat tinggi."

"Mustahil baginya melarikan diri sendirian."

"Itulah yang kami pikirkan."

Ruangan menjadi hening.

"Namun setelah serangan berakhir dan kami kembali ke Aula Sihir, makhluk itu sudah tidak ada."

Kaisar mengepalkan tangannya.

"Seolah seseorang sengaja menciptakan kekacauan agar penjagaan Aula Sihir melemah."

"Tepat sekali."

Master Seijun menatap Kaisar dengan tajam.

"Semakin kupikirkan, semakin sulit menganggap semua ini sebagai kebetulan. Serangan pria berjubah hitam itu mungkin bukan bertujuan menghancurkan istana."

"Melainkan untuk mengalihkan perhatian kita."

Kaisar terdiam.

"Sedangkan target sebenarnya adalah Harimau Putih."

Master Seijun mengangguk.

"Jika memang demikian, berarti ada seseorang yang sangat takut makhluk itu berbicara."

"Atau seseorang yang takut identitasnya terungkap."

Keduanya saling berpandangan.

Untuk pertama kalinya, mereka mulai menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi mungkin bukan sekadar makhluk kutukan biasa, melainkan sosok yang bermain di balik layar.

Di balik salah satu pilar lorong istana, sesosok bayangan yang tidak diketahui identitasnya tersenyum tipis.

"Sepertinya mereka mulai menyusun potongan-potongan teka-teki."

Sosok itu berbalik. Lalu dia menghilang ke dalam kegelapan istana.

---

Jinsei menutup kitab tua itu perlahan. Debu beterbangan dari sela-sela halamannya yang rapuh. Cahaya lilin menari di permukaan meja kayu yang dipenuhi gulungan mantra dan simbol-simbol sihir terlarang.

Rumah tua yang tersembunyi jauh di dalam Hutan Terlarang itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Namun bagi Jinsei, kesunyian adalah teman terbaik bagi ambisi.

Di hadapannya, sebuah bola api kecil melayang. Angin berputar mengelilinginya. Uap dingin dari elemen es merayap di lantai kayu, sementara tetesan air melayang seperti mutiara di udara.

Empat elemen.

Empat kekuatan yang selama ini menjadi impian banyak penyihir. Dan semuanya perlahan mulai berada dalam genggamannya. Senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.

"Tidak cukup.."

Api itu membesar.

Angin di sekeliling ruangan berembus semakin kencang.

"Masih jauh dari cukup."

Banyak orang bermimpi menjadi kuat demi melindungi seseorang. Banyak orang mengangkat katana demi keadilan. Banyak orang rela mempertaruhkan nyawa demi dunia. Jinsei tidak pernah peduli pada semua itu.

Baginya, kekuatan adalah alat. Dan orang yang memiliki kekuatan terbesar berhak menentukan nasib dunia.

Sesederhana itu.

Matanya beralih ke rak-rak tua yang dipenuhi kitab terlarang milik Master Genjiro. Pengetahuan yang selama puluhan tahun disembunyikan dari kerajaan. Pengetahuan yang bahkan para penyihir elit tidak berani menyentuhnya.

Namun kini semuanya terbuka untuknya.

"Air.."

Tetesan-tetesan air berkumpul membentuk tombak tajam.

"Api.."

Lidah api menyelimuti katana itu.

"Angin.."

Putarannya semakin cepat hingga menghasilkan suara menderu.

"Es.."

Lapisan kristal dingin membungkus seluruh permukaannya.

Dalam sekejap, sihir gabungan itu melesat dan menghancurkan dinding batu di sudut ruangan. Ledakan keras mengguncang rumah tua tersebut. Jinsei hanya memandang hasilnya dengan tenang.

Tidak ada rasa kagum.

Tidak ada rasa puas.

Karena setiap kali menjadi lebih kuat, dia justru semakin sadar betapa tingginya puncak yang ingin dicapainya.

"Kaisar.."

Matanya menyipit.

Takhta itu selama ini berdiri di atas kekuasaan, darah, dan ketakutan.

Para bangsawan berebut pengaruh.

Para jenderal berebut kehormatan.

Sementara rakyat hanya menjadi bidak yang bergerak sesuai kehendak mereka.

Jinsei membenci semua itu. Bukan karena dia merasa dunia harus berubah. Melainkan karena dia ingin menjadi orang yang mengendalikan semuanya.

"Suatu hari.."

Tangannya mengepal perlahan.

"Aku akan menguasai seluruh elemen."

"Dan saat hari itu tiba. Takhta itu akan menjadi milikku."

Tidak peduli siapa yang menghalangi. Tidak peduli berapa banyak darah yang harus tumpah. Tidak peduli berapa banyak kerajaan yang harus runtuh. Karena dalam benaknya, dunia hanya memiliki dua jenis manusia.

Mereka yang berkuasa.

Dan mereka yang diperintah.

Jinsei tidak pernah berniat menjadi yang kedua. Dan di bawah bimbingan Master Genjiro, setiap mantra terlarang yang dia pelajari membawa dirinya selangkah lebih dekat menuju ambisi yang bahkan para Kaisar pun akan gemetar ketika mengetahuinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!