NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARUS YANG MENARIK TALI

Kami tidak langsung menyeberang. Aku mengajak Nira dan Gala berteduh di bawah pohon besar yang berdiri cukup jauh dari tepi. Hujan menampar daun, dan sungai terus membawa ranting, daun pisang, serta gumpalan tanah.

“Ayah bilang kalau air menutup bambu, kita harus menunggu,” kataku.

“Menunggu sampai kapan?” tanya Nira.

Aku tidak tahu. Hari akan segera gelap, sedangkan kami masih harus melewati kebun karet. Gala mengusulkan kami kembali ke sekolah, tetapi jaraknya lebih jauh daripada rumahnya. Akhirnya kami memutuskan menuju rumah Gala melalui jalan di sisi sungai tanpa menyeberang. Malam itu aku dan Nira menginap di sana.

Pagi berikutnya air sedikit turun. Beberapa warga datang membawa tali tambang. Mereka mengikat satu ujung pada pohon di sisi kami dan ujung lain pada batang waru di seberang. Tali itu tidak membuat sungai menjadi jinak, tetapi memberi sesuatu untuk dipegang.

Ayah muncul dari seberang bersama Pak Darma. Wajahnya tegang.

“Kalian semalam di rumah Gala?” teriaknya.

Aku mengangguk. Suara sungai menelan sebagian kata-kata kami.

Ayah menyeberang lebih dulu untuk menunjukkan cara. Tubuhnya miring melawan arus, kedua tangan memegang tali, dan setiap langkah mencari batu di dasar. Setelah sampai, ia meminta Gala menyeberang, kemudian aku, dan Nira terakhir di antara kami.

Aku berjalan di depan Nira. Tanganku kiri memegang tali, tangan kanan meraih lengannya. Air mencapai lututku, tetapi bagi Nira hampir ke paha. Sepatunya terisi air dan membuat langkahnya berat.

“Lihat punggungku,” kataku. “Jangan lihat air.”

Kami baru berada di tengah ketika arus datang lebih kuat. Tali bergetar. Kaki Nira tergelincir dari batu. Tubuhnya terputar, dan tanganku hampir lepas.

“Kak!”

Aku menarik lengannya. Ayah dari seberang meraih tali dan berteriak agar kami tetap tenang. Nira berhasil berdiri, tetapi sepatu kanannya terlepas. Benda cokelat itu berputar di air lalu hanyut.

“Sepatuku!” teriak Nira.

Tanpa berpikir aku melepaskan pegangan pada lengannya dan mengejar sepatu itu. Air naik sampai pinggang. Kakiku menghantam batu, lalu tubuhku terdorong ke samping. Aku hanya melihat sepatu Nira yang semakin jauh. Jika sepatu itu hilang, ia tidak mempunyai alas lain untuk sekolah.

Sebuah tangan mencengkeram kerah bajuku. Gala, yang tadi sudah hampir sampai seberang, kembali masuk ke air. Ia menarikku ke arah tali.

“Pegang!” teriaknya.

Aku meraih tali dengan satu tangan. Sepatu Nira tersangkut pada akar yang menjorok dari tepi beberapa meter di bawah. Gala mengikatkan lengannya pada tali, lalu meraih akar dengan kaki. Aku membungkuk dan berhasil menangkap tali sepatu sebelum arus membawanya lagi.

Kami sampai ke tepi dalam keadaan menggigil. Ayah langsung memukul bahuku satu kali, tidak keras, tetapi cukup membuatku tahu ia marah.

“Sepatu bisa dicari,” katanya. “Kau tidak.”

Aku menunduk. Di tanganku, sepatu Nira penuh air dan lumpur. Nira memeluknya, kemudian memelukku. Ia menangis tanpa suara.

Kami tetap pergi ke sekolah karena sudah berada di jalan kabupaten. Bu Satya terkejut melihat pakaian kami. Ia menyuruh kami mengganti seragam dengan pakaian cadangan dari gudang kesenian. Ukurannya terlalu besar, tetapi kering. Sepatu kami diletakkan dekat jendela. Selama pelajaran, aku dan Nira duduk tanpa alas kaki.

Anak-anak memperhatikan kaki kami yang keriput karena air. Beberapa berbisik. Jalu menutup hidung dan berkata kelas berbau lumpur.

“Kalau kau tidak suka, kau boleh belajar di luar,” kata Gala.

Jalu menatapnya. Biasanya tidak ada yang menegur. Kali ini beberapa anak ikut diam. Bu Satya belum masuk, tetapi tidak ada yang tertawa. Aku merasakan sesuatu yang baru: rasa malu masih ada, namun aku tidak berdiri sendirian di dalamnya.

Saat istirahat, Windu datang dari kelas Nira membawa sandal biru. Sandal itu milik kakaknya dan terlalu besar, tetapi lebih baik daripada berjalan tanpa alas.

“Pakai sampai pulang,” katanya kepada Nira.

“Kalau kotor?”

“Memangnya sandal dibuat untuk disimpan di lemari?”

Nira tersenyum. Ia mengikat bagian belakang sandal dengan tali agar tidak lepas. Aku memakai sandal sekolah yang biasa disimpan di kamar mandi.

Ketika pelajaran dimulai lagi, Windu sempat berdiri di luar kelas Nira karena kakinya sendiri tidak beralas. Pak Sasmita melihatnya dan mengambil sepasang sandal lain dari gudang. Tidak ada pidato tentang kebaikan. Hanya dua anak yang kembali duduk di bangku masing-masing. Pemandangan itu tinggal lama dalam ingatanku: pertolongan kadang tidak berbunyi lebih keras daripada langkah sandal pinjaman di lantai sekolah.

Sore hari sepatu Nira belum benar-benar kering, tetapi kami harus membawanya pulang. Kulitnya menjadi kaku. Ketika dipakai keesokan hari, sepatu itu terasa lebih kecil. Air dan panas tungku telah membuatnya menyusut.

Nira berjalan pincang selama dua hari. Setiap kali kutanya, ia mengatakan tidak apa-apa. Ia takut jika Ibu tahu, ia akan diminta tinggal di rumah. Baru pada malam ketiga aku melihat kuku jempolnya berwarna kebiruan.

“Kenapa tidak bilang?” tanyaku.

“Kalau sepatu dibuang, aku pakai apa?”

Aku melepas sepatunya. Bagian depan menekan jari. Kami memotong sedikit lapisan kain di dalamnya, lalu mengoleskan minyak kelapa agar kulit lebih lunak. Nira menahan sakit ketika mencoba kembali.

Mbah Wreda memeriksa sepatu itu keesokan harinya. Ia membuka jahitan depan, memukul kulit dengan palu kecil, dan memasang potongan kain agar ruang jari sedikit lebih longgar.

“Ini hanya menunda,” katanya. “Kulitnya sudah keras, solnya juga menipis.”

“Ada sepatu bekas lain?” tanyaku.

Mbah Wreda mengeluarkan sepasang sepatu dari bawah meja. Warnanya hitam, ukurannya hampir cocok untuk Nira, dan solnya masih memiliki alur. Sepatu itu tidak baru, tetapi dibanding milik kami, tampak seperti barang dari toko.

“Berapa?” tanyaku.

Ia menyebutkan harga yang baginya mungkin sudah sangat murah. Namun, aku langsung menghitung: uang itu sama dengan beberapa minggu belanja beras, lebih banyak daripada seluruh koin yang pernah kumiliki.

Nira mengembalikan sepatu itu ke meja. “Punyaku masih bisa dipakai.”

Mbah Wreda menatap kukunya yang biru, tetapi tidak membantah. Ia mengikat sepatu lama dengan tali merah tambahan agar bagian depan tidak terlalu menekan. Sebelum kami pergi, ia memberiku dua potong kulit sisa dan mengajari cara melunakkannya dengan minyak. Katanya, orang yang tidak mampu membeli barang baru harus belajar mengenali batas barang lama: mana yang masih dapat ditolong dan mana yang dapat mencelakakan pemakainya. Aku menyimpan nasihat itu bersama potongan kulit di dalam tas.

Dalam perjalanan pulang, aku menyentuh satu-satunya koin di saku—uang jajan yang belum kupakai. Aku memutuskan mulai menyimpannya.

Harga sepatu bekas yang lebih baik terus berputar di kepalaku. Jumlahnya terasa seperti jarak tujuh kilometer yang harus ditempuh dengan satu langkah saja.

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!