Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Suasana di dalam ruang kerja Creative Director sore itu terasa begitu tenang. Larasati duduk bersandar di kursi kerjanya yang nyaman, menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Di hadapannya, draf proyek pemasaran milik perusahaan Arjuna yang sempat ia lemparkan tadi pagi tergeletak terbuka. Larasati mengembuskan napas panjang, memijat pelipisnya yang terasa agak berat. Pikirannya mendadak diliputi oleh rasa sesal yang halus.
"Kenapa tadi aku sampai lepas kendali dan menyebut draf itu sampah?" batin Larasati, menatap jemarinya yang saling bertautan. Sebagai seorang Creative Director sukses yang selalu menjunjung tinggi profesionalisme, Larasati tahu betul tindakan verbalnya di ruang rapat tadi pagi kurang bijaksana. Ia jujur mengakui dalam hatinya bahwa kualitas draf yang diajukan divisi Arjuna memang masih kurang dan tidak menyentuh standar agensinya. Data analisis kompetitornya sangat dangkal. Namun, kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya tadi pagi murni karena ia terbawa suasana emosional akibat luka pengkhianatan Arjuna yang secara tidak sadar masih membekas di sudut hatinya. Larasati merasa bersalah pada integritas kerjanya sendiri, bukan karena ia masih mencintai Arjuna, melainkan karena ia tidak ingin masalah pribadinya mencoreng profesionalisme yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan susah payah.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang kerja Larasati diketuk perlahan, membuyarkan seluruh lamunan mendalamnya. Pintu terbuka, menampilkan sosok Evan yang melangkah masuk dengan nampan berisi segelas teh chamomile hangat dan sepiring kecil camilan makaron warna-warni.
"Permisi, Mbak Larasati yang selalu anggun. Menu penenang pikiran dari lantai teratas sudah tiba." ucap Evan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, sangat kontras dengan banyolan cemprengnya yang khas.
Larasati tersenyum tipis, menerima makanan itu.
"Terima kasih, Evan. Tapi, kamu tidak perlu repot-repot mengantarkan ini. Saya jadi merasa tidak enak dengan staf yang lain."
Evan menarik kursi di depan meja Larasati, lalu duduk dengan rapi. Raut wajahnya berubah menjadi lebih serius dan dewasa, menunjukkan sisi profesionalnya sebagai tangan kanan CEO yang cerdas.
"Mbak Laras, saya tahu apa yang sedang Mbak pikirkan. Maafkan kelakuan saya dan Bos Besar di ruang rapat tadi pagi jika terkesan terlalu ikut campur atau... apa ya istilahnya, julid dengan urusan pribadi Mbak," ucap Evan dengan tulus, menatap Larasati dengan pandangan penuh rasa hormat.
"Saya bertindak seperti itu tadi pagi bukan karena saya hobi mengurusi gosip orang lain, Mbak. Tapi karena saya dan Pak Dewa sangat menghormati integritas Mbak Laras di kantor ini. Kami tidak sudi melihat pria tidak kompeten... maksud saya, pria tidak tahu diri seperti Arjuna mencoba mengintimidasi atau mengacaukan fokus mental Mbak di lingkungan kerja Dirgantara Media. Tugas saya adalah menjaga kenyamanan Anda sebagai salah satu aset terbaik kami."
Larasati tertegun, matanya berkedip pelan mendengar penjelasan Evan. Rasa hormatnya pada asisten pribadi CEO itu seketika melonjak tinggi. Evan ternyata bukan sekadar pria bermulut tajam yang hobi bercanda, melainkan seorang tangan kanan yang sangat loyal, peka, dan tahu bagaimana cara melindungi rekan kerjanya dengan cara yang elegan.
"Terima kasih, Evan. Penjelasanmu membuat hatiku jauh lebih tenang." balas Larasati dengan seulas senyum tulus yang sangat manis.
Tepat saat kehangatan itu tercipta, pintu ruangan kembali terbuka secara perlahan. Sosok tegap Dewa Dirgantara melangkah masuk. Pria berusia 38 tahun itu sudah melepaskan jas abu-abu gelapnya, kini hanya mengenakan kemeja putih dengan dasi yang sedikit dilonggarkan, memberikan kesan kasual namun tetap memancarkan karisma kepemimpinnya.
Dewa menatap tajam ke arah Evan yang masih duduk di sana.
"Evan, kenapa kamu masih berada di sini? Apakah laporan keuangan divisi penyiaran yang saya minta tadi siang sudah selesai kamu periksa?"
Evan langsung bangkit berdiri dari kursinya dengan gerakan refleks yang kocak, memasang cengiran usilnya.
"Aduh, Bos Besar yang terhormat, ini sudah 95 persen selesai kok! Saya cuma sedang menjalankan misi kemanusiaan untuk memastikan Creative Director andalan kita tidak sedang mengurung diri karena draf proyek yang kurang memuaskan tadi pagi. Saya permisi mundur teratur, Bos!"
Tanpa menunggu perintah kedua, Evan segera melangkah cepat keluar dari ruangan, menutup pintu jati tersebut dengan sangat teliti, meninggalkan Dewa dan Larasati berdua di dalam keheningan ruangan yang mendadak terasa begitu intens.
Dewa melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di samping meja kerja Larasati. Aroma parfum kayu cendananya yang mewah langsung memenuhi indra penciuman Larasati, membuat debaran halus kembali merayap di dada wanita cantik itu.
Dewa menatap lekat draf proyek Arjuna yang terbuka di atas meja, lalu beralih menatap mata indah Larasati dengan binar pandangan yang teramat lembut.
"Saya tahu, kamu sedang mengevaluasi dirimu sendiri tentang kejadian tadi pagi, Larasati." ucap Dewa dengan nada suara baritonnya yang sangat tenang dan menenangkan.
Pria itu menyandarkan pinggulnya di sudut meja, melipat kedua tangannya di dada. "Kamu merasa tidak profesional karena telah menyebut draf mereka sebagai sampah, bukan?"
Larasati mendongak, matanya membelalak kecil karena terkejut bagaimana bos besarnya ini bisa membaca isi kepalanya dengan begitu akurat.
"Pak Dewa... bagaimana Anda bisa tahu?"
"Karena saya mengenalmu melalui hasil kerjamu selama ini, Larasati. Kamu adalah wanita yang selalu rasional." jawab Dewa dengan senyum tipis, berbalut rasa kagum. "Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Kualitas draf pemasaran yang dibawa Arjuna tadi pagi memang sangat buruk dan tidak layak untuk holding media kita. Kata-katamu tadi pagi mungkin agak tajam karena faktor emosional, tapi kritik bisnismu seratus persen akurat. Perusahaan mereka memang kurang kompeten dalam analisis kompetitor." Dewa memajukan tubuhnya sedikit, memperkecil jarak di antara mereka hingga Larasati bisa melihat dengan jelas gurat ketampanan di wajah matang sang CEO lajang tersebut.
"Jangan pernah merasa sendirian menghadapi proses ini, Larasati. Di ruang rapat tadi, saya menekan Arjuna bukan karena saya ingin ikut campur dalam drama masa lalumu, melainkan karena saya tidak akan membiarkan pria mana pun merusak ketenangan mental wanita yang... yang sangat saya hargai di perusahaan ini" lanjut Dewa, mengubah kata wanita yang saya cintai menjadi wanita yang saya hargai demi menjaga kenyamanan Larasati, namun binar matanya tidak bisa menyembunyikan getaran asmara dari seorang perjaka konglomerat yang sedang bergerak maju tanpa rem.
Wajah cantik Larasati mendadak merah padam, mendengar perhatian terselubung yang begitu jantan dan berkelas dari Dewa Dirgantara. Seluruh pertahanan mentalnya yang biasa kokoh, seketika menguap begitu saja, digantikan oleh rasa hangat yang manis yang kini mulai mekar di dalam hatinya, menyadari bahwa proses bangkitnya dari pengkhianatan masa lalu akan terasa jauh lebih indah di bawah naungan sang penguasa bisnis ini.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok