Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima jam penantian
Lima jam berlalu.Tidak ada satu pun dari mereka yang beranjak dari depan ruang tindakan.Lampu bertuliskan SEDANG DITANGANI masih menyala.
Setiap kali pintu ruang tindakan terbuka,seluruh keluarga langsung berdiri berharap ada kabar baik.Namun yang keluar hanya perawat yang terburu-buru mengambil obat atau peralatan medis.Tidak ada satu pun yang berani mengeluh.Tidak ada yang merasa lapar atau sekedar memejamkan mata.
Ages masih duduk di lantai, bersandar pada dinding tepat di depan ruang tindakan.Kemeja putih yang dikenakannya masih dipenuhi noda darah milik Kalandra.
Tatapannya kosong.Di tangannya, masih tergenggam erat helm Kalandra yang tadi dibawa petugas kepolisian sebagai barang milik korban.Helm itu retak di beberapa bagian.Setiap kali melihatnya, dada Ages terasa seperti diremas.
"Kala..." Suaranya hampir tidak terdengar. "Maafkan papa.."
Sean duduk beberapa kursi dari Ages.Kedua matanya merah akibat terus menangis.Ia tidak lagi memiliki tenaga untuk menghibur siapa pun.Sesekali ia menatap pintu ruang tindakan, berharap adiknya segera keluar dengan selamat.
Di sampingnya, Kakek Sabiru terus memutar tasbih di tangannya.Bibirnya tak henti-henti melantunkan doa.Air mata mengalir tanpa mampu dibendung."Cucu Kakek...jangan tinggalkan kami..." .Suara lelaki tua itu terdengar begitu rapuh.
Arsen berdiri di depan jendela lorong.Kedua tangannya mengepal.Rahangnya mengeras,tatapannya tidak pernah lepas dari pintu ruang tindakan.Di dalam hatinya berkecamuk dua perasaan.Sedihd an marah.
Marah kepada keadaan dan kepada Ages.Namun lebih dari itu ia juga tahu bahwa adiknya saat ini sedang menghukum dirinya sendiri jauh lebih keras daripada siapa pun.
Tepat lima jam setelah Kalandra dibawa masuk.Lampu ruang tindakan akhirnya padam.Pintu perlahan terbuka.Seorang dokter bersama dua perawat keluar dengan wajah serius.Semua orang langsung berdiri.
"Dok..." Suara Ages bergetar. "Bagaimana anak saya?"
Dokter melepas masker medisnya.Ia menarik napas panjang sebelum berbicara.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menangani kondisi putra Bapak."
Jantung Ages berdegup semakin cepat.
"Kondisinya bagaimana, Dok?"
Dokter menatap satu per satu anggota keluarga yang berdiri di hadapannya. "Akibat kecelakaan tersebut, Kalandra mengalami beberapa cedera serius."
Lorong rumah sakit kembali sunyi.
"Tangan kirinya mengalami patah tulang akibat benturan keras ketika tubuhnya terpental."
Ages menutup matanya,dadanya semakin terasa sesak terhimpit rasa sesal.
"Lutut kirinya juga mengalami pergeseran sendi sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut."
Sean langsung menundukkan kepalanya,tanganya kembali gemetar.
"Kalandra juga mengalami luka robek pada bagian kepala dan beberapa luka di wajah." Suara dokter mulai terdengar semakin berat. "Selain itu, benturan keras di bagian kepala menyebabkan perdarahan yang cukup banyak."
Kakek Sabiru langsung memegang dadanya. "Ya Allah..."
Dokter menghela napas. "Saat ini kami masih memantau kondisinya dengan sangat ketat."
"Apakah..." Suara Ages nyaris hilang. "...anak saya baik-baik saja?"
Dokter terdiam beberapa detik. "Luka-luka yang dialami Kalandra sangat berat."
Ages mulai kehilangan keseimbangan.
"Dan karena kehilangan banyak darah..." Dokter menatap Ages dengan penuh empati. "...kondisi Kalandra saat ini masih dalam keadaan kritis."
"Untuk sementara anak anda sudah kami pindahkan ke ruang ICU."
Kalimat itu seakan menghentikan waktu.Ages membeku,Sean menutup wajahnya dengan kedua tangan.Tangisnya pecah. "Adek..."
Kakek Sabiru terduduk lemas di kursi.
Air matanya mengalir semakin deras. "Ya Allah...cucuku."
Tamara yang sejak tadi berusaha tegar justru kehilangan kesadarannya.
"Mami!"
Tubuh Tamara roboh begitu saja. Arsen dan beberapa perawat segera menolongnya.
"Mi.."
"Bu..! Ibu...".Perawat segera membawa Tamara ke ruang pemeriksaan.
Suasa kembali tegang,tak hanya Tamara.Bahkan Ages pun merasa tubuhnya terasa semakin lemas,kepalanya terasa berat namun Ages harus kuat.Ia harus berusaha tetap berdiri demi sang anak.
Ages perlahan berjalan mendekati dokter.
"Dok..." Suaranya bergetar hebat.
"Saya..." Ia tidak mampu melanjutkan kalimatnya. "Apakah saya boleh melihat anak saya?"
Dokter mengangguk pelan.
"Boleh, tetapi hanya sebentar. Kondisinya masih sangat tidak stabil."
Ages mengangguk berkali-kali. "Terima kasih..."
Langkahnya terasa sangat berat.Setiap meter menuju ruang perawatan terasa seperti hukuman.Dan ketika pintu terbuka Ages kembali membeku.Di atas ranjang Kalandra terbaring dengan kepala diperban.
Beberapa bagian wajahnya ditutupi perban kecil.Lengan kirinya telah dipasang penyangga.Berbagai selang dan alat pemantau terpasang di tubuh remaja itu.Suara monitor berdetak pelan memenuhi ruangan.
Ages mendekat dengan langkah gemetar.Tangannya perlahan menggenggam jemari kanan Kalandra yang terasa dingin.Air matanya kembali jatuh.
"Kala..." bisiknya namun tidak ada jawaban. "Kamu pernah bilang...". Suara Ages tersendat. "...asal sama papa,makan mi instan di rumah juga enggak apa-apa."
Tangisnya pecah. "Harusnya malam itu papa datang."
"Harusnya Ayah menepati janji."
"Harusnya Ayah memilih kamu." tangisnya semakin pilu.
Ages menundukkan kepalanya di sisi ranjang putranya. "Maaf...maaf karena Pap baru sadar setelah semuanya terlambat."
Monitor di samping ranjang terus berbunyi pelan.
Ages mengusap pelan jari Kala. "Bangun yuk,dek.Papa tau kamu marah tapi papa mohon bangun dulu biar kamu bisa hukum papa langsung."
Hal yang paling menyakitkan bagi Ages saat melihat Kaka memejamkan matanya yang terlihat begitu tenang.Ages tak suka itu,ia lebih senang melihat wajahnya anaknya yang marah, merajuk atau manja.
"Dek,kesalahan papa sangat fatal ya sampe kamu hukum papa seperti ini?" lirihnya kembali. "kamu boleh pukul papa,boleh minta apa aja,boleh main game sampe pagi...asal kamu buka matamu,dek."
Ages masih ingin menemani Kalandra,namun ia tak boleh egois.Masih ada Ayahnya dan keluarga lainnya yang ingin melihat Kala.
Dan kini giliran Sean yang masuk.Tak hanya Ages,Sean pun sama seperti Ages rasanya tubuhnya tak bertulang.
"Dek.." panggilnya lirih. Sean tak kuat lagi,tangisnya pecah.Apalagi mengingat darah yang mengalir di kepala Kala dan mengenai kulit tangannya.
"Maafin gue,dek.Gue gagal jadi abang yang baik buat lo." napasnya terasa berat. "Gue gak bisa lindungi lo,dek."
Isak pilu saling bersahutan dengan suara monitor yang memecah sunyi ruangan itu.
"Kalo aja tadi gue bisa nahan lo,mungkin lo masih bisa buka mata dan juga ketawa sama gue."
"Dek,bangun yuk.Buka mata lo,gue janji ps punya gue yang baru beli kemarin buat lo.Gue juga bakal kasih sepatu lari yang lo incar duluan itu asal lo mau bangun."
Sementara di luar ruangan...
Arsen masih berdiri memandang ke arah pintu.Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.Ia hanya berharap semoga Kalandra membuka matanya lagi.
Karena jika tidak,tidak akan ada penyesalan yang mampu menghapus luka yang kini harus ditanggung Ages Sabiru seumur hidupnya.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋