NovelToon NovelToon
Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Lina Rahim

Dear, Jodohku!! PART 2

Kita yang dipertemukan oleh takdir dan dbersatukan dalam ikatan cinta yang suci..
Masih teringat jelas, bagaimana haru menyelimuti hatiku ketika seruan orang-orang terdengar riuh mengucap SAH, saat Ijab yang kau ucapkan dengan satu kali tarikan nafas..

Aku bahagia, dan berharap kehidupan rumah tangga ini akan selalu dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang..

Sayangnya, Cinta dan kasih sayang tidaklah cukup untuk membuat kehidupan rumah tangga kita bahagia..

Sesuatu telah menggrogotiku..

Mohon Kritik dan Sarannya..😊😊
Terimakasih..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Rahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nina..!!

Waktu menunjukkan pukul 06:55. Aku bergegas siap-siap kesekolah dengan sedikit terburu-buru karena nyaris terlambat.

Aku ingat semalam, Farhan bernyanyi untuk membuatku tertidur dan benar nyanyian Farhan benar-benar bisa membuatku tertidur nyenyak, saking nyenyaknya sampai membuat aku terlambat bangun pagi.

Aku tidak tahu pasti kapan kesadaranku benar-benar hilang. Hanya saja ada sesuatu yang mengganjal. Aku terus berfikir apakah aku sedang mimpi atau hanya halusinasiku, ataukah mungkin memang benar.

Saat aku tertidur semalam, aku sempat tersadar karena sesuatu hal yang tidak bisa kuingat, tapi aku menyadari bahwa telfonku dengan Farhan masih terhubung. Aku tidak mendengar dengan jelas, hanya saja ada beberapa kata-kata Farhan yang sedikit terdengar jelas dan ada beberapa yang terdengar samar-samar. Jika aku tidak salah dengar dan salah mengingat, Farhan seolah berbicara tentangku. Aku mendengar Farhan sesekali menghela nafas, dan berkata sesuatu yang membingungkan.

Aku berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepedaku sambil terus mengingat-ingat perkataan Farhan semalam. Aku seperti mendengar Farhan berkata "Aku bahagia meski hanya begini Salwa, bukan hal yang mudah bagiku menyembunyikan perasaanku padamu selama ini, tapi pada akhirnya kamu tidak menyadarinya kan? Aku aktor yang hebat bukan? Aku bisa membuatmu percaya bahwa aku tidak lagi memiliki perasaan terhadapmu, meski sebenarnya hatiku masih saja sulit kukendalikan saat bersamamu. Maafkan aku yang egois ini.. Tapi tenang saja, sesuka apapun aku padamu, aku tidak akan menjadi orang yang merusak hubunganmu dengan Fauzi, akrab dan bisa membuatmu tidak canggung sama aku aja itu udah cukup buat aku"

Selain itu aku masih mendengar beberapa kata dari Farhan tapi sangat samar-samar sehingga membuatku tidak bisa mengingatnya. Ah apakah yang kudengar nyata ataukah memang aku hanya berhalusinasi?

Aku tiba disekolah, kurang tiga menit saja sudah bisa dipastikan aku tidak akan bisa mengikuti pelajaran pertama hari ini.

"Salwa.."

Aku menoleh mendengar seseorang memanggil namaku.

"Nina??"

Kulihat Nina berlari kecil menghampiriku.

"elah.. gak usah lari-lari, udah kayak kelas jauh aja.." Kataku menegur

"Gak papa kali.. itung-itung aku olahraga pagi lah.." Jawabnya ngeles.

"Heh.. Olahraga macam apa yang berlari hanya beberapa meter?" Jawabku ketus sambil lanjut berjalan beriringan dengan Nina menuju kelas.

Nina adalah teman pertama yang kumiliki disekolah ini. Ya maklum.. aku bukan asli daerah sini, sehingga aku tidak memiliki teman alumni SD, SMP, atau teman Les dikota ini. Aku berbaur sebisaku agar memiliki teman. Dan Nina inilah yang menjadi teman pertamau disini.

Nina adalah tipe orang yang berkata terus terang sehingga apa-apa yang dia anggap tidak baik, ia akan langsung menegur. Nina teman yang baik, pengertian dan perhatian. Hanya saja Nina salah satu manusia yang menilai laki-laki dari tampangnya dan dengan keuntungan apa yang bisa diraih. Ia selalu berkata "Jangan mau diambil untung sama laki-laki, Jadi sebelum dia mengambil untung dari kita, kita harus lebih duu mengambil untung darinya".

Ya karena pemikiran seperti itulah yang membuat Nina sangat mendukungku saat tau Farhan mengutarakan perasaannya padaku.Karena ia pikir, Farhan itu tampan dan memiliki kepribadian yang baik. tak lupa Nina juga membahas status sosial keluarga Farhan yang cukup mampu untuk dijadikan kategori lelaki harapan masa depan cerah bagi NIna.

Ah, Jangan berfikiran yang salah-salah tentang NIna Dia bukan kategori perempuan yang menomorsatukan isi dompet lelaki. Dia hanya gadis yang berfikir sangat realistis. Mungkin karena sampai diusianya yang saat ini dia belum juga pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dengan sesorang, sehingga membuatnya berfikiran seperti itu. Kurasa, jika suatu hari nanti Nina merasakan yang namanya jatuh cinta, pikiran logisnya yang saat inipun akan berubah mengikuti kata hatinya.

"Salwa.."

"hem..?"

"Kemarin kamu jalan sama kak Farhan?"

"Iya.. why?"

"Kok gitu??"

Pertanyaan Nina jadi sedikit mengejutkankan. Aku mngerutkan dahi dan menoleh kearah Nina yang lebih pendek dariku.

"Apanya yang 'kok gitu'?"

"Ya masa kamu jalan sama cowok lain, sama sahabatnya pacarmu pula"

"Ya bagus dong kalau sahabatnya pacarku, ya kan jadinya gak ada yang perlu di khawatirkan" Jawabku enteng

"Malah itu yang bikin Khawatir besar Salwa.." Katanya sambil menarikku karena aku hampir saja tersenggol dengan siswa yang lain yang sedang berjalan berlawanan arah.

"Lah kenapa?" Tanyaku

"Kamu lupa atau gimana sih?"

"Apanya?"

"Kak Farhan kan pernah suka sama kamu, kalau sampai kamu dan dia jadi, terus kak Fauzi gimana? Bisa bisa ada perang antar saudara entar antara kak Fauzi sama kak Farhan"

"ya enggak lah.. Lagian kak Farhan udah nganggep aku teman biasa kok, udah gak ada lagi perasaannya ke aku kayak dulu"

"Tau darimana?"

"Ya dari kak Farhan lah.."

"Dia ngomong gitu ke kamu?"

"Iya.."

"Terus kamu percaya?"

"Ya terus??" Tanyaku kembali.

Aku tiba dikelas dan duduk di kursiku yang diikuti oleh Nina.

"Dengar ya Salwa, gak ada isitilah pertemanan antara cowok dan cewek. Pada akhirnya akan ada kisah atau benih-benih cinta yang tumbuh lebih cepat dari benih tomat yang dikasi pupuk sekarung"

"Ada kok, ini aku sama kak Farhan"

"Ish.. Kamu kok gak ngerti sih sama maksud aku.." Katanya dengan nada yang mulai kesal.

"Iya.. aku tau apa yang Nina Khawatirkan, tapi beneran aku sama kak Farhan gak seperti dengan apa yang kamu pikirkan" Jelasku

"Kamu yakin? Kamu percaya sama apa yang kamu ucapkan barusan? Kamu bisa meyakini kalau kak Farhan benar seperti itu ke kamu? kamu yakin perasaan kak Farhan yang lalu beneran udah hilang?"

Pertanyaan beruntun dari Nina membuatku terdiam sejenak. AKu jadi teringat kembali sama ingatan samar-samar yang aku dengar tadi malam. Jika benar yang aku dengar tadi malam bukan kesalahan dan imajinasiku saja, itu berarti...

"Weiii.. dengar aku gak sih??" Kata Nina mencubit pipiku.

"Iyaa iyaa NIna.. Tapi aku yakin kak Farhan beneran udah ngebuang perasaan sukanya ke aku. Dia beneran udah ngeliat aku sebagai teman aja, bukan sebgai perempuan yang dia suka. Lagian itu juga udah lama banget kan.." jelasku

"Kamu bagaimana??"

"Aku bagaimana apanya?" Tanyaku balik.

"Kamu beneran gak ada perasaan kan sama kak Farhan??"

Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan Nina. Aku? Apa aku memiliki perasaan kek Farhan?

"Yaa.. yaa yaa enggaklah.." Jawabku terbata-bata lalu mengalihkan pandanganku dari Nina.

Ah, mengapa pertanyaan Nina yang seperti itu membuatku bingung. Harusnya aku bisa dengan mudah menjawab tidak, bukannya malah ragu-ragu seperti ini.

"Yakin??" Kata Nina meraih wajahku dan menekan-nekannya.

"Iyaa yakin Nina.." Jawabku "Lagian kamu juga tumben-tumbennya ngebahas ini.." Tanyaku kembali.

"Ya kan baru kemarin kamu jalannya berdua doang sama kak Farhan.."

"Gak tuh.."

"Gak?? Gak apa maksudnya??" Tanya Nina dengan nada yang sedikit tinggi dan matanya yang bulat makin membulat karena setengah melotot.

"Ya.. ya bukan kemarin aku pertama kali ja jalan berdua sa sama kak Farhan.." Jawabku ragu-ragu.

Aduuhh... kenapa juga aku bilang sih, ya kan Nina jadi makin banyak tanya dan makin ribut nantinya. Aku seperti menggali kuburku sendiri dengan mengungkapkan hal seperti itu pada Nina.

1
Nola
keren
Nunung Nung
hay salwa
Salasiah MamaNa CaLya
nangis mmbacanya. pdhl ini sdh yg kedua kli lho membaca novel ini /Cry//Cry/
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
A. Yan U.
wah fauzi hebat banget ngendaliin emosinya. andai dia juga bisa gitu
mamayot
RANJANG BASAH SANG PERAWAN..

Mampir ya ke novel ku
Fransiska Siba
itu tidak seberapa Salwa saat kau menyakiti Fauci dlu. para pembaca blg kaishan Salwa, hello gimana Fauci yg berjuang yg terbaik buat Salwa, menjaga cinta nya, mengala demi Salwa, semua yg dia lakukan tp apa balasannya yaitu perselingkuhan Salwa dan Farhan apalagi sahabatnya sendiri itu lebih menyakitkan org yg kita percayai, dan parahnya lagi Salwa dlu egois sekali hanya ingin dia yg mau dimengertikan sedangkan Fauci dia tidak mengertikan.
Fransiska Siba
kalau aku dukung Fauci sama yg lain, dia berhak mendapat yg lebih baik dari Salwa yg egois, emosian dan tukang selingkuh dan plin plan
Fransiska Siba
paling benci sama Salwa, perempuan tp hatinya munafik dan murahan. cowok sebaik Fauci bisa dia sakiti apalagi Farhan.
kalau ditulis thor semoga Salwa dapat lebih baik dari Fauci yg bisa menjaga Salwa menurutku terbalik dehh, malah doa itu harusnya ke Fauci. krn Salwa tidak pantas untuk Fauci. cewek sepeti gampang selingkuh, dia gampang bosan dan gampang bawa perasaan, setiap masalah tidak diselesaikn dgn baik2 tp dia menghindar dan egoissss sekali jadi cewek
Sayang ibu
lanjutttt thor✌️
Muyas Muyas
lanjut donk
Rina Fachyuliani
akhirnyaaa setelah sekian lama maaf aku baru mampir thor, semoga cerita anaknya ga sedramatis orang tuanya
Irsan
Privasi adalah hak menyimpan informasi pribadi.. privasi pemerintahan negara,privasi agama,privasi adat budaya suku, privasi hubungan pasangan dan terkecil privasi pribadi ,semua ada porsinya. Privasi pemerintahan negara +62 tdk boleh di ganggu/di ketahui oleh pemerintahan +123 tetapi kalau sesama pejabat pemerintahan negara +62 menyimpan privasi negara yang hubungannya berkaitan dengan kelangsungan hidup negara itu artinya ada potensi penyimpangan pemerintahan.. Fauzi sepertinya menyama ratakan tingkat privasi, Fauzi tdk membedakan privasi hubungan 2 orang atau sebuah pasangan dengan privasi tingkat terkecil yaitu diri sendiri.
sri susanti
di tunggu upny kk,,
sri susanti
cerita baru,, coba baca
bunda dad
Semangat kak lina...🤩
Sayang ibu
😭😭author berhasil bwt aq mewek😤
bunda dad
mikayla ada rasa lebih dr sahabat sama fariz. jodohin ja thor 😍
bunda dad
akhir nya ber sua kembali sama awa oji 🥰
bunda dad
lanjut kaka...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!