NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Gerombolan Rawa Belong

Adipati pangeran Muncak Gede menghela nafas berat. Pangeran yang ganteng itu menatap dalam kepada Bagaga Alam. Lalu dia melirik kearah Danang Wesi dan Ni Kirana sekilas.

"Begini. Di pesisir, tepatnya di kawasan rawa Belong. Telah berdiri satu kelompok besar. Mereka menamakan kelompok mereka dengan Gerombolan Rawa Belong.

Apa yang mereka lakukan hampir hampir mirip dengan sekte Iblis Darah. Sekte sesat amat kuat di dunia yang telah engkau tumpas."

"Sekte Iblis Darah ?  Bukankah masih ada sisa sisa sekte itu di Jawa Dwipa ini. Tapi mereka rata rata telah berganti nama. Mungkin itu yang namanya politik ganti baju.

Maksudku mereka itu itu juga. Hanya karena sesuatu dan lain hal mereka semua berganti nama."

Tiba-tiba Danang Wesi nyelutuk. Bagaga Alam alias Pandeka Pedang Suling Kumala atau juga yang juluki Pendekar Suling Perak dan Adipati pangeran Muncak Gede tersentak. Kedua orang itu menatap Danang Wesi dengan tatapan serius.

"Apakah mungkin jika Gerombolan Rawa Belong ini merupakan perwujudan dari sisa sisa sekte Iblis Darah yang dulu mungkin sempat lolos...???" Pemikiran itu tiba-tiba muncul dalam pemikiran Bagaga Alam dan Adipati pangeran Muncak Gede.

Dua orang itu saling bertukar pandang. Bagaga Alam lalu minta pada Adipati pangeran Muncak Gede.

"Pangeran, coba lanjutkan dulu penuturan mu." Bagaga Alam berucap. Namun nada suara pria muda yang ganteng itu berubah.

"Baiklah, aku lanjutkan.

Area rawa Belong itu merupakan kawasan dataran rendah. Sebagian besar area itu merupakan rawa payau yang berhubungan langsung dengan laut Utara Java Dwipa.

Ada sebuah hutan yang unit. Merupakan perpaduan hutan bakau dan hutan rumbia. Hutan itu dikelilingi oleh rawa dan tanah payau hisap. Di hutan unik itulah markasnya Gerombolan Rawa Belong."

Pangeran Muncak Gede berhenti sejenak. Adipati Daeyuh Sundasebawa itu mengatur nafas sejenak. Setelah itu dia menyesap kopinya. Bagaga Alam tidak bicara, dia menunggu kelanjutan penuturan Adipati pangeran Muncak Gede.

Ni Kirana memperhatikan sikap Bagaga Alam diam diam. Perasaan gadis itu masih berkecamuk. Jadi benar kang mas Bagaga sudah menikah ?  Tapi apa masalahnya dengan itu. Banyak pria hebat punya dua, tiga bahkan sampai sepuluh orang istri.  Ni Kirana berkata sendiri dalam hatinya.

Berbeda dengan Danang Wesi. Pemuda gagah itu mendengar penuturan Adipati pangeran Muncak Gede dengan serius.

"Gerombolan itu dipimpin oleh Ranggau Manusuk seorang sakti yang sudah mencapai tingkatan pendekar suci tengah. Sampai saat ini tidak ada satu pendekar pun di tataran Sunda ini yang mampu menghadapi Ranggau Manusuk."

"Apakah ada kemungkinan Ranggau Manusuk merupakan salah satu pentolan sekte Iblis Darah ?  Tapi kenapa diwaktu kita menumpas markas sekte Iblis Darah tataran Sunda kita tidak menemukan sosok Ranggau Manusuk itu ?"

Bagaga Alam mendesak Adipati pangeran Muncak Gede dengan berbagai pertanyaan. Adipati Daeyuh Sundasebawa agak sedikit gelagapan. Dia tidak pernah tahu apakah Gerombolan Rawa Belong merupakan penjelmaan dari sekte Iblis Darah yang telah hancur.

Melihat sikap pangeran Muncak Gede yang agak kebingungan, Suta Nanta mencoba untuk memberi penjelasan.

"Maaf Pandeka Pedang Suling Kumala. Kami memang tidak tahu apakah Gerombolan Rawa Belong itu merupakan penjelmaan dari pecahan sekte Iblis Darah yang tersisa. Namun dari penyelidikan yang telah kami lakukan, ada beberapa hal yang cukup penting.

Selain ketua Gerombolan Rawa Belong yang telah berada ditingkat pendekar suci tengah. Masih ada tiga orang tetua. Tetua 1 adalah Linsang Api, orang ini berada pada tingkatan pendekar langit puncak. Tetua 2 adalah Nyi Belong Ranti  seorang pendekar wanita yang sudah berumur 40 tahun. Namun sangat cantik dan penuh gairah. Seorang ahli racun, dia bahkan bisa menyedot esensi kehidupan pria yang sedang melakukan hubungan badan dengan nya. Meski tetua Nyi Belong Ranti hanya berada ditingkat pendekar langit awal. Namun dia adalah tetua yang paling berbahaya.

Tetua 3 adalah seorang pria yang agak pendek. Namun tubuhnya sangat kekar, mungkin karena itu dia hanya menggunakan celana hitam dengan sabuk perak. Tetua 3 ini berada ditingkat pendekar langit tengah akhir. Dia memiliki pukulan yang sangat kuat. Dia bahkan bisa membunuh seekor gajah bengkak dengan satu pukulan.

Tetua 3 ini rimba hijau dunia persilatan mengenalnya dengan nama Tinju Gledek.

Diluar itu, Gerombolan Rawa Belong belum begitu besar. Anggota mereka hanya tiga ratus orang. Mereka berada ditingkat pendekar emas sampai pendekar bumi. Lebih dari 50 orang adalah pendekar bumi."

"Hmm... Itu kekuatan yang sangat besar.  Kenapa kekuatan sebesar itu tidak langsung ditangani ?"

"Sebetulnya aku sudah pernah membicarakan hal ini dengan ayahanda dan paman Mapati Giring Amarta. Namun belum ada tanggapan serius."

"Hm tunggu. Tadi Pangeran bilang markas mereka berada di tengah hutan yang dikelilingi oleh rawa payau.

Bagaimana pengamatan kalian untuk bisa keluar masuk menuju hutan itu ?"

"Perahu. Hanya dengan perahu. Karena rawa payau lebih basah dari rawa biasa. Dengan bantuan energi mendalam, perahu bisa melaju cepat di permukaan rawa."

Bagaga Alam mengangguk mendengar penjelasan dari Muncak Gede dan Suta Nanta.

Kalau begitu lakukan pengawasan yang lebih mendalam sampai satu pekan ke depan. Setelah itu kita putuskan.

Oh iya, Pangeran Muncak Gede. Apakah engkau mempunyai pasukan khusus, seperti pasukan Darah Besi nya Dharmasraya ?"

"Ada saudara ku. Pati Maung Sakti telah membangun Pasukan Macan Perak. Mereka hanya lima puluh orang. Mereka terdiri dari para pendekar yang telah berada ditingkat pendekar emas dan pendekar bumi. Mereka juga merupakan pasukan rahasia kadipaten Daeyuh Sundasebawa."

Bagaga Alam mengangguk mendengar penjelasan Adipati Muncak Gede.

"Baiklah. Aku akan memeriksa kekuatan Pasukan Macan Perak. Tapi perintahkan pasukan Telik sandi untuk melakukan pengintaian dari sekarang."

Pati Maung Sakti segera menjalankan perintah Bagaga Alam untuk menyiapkan Pasukan Macan Perak. Adapun Suta Nanta langsung berdiri dan pergi mengatur unit telik sandi untuk melakukan apa yang dikatakan Pandeka Pedang Suling Kumala.

"Saudara ku. Apa yang harus kita lakukan sekarang ?"

"Sebaiknya kita makan siang bersama. Ini sudah jauh lewat dari tengah hari." Ucap Bagaga dan tersenyum lebar.

Pangeran Muncak Gede terperangah dan tertawa, diikuti oleh Danang Wesi.

"Ternyata kamu bisa juga melucu kang mas Bagaga." Ucap Ni Kirana dan tersenyum lebar.

"Ayo kita pindah ke ruang makan. Kita makan dulu sebelum sebelum memeriksa Pasukan Macan Perak."

 

Pangeran Muncak Gede memimpin Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana mengunjungi barak prajurit khusus Pasukan Macan Perak.

Barak Pengungsian Macan Perak berbeda dengan barak prajurit kadipaten. Barak ini berada di sebelah timur istana kadipaten. Berjarak sekitar 1 km.

Pati Maung Sakti dan Pati Muda Rajung Malapir komandan Pasukan Macan Perak. Setelah saling berkenalan. Mereka memasuki barak Pasukan Macan Perak.

Di hamparan lapangan luas. Seluruh anggota Pasukan Macan Perak berbaris rapi dan tegar.

Pasukan Macan Perak mengenakan pakaian seragam hitam dengan sabuk perak. Ada ikatan warna merah dikepala mereka. Wajah semua terlihat tegas, tenang dan dingin. Terlihat sangat gagah dan perkasa.

Bagaga Alam mengangguk kecil. Danang Wesi dan Ni Kirana melihat Pasukan Macan Perak dengan penuh rasa kagum.

\=\=\=\=\=***\=®

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!