Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Papi Jaya
“Kita masuk, ya? Jangan bikin yang lain tambah khawatir,” ucap Julian lembut sambil menyapu lembut pipi Lily yang basah.
“Aku masih mau di sini sama kamu, Lian...” balas Lily pelan, menatap kedua mata Julian dengan pandangan sayu.
Dari kejauhan, Javin menyaksikan momen serba intim itu dengan dada yang kian terasa berat. “Lily, Julian! Disuruh masuk ke rumah!” seru Javin lantang dari jarak beberapa meter, mulai melangkah mendekati mereka.
Lily menoleh ke sumber suara, namun ia memilih bungkam tanpa sepatah kata pun. Melihat kepasifan gadis itu, Julian yang akhirnya mengambil alih situasi. “Iya, Kak.”
Pandangan Julian beralih kembali pada Lily. “Ayo, kita masuk.” Julian berdiri lebih dulu lalu menyodorkan tangannya ke arah Lily.
Lily menggeleng pelan, enggan bergeming.
“Ly, ada waktu sebentar enggak? Kakak pengin ngobrol berdua sama kamu,” sela Javin menatap Lily lekat.
“Tentang apa?” tanya Lily singkat, sama sekali tak menoleh pada Javin. Ia akhirnya menyambut genggaman tangan Julian dan beranjak berdiri.
Javin mengalihkan pandangannya pada Julian. “Maaf ya, Julian... Kakak cuma pengin ngomong berdua aja sama Lily,” ujar Javin sopan namun penuh penekanan.
Julian sempat terdiam sejenak. Ia menatap wajah Lily dengan tatapan seolah bertanya, 'Kamu mau enggak?'
Lily akhirnya mengangguk kecil pada Julian. “Kamu duluan aja ke dalam.”
Mata Julian sedikit menyipit. “Yakin?” tanyanya ragu. Lily kembali mengangguk mantap untuk meyakinkan.
Dengan helaan napas pelan, Julian berbalik pergi.
“Kakak mau ngomong apa?” tanya Lily dengan nada ketus begitu Julian menjauh.
“Soal kejadian tadi.” Javin menggantung kalimatnya sejenak. “Kakak enggak nyalahin kamu marah sama Ell. Ell memang salah, tapi dia punya alasan, Ly,” jelas Javin pelan.
Lily membalikkan badannya sambil tertawa pahit. “Alasan apa?! Karena Julian manggil dia pakai 'lo'?” Lily menepukkan kedua telapak tangannya beberapa kali secara dramatis, lalu melangkah pergi meninggalkan Javin.
Melihat respons itu, Javin refleks menyambar pergelangan tangan Lily, menariknya hingga tubuh gadis itu oleng dan menabrak tubuhnya.
“Dengerin dulu, Ly!” mohon Javin dengan tatapan menuntut.
“Kakak tahu kamu sama Julian udah temenan lama. Tapi gimana pun juga, kamu sama Ell jauh lebih lama. Ell cuma cemburu, Ly. Dia cuma pengin diperhatiin sama kamu. Dia ngerasa setiap kali ada Julian, perhatian kamu langsung hilang sepenuhnya.”
Perlawanan Lily seketika luntur. Ia terpaku menyimak setiap patah kata yang keluar dari mulut Javin. 'Kak Javin bener juga sih...' batin Lily merasa bersalah, bayangan Ell yang menangis mendadak membintangi pikirannya.
“Ell memang salah, Ly. Tapi gimana pun itu, dia punya alasan sendiri. Kakak cuma harap kamu bisa renungin ini,” tutur Javin seraya memegang kedua pundak Lily hangat.
Sementara itu, beberapa meter di belakang koridor taman, Julian sebenarnya belum benar-benar masuk ke dalam rumah. Ia berdiri bersandar di balik tembok, memperhatikan mereka berdua dengan alis berkerut. "Mereka ngobrolin apa sih?" batinnya heran.
Sebuah langkah kaki berderap mendekatinya dari arah ruang tengah. Namun Julian terlalu fokus hingga tak menyadari kehadiran orang lain di sampingnya.
“Ngapain Lo di sini, Bang? Kok belum masuk?” tanya Malik bingung.
Julian tak menjawab, membuat Malik ikut melongokkan kepala mengikuti arah pandangan Julian. Seketika itu juga, mata Malik membelalak tak percaya melihat Javin sedang memegang kedua pundak Lily di bawah lampu taman.
Tanpa aba-aba, Malik langsung berlari kencang menghampiri Lily dan Javin.
“Wahhh! Kartu merah ini, Bang!” seru Malik tak terima, memotong pembicaraan hangat di antara mereka.
“Kita harusnya bersaing secara sportif, bukan malah ambil start duluan gini dong!” teguran Malik yang tiba-tiba justru memicu benteng pertahanan emosi Lily runtuh sepenuhnya.
Tanpa aba-aba, tangis Lily pecah kembali. “Maafin Kakak, Ell...” gumamnya tersedu-sedu di sela isak tangis.
Melihat Lily yang mendadak kembali rapuh, Javin refleks menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya untuk menenangkan.
“Wahhh, bener-bener ya! Kak Lily, sini peluk Malik aja!” cerocos Malik panik, berusaha menyelipkan tangannya untuk menarik Lily keluar dari dekapan Javin. “Curang Lo, Bang!” protes Malik lagi karena gagal melepaskan pelukan tersebut.
Javin meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sendiri, memberi isyarat tajam agar Malik menutup mulutnya. “Sana Lo masuk!” perintah Javin berbisik ketus.
Dengan berat hati dan raut muka tertindas, Malik akhirnya berbalik. Baru tiga langkah berjalan, ia memutar badannya kembali dan melayangkan tatapan mengintimidasi pada Javin. “Jangan Lo apa-apain ya, Bang!” peringat Malik yang hanya dibalas anggukan singkat oleh Javin.
“Berarti... Lily jahat banget ya, Kak, sama Ell?” lirih Lily mendongak, menatap mata Javin dari dalam pelukan.
“Bukan salah kamu, Ly. Kamu cuma belum paham aja,” bisik Javin lembut sembari mengelus puncak kepala Lily.
Tepat saat itu, langkah kaki mendekat dengan tergesa-gesa. Julian muncul dengan raut wajah yang sangat khawatir. “Kamu kenapa, Ly?” tanyanya menuntut jawaban.
Melihat kedatangan Julian, Javin langsung melepaskan pelukannya perlahan. Tanpa jeda, Lily yang masih terguncang langsung beralih merengkuh tubuh Julian erat-erat, menyembunyikan wajahnya di balik tubuh laki-laki itu.
Javin berdeham, berusaha menutupi kebas di dadanya. “Udah, ayo ke dalam. Makanan udah siap,” ucap Javin dengan intonasi suara yang mendadak agak ketus dan dingin.
Julian mengusap sisa air mata di wajah Lily lalu menggandeng jemarinya erat.
Javin berjalan paling depan menuntun jalan, disusul Lily dan Julian di belakangnya.
“Kak... maaf buat yang tadi juga ya. Lily enggak sengaja,” bisik Lily mendadak dari belakang, mengacu pada insiden bibir mereka yang tak sengaja bersentuhan saat ia terpeleset tadi.
Langkah Javin seketika terhenti kaku.
“Iya, Ly...” jawab Javin singkat tanpa berani membalikkan badan. Bayangan kejadian di ruang tengah tadi mendadak berputar ulang di kepalanya, sukses membuat kedua daun telinganya kembali memerah panas dan salah tingkah setengah mati.
“Ell curiga sama temannya Kak Lily... kayaknya dia enggak sebaik kelihatannya deh,” celetuk Ell mendadak, membuat Rafa yang sedang memangku dagu langsung mengalihkan perhatian sepenuhnya pada si bungsu.
Rafa mengangguk-angguk setuju. “Abang agak setuju sih sama kamu, Ell. Kalau dilihat-lihat, gaya dia agak barbar banget kalau lagi sama Lily.”
“Gimana kalau kita mata-matain mereka, Bang?” usul Ell dengan mata berbinar penuh persekongkolan.
Rafa mengernyit, agak ragu. “Gimana caranya, Ell? Lagian kita kan sibuk. Kamu masih SD, Abang udah kuliah,” ujar Rafa mengingat perbedaan sekolah dan kampus mereka.
Ell tersenyum penuh kemenangan. “Aman aja, Bang! Kan ada Bang Wafa, Bang Malik, sama Kak Sean!”
Mendengar nama-nama komplotan di SMA Gemilang disebut, senyum jahil Rafa ikut terukir lebar. “Ide bagus. Nanti malam kita susun rencana sama mereka.”
“Enggak usah aneh-aneh ya kalian! Mau bikin Lily makin marah?!” tegur Owen ketus dari arah meja makan, langsung memutus niat terlarang adik-adiknya.
Tiba-tiba, derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah pintu depan. Seseorang berlari kencang masuk ke ruang tengah, sukses membuat semua orang menoleh kaget.
“GAWATTT OM JAYA! Bang Javin ambil start duluan! Gimana ini, Ommm?!” jerit Malik dengan nada panik super lebay.
Jaya yang sedang sibuk membalik potongan daging di atas pemanggang menyahut santai. “Kenapa memangnya, Lik?”
“Udah dicium... dipeluk juga!” Malik mulai berakting menangis sesenggukan secara dramatis. Dengan sigap, Wafa dan Sean langsung menghampirinya lalu mengusap-usap punggung Malik penuh simpati buatan.
Javin yang baru saja melangkah masuk berdeham santai. “Enggak usah lebay, Lik. Lily belum jadi pacar gue kok!”
Di belakang Javin, Lily dan Julian menyusul masuk.
“Belum?” Satu kata lolos begitu saja dari mulut Owen. Alisnya terangkat tinggi, mempertanyakan maksud dari perkataan sahabat adeknya itu.
Rafa melirik Owen dengan senyuman menggoda. “Iya, Bang... Javin kan memang su—”
“Udah, ayo kita makan! Udah laper nih habis dipeluk Lily,” potong Javin cepat, sengaja memutus kalimat Rafa.
“Lo yang meluk gue kali!” gumam Lily tidak terima dengan suara pelan. Namun, selain Julian, rupanya pendengaran tajam Jaya juga menangkap gerutuan itu.
“Udah, udah! Julian!” panggil Papi Jaya mendadak, membuat Julian menoleh penuh perhatian.
“Kenapa, Om?” tanya Julian tenang.
“Sini, duduk di samping Om,” panggil Papi Jaya dengan intonasi nada yang mendadak berubah sangat serius.
“Iya, Om.” Julian beranjak mendekat. Namun, baru satu langkah, jemari Lily menahan pergelangan tangannya. Lily menggelengkan kepala pelan dengan raut cemas.
Jaya terkekeh tipis menyadari ketakutan putrinya. “Enggak bakal Papi apa-apain kok.”
Julian tersenyum menenangkan pada Lily. Ia membimbing Lily untuk duduk aman di samping Owen lebih dulu, barulah ia melangkah dan mendudukkan diri di sebelah Jaya. Julian mengatur napasnya tetap teratur, bersiap menghadapi introgasi yang sudah ia duga.
Papi Jaya menoleh ke samping, menatap Julian lekat-lekat. “Kamu temenan sama Lily udah berapa lama?” tanya Papi Jaya dengan intonasi agak ketus.
“Kita udah satu kelas dari awal SMA, Om. Tapi baru bener-bener dekat waktu naik kelas tiga,” jelas Julian tenang dan sopan.
Papi Jaya mengangguk-angguk kaku. “Juara berapa kamu di sekolah?”
“Juara dua, Om,” jawab Julian. Julian memang murid berprestasi yang berhasil masuk ke sekolah favorit itu lewat jalur beasiswa.
'Lily juara tiga... Berarti anak ini lebih pintar dari Lily,' batin Papi Jaya menimbang-nimbang. Meski kagum dalam hati, gengsinya terlalu tinggi untuk memuji Julian secara terbuka.
Pandangan Jaya lalu beralih pada Malik yang duduk tepat di seberang meja. “Kalau kamu, Lik... juara berapa?”
Belum sempat Malik membanggakan diri, Wafa sudah menyambar duluan. “Juara satu, Pih! Tapi dari belakang!” celetuk Wafa diiringi tawa terbahak-bahak.
“Jangan ngawur kamu, Waf! Gue juara sepuluh ya, satu tingkat lebih tinggi dari Lo!” protes Malik kesal. Ia lalu memamerkan senyum terbaiknya pada Jaya. “Malik juara sepuluh, Om.”
Jaya mengangguk-angguk paham, lalu kembali menatap Lily. “Di sekolah, Lily punya teman siapa lagi selain dia?”
“Cuma Julian,” jawab Lily singkat sambil mengunyah potongan dagingnya.
“Hah? Cuma Julian?” tanya Papi Jaya memastikan, raut wajahnya menyaratkan rasa tak percaya.
“Iya. Lily nyamannya cuma sama Julian. Lagian teman-teman yang lain datangnya kalau lagi butuh doang. Kalau sama Julian enggak gitu. Julian juga sering ngajarin materi yang belum Lily paham,” jelas Lily blak-blakan, sengaja membanggakan sahabat di samping papinya itu.
“Ehem...” Papi Jaya berdeham kaku seraya mengangguk pelan. Di dalam hati ia makin terpukau oleh sosok Julian, meski wajah gengsinya tetap terpasang rapat.
Beberapa menit berselang, keheningan makan malam mendadak terpecah saat Kino memanggil kawan sebangkunya.
“Ell...” panggil Kino dengan nada suara yang sangat lesu.
Ell menoleh. “Kenapa, No?”
“Papa Kino kayaknya beneran jadi pindah tugas ke kota selatan deh...” lanjut Kino dengan wajah murung.
Raut wajah Ell seketika ikut meredup. “Kamu beneran jadi pergi...?” suara Ell terdengar amat sedih. “Terus Ell di sekolah sama siapa dong? Bisa enggak sih, No, kamu tetap di sini aja? Biar Papi yang rawat kamu!” ujar Ell polos.
Kino menggeleng pelan. “Enggak bisa, Ell... Kino harus tetap ikut Papa.”
Kino lalu menghela napas panjang. Ia mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. “Tapi... sebelum Kino pergi...”
Langkah kaki Kino berderap pelan menghampiri tempat Lily duduk. Tanpa ragu, Kino meraih kedua telapak tangan Lily dan menggenggamnya erat.
Lily melotot heran, canggung luar biasa dengan tindakan mendadak itu.
Kino menarik napas sedalam-dalamnya untuk mengumpulkan keberanian, lalu membuangnya perlahan. “Sebelum Kino pergi, Kino pengin mengungkapkan perasaan Kino ke Kak Lily.”
Suasana di ruang tengah seketika membeku total.
“Kino suka sama Kak Lily!” seru Kino dengan suara lantang yang menggelegar di seluruh penjuru ruangan.
Lily mematung di tempat, bibirnya terkatup kaku. Ia bingung setengah mati harus merespons bagaimana. Di satu sisi ia tak ingin menyakiti hati anak laki-laki itu, tapi di sisi lain, ia sama sekali tidak menyimpan perasaan asmara apa pun pada Kino.
Lily akhirnya menyatukan keberanian untuk berdiri, berhadapan langsung dengan Kino di bawah tatapan cemas dan syok dari semua orang di ruangan itu.
Di sisi lain meja, Julian yang tadinya duduk tenang langsung menyentak berdiri. Tatapannya menajam kaku, dan untuk pertama kalinya, ada percikan api cemburu yang berkilat jelas di kedua matanya.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat