Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Lin Xia menatap punggung manajernya dengan canggung, lalu beralih menatap Yao Wi dengan senyum ramah yang tulus.
"Maafkan sikap Manajer Chen, Tuan, perkenalkan saya Lin Xia," sapanya sambil membungkuk sopan.
"Apakah ada mobil tertentu yang sedang Tuan cari hari ini?"
Yao Wi merasa sedikit lega melihat masih ada staf yang tahu bagaimana cara bersikap profesional di tempat ini.
Ia menunjuk ke arah SUV hitam pekat yang dikelilingi tali pembatas merah tersebut.
"Aku tertarik dengan mobil yang itu, bisa tolong jelaskan padaku?" pinta Yao Wi.
Mata Lin Xia sedikit melebar karena terkejut, namun ia tetap mempertahankan senyum profesionalnya.
"Ah, itu adalah Land Rover Range Rover Autobiography varian tertinggi yang baru kami impor secara khusus, Tuan," jelas Lin Xia dengan lancar.
"Mobil ini memiliki mesin bertenaga besar, interior berlapis kulit premium, dan sistem keamanan anti peluru tingkat dasar."
"Namun Tuan, harganya sangat mahal, mobil ini dibanderol dengan harga empat setengah miliar rupiah secara tunai."
Lin Xia menyebutkan harga tersebut dengan sangat hati-hati, khawatir akan menyinggung perasaan pelanggannya.
Ia sendiri tahu bahwa tidak ada seorang pun di Kota Linzhou yang mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah mobil.
Mobil itu didatangkan oleh bos mereka murni hanya sebagai daya tarik untuk menaikkan pamor ruang pameran ini.
Yao Wi mengusap dagunya perlahan sambil menatap bodi mobil yang mengkilap itu.
Empat setengah miliar? Itu bahkan belum menghabiskan jatah uang hariannya yang masuk pagi ini.
"Mobil yang bagus, ukurannya besar dan sepertinya nyaman untuk melewati jalanan kota ini yang agak berlubang," komentar Yao Wi santai.
"Baiklah, Lin Xia, aku ambil mobil ini sekarang juga."
Suasana di sekitar mereka mendadak hening seketika.
Beberapa staf penjualan yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung menahan napas karena tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Lin Xia bahkan mematung dengan mulut sedikit terbuka, mengira ia salah dengar.
"M-maaf, Tuan? Anda bilang Anda ingin mengambilnya?" gagap Lin Xia dengan wajah linglung.
"Iya, aku beli mobil ini, tidak perlu dicicil, aku akan membayarnya lunas hari ini juga," tegas Yao Wi memperjelas ucapannya.
"Di mana aku bisa menggesek kartuku?"
Tepat pada saat itu, Chen Bo yang baru saja mengantar seorang pelanggan keluar dari ruang VIP mendengar keributan tersebut.
Ia berjalan kembali menghampiri Yao Wi dengan wajah sinis yang sangat menyebalkan.
"Yao Wi, kau ini sudah gila atau hanya ingin pamer di depan pegawai baru kami?" ejek Chen Bo dengan suara keras.
"Empat setengah miliar itu bukan empat setengah juta, bahkan jika kau menjual seluruh organ tubuhmu, kau tidak akan bisa membayarnya!"
Yao Wi sama sekali tidak menoleh ke arah Chen Bo dan tetap menatap Lin Xia dengan tenang.
"Nona Lin Xia, tolong bawa mesin EDC ke sini sekarang, waktuku sangat berharga," perintah Yao Wi mengabaikan gonggongan Chen Bo.
Melihat Yao Wi begitu yakin, Lin Xia segera berlari ke meja kasir dan kembali membawa mesin pembayaran portabel.
Tangannya sedikit gemetar saat ia menyerahkan mesin itu ke hadapan Yao Wi.
Chen Bo menyilangkan tangannya di dada sambil tersenyum meremehkan.
"Bagus, mari kita lihat kartu bodong apa yang akan kau keluarkan, setelah kartumu ditolak, aku sendiri yang akan menendangmu keluar dari sini," ancam Chen Bo.
Yao Wi dengan tenang merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna hitam polos.
Itu adalah kartu prioritas tingkat tertinggi dari bank pusat yang otomatis dikirimkan ke kamarnya pagi ini bersamaan dengan dana sistem.
Melihat kartu hitam pekat tanpa logo bank yang mencolok itu, Chen Bo semakin yakin bahwa Yao Wi hanya bermain-main.
"Kartu mainan dari mana yang kau pakai itu? Jangan membuat kami tertawa, Yao Wi!" cemooh Chen Bo keras-keras.
Tanpa banyak bicara, Yao Wi menggesekkan kartu hitam itu ke celah mesin EDC.
Pip!
Ia menekan enam digit pin rahasianya dengan gerakan jari yang sangat cepat.
Suasana kembali hening, semua mata kini tertuju pada layar kecil di mesin pembayaran tersebut.
Chen Bo bahkan memajukan wajahnya untuk melihat tulisan "Saldo Tidak Cukup" yang ia yakini akan segera muncul.
Ding!
"Pembayaran sebesar Rp. 4.500.000.000,- berhasil. Transaksi disetujui."
Suara notifikasi otomatis dari mesin EDC itu terdengar sangat nyaring di tengah keheningan ruang pameran.
Detik berikutnya, kertas struk panjang perlahan keluar dari bagian atas mesin tersebut.
Srettt.
Lin Xia merobek struk itu dengan tangan yang bergetar hebat, matanya menatap deretan angka di kertas itu seakan melihat keajaiban turun dari langit.
"B-berhasil... transaksinya benar-benar berhasil, lunas tanpa cicilan," bisik Lin Xia dengan suara parau saking syoknya.
Chen Bo yang berdiri di sampingnya seketika merasa kepalanya dipukul oleh palu godam yang sangat besar.
Matanya melotot hampir keluar dari rongganya, dan rahangnya jatuh terbuka lebar.
"Ti-tidak mungkin... ini pasti mesinnya yang rusak! Coba cek lagi!" teriak Chen Bo histeris, berusaha merampas struk dari tangan Lin Xia.
Namun Yao Wi dengan cepat menepis tangan Chen Bo dengan keras hingga pria itu meringis kesakitan.
"Jaga tangan kotormu, Wakil Manajer," ucap Yao Wi dengan tatapan mata yang sedingin es.
"Transaksi sudah berhasil, mobil itu sekarang resmi menjadi milikku."
Yao Wi beralih menatap Lin Xia yang masih mematung menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Nona Lin, karena kau yang melayaniku, maka komisi penjualan mobil ini sepenuhnya menjadi milikmu," kata Yao Wi dengan senyum hangat.
Kaki Lin Xia tiba-tiba terasa lemas hingga ia nyaris terjatuh jika tidak berpegangan pada meja di dekatnya.
Komisi penjualan untuk mobil seharga empat setengah miliar biasanya berkisar di angka dua hingga tiga persen.
Itu berarti, hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit melayani Yao Wi, ia baru saja mendapatkan uang komisi lebih dari seratus juta rupiah!
Jumlah itu setara dengan gajinya bekerja selama lima tahun penuh di tempat ini.
"T-terima kasih, Tuan... terima kasih banyak! Saya tidak tahu harus berkata apa," ucap Lin Xia dengan mata berkaca-kaca menahan tangis haru.
Sementara itu, Chen Bo mundur beberapa langkah dengan wajah sepucat mayat.
Ia baru menyadari bahwa ia baru saja membuang pelanggan paling kaya yang pernah menginjakkan kaki di tempat ini.
Jika saja ia yang melayani Yao Wi tadi, komisi seratus juta itu pasti sudah masuk ke kantongnya.
Rasa penyesalan dan iri hati langsung membakar dadanya hingga ia merasa sesak napas.
"Yao Wi... kau... dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini?" tanya Chen Bo dengan suara gemetar, harga dirinya sudah hancur lebur.
Yao Wi mengambil kunci mobil dari tangan Lin Xia dan memutar-mutarnya dengan santai di jari telunjuknya.
Ia berjalan melewati Chen Bo dan menepuk bahu pria itu dengan pelan namun penuh tekanan.
"Bukan urusanmu dari mana uangku berasal, Chen Bo," bisik Yao Wi tepat di telinga mantan teman sekelasnya itu.
"Tapi yang pasti, mulai sekarang kau harus membiasakan diri untuk melihatku menguasai kota ini dari atas."
Yao Wi melangkah menuju SUV hitam barunya, melepas sendiri tali pembatas beludru merah itu.
Ia membuka pintu mobil yang berat itu dan duduk di kursi pengemudi yang berlapis kulit asli yang sangat empuk.
Suara mesin mobil menderu halus saat ia menyalakannya, menggetarkan seluruh lantai ruang pameran.
Yao Wi menurunkan kaca jendela mobilnya dan menatap Lin Xia yang masih berdiri dengan ekspresi kagum.
"Nona Lin Xia, tolong urus semua surat-suratnya, aku akan menyuruh orang untuk mengambilnya nanti," kata Yao Wi ramah.
"S-siap, Tuan Yao! Saya akan mengurusnya secepat mungkin!" balas Lin Xia sambil membungkuk dalam-dalam.
Yao Wi menginjak pedal gas perlahan dan melajukan SUV mewahnya keluar dari pintu kaca ruang pameran yang terbuka lebar.
Ia meninggalkan Chen Bo yang masih berdiri mematung seperti patung batu yang kehilangan jiwanya.
"Ini baru permulaan," batin Yao Wi sambil tersenyum menatap jalanan kota Linzhou dari balik kemudi mobil barunya.
"Selanjutnya, mari kita beli beberapa aset properti untuk mulai membangun kerajaan bisnisku di kota ini."