Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Bertiga
Hampir pukul 12 malam rombongan mereka sampai di kampus. Kedua bis besar itu berhenti di parkiran kampus, beberapa mahasiswa sudah mulai berhambur keluar, ada juga yang masih mengemasi barang-barangnya di dalam bis. Dan Jeviza, gadis itu sendiri tidak terlalu banyak membawa barang, ia sudah bersiap saat untuk turun saat sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya. Jeviza membeku di tempatnya, menatap pelaku yang kini sedang berdiri di depannya.
"Je, kita langsung balik kos ya? Capek banget," ujar Sisil diangguki Jeviza.
"Hati-hati ya?" balas Jeviza diangguki ketiganya.
Karena terlalu capek dan lelah, mereka tidak begitu melihat jelas jika Kaina masih mencekal pergelangan tangan Jeviza. Ketiganya turun dari bis menyisakan Jeviza dan Kaina di sana, juga masih ada beberapa anggota BEM yang lain yang masih mengemasi barang-barang mereka.
"Ada apa ya kak?" tanya Jeviza mencoba tenang.
Meski tidak dipungkiri aksi Kaina itu sudah berhasil menghilangkan rasa kantuk Jeviza juga lelahnya, berganti menjadi gugup memikirkan kemungkinan yang akan gadis itu katakan padanya.
"Gue mau numpang pulang, boleh?" cicit Kaina sempat membuat Jeviza tercekat.
"Kean bawa mobil kan? Gue nggak berani pulang sendiri di jam segini, Je. Bunda bisa aja nggak percaya baru sampai dijam segini."
Kaina melepas tangan Jeviza, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Beberapa kali gue nggak diijinin ikut kegiatan BEM, tapi karena Kean yang minta ijin langsung sama bunda, akhirnya diijinin, kalau sekarang Kean yang antar gue pulang, mungkin bunda nggak akan curiga aneh-aneh."
Hati Jeviza sedikit tersentil mengetahui jika penyebab diijinkannya Kaina pergi karena Kean, suaminya sendiri, tetapi disatu sisi, Jeviza juga merasa bangga dengan cowok itu, bisa membuat hati seorang ibu begitu percaya dengannya.
"Gue tadi udah bilang Kean, terus katanya disuruh bilang ke lo dulu," lanjut Kaina lagi.
Deg
Seketika hati Jeviza berdebar mendengarnya. Itu sama saja Kean menyuruh Kaina untuk meminta ijin pada Jeviza, kan?
Ah, sialan
Kenapa rasanya Jeviza ingin tersenyum sih sekarang.
"Lo nggak keberatan kan?"
Jeviza tersadar, lalu menggeleng pelan. "Iya, nggak papa kak, ikut aja, udah tengah malam juga," ujar Jeviza mendapat senyuman Kaina.
"Oke, kalau gitu gue beresin barang-barang dulu."
Jeviza hanya mengangguk sebagai jawaban, ia sendiri langsung mengambil tas miliknya dan segera turun dari bis.
Saat ia turun, masih banyak mahasiswa yang sedang menunggu jemputan, ada juga yang masih mengobrol, dan ada yang sudah pamit untuk pulang. Jeviza terdiam di tempatnya, mencari keberadaan Kean yang entah hilang kemana setelah tadi dipuji habis-habisan selama perjalanan, bukan tanpa sebab Kean mendapat pujian dari teman-teman kampusnya. Tetapi hadiah yang ia siapkan merupakan kantong pribadi milik Kean, bukan dari sponsor acara beberapa minggu lalu. Laptop untuk masing-masing orang dari tim yang menjadi juara pertama, sementara juara kedua mendapat hadiah dari pak Bam, salah satu dosen yang mendukung penuh acara ini.
"Masih di sini, Je? Kean mana?"
Pertanyaan Kaina membuat Jeviza menoleh, lalu menggeleng. "Nggak tau kak, nggak keliatan," jawab Jeviza.
Setelah terbangun tadi ketika sampai, sosok Kean memang sudah tidak berada di dalam bis, entah kemana perginya cowok yang sering menjadi pusat perhatian itu.
"Tunggu di sana yuk," ajak Kainan pada Jeviza.
Jeviza menatap beberapa anggota BEM yang masih berkumpul di parkiran, mengikuti langkah Kaina, pada akhirnya Jeviza ikut bergabung bersama dengan kakak tingkatnya itu.
"Pada belum balik?" tanya Kaina pada teman-temannya.
"Mau nginep aja lah, capek harus nyetir lagi," jawab salah satu mahasiswa.
Jeviza tersentak, membenarkan apa yang dikatakan oleh mahasiswa tersebut. Lalu teringat dengan Kean. Cowok itu juga pasti sangat lelah sekali, mengingat itu membuat Jeviza merasa tidak tega, ia tidak masalah jika menginap di kos salah satu temannya agar Kean tidak usah menyetir dini hari seperti sekarang, tetapi Kaina sudah lebih dulu meminta untuk ikut pulang.
Jeviza terdiam memikirkan cara bagaimana agar ia tidak menyusahkan Kean malam ini, setidaknya mengurangi rasa lelah Kean.
Tetapi bagaimana caranya?
Saat ia sudah mempunyai solusi untuk itu, hatinya mencelos, ada rasa tidak rela jika membiarkan Kean hanya satu mobil dengan Kaina saja, apa lagi diwaktu dini hari seperti sekarang ini, bukan Jeviza tidak percaya dengan Kean, tetapi rasa negatif melintas begitu saja di otaknya.
Tidak lama Kean datang menghampiri mereka.
"Udah mau pulang? Ke?" tanya salah satu dari mereka.
Jeviza dan Kaina menoleh, Kaina dengan senyuman manisnya, sementara Jeviza dengan wajah sedikit tegangnya.
"Umm, gue udah bilang pak Bam tadi, kalian bisa pakai ruangan sebelah perpus buat istirahat, di sana ada tikae juga," jelas Kean mendapat anggukan dari mereka.
"Thanks bro," balas mereka hanya mendapat anggukan Kean.
Lalu saat Kean menoleh pada Jeviza dan Kaina, ia sudah dapat menyimpulkan jika Jeviza mengijinkan Kaina untuk pulang bersama mereka.
"Ayo," ajak Kean diangguki keduanya.
"Duluan ya guys," pamit Kaina.
"Duluan kak." Jeviza menganggukan kepalanya sopan.
"Hati-hati kalian."
Hanya Kaina dan Jeviza yang mengangguk, karena Kean sudah lebih dulu melangkah.
Saat sampai di mobil Arlo. Kean sempat terdiam beberapa saat sebelum masuk ke dalam.
Kaina baru saja memasukan ransel miliknya ke bagasi, sementara Jeviza masih diam di sebelah mobil.
"Na, lo di belakang nggak papa kan? Biar gampang aja nanti, Jevi nggak perlu pindah."
Meski sempat ragu beberapa saat, pada akhirnya Kaina mengangguk. "Oke," singkatnya.
Jeviza masih diam di tempatnya, sebenarnya ia ingin bilang pada Kean kalau mau menginap di kos salah satu temannya, tetapi ia ragu untuk mengatakannya.
"Je, kenapa nggak masuk?"
Jeviza tersadar, menatap Kaina yang sudah duduk di kursi belakang, dan Kean yang sudah menyalakan mesin mobil.
"Maaf kak, gue tadi baru inget kalau baju gue kebawa temen," cicitnya beralasan, lalu masuk ke dalam.
Di dalam kabin yang berisi tiga orang, susana sangat sunyi, sudah hampir pukul 2 pagi sekarang, dan ini untuk yang pertama kalinya Jeviza pulang selarut ini. Mungkin jika Kean masih sebagai mantan kekasih, Puspa sudah menunggu dengan sapu di depan pintu, tetapi sedari tadi Puspa anteng, bahkan menanyakan keadaannya saja tidak, sepercaya itu Puspa pada Kean sekarang.
"Gimana, Je? Betah kuliah di sini?" tanya Kaina membuat Jeviza menoleh ke belakang, lalu mengangguk.
"Awalnya nggak begitu betah kak, tapi sekarang betah banget," balas Jeviza jujur.
Kean melirik sekilas Jeviza, tetapi tidak bereaksi apa-apa.
Saat tahu ia satu kampus dan satu rumah dengan Kean, diawal memang Jeviza ingin menyerah saja, rasanya akan sangat sulit sekali, tetapi saat mendengar kabar jika Kean tidak dekat dengan gadis manapun karena masih belum bisa melupakan masa lalunya, seketika semuanya berubah.
"Pasti karena udah ketemu temen-temen lo ya?" tebak Kaina mendapat anggukan Jeviza.
"Iya kak, mereka baik, seru, tulus juga."
Kaina mengangguk dari belakang. "Selain temen? Pasti ada dong yang bikin lo makin betah?"
Jeviza tercekat, melirik Kean yang berada di sebelahnya, lalu meremas ujung jaket yang ia kenakan.
"Someone spesial maybe? Nggak mungkin banget cewek secantik lo nggak ada yang deketin, selain Janu ya? Gue lumayan ngikuti perjalanan Janu deketin lo, kaya yang nggak ada ujungnya." Kaina lalu terkekeh.
"Siapa tahu tipe cowok kita sama."
Jeviza langsung tersedak air ludahnya sendiri. Kean dengan cekatan mengambil botol mineral miliknya yang tinggal setengah, dengan satu tangannya ia mencoba untuk membukanya, dan menyerahkannya pada Jeviza. Yang langsung diterima gadis itu dan diteguk.
Jika Kaina tidak sedang dilanda rasa penasaran, tindakan Kean itu sangat keren sekali, membuka tutup botol dengan satu tangan, dengan tangan satunya masih di atas setir, lalu memberikannya pada Jeviza. Sangat gentel sekali untuk seorang cowok, tetapi melihat interaksi keduanya seperti bukan sekedar saudara jauh yang kebetulan tinggal bersama, membuat dada Kaina tanpa diminta sudah bergemuruh hebat.
"Hati-hati Je, kak Pus bisa ngamuk kalau tau."
Rasa lega itu seketika datang lagi saat mendengar ucapan Kean baru saja. Tanpa sadar Kaina menghela napas dengan sangat panjang. Sudut bibirnya tertarik ke atas tanpa diminta.
Dan Kean, bisa melihat ekspresi Kaina dari balik kaca, wajah Kean tetap datar, tidak ada ekspresi apa-apa, ujung matanya melirik Jeviza yang sedang menenangkan diri. Lalu kembali fokus dengan setir mobil.
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭
lanjut maljum😁