"Bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" tanya seorang pria yang berpenampilan dengan setelan jas bermerk dunia. Matanya menatap gadis dihadapannya dengan sejuta maksud.
"Apa anda akan memenuhi semua kebutuhan saya? Termasuk biaya perawatan tubuh saya yang terbilang tidak murah?" gadis itu mencoba memastikan kembali apa yang ditawarkan oleh pria yang tengah mengunci pergerakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 18. Kanaya Absurd
Hari pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup seseorang, akan tetapi tidak untuk kedua mempelai pengantin yang satu ini.
"Kenapa bete banget sih mukanya?" tanya seorang pria yang baru saja menghampiri calon mempelai laki-laki.
Saat ini mereka berada di dalam sebuah ruangan yang dikhususkan untuk kamar pengantin nanti. Dan sekarang yang berada di sini masihlah mempelai laki-laki yang ditemani beberapa kerabatnya.
"Harusnya kamu itu seneng, Kak. Akhirnya kawin juga, nggak jadi ...." wanita berparas bule tersebut menatap suaminya, bertanya istilah yang sering dipakai di negara ini untuk seorang pria yang tidak cepat menikah di usia yang sudah matang.
"Apa Mas sebutan yang pas?" tanya wanita itu dengan wajah bingungnya.
Sementara pria yang ditanya istrinya tersebut tersenyum. Sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang, pria itu berkata, "Di sini kita nyebutnya 'Bujang Lapuk' Sayang," ujar pria itu seraya terkekeh.
Wanita bule tersebut berseru dengan wajah senang. Karena mendapatkan jawaban sesuai apa yang ada di pikirannya.
"Nah, iya! Itu yang aku maksud, Kak!" serunya senang.
Sedangkan orang yang menjadi pengantin tersebut mendengkus kesal melihat sikap adik dan sahabatnya. Mereka benar-benar tidak peka sama sekali dengan keadaan dirinya.
"Daripada kalian berisik, mending pulang ke Amerika sana!" usirnya dengan sadis serta menatap sinis ke arah dua sepasang suami istri tersebut.
"Tentu saja kita kesini mau liat seperti apa pengantinmu, Vald. Apa kecantikannya mengalahkan bidadariku ini?" goda pria yang bernama Arkha. Pria itu merupakan adik ipar sekaligus sahabat, serta mantan atasannya dulu.
"Ck! Pengantin apaan!" decak Revald. "Kalian tau sendiri, aku nikah karena apa? Ya karena males kalau sampai kakek milihin wanita yang sangat merepotkan." sanggahnya.
Arkha hanya tertawa menanggapi ocehan Revald. Sahabatnya itu belum tahu saja kalau kehidupan setelah menikah itu sungguhlah unik dan sangat menyenangkan. Tidak semengerikan seperti apa yang mereka bayangkan sebelumnya.
"Awas loh, Kak, kalau nanti ujung-ujungnya kamu malah cinta banget sama dia." timpal wanita bule yang bernama Kanaya. "Kayak apa itu Mas ungkapan yang keren di kalangan anak muda di sini?" wanita itu menatap ke arah suaminya lagi dan bertanya mengenai istilah orang yang sangat mencintai pasangannya.
"Bucin, Sayang," jawab Arkha seraya tertawa.
Meskipun bahasa Indonesia yang dirapalkan sang istri belum begitu fasih, akan tetapi Kanaya cukup banyak mengetahui istilah-istilah yang menjadi tren di sini.
"Iya! Awas kalau kamu bucin, Kak!" kekehnya. "Ntar aku suruh kakak ipar jauhin kamu. Biar tahu rasa. Aku bilangin ke dia kalau di awal pernikahan kalian, kamu justru meremahkan dia."
Revald menghela napas kembali. Tidak mengerti cara berpikir adik angkatnya ini. Bagaimana bisa mempunyai pikiran semacam itu, sedangkan mereka sangat tahu betul, bahkan dirinya dan calon istrinya merupakan dua orang asing yang tidak saling kenal. Mereka dipertemukan dan dalam posisi saling menguntungkan.
"Terserah kalian saja lah." pasrah Revald.
Suka-suka mereka mau berkomentar apa, yang terpenting baginya sekarang ialah bagaimana caranya mengendalikan wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya, agar tidak ikut campur ke dalam urusan pribadinya kelak.
"Jangan lupa, siapin juga obat tahan lama," bisik Arkha dengan sengaja menggoda sahabatnya.
"Sialan!" umpat Revald yang mendapat kekehan dari Arkha.
Kemudian pria itu ditarik keluar oleh mereka berdua dan melangkah keluar. Kebetulan prosesi akad nikah akan segera dimulai. Di mana kedua mempelai duduk bersandingan dan berhadapan dengan penghulu.
"Apa anda sudah siap, saudara Revald Rahardian Burrack?" tanya sang penghulu kepada Revald.
kampus rada elit bayar e
ubaya
petra
kampus yg standart
itats
unipra
stesia
wijaya
hangtua
upn
17agustus
tinggal pilih
itu bukan manja tp kebablasan
salah asuham
gkk bahaya tah