NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan Terakhir Sebelum Badai Tiba

Suara dengung mesin pesawat di dalam kabin terdengar konstan.

Udara terasa sejuk.

Namun suasana di dalam hati Andra sama sekali tidak tenang.

Ponsel satelit di sakunya baru saja mengubah segalanya.

Liburan ke Maladewa yang sudah lama dinantikan harus kandas di tengah jalan.

Bukan karena cuaca buruk.

Melainkan karena sebuah ancaman nyata yang datang dari musuh masa lalu.

Ordo Singa Kelam.

Nama itu terus berputar di kepala Andra bagaikan bilah pisau yang tajam.

Kelompok bayangan internasional yang dulu sempat dikira sudah musnah, kini berani mengirim pesan berdarah langsung ke meja kerja pribadinya.

Andra berdiri di dekat jendela kabin.

Ia menatap ke luar.

Hamparan awan putih tampak luas membentang di bawah sana.

Tiba-tiba pintu kokpit terbuka.

Sang kapten pilot keluar dengan wajah agak tegang.

Ia melangkah mendekati Andra dengan sopan.

"Maaf mengganggu Anda, Tuan Muda," lapor sang kapten dengan suara rendah.

"Ada instruksi mendadak dari pusat kendali penerbangan Anda."

Andra menoleh sekilas.

"Katakan."

"Kami baru saja menerima sandi putar balik darurat dari Tuan Handoko," lanjut sang kapten.

"Rute penerbangan kita dialihkan."

"Kita akan mendarat kembali di landasan rahasia sektor barat Jakarta dalam waktu kurang dari satu jam."

Andra mengangguk pelan.

"Bagus. Laksanakan perintah itu sekarang."

"Matikan semua lampu navigasi luar. Kita masuk secara senyap."

"Baik, Tuan!" jawab sang kapten tegas, lalu kembali masuk ke dalam kokpit.

Pesawat jet pribadi berlogo mewah itu perlahan mengubah haluannya di atas udara.

Moncong burung besi tersebut berputar arah.

Meninggalkan jalur selatan menuju Maladewa.

Dan mulai terbang kembali membelah langit menuju ibu kota.

Di kursi penumpang bagian depan, Kirana perlahan membuka matanya.

Wanita itu berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya.

Ia merasa ada yang berbeda dari gerakan pesawat.

Kirana menoleh ke samping.

Kursi di sebelahnya tampak kosong.

Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kabin.

Hingga ia melihat suaminya sedang berdiri membelakanginya di dekat jendela.

Postur tubuh Andra terlihat kaku.

Punggungnya tegap menahan beban yang sangat berat.

Kirana bangkit dari duduknya secara perlahan.

Ia melangkah menghampiri suaminya dengan langkah pelan.

"Mas..." panggil Kirana lembut.

Andra langsung membalikkan badannya.

Ekspresi dingin di wajahnya seketika berubah menjadi lebih hangat begitu melihat istrinya.

Ia tersenyum tipis, lalu merentangkan tangan untuk menyambut Kirana.

"Kamu sudah bangun, sayang?" tanya Andra tenang.

Kirana memeluk pinggang suaminya.

Ia menengadah, menatap lekat-lekat mata Andra.

"Pesawatnya terasa berbelok, Mas," ujar Kirana dengan nada penasaran bercampur cemas.

"Kita mau ke mana? Kenapa rasanya kita tidak jadi lurus ke Maladewa?"

Andra mengusap rambut istrinya dengan penuh kelembutan.

Ia tidak ingin membuat Kirana merasa takut.

Namun ia juga tahu, cepat atau lambat, kenyataan ini harus diketahui.

"Ada sedikit perubahan rencana, Kir," jawab Andra berbohong setengah jujur.

"Pekerjaan mendadak di Jakarta memanggil kita."

"Kita harus kembali lebih cepat."

Kirana terdiam sejenak.

Ia menggigit bibir bawahnya.

Insting tajamnya sebagai seorang istri mengatakan ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh suaminya.

"Apakah ini karena masalah semalam?" tanya Kirana pelan.

"Apakah ada orang yang mencoba mengganggu kita lagi?"

Andra menatap mata istrinya dalam-dalam.

Ia merangkul pundak Kirana semakin erat, menyalurkan rasa aman.

"Percaya sama aku, semuanya baik-baik saja."

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kita."

"Sekarang, duduklah kembali dan istirahatlah."

"Begitu kita mendarat, kita akan langsung pulang ke istana Menteng."

Meskipun masih menyimpan rasa curiga, Kirana akhirnya mengangguk pelan.

Ia memilih untuk percaya penuh pada suaminya.

Sebab ia tahu, Andra adalah benteng paling kokoh yang ia miliki di dunia ini.

Sementara itu di daratan Jakarta...

Waktu menunjukkan pukul dua siang.

Suasana di sekitar kawasan istana Menteng tampak sangat sepi dan lengang.

Tidak ada aktivitas warga di sekitar pagar besi yang menjulang tinggi.

Namun di balik tembok-tembok kokoh itu, situasi sebenarnya bagaikan gudang mesiu yang siap meledak kapan saja.

Dua puluh mobil van hitam berukuran sedang tampak terparkir rapi di area hutan buatan sisi barat kompleks istana.

Puluhan orang pengawal bayangan elit berpakaian taktis serba hitam turun dari kendaraan secara senyap.

Mereka membawa senapan serbu modern lengkap dengan rompi pelindung tubuh.

Handoko berdiri di tengah-tengah barisan pasukan.

Wajah asisten kepercayaan itu tampak sangat serius.

Ia memegang sebuah gawai pengendali taktis di tangan kanannya.

"Dengarkan semua!" suara Handoko terdengar tegas memecah kesunyian barisan.

"Sistem kendali pusat istana kita telah dikunci oleh musuh."

"Ordo Singa Kelam sudah menyusup masuk dan menduduki ruang kendali bawah tanah."

"Tuan Muda Andra sedang dalam perjalanan kembali dari bandara darurat."

"Tugas kita sebelum beliau tiba adalah mengepung seluruh area istana."

"Jangan biarkan satu pun penyusup keluar hidup-hidup dari tempat ini!"

"Siap, Laksanakan!" jawab seluruh pasukan serempak dengan suara berbisik namun penuh wibawa.

Mereka langsung bergerak cepat menyebar ke berbagai titik penyerangan.

Ada yang memanjat dinding pagar belakang.

Ada yang merayap melalui saluran air bawah tanah.

Dan ada pula yang bersiap membobol pintu utama dari depan.

Perang urat syaraf di dalam istana megah itu segera dimulai.

Masing-masing pihak sama-sama tahu bahwa malam ini adalah penentuan.

Kirana memilih untuk duduk diam di samping suaminya.

Ia menyandarkan kepalanya kembali ke bahu Andra, membiarkan jemari tangan mereka saling bertautan erat.

Meski Andra mengatakan semuanya baik-baik saja, ada rasa cemas yang masih bergelayut di benak Kirana.

Ia bisa merasakan ketegangan yang coba disembunyikan oleh suaminya lewat tarikan napas yang sesekali terasa berat.

"Mas..." panggil Kirana pelan tanpa membuka matanya.

"Hmm?" sahut Andra lembut sambil terus mengelus punggung tangan istrinya.

"Janji sama aku..." Kirana mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata gelap suaminya.

"Apapun yang terjadi sekembalinya kita ke Jakarta nanti, utamakan keselamatan kamu."

"Aku tidak peduli seberapa besar kekayaan atau kekuasaan kita."

"Yang paling penting buat aku... kamu tetap ada di sampingku."

Andra tertegun sejenak mendengarkan ucapan tulus dari istrinya.

Hatinya yang sedingin es seolah disiram oleh air hangat.

Ia tersenyum tipis, lalu mencium lembut kening Kirana penuh kasih.

"Aku janji, sayang," jawab Andra mantap.

"Tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa mengambilku darimu."

"Termasuk mereka yang mencoba merusak rumah kita."

Kirana mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang mendengar janji suaminya.

Ia kembali merebahkan kepalanya di bahu Andra, memejamkan mata untuk mencoba tidur sejenak sebelum pesawat mendarat.

Sementara itu, di dalam kokpit pesawat, kapten pilot dan kopilot bekerja dalam keheningan total.

Layar navigasi di hadapan mereka memancarkan titik koordinat tujuan yang telah diubah secara mendadak.

"Kita akan memasuki wilayah udara Jakarta dalam 35 menit ke depan, Kapten," lapor sang kopilot dengan suara berbisik agar tidak terdengar ke ruang kabin utama.

"Bagus," balas sang kapten sambil mengatur kemudi otomatis.

"Pastikan kita mendarat di landasan rahasia sektor barat sesuai instruksi Tuan Handoko."

"Matikan semua sinyal transponder publik."

"Kita tidak boleh memancing perhatian siapa pun."

"Siap, Kapten!"

Burung besi bermesin ganda itu membelah awan dengan kecepatan penuh, membawa sang penguasa bayangan kembali ke singgasananya.

Di daratan sana, pasukan bayangan elit di bawah komando Handoko telah bersiap menyambut kedatangan mereka.

Pagar besi istana Menteng mungkin tertutup rapat dari pandangan luar.

Namun di dalam temboknya, panggung pertarungan darah dan kekuasaan sudah menanti untuk dibuka.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!