NovelToon NovelToon
Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8_Awal kehidupan baru

"Di... di mana aku...?" bisik Rani lirih. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara kedua matanya perlahan terbuka menatap langit-langit kamar yang asing.

Ia mengerjapkan mata beberapa kali.

Kasur yang empuk. Selimut hangat yang menyelimuti tubuhnya. Aroma ruangan yang harum.

Rani langsung duduk dengan tergesa-gesa.

"Aduh..." erangnya pelan. Wajahnya meringis kesakitan, sementara tangannya refleks memegang kepalanya yang masih terasa berat.

Pintu kamar perlahan terbuka. Seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam pelayan masuk sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat.

"Syukurlah... Ibu sudah sadar." ucap wanita itu lega. Senyumnya terlihat hangat, sementara sorot matanya dipenuhi rasa syukur.

Rani menatapnya bingung.

"Maaf... ini di mana?" tanyanya pelan. Wajahnya masih pucat, sementara kedua tangannya mencengkeram ujung selimut.

Pelayan itu mendekat.

"Ibu sedang berada di rumah Tuan Adrian." jawabnya ramah. Senyumnya tetap lembut, sementara ia meletakkan nampan di atas meja kecil.

Rani terdiam.

"Rumah... Tuan Adrian?" ulangnya bingung. Alisnya berkerut, sementara ingatannya perlahan kembali.

Wanita itu mengangguk.

"Semalam Tuan menemukan Ibu pingsan di pinggir jalan." jelasnya lembut. Wajahnya dipenuhi rasa iba.

Mata Rani membelalak.

"Pingsan...?" ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Perlahan semua kejadian semalam kembali teringat.

Bentakan Arga. Tamparan, pengusiran. Hujan. Jalanan yang sepi. Tubuhnya yang ambruk. Air mata Rani kembali mengalir.

"Aku..." bisiknya lirih. Bahunya mulai bergetar, sementara ia menundukkan kepala.

Pelayan itu segera duduk di samping tempat tidur.

"Jangan dipikirkan dulu, Bu." ucapnya lembut. Wajahnya dipenuhi simpati, sementara tangannya mengusap pelan punggung Rani.

Rani menggigit bibirnya.

"Apakah... aku merepotkan kalian?" tanyanya pelan. Sorot matanya dipenuhi rasa tidak enak.

Pelayan itu langsung menggeleng.

"Tidak sama sekali." jawabnya cepat. Senyumnya terlihat tulus. "Tuan Adrian yang meminta kami merawat Ibu sebaik mungkin."

Rani terdiam.

"Kenapa...?" tanyanya lirih. Wajahnya masih bingung.

Pelayan itu tersenyum tipis.

"Itu juga yang membuat kami heran." jawabnya pelan. Alisnya sedikit terangkat. "Selama bertahun-tahun bekerja di sini, baru kali ini Tuan membawa seorang wanita ke rumah."

Rani langsung menggeleng.

"Tidak... pasti hanya karena kasihan." ucapnya pelan. Senyumnya terasa pahit.

Belum sempat pelayan itu menjawab...

Tok!

Tok!

Tok!

Suara ketukan pintu terdengar pelan.

"Masuk." ucap pelayan itu ramah. Wajahnya menoleh ke arah pintu.

Pintu terbuka.

Seorang dokter berusia sekitar lima puluh tahun masuk sambil membawa tas medis.

"Selamat pagi." sapanya ramah. Senyumnya tipis, sementara tatapannya tertuju kepada Rani.

Rani segera menundukkan kepala.

"Se... selamat pagi." balasnya pelan. Wajahnya terlihat canggung.

Dokter itu duduk di samping tempat tidur.

"Bagaimana kondisi Anda?" tanyanya lembut. Wajahnya tampak tenang.

"Masih sedikit pusing." jawab Rani lirih. Tangannya saling menggenggam dengan gugup.

Dokter mulai memeriksa tekanan darah dan denyut nadinya.

"Hmm..." gumamnya pelan. Wajahnya tampak serius.

Rani mulai gelisah.

"Ada apa, Dok?" tanyanya cemas. Alisnya berkerut.

Dokter tersenyum menenangkan.

"Tidak perlu khawatir." jawabnya lembut. Wajahnya kembali rileks. "Anda hanya kelelahan, kurang makan, dan mengalami tekanan fisik maupun mental yang cukup berat."

Air mata Rani kembali menetes.

"Maaf..." bisiknya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa malu.

Dokter menghela napas.

"Jangan meminta maaf." ucapnya tenang. Sorot matanya penuh pengertian. "Yang Anda butuhkan sekarang hanyalah istirahat."

Rani mengangguk pelan.

Tak lama kemudian...

Pintu kembali diketuk.

Tok!

Tok!

Tok!

"Masuk." ucap pelayan itu.

Pintu perlahan terbuka. Seorang pria tinggi dengan setelan kemeja putih dan celana hitam masuk ke dalam kamar.

Langkahnya tenang. Tatapannya tajam. Namun wajahnya tetap terlihat dingin.

Rani langsung mengenalinya. Pria yang semalam menolongnya. Adrian.

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Adrian tenang. Wajahnya tampak datar, sementara kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

Dokter berdiri.

"Sudah jauh lebih baik." jawab dokter sambil tersenyum. "Beliau hanya perlu banyak istirahat."

Adrian mengangguk singkat.

"Terima kasih." ucapnya sopan. Wajahnya tetap tenang.

Dokter lalu pamit meninggalkan kamar. Suasana mendadak menjadi canggung.

Rani menundukkan kepala.

"Terima kasih..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa sungkan, sementara kedua matanya tidak berani menatap Adrian.

Adrian menatapnya beberapa saat.

"Tidak perlu berterima kasih." jawabnya singkat. Wajahnya tetap sulit ditebak.

Rani menarik napas pelan.

"Maaf... aku pasti sudah merepotkan." ucapnya pelan. Jemarinya saling meremas karena gugup.

Adrian menggeleng.

"Bukan itu yang ingin saya dengar." ucapnya tenang. Tatapannya tetap tertuju pada Rani.

Rani perlahan mengangkat wajah.

"Maksudnya?" tanyanya bingung. Alisnya berkerut.

Adrian menghela napas.

"Siapa yang melakukan itu padamu?" tanyanya serius. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya berubah tajam.

Rani langsung terdiam. Tangannya mulai gemetar.

"Aku..." ucapnya lirih. Wajahnya kembali dipenuhi kesedihan.

Adrian tidak memaksanya.

"Kalau belum siap menjawab, tidak apa-apa." ucapnya tenang. Nada suaranya jauh lebih lembut.

Rani menundukkan kepala semakin dalam.

"Itu... suamiku." jawabnya lirih. Air mata kembali menetes tanpa bisa ia tahan.

Adrian terdiam.

Rahangnya mengeras.

"Dia mengusirmu?" tanyanya pelan. Wajahnya mulai terlihat dingin.

Rani mengangguk pelan.

"Iya..." jawabnya lirih. Bahunya kembali bergetar.

Adrian mengepalkan kedua tangannya.

"Apakah dia juga yang memukulmu?" tanyanya lagi. Sorot matanya dipenuhi kemarahan yang berusaha ia tahan.

Rani kembali mengangguk.

"Iya..." bisiknya hampir tak terdengar.

Ruangan itu mendadak sunyi.

Adrian memalingkan wajah ke arah jendela.

"Mulai hari ini..." ucapnya tenang. Wajahnya tetap dingin, tetapi sorot matanya dipenuhi ketegasan.

Rani perlahan menatap Adrian.

"Selama kondisi Anda belum pulih, Anda bisa tinggal di rumah ini." lanjutnya dengan suara dingin, namun tegas.

Mata Rani langsung membelalak.

"Ti... tidak, Pak." ucapnya gugup. Wajahnya dipenuhi rasa sungkan, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat.

Adrian mengernyit.

"Kenapa?" tanyanya tenang. Alisnya sedikit berkerut, sementara tatapannya tidak lepas dari wajah Rani.

Rani menundukkan kepala.

"Aku tidak ingin merepotkan Bapak." ucapnya lirih. Air matanya kembali menetes, sementara suaranya terdengar bergetar.

Suasana kamar kembali hening.

Rani perlahan menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur. Namun sebelum sempat berdiri, pikirannya kembali dipenuhi kenyataan yang begitu menyakitkan.

Ia sudah tidak memiliki rumah. Tidak memiliki tempat untuk pulang.

Di kota itu, ia hidup seorang diri. Tidak ada saudara. Tidak ada teman yang bisa dimintai pertolongan.

Kalaupun ia keluar dari rumah ini, ke mana lagi ia harus pergi? Apakah kembali tidur di trotoar? Atau kembali pingsan karena kelaparan?

Tubuh Rani mulai bergetar. Air matanya jatuh tanpa mampu ia bendung.

Adrian terdiam.

Rani menarik napas panjang, lalu perlahan turun dari tempat tidur.

Bruk...

Tanpa diduga, ia berlutut di hadapan Adrian.

"Bu!" seru pelayan terkejut. Matanya membelalak, sementara ia buru-buru hendak membantu Rani berdiri.

Namun Rani menggeleng.

"Biarkan saya..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi keputusasaan.

Adrian tampak terkejut.

"Bangun." ucapnya tegas. Wajahnya tetap tenang, sementara rahangnya sedikit mengeras.

Rani menggeleng pelan.

"Tolong..." pintanya dengan suara bergetar. Air matanya mengalir semakin deras, sementara kedua tangannya saling menggenggam memohon. "Aku benar-benar tidak punya tempat untuk pulang."

Suasana kamar mendadak hening. Para pelayan yang berada di sana ikut menundukkan kepala dengan wajah iba.

"Kalau Bapak berkenan..." ucap Rani lirih. Napasnya tersengal menahan tangis. "Izinkan aku tinggal di rumah ini."

Adrian tetap diam.

Rani kembali melanjutkan ucapannya.

"Aku tidak meminta belas kasihan." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi tekad di balik kesedihan. "Aku hanya ingin kesempatan untuk bekerja."

Adrian menatapnya tanpa berkedip.

"Bekerja?" tanyanya singkat. Alisnya sedikit terangkat.

Rani segera mengangguk.

"Iya, Pak." jawabnya cepat. Wajahnya dipenuhi harapan. "Aku bisa membersihkan rumah, mencuci pakaian, mengepel lantai, menyetrika, memasak, atau pekerjaan apa pun."

Suaranya semakin lirih.

"Asalkan aku memiliki tempat untuk berteduh." lanjutnya memohon.

Pelayan wanita yang sejak tadi berdiri di samping tempat tidur mulai mengusap sudut matanya.

"Kasihan sekali..." bisiknya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa iba.

Rani kembali menatap Adrian.

"Aku tidak akan menjadi beban." ucapnya sungguh-sungguh. Kedua matanya memerah karena menangis. "Kalau hasil kerjaku tidak memuaskan, Bapak boleh mengusirku kapan saja."

Adrian masih belum menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada wanita yang sedang berlutut di hadapannya.

Beberapa detik berlalu. Akhirnya Adrian mengembuskan napas pelan.

"Berdiri." ucapnya tenang. Wajahnya tetap datar, tetapi nada suaranya mulai melunak.

Rani menggeleng pelan.

"Maafkan aku, Pak." ucapnya lirih. "Sebelum Bapak memberi jawaban, aku tidak akan berdiri."

Adrian menatapnya beberapa saat. Kemudian ia menghela napas panjang.

"Baik." ucapnya singkat. Sorot matanya tetap tenang.

Rani perlahan mengangkat wajahnya.

"Mulai hari ini..." lanjut Adrian. Wajahnya terlihat serius. "Anda boleh tinggal di rumah ini."

Air mata Rani kembali jatuh.

"Terima kasih..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa syukur.

Adrian mengangkat satu tangan, menghentikan ucapan Rani.

"Tapi..." ucapnya tegas. Tatapannya kembali tajam. "Anda bukan pembantu."

Rani terdiam.

"Luka-luka di tubuh Anda belum sembuh." lanjut Adrian tenang. "Fokuslah memulihkan diri terlebih dahulu."

Rani menggigit bibirnya.

"Setelah sembuh..." ucapnya penuh harap. "Izinkan aku bekerja membalas semua kebaikan Bapak."

Adrian memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Kita bicarakan nanti." ucapnya singkat.

Mendengar jawaban itu, Rani akhirnya tersenyum untuk pertama kalinya sejak diusir dari rumah.

Meski senyumnya masih dipenuhi air mata, secercah harapan mulai kembali tumbuh di dalam hatinya.

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
Rani.anak.orang kaya yang disingkirkan atau ada orang yang suka pada Adrian
sunaryati jarum
Kamu tidak tertarik wanita karena mengharapkan Rania,Nak Adrian
sunaryati jarum
Balas budi atau ada Rasa Nak Adrian
sunaryati jarum
Tekad yang bagus Rani
sunaryati jarum
Yang menolong ternyata teman.kecilmu
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu...
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Feni sang penulis novel
wow Saya suka dengan ceritanya Saya suka dengan alur bagian hemat harga tertawa sinis sudut bibirnya berangkat mengejek semangat terus ya kak bikin karyanya Saya suka banget dengan alur ceritanya semuanya Saya suka oh iya kak bolehkah saya mempromokan kenapa baru saya novel saya ada 3 sih tapi kalau kakak suka semuanya tolong berikan komentar dan bintang 5-nya ya kak semangat terus terima kasih
Fransiska aghata
oke kak, makasih udah mampir😁
Ayu Ara12
next dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!