Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 02 - Perempuan di Foto Lama
Ratna tidak menjawab pesan Bambang.
Ia mematikan kompor, lalu duduk di kursi kayu ruang tengah. Sayur bening yang baru matang dibiarkan begitu saja. Aroma bayam dan bawang putih menyebar sampai ruang depan, tetapi perutnya terasa kosong, seperti tidak ada tempat untuk makanan.
Foto-foto itu masih berserakan di meja.
Ia mengambil satu demi satu, mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Mungkin kotak itu dikirim seseorang tanpa sepengetahuan Bambang.
Mungkin Sari hanya ingin mengembalikan barang lama.
Mungkin Bambang panik karena tidak ingin Ratna salah paham.
Mungkin.
Terlalu banyak mungkin.
Ratna menutup mata sebentar.
Selama ini ia selalu hidup dari kata mungkin. Mungkin Bambang lelah, jadi ia kasar. Mungkin Bambang lupa ulang tahunnya karena sibuk. Mungkin Bambang tidak pernah membantu pekerjaan rumah karena memang laki-laki desa seusianya tidak biasa begitu. Mungkin Bambang pulang pagi setiap tahun baru karena benar-benar ada urusan teman lama.
Mungkin, mungkin, mungkin.
Pada usia enam puluh, Ratna tiba-tiba merasa semua mungkin itu melelahkan.
Ponsel Bambang tergeletak di meja kecil dekat televisi.
Ratna baru sadar Bambang tadi pagi meninggalkannya ketika terburu-buru keluar. Biasanya ia tidak pernah menyentuh ponsel suaminya. Mereka bukan pasangan muda yang saling mengecek isi pesan. Setelah puluhan tahun menikah, kepercayaan bukan lagi sesuatu yang dibicarakan. Kepercayaan hanya seperti piring di rak dapur, selalu ada karena tak pernah ada yang menjatuhkan.
Tapi hari ini, piring itu retak.
Ratna menatap ponsel itu.
Layarnya menyala karena ada notifikasi masuk.
Sari H.
Ratna merasa napasnya berhenti sekejap.
Pesan itu muncul di layar terkunci.
Sari H: Paketnya sudah sampai? Jangan sampai dibuka Ratna, Bang.
Bang.
Ratna menggenggam ujung meja.
Tangannya gemetar, tetapi pikirannya justru menjadi sangat jernih.
Ia tahu PIN ponsel Bambang. Bukan karena pernah mengintip. Bambang sendiri yang dulu memberitahu ketika meminta Ratna membalas pesan tukang bangunan. Tanggal lahir Bambang, empat angka yang sama sejak bertahun-tahun lalu.
Ratna memasukkan PIN.
Ponsel terbuka.
WhatsApp Bambang dipenuhi grup RT, grup mancing, grup keluarga, dan satu percakapan yang disematkan paling atas.
Sari H.
Foto profilnya perempuan paruh baya dengan kerudung krem, wajah masih terawat, senyum tipis, matanya percaya diri. Ratna mengenalinya dari foto lama. Perempuan itu sudah tua, tentu saja. Tetapi garis wajahnya sama.
Ratna membuka percakapan itu.
Pesan terakhir masih di sana.
Sari: Paketnya sudah sampai? Jangan sampai dibuka Ratna, Bang.
Di atasnya, Bambang membalas beberapa jam lalu.
Bambang: Tenang. Dia tidak akan macam-macam. Ratna itu orangnya nurut.
Ratna membaca kalimat itu pelan.
Nurut.
Ia hampir tertawa, tetapi tenggorokannya sakit.
Ia menggulir layar ke atas. Tidak jauh, ada foto restoran. Dua gelas jus, dua piring steak, sepotong kue dengan lilin kecil. Caption dari Sari.
Sari: Tahun baru lagi sama kamu. Walau cuma sehari setahun, aku tetap bahagia.
Bambang: Maaf belum bisa lebih sering.
Sari: Aku sudah menunggu sejak muda. Menunggu setahun sekali juga tidak apa-apa, asal kamu tetap ingat aku.
Ratna meletakkan ponsel di meja, lalu mengambilnya lagi.
Jarinya bergerak pelan, terus menggulir.
Ada foto-foto lain. Bukan hanya tahun ini. Tahun lalu. Dua tahun lalu. Tiga tahun lalu. Mereka makan malam, duduk di taman hotel, berjalan di pusat kota, bahkan ada foto Bambang memakai kemeja yang Ratna sendiri setrika.
Ratna mengenali kemeja biru tua itu.
Ia membelinya di pasar kecamatan karena Bambang bilang ingin baju baru untuk reuni.
Reuni.
Ratna menutup mulut dengan punggung tangan.
Ia tidak menangis. Air matanya seperti tertahan di belakang mata, panas tetapi tidak jatuh.
Di percakapan itu, Sari sering menulis hal-hal manis.
Bang, kalau dulu kita jadi menikah, mungkin hidup kita beda.
Bang, aku tidak pernah benar-benar bisa melupakan kamu.
Bang, kapan kita bisa tidak sembunyi-sembunyi lagi?
Dan Bambang menjawab.
Sabar.
Tunggu waktu yang tepat.
Aku juga tidak bahagia di rumah.
Ratna membaca kalimat terakhir berkali-kali.
Aku juga tidak bahagia di rumah.
Rumah yang ia bangun dengan uang praktik sampai malam. Rumah yang lantainya ia pel setiap pagi. Rumah tempat anak-anak mereka tumbuh. Rumah tempat cucu-cucu berlari dan menumpahkan susu. Rumah yang ia jaga ketika Bambang sakit paru-paru dan harus dirawat di kota.
Bambang tidak bahagia di rumah.
Ratna berdiri.
Ia berjalan ke kamar, membuka lemari besi kecil tempat dokumen keluarga disimpan. Sertifikat rumah, akta nikah, Kartu Keluarga, akta lahir anak-anak, surat tanah, semua tersusun rapi karena ia yang mengurus. Bambang tidak pernah tahu letaknya sampai hal-hal kecil seperti fotokopi KTP pun selalu meminta padanya.
Ratna mencari nama Sari di ingatannya.
Sari Handayani.
Ia dulu bukan dari kampung ini. Keluarganya tinggal di kampung sebelah, dekat jalan lama menuju pasar. Setelah gagal menikah dengan Bambang, katanya ia bekerja di penginapan di kota, lalu menikah dengan sopir bus. Suaminya meninggal beberapa tahun lalu. Ia punya seorang anak perempuan.
Ratna ingat ibu mertua pernah menyebut nama itu dengan nada kasihan.
"Kasihan Sari. Cintanya sama Bambang dalam, tapi jodoh tidak ke mana. Untung Bambang dapat kamu, Rat. Kamu anaknya tenang."
Tenang.
Nurut.
Kata-kata itu dulu terdengar seperti pujian.
Sekarang terasa seperti tali yang mengikat leher.
Ponsel Bambang berdering lagi.
Sari menelepon.
Ratna menatap layar yang bergetar di meja.
Ia tidak mengangkat.
Telepon mati. Pesan baru masuk.
Sari: Bang, kok tidak jawab? Aku takut Ratna buka paketnya. Kalau dia tahu soal foto dan surat-surat itu, bagaimana?
Surat-surat?
Ratna kembali ke kotak besi.
Di bawah lapisan foto, ada beberapa amplop. Ia tadi belum memeriksa semuanya. Ia membuka amplop pertama. Isinya surat lama, tulisan tangan rapi, penuh panggilan sayang.
Amplop kedua berisi bukti transfer bertahun-tahun terakhir. Tidak besar di awal. Lima ratus ribu. Satu juta. Dua juta. Lalu semakin besar.
Amplop ketiga membuat Ratna berhenti.
Fotokopi kuitansi pembayaran booking kavling makam.
Nama pemesan: Bambang Santoso.
Nama pendamping makam: Sari Handayani.
Ratna membaca dua nama itu.
Bambang Santoso.
Sari Handayani.
Mereka tidak hanya makan bersama setiap tahun baru.
Mereka bahkan sudah merencanakan tempat berbaring bersama setelah mati.
Ratna merasa dunia di sekelilingnya menjadi hening.
Ia tidak mendengar suara motor lewat. Tidak mendengar azan dari musala. Tidak mendengar panci di dapur yang tutupnya bergetar karena air mendidih.
Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri.
Pelan, tetapi keras.
Tiga puluh tujuh tahun.
Ia menemani Bambang dari toko kecil yang bangkrut, dari utang keluarga, dari anak-anak demam tengah malam, dari operasi paru-paru, dari masa ketika mereka hanya makan tahu tempe selama seminggu.
Dan Bambang menyiapkan makamnya bersama perempuan lain.
Pintu depan tiba-tiba diketuk.
"Bu Ratna!"
Suara Bu Rini.
Ratna cepat-cepat mengumpulkan foto dan surat ke dalam kotak, tetapi satu foto terjatuh ke lantai. Foto Bambang muda menggenggam tangan Sari.
Ratna memungutnya.
"Bu Ratna, ada di rumah?"
Ratna menarik napas panjang, menutup kotak besi, lalu berjalan ke pintu.
Ketika pintu terbuka, Bu Rini berdiri dengan kantong plastik berisi gula.
"Maaf, Bu. Tadi gula yang Ibu pesan ketinggalan di warung."
Ratna menerima kantong itu. "Terima kasih."
Bu Rini menatap wajahnya. "Bu Dokter pucat. Sakit?"
Ratna menggeleng. Bibirnya mencoba tersenyum.
"Tidak. Cuma agak lelah."
Bu Rini tidak langsung pergi. Matanya melirik ke dalam rumah, mungkin melihat meja yang masih berantakan, mungkin juga hanya kebiasaan tetangga yang ingin tahu.
"Pak Bambang belum pulang?"
"Belum."
"Oh. Katanya tadi siang saya lihat motornya ke arah pasar kota."
Ratna diam.
Pasar kota.
Di arah itu juga ada kantor pemasaran pemakaman swasta yang tertulis di kuitansi.
Bu Rini akhirnya pamit. Ratna menutup pintu, lalu bersandar di baliknya.
Ponsel Bambang kembali menyala.
Bambang: Aku pulang sebentar lagi. Paket jangan disentuh.
Ratna menatap pesan itu dari jauh.
Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengetik balasan tanpa ragu.
Ratna: Pulanglah. Kita bicara.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan