NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12 Dua Nama yang Tidak Pernah Disebut

Mereka berangkat menuju Hollowreach pagi berikutnya, lebih waspada dari biasanya setelah laporan Doran semalam. Arden memutuskan membawa jumlah anggota lebih besar dari yang biasa mereka kirim untuk kontrak pengawalan sekecil ini, sebuah keputusan yang tidak dipertanyakan siapa pun mengingat apa yang mungkin menunggu di sepertiga perjalanan mereka.

Karavan kecil milik para pedagang bergerak lambat di depan, tiga gerobak penuh muatan kain dan rempah yang ditarik kuda-kuda tua namun kuat, sementara rombongan Jangkar Kelabu tersebar di sekeliling mereka, formasi longgar yang cukup untuk memantau segala arah tanpa terlihat berlebihan bagi para pedagang yang mereka kawal.

Ilsa berjalan dekat dengan Petra, sesekali melemparkan komentar ringan untuk mencairkan ketegangan yang jelas terasa sejak pagi, meski matanya sendiri terus menyapu hutan di kedua sisi jalan dengan kewaspadaan seorang assassin yang sudah terlatih membaca bahaya sebelum bahaya itu benar-benar muncul.

"Kau terlalu tegang," katanya pada Petra, yang berjalan dengan tangan tidak pernah jauh dari gagang pedangnya. "Kalau kau terus begitu, kau akan kehabisan tenaga sebelum kita sampai di area yang benar-benar berbahaya."

"Aku tidak tegang," kata Petra, meski nada suaranya jelas menunjukkan sebaliknya.

"Tentu saja," kata Ilsa, tersenyum tipis, tidak mendesak lebih jauh.

Sister Yuna berjalan tak jauh dari mereka, membawa tasnya sendiri yang berisi perlengkapan penyembuhan, sesekali bergumam doa pelan untuk perjalanan yang aman, kebiasaan yang sudah lama menjadi bagian dari dirinya sebelum setiap misi yang berpotensi berbahaya. Brann berjalan di dekat salah satu gerobak, berbincang santai dengan salah satu pedagang tentang asal usul rempah yang mereka bawa, sesekali mencatat sesuatu di buku kecilnya yang lebih untuk mengisi waktu daripada kebutuhan sungguhan.

Arden berjalan di depan, di samping Corym, matanya terus mengawasi jalur di depan mereka, terutama ketika mereka mulai mendekati area hutan kecil yang ditandai Doran sebagai lokasi jejak mencurigakan.

"Kita akan melewati titik itu sebentar lagi," kata Corym, memeriksa peta yang ia bawa. "Kalau perkiraan Doran benar, kita akan sampai di sana menjelang tengah hari."

"Aku tahu," kata Arden, suaranya lebih pelan dari biasanya, matanya tidak lepas dari barisan pohon di depan mereka.

Ketika akhirnya mereka mencapai area itu, hutan kecil yang dimaksud ternyata sunyi, tidak ada tanda kehadiran apa pun selain jejak lama yang sudah mulai memudar di tanah, cukup untuk mengonfirmasi laporan Doran tapi tidak cukup untuk menunjukkan ke mana kelompok besar itu pergi. Rombongan melewatinya dengan hati-hati, formasi lebih rapat dari biasanya, hingga akhirnya keluar kembali ke padang terbuka tanpa insiden berarti.

"Mungkin mereka sudah bergerak jauh dari sini," kata Tomas, meski nada suaranya sendiri tidak sepenuhnya yakin.

"Atau mereka sengaja menghindari area terbuka saat siang hari," kata Halden, matanya masih waspada meski mereka sudah melewati titik yang paling dikhawatirkan. "Kita tetap waspada sampai Hollowreach."

...----------------...

Malam pertama perjalanan mereka habiskan di sebuah area terbuka yang cukup jauh dari hutan, cukup terlindung untuk membuat api unggun kecil tanpa terlalu terlihat dari kejauhan. Para pedagang sudah tertidur lebih dulu di dekat gerobak mereka, lelah oleh perjalanan hari itu, meninggalkan rombongan Jangkar Kelabu duduk mengelilingi api dengan giliran jaga yang sudah disepakati sebelumnya.

Petra duduk paling dekat dengan api, masih belum sepenuhnya bisa duduk diam meski tubuhnya lelah, matanya berkilau di bawah cahaya api yang bergoyang pelan. Di sebelahnya, Tomas duduk lebih tenang, membersihkan busurnya dengan gerakan yang sudah menjadi ritual malam baginya. Doran duduk agak jauh, Ashe tertidur meringkuk di dekat kakinya, sesekali mengeluarkan decitan pelan dalam tidurnya.

"Ceritakan sesuatu," kata Petra tiba-tiba, menatap Corym yang duduk di seberang api, tangannya sibuk mengasah ujung pedangnya meski tidak benar-benar perlu.

"Cerita apa?" tanya Corym, mengangkat kepala.

"Apa saja. Sesuatu tentang kelompok ini, mungkin. Aku selalu penasaran bagaimana Jangkar Kelabu terbentuk, tapi tidak ada yang pernah benar-benar bercerita detail."

Corym menatapnya sejenak, lalu melirik ke arah Arden, yang duduk agak menjauh dari lingkaran api utama, cukup dekat untuk masih terlihat sebagai bagian dari kelompok, tapi cukup jauh untuk memberi kesan bahwa ia lebih memilih menikmati kesunyian malam daripada percakapan.

"Kelompok ini dibentuk lebih dari dua puluh tahun lalu," kata Corym akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Awalnya hanya beberapa orang yang bosan mengikuti aturan kaku guild besar, ingin bekerja dengan cara mereka sendiri, membantu klien-klien kecil yang sering diabaikan kelompok besar karena kontraknya terlalu kecil untuk dianggap menguntungkan."

"Kau salah satunya?" tanya Petra.

"Aku bergabung sekitar dua tahun setelah kelompok ini berdiri," kata Corym, tersenyum tipis mengenang. "Arden sudah ada sejak awal, meski saat itu dia bukan pemimpinnya. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum dia mengambil peran itu."

Halden, yang duduk tak jauh dari sana, ikut bergabung dalam percakapan, suaranya berat dan tenang seperti biasa. "Aku bergabung lebih lama lagi setelahnya, tapi aku dengar banyak cerita dari mereka yang lebih dulu. Kelompok ini pernah jauh lebih besar dari sekarang."

"Lebih besar?" tanya Ilsa, yang sejak tadi mendengarkan sambil bersandar santai di batang pohon terdekat.

Corym mengangguk pelan, jelas menimbang seberapa jauh ia akan melangkah dalam cerita ini. "Kita kehilangan dua orang terbaik kita, saat kelompok ini masih sangat muda. Sekitar tiga belas tahun lalu, dalam sebuah ekspedisi yang tidak berjalan sesuai rencana."

Keheningan menyelimuti lingkaran api itu untuk sesaat, hanya diselingi derak kayu yang terbakar dan angin malam yang lembut menggerakkan dedaunan di sekitar mereka. Petra, yang tadinya penuh rasa ingin tahu, kini duduk lebih tegak, matanya menatap Corym dengan rasa hormat yang baru, campuran antara kekaguman dan sesuatu yang lebih berat.

"Siapa mereka?" tanya Petra, pelan, hampir berbisik.

Corym menatap api sejenak, seolah mencari jawaban di antara nyala kecilnya. "Itu bukan cerita yang bisa aku ceritakan seluruhnya malam ini," katanya akhirnya, suaranya jujur meski jelas menahan diri. "Bukan karena aku tidak percaya pada kalian, tapi karena sebagian dari cerita itu bukan milikku sepenuhnya untuk diceritakan. Yang bisa kukatakan, mereka adalah dua orang yang membentuk fondasi kelompok ini bersama yang lain, dan kepergian mereka mengubah banyak hal, termasuk cara kelompok ini dijalankan sejak saat itu."

"Apa itu sebabnya kita selalu mengambil kontrak kecil?" tanya Tomas, suaranya rendah, lebih ke arah refleksi daripada pertanyaan yang benar-benar menuntut jawaban.

"Mungkin," kata Corym, "atau mungkin itu sebabnya kita begitu menjaga satu sama lain seperti keluarga, bukan sekadar rekan kerja."

Halden mengangguk pelan, setuju tanpa perlu mengatakannya. Doran, yang sejak tadi diam, menatap api dengan ekspresi yang sulit dibaca, jelas mengingat cerita yang sudah pernah ia dengar sebelumnya dalam versi yang lebih lengkap, tapi memilih untuk tidak menambahkan apa pun malam itu.

Ilsa, di sisi lain, tidak menatap api. Matanya, sejak Corym mulai bercerita, sudah beralih ke arah Arden, yang duduk diam di luar lingkaran cahaya, tubuhnya menegang dengan cara yang jelas terlihat oleh siapa pun yang cukup mengenalnya untuk memperhatikan.

"Aku ingin tahu lebih banyak," kata Petra, jujur, "tapi aku juga mengerti kalau ini bukan cerita yang mudah diceritakan."

"Suatu hari," kata Corym, menatapnya dengan lembut, "mungkin kau akan mendengar versi lengkapnya. Tapi itu bukan cerita yang bisa dibagikan begitu saja di sekitar api unggun, di malam biasa seperti ini."

Percakapan mulai bergeser ke topik lain setelah itu, Brann mencoba mencairkan suasana dengan cerita ringan soal salah satu eksperimennya yang gagal secara memalukan, memancing tawa kecil dari beberapa orang meski suasana masih terasa lebih berat dari biasanya. Petra mendengarkan dengan senyum tipis, tapi matanya sesekali kembali menatap ke arah tempat Arden duduk sebelumnya.

Karena tempat itu sudah kosong.

...----------------...

Arden sudah menjauh dari lingkaran api sejak Corym mengucapkan kalimat tentang kehilangan dua orang terbaik mereka, langkahnya pelan tapi tegas, membawa dirinya menuju kegelapan di luar batas cahaya api, cukup jauh untuk tidak terlihat oleh yang lain, tapi tidak terlalu jauh untuk benar-benar meninggalkan area perkemahan.

Ia berdiri di bawah bayangan sebuah pohon besar, menatap langit malam yang dipenuhi bintang, dadanya terasa sesak dengan cara yang sudah sangat ia kenal, meski tidak pernah benar-benar terbiasa dengannya.

Tangannya bergerak ke dada, menarik keluar liontin perak kecil dari balik bajunya, menggenggamnya erat dalam telapak tangan, seolah tekanan fisik itu bisa entah bagaimana meredakan tekanan yang jauh lebih dalam yang sedang ia rasakan.

Ia tidak mendengar langkah kaki yang mendekat di belakangnya, terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga tidak menyadari kehadiran itu sampai suara pelan memecah kesunyian.

"Aku tahu aku janji akan berhenti bertanya," kata Ilsa, berdiri beberapa langkah di belakangnya, suaranya lembut, tanpa nada menuduh sama sekali, "tapi aku tidak bisa berpura-pura tidak melihat ini, Arden."

Arden tersentak, refleksnya bergerak untuk menyembunyikan liontin itu, tapi terlambat, Ilsa sudah cukup dekat untuk melihat jelas apa yang tergenggam erat di tangannya di bawah cahaya bintang yang lemah.

Ia berdiri diam, tidak berpaling, tidak menjawab, membiarkan keheningan malam mengisi jarak di antara mereka berdua.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!