Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 27: Pemotretan
Tidak seorang pun di ruangan itu masih percaya bahwa Kirana dan Arya hanya sedang berakting.
Keesokan paginya, Kirana mencoba.
Ia datang ke lokasi pemotretan dan menyapa Arya seperti biasa. “Pagi, Prof.”
“Pagi.” Tatapan pria itu jatuh ke bibirnya. “Tentang semalam.”
“Kecelakaan panggung.”
“Bukan.”
“Mas mau bilang apa?”
Arya menunduk agar hanya Kirana mendengar. “Semalam bukan drama. Kamu mencium saya.”
“Mas juga membalas.”
“Karena saya sudah lama ingin.”
Wajah Kirana panas. Ia pergi ke meja rias sebelum percakapan berlanjut.
Pemotretan dilakukan di depan gedung heritage UN. Tim Bima memasang hujan buatan, lampu, dan kain latar. Kirana mengenakan gaun biru pucat; Arya memakai mantel gelap sebagai Nara.
“Konsep pertama, pertemuan setelah bertahun-tahun,” kata fotografer. “Berdiri berhadapan, jangan sentuh.”
Mereka mengikuti. Foto terlihat indah, tetapi Bima menggeleng.
“Terlalu seperti iklan bank. Mata lebih dalam.”
“Bagaimana mengukur kedalaman mata?” tanya Kirana.
“Bayangkan orang di depanmu akan pergi setelah foto ini.”
Kirana menatap Arya. Pria itu tidak perlu membayangkan. Intensitas matanya membuat Kirana lupa kamera.
Klik beruntun terdengar.
Konsep kedua adalah pelukan di bawah hujan. Arya meletakkan tangan di pinggang setelah mendapat anggukan Kirana. Bima terus meminta mereka lebih dekat sampai tidak ada ruang tersisa.
“Dahi bertemu,” perintahnya. “Bagus. Tahan.”
Cindy melihat layar monitor. “Kalau terlalu romantis, orang mengira ini kisah cinta ringan.”
“Wajah mereka sudah cukup menderita,” kata Winda.
Fajar berdiri dalam kostum Raka untuk foto kelompok. Ia melakukan bagiannya dengan profesional, tetapi wajahnya mengeras setiap kali Arya menyentuh Kirana.
Saat istirahat, Arya membawa dua handuk. Ia mengeringkan rambut Kirana tanpa peduli pada tatapan kru.
“Saya bisa sendiri.”
“Kamu mudah kedinginan.”
“Semua orang lihat.”
“Mereka sudah lihat kita berciuman.”
Kirana merebut handuk. “Mas sengaja mengingatkan.”
“Supaya kamu berhenti menyebutnya kecelakaan.”
Pemotretan terakhir menggunakan gerakan. Kirana harus berlari menjauh, lalu Arya menangkap dan memutarnya kembali. Lantai batu dibasahi hujan buatan.
“Periksa sepatu,” kata Winda.
Sol hak Kirana diberi lapisan antiselip. Mereka mencoba gerak lambat dua kali dengan aman.
Pada pengambilan ketiga, kain gaun mengait ujung sepatu. Kirana kehilangan keseimbangan.
Arya menangkap pinggangnya dan memutar tubuh agar ia tidak jatuh ke batu. Inersia membawa wajah mereka bertemu.
Bibir Kirana menabrak bibir Arya.
Kamera memotret tanpa henti.
Arya menahan punggungnya, menjaga kepala Kirana tidak terantuk. Ciuman hanya sepersekian detik, tetapi foto menangkap gaun yang melayang, hujan, dan tatapan kaget sebelum bibir bertemu.
“Dapat!” seru fotografer.
Kirana berdiri tegak. “Hapus.”
“Lihat dulu,” kata Bima.
Semua berkumpul di monitor. Foto tersebut tampak seperti adegan film: Arya memegang Kirana di tengah jatuh, wajah mereka rapat, air membentuk garis cahaya.
Winda mengembuskan napas. “Ini gila. Poster utama.”
“Tidak.”
“Kira, ini sempurna.”
“Itu kecelakaan.”
Arya berdiri di belakangnya. “Kecelakaan kedua dalam dua hari?”
Kirana menyikutnya.
Bima menawarkan kompromi. “Foto dirapikan, tidak ada detail intim berlebihan. Kalian berdua setujui sebelum rilis.”
Arya menatap Kirana. “Keputusanmu.”
Semua menunggu. Kirana melihat foto lagi. Itu bukan gambar memalukan. Itu kuat, indah, dan jujur tentang chemistry yang memang menjadi pusat pertunjukan.
“Boleh,” katanya. “Tapi hanya versi poster. File lain jangan disebar.”
Fotografer mengangguk. Arya meminta salinan asli disimpan dalam folder terbatas dan mengirim satu file ke ponselnya.
“Kenapa Mas ambil?”
“Arsip pribadi.”
“Jangan dijadikan wallpaper.”
Arya tidak menjawab.
Namun keputusan itu tidak langsung menutup sesi. Fotografer masih membutuhkan potret karakter tunggal dan satu gambar kelompok untuk katalog festival.
Kirana berdiri di bawah lampu putih, memegang naskah yang sengaja dibuat basah. Arahan kali ini sederhana: Aluna menunggu seseorang yang tidak pernah kembali. Ia mencoba memakai kesedihan tokohnya, tetapi setiap kali menatap melewati kamera, Arya berdiri di sana dengan mantel basah dan rambut menetes ke dahi.
“Jangan menatap saya,” bisiknya ketika kru mengganti lensa.
“Fotografer meminta pandanganmu ke titik belakang kamera.”
“Mas sengaja berdiri di titik itu.”
“Saya membantu.”
“Mengganggu.”
Sudut bibir Arya bergerak tipis. “Hasilnya bagus.”
Bima mendengar dari dekat monitor. “Kalau cara ini membuat ekspresinya hidup, Mas jangan pindah.”
Kirana melempar tatapan protes, tetapi rana kamera sudah berbunyi lagi. Kali ini ia membiarkan kegelisahan, rindu, dan rasa takut kehilangan naik ke wajahnya. Setelah beberapa detik, ruangan mendadak sunyi.
Fotografer menurunkan kamera. “Itu Aluna.”
Fajar mendapat giliran berikutnya. Dalam foto kelompok, ia berdiri di sisi Kirana sebagai Raka, lelaki yang menawarkan masa depan aman. Arya berada di sisi lain sebagai masa lalu yang tidak pernah selesai. Komposisi itu sesuai naskah, tetapi ketegangan mereka tidak sepenuhnya milik tokoh.
“Fajar, tangan di bahu Kirana,” kata fotografer.
Fajar berhenti sebelum menyentuh. “Boleh?”
Kirana mengangguk. “Boleh.”
Tangannya baru mendarat ketika Arya menoleh. Tidak ada kata, hanya rahang yang mengeras.
“Prof, mata ke kamera,” tegur Winda.
“Saya sedang melihat.”
“Bukan ke tangan Fajar.”
Beberapa kru menahan tawa. Arya akhirnya menghadapkan wajah ke kamera, sementara Kirana harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak ikut tersenyum.
Sesudah sesi, Bima memanggil tiga pemeran utama untuk menyeleksi foto. Mereka menandai gambar promosi, gambar katalog, dan file yang tidak boleh keluar dari penyimpanan produksi. Winda menambahkan watermark pada salinan pratinjau serta mencatat siapa saja yang menerima akses.
“Tidak ada unggahan pribadi sebelum akun resmi merilis,” katanya tegas. “Tidak ada foto layar, tidak ada bocoran ke grup kelas.”
“Termasuk pemeran?” tanya Cindy dari belakang mereka.
“Terutama pemeran.”
Arya memeriksa metadata file ciuman. “Nama fotografer dan rumah produksi tetap dicantumkan. Kalau ada akun yang memotong watermark, kirim ke Rian untuk dokumentasi.”
Kirana meliriknya. “Mas sudah mengira akan ada masalah?”
“Saya mengira orang akan membicarakanmu. Saya ingin batas antara promosi dan pelanggaran privasi jelas.”
Jawaban itu menghangatkan sesuatu di dada Kirana. Arya tidak mencoba menyembunyikan poster atau mengendalikan reaksinya. Ia hanya memastikan keputusan Kirana dihormati setelah gambar itu keluar dari ruangan.
Bima lalu menampilkan dua rancangan akhir. Versi pertama memperlihatkan dahi mereka bertemu. Versi kedua memakai detik ketika Arya menyelamatkannya dari jatuh.
“Pilih,” kata Bima.
Kirana menatap Arya. “Mas?”
“Saya sudah memilih sejak awal.”
“Jawaban yang tidak membantu.”
“Versi kedua,” katanya. “Bukan karena ciumannya. Karena kamu terlihat tidak takut saat saya menangkapmu.”
Kirana kembali memandang layar. Ia memang terkejut dalam foto itu, tetapi tubuhnya tidak menolak. Tangannya mencengkeram bahu Arya seolah yakin pria tersebut tidak akan membiarkannya menyentuh tanah.
“Versi kedua,” putusnya.
Sore itu, desain poster selesai. Wajah Kirana dan Arya memenuhi bagian tengah, sementara judul Hujan Terakhir berada di bawah ciuman yang tertangkap hujan.
Fajar melihat versi final lalu pergi tanpa komentar.
Cindy mengambil foto layar sebelum Winda sempat melarang.
Kirana menatap tombol jadwal unggahan pada akun resmi festival.
Poster itu akan terbit pukul tujuh pagi.
Dan ia tahu kampus akan meledak.