Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pertemuan di Lorong Menara Langit dan Ludahan Gengsi sang Putri
Sisa kabut asap hitam pembakaran dari pabrik bawah tanah masih berembus pelan, menyelinap masuk menembus celah-celah ventilasi udara di lantai tengah Menara Langit. Sore itu, setelah keputusan perintah perjodohan paksa dijatuhkan sepihak oleh Gendo Solari dari balik Altar Emas, suasana di sepanjang lorong kristal terasa sangat dingin dan mencekam. Tidak ada satu pun perwira militer yang berani melangkah melewati jalur utama ini, menyisakan keheningan kaku yang sangat menyesakkan dada siapa saja yang berdiri di dekat area perbatasan kasta bangsawan tersebut.
Elena berjalan tertatih-tatih melintasi lorong kristal dengan tubuh anggunnya yang masih gemetar hebat setelah menangis histeris di depan ayahnya beberapa menit yang lalu. Jubah sutra emas mewahnya yang bersulamkan hiasan bintang perak tampak sedikit longgar, sebagian kain bagian bawahnya bahkan terseret pasrah menyapu serpihan debu-debu emas yang melayang di udara. Wajah cantiknya yang putih bersih terlihat sangat pucat pasi, memancarkan kombinasi rasa benci, muak, dan keputusasaan yang luar biasa menghancurkan akal sehatnya sebagai putri bangsawan kasta tertinggi di Kuadran Timur. Air mata frustrasinya yang tersisa masih menempel basah di sudut matanya yang biru jernih, mengering menjadi hawa dingin yang menusuk lubuk hatinya.
Bagi Elena, takdir perjodohan ini adalah sebuah hukuman mati yang paling sadis sekaligus menghina kehormatan dirinya di depan umum. Setiap kali pikirannya membayangkan bahwa status sosialnya sekarang sudah resmi diturunkan menjadi seorang calon istri dari budak pembersih yang dekil, dadanya langsung terasa sesak bagai dihantam beban batu ribuan ton. Rasa jijik yang luar biasa mendidih di dalam kepalanya, memaksanya mengepalkan sepasang tangan lenturnya sekencang mungkin sampai kuku jarinya memutih karena menahan rasa muak.
STEP... STEP...
Suara ketukan sepatu besi yang lambat dan berat mendadak terdengar dari arah belokan koridor menara, memutus sepihak seluruh keheningan yang melanda lantai tengah. Elena tidak menghentikan langkah kakinya, namun sepasang matanya yang sedingin es langsung mengunci mati ke arah sosok kurus yang baru saja melangkah keluar dari balik pintu lift angkutan bawah tanah.
Zephyr berjalan dengan tubuh remajanya yang tegap namun tampak kusam, berselimut abu pembakaran di sekujur baju karung goni miliknya yang compang-camping. Remaja empat belas tahun itu baru saja menyelesaikan tugas kerja paksanya untuk memikul tabung zat asam seberat puluhan kilo dari perut bumi Pabrik Peleburan Sektor Tiga, murni mengandalkan kekuatan otot tubuhnya sendiri tanpa alat bantu zirah pelindung. Rambut hitam panjangnya yang berantakan menutupi sebagian wajah pucatnya yang tenang, sementara sepasang mata peraknya tetap memancarkan sorot ketenangan murni seorang pendekar sejati yang sedingin kematian, mengabaikan seluruh hawa panas yang mengalir di sekeliling dinding menara langit seutuhnya.
Ketika jarak posisi berdiri mereka berdua kian dekat tepat sepuluh jengkal di tengah-tengah lorong kristal, Elena mendadak menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba. Begitu sepasang mata biru jernihnya menangkap sosok Zephyr yang kotor penuh noda lumpur dan sisa pelumas mesin yang bau, seluruh emosi amarah yang ia pendam sejak tadi langsung meledak gila. Kilatan rasa muak yang sangat tajam melesat dari sudut matanya, menghancurkan sisa-sisa kedamaian udara koridor dalam sekejap mata.
"Berhenti di situ, Makhluk Kotor!" desis Elena. Nada suaranya yang merdu terdengar sangat tajam bagai sebilah belati es yang memotong pasokan udara bebas.
Elena dengan gerakan tubuh yang sangat angkuh sengaja menarik gaun sutra emas mewahnya tinggi-tinggi menggunakan tangan kiri, murni agar kain suci bangsawannya tidak bersentuhan dengan serpihan debu besi yang menempel di sepanjang jalan yang dilewati Zephyr. "Kau membawa bau busuk belerang dan sisa cairan keringat kasta budakmu ini tepat di depan mataku, Zephyr! Beraninya tubuh kotor itu menapakkan kaki di menara kristal ini setelah menghancurkan masa depan harga diri keluargaku!"
Zephyr tidak membalas makian bising, kata-kata keji, atau penolakan sedingin es dari wanita bangsawan yang minggu depan ditakdirkan resmi menjadi istrinya tersebut dengan teriakan marah atau pandangan mata penuh dendam yang murahan. Ia tetap diam membeku di posisinya di bawah tekanan gaya gravitasi Titan Prime yang bekerja dua ratus kali lipat lebih ekstrem, murni mengandalkan keteguhan fisiknya yang jujur. Tangan kanannya yang kasar penuh kapalan tetap memegang erat sebilah pecahan lempengan besi tua berkarat yang terselip di balik lipatan pinggang celananya, membiarkan rambut berantakannya bergerak halus ditiup uap ventilasi menara. Ketenangan murni Zephyr—sikap diamnya yang setenang kematian—justru bertindak bagai dinding tanpa suara yang meruntuhkan sisa nalar sehat Elena seutuhnya.
Melihat budak di hadapannya sama sekali tidak gemetar ketakutan atau bersujud memohon ampun mendengar makian kastanya, amarah di dalam batin Elena mendidih gila sampai ke titik tertinggi. Dia merasa martabat bangsawan miliknya sama sekali tidak dihargai oleh seekor cacing tanah kasta terbawah yang sedang diinjak. Dengan gerakan kepala yang dipenuhi rasa benci dan penolakan yang sangat kejam, Elena melangkah maju satu langkah, lalu meludahkan liurnya tepat ke arah bagian pundak baju karung goni Zephyr yang compang-camping.
CUIH!
Ludahan air kehinaan dari mulut Elena menghantam telak di atas kain karung goni kusam milik Zephyr, meninggalkan noda basah yang dingin di atas serat kainnya yang kasar berselimut abu pembakaran. Tindakan tersebut adalah sebuah hinaan yang sangat kejam dari sang putri menara langit, sebuah cara paling menjijikkan untuk menunjukkan batas pemisah kasta sosial yang tidak akan pernah bisa dilompati oleh sang anak buangan seumur hidupnya.
"Tundukkan pandangan mata perak kotarmu itu dari hadapanku!" raung Elena, suaranya melengking tinggi dipenuhi oleh rasa frustrasi akibat jebakan perintah perjodohan paksa ayahnya. Dia meremas kipas peraknya hingga berlian di atasnya bergetar kaku mengeluarkan bunyi bising yang memekikkan telinga. "Aku membencimu, Zephyr! Aku membenci seluruh silsilah darah miskinmu yang tidak berguna ini! Pergilah mati membusuk di dalam lubang tungku peleburan Sektor Tigamu sebelum malam ini menghabiskan sisa nyawamu!"
Zephyr tetap berdiri tegap diam membeku di posisinya di tengah koridor kristal, membiarkan noda ludah kehinaan Elena menempel di bahu baju hitam kusamnya tanpa ada pergerakan tangan untuk menyekanya sedikit pun. Tidak ada amukan suara yang keluar dari mulutnya yang kaku menahan perih sisa luka bakar radiasi pabrik peleburan tadi siang. Sepasang mata perak tajam miliknya yang setenang kematian tetap menatap lurus ke arah luar jendela menara tanpa memancarkan setitik pun rasa amarah yang murahan.
Zephyr menegakkan tubuhnya murni menggunakan kekuatan otot tubuhnya yang telah mengeras sempurna setelah latihan ekstrem di bawah tanah. Ia kemudian menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda menghormati pelayan Menara Langit dengan kesopanan ksatria sejati yang menolak menyerah pada nasib. Setelah itu, Zephyr membalikkan tubuh remajanya secara perlahan. Ia kembali menyeret sepasang kakinya yang linu melintasi tumpukan debu emas, melangkah tertatih-tatih kembali masuk menerobos gerbang lift logistik untuk kembali ke kegelapan perut bumi.