Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hujan benar-benar berhenti ketika Profesor Surya keluar dari ruang belakang. Di tangannya kini ada sebuah kotak kayu kecil berukuran tak lebih besar dari kotak sepatu. Kotak itu langsung dimasukkan ke dalam map cokelat, lalu diselipkan di bawah lengannya.
"Sudah lama nunggu?" tanyanya.
"Enggak, Pak."
"Terima kasih."
Mereka berpamitan kepada pemilik bengkel. Sebelum Zain mengenakan helm, pria tua pemilik bengkel itu menepuk bahunya.
"Hati-hati di jalan."
"Iya, Pak."
"Motor itu dirawat baik-baik."
Zain tersenyum. "Pasti."
Pria tua itu memandang motor Zain beberapa detik lebih lama dari seharusnya. "Mesin yang dirawat akan membalas pemiliknya."
Zain terkekeh. "Semoga begitu."
Ia menyalakan mesin. Motor pun melaju meninggalkan bengkel.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Profesor Surya, keduanya lebih banyak diam. Sesekali hanya terdengar suara mesin motor dan angin yang menerpa jaket.
Baru setelah melewati jembatan kecil, Profesor Surya membuka suara. "Motor itu sudah berapa kilometer?"
Zain melirik speedometer. "Hampir seratus sepuluh ribu."
"Banyak juga."
"Iya, Pak. Tiap hari dipakai kerja."
"Pernah turun mesin?"
"Belum."
Profesor mengangguk pelan. "Berarti kamu memang merawatnya."
"Kalau rusak, saya enggak bisa cari makan."
Jawaban itu membuat Profesor tersenyum. "Benar."
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah. Profesor turun dari motor. Namun kali ini ia tidak langsung masuk.
"Zain."
"Iya, Pak?"
"Besok libur?"
"Kayaknya iya."
"Kalau begitu... datanglah ke laboratorium setelah makan siang."
"Ada apa, Pak?"
"Saya butuh bantuan."
"Bantuan?"
Profesor mengangguk. "Bukan penelitian. Bukan juga mengangkat barang."
"Lalu?"
"Saya ingin membersihkan sebuah motor."
Zain spontan tertawa. "Cuma itu?"
"Ya."
"Saya kira pekerjaan berat."
Profesor ikut tertawa kecil. "Kadang pekerjaan yang kelihatannya sederhana justru yang paling penting."
...
Malam harinya, Zain kembali duduk di teras bersama Kakek.
"Kok senyum-senyum?" tanya Kakek.
"Hari ini diajak profesor ke bengkel."
"Wah."
"Besok malah disuruh bantu bersihin motor."
Kakek mengangguk pelan. "Itu artinya dia mulai percaya sama kamu."
"Percaya?"
"Iya. Laki-laki biasanya enggak sembarangan ngizinin orang pegang barang yang dia sayang."
Zain berpikir sejenak. "Masuk akal juga."
Ia menatap motor yang terparkir di halaman. Motor itu sudah menemaninya bertahun-tahun. Kalau ada orang asing tiba-tiba ingin meminjamnya, mungkin ia juga akan berpikir dua kali.
...
Keesokan harinya, seusai makan siang, Zain datang ke laboratorium. Profesor Surya sudah menunggunya di area bengkel bawah tanah.
Di tengah ruangan, tertutup kain terpal abu-abu, terlihat bentuk sebuah motor.
"Pak... itu motor yang mau dibersihin?"
"Iya." Profesor berjalan mendekat, tangannya memegang ujung terpal. "Motor ini sudah lama sekali tidak melihat matahari."
Pelan-pelan ia menarik kain penutup itu. Debu tipis beterbangan. Di bawahnya tampak sebuah motor bebek lawas berwarna merah marun. Catnya mulai kusam, kacanya buram, dan ban depannya bahkan sudah kempis. Namun rangkanya masih utuh.
Zain mendekat, matanya berbinar. "Wah... bagus banget."
Profesor menatapnya. "Kamu tahu motor apa ini?"
Zain mengelilinginya perlahan. Tangannya mengusap tangki yang dipenuhi debu. "Kalau enggak salah... ini keluaran akhir tahun delapan puluhan ya, Pak?"
Profesor mengangguk. "Tahun 1989."
Zain tersenyum lebar. "Sayang banget kalau dibiarin begini."
Profesor tidak menjawab. Ia hanya memandang motor tua itu dengan tatapan yang sulit
Zain mengambil lap dari ember. Pelan-pelan ia mengusap debu yang menempel di tangki. Lap putih itu seketika berubah keabu-abuan.
"Sudah lama banget ya, Pak?"
Profesor Surya mengangguk. "Hampir tiga puluh tahun."
Zain berhenti mengelap. "Tiga puluh tahun?"
"Iya."
"Kok nggak dijual?"
Profesor tersenyum tipis. "Karena ada barang yang nilainya tidak bisa dihitung dengan uang."
Zain tidak bertanya lagi. Setiap orang memang punya barang kesayangan—ada yang menyimpan jam tangan warisan, ada yang menyimpan radio tua, dan Profesor memilih menyimpan motor.
Mereka bekerja tanpa terburu-buru. Profesor membersihkan velg, sementara Zain mengelap bodi. Sesekali mereka saling bertukar alat. Ruangan itu dipenuhi aroma cairan pembersih dan oli.
"Pak."
"Hm?"
"Motor ini masih bisa hidup nggak?"
"Bisa."
"Lho?" Zain menatap profesor. "Serius?"
"Asal mesinnya tidak macet total."
"Kalau aki?"
"Ganti."
"Ban?"
"Ganti."
"Oli?"
"Ganti."
Profesor tersenyum. "Mesin itu seperti manusia. Kalau lama tidak dipakai, bukan berarti mati. Kadang dia hanya perlu dirawat lagi."
Zain mengangguk pelan. Kalimat itu terdengar seperti nasihat hidup.
Beberapa saat kemudian, Zain membuka jok motor. Kosong. Ia lalu membuka bagasi kecil di bawahnya. Di sana hanya ada sebuah obeng minus, kunci busi, dan kain lap tua.
"Lengkap juga."
Profesor tertawa kecil. "Dulu motor belum banyak tempat penyimpanannya."
Zain mengangkat kain lap itu. Di baliknya, ada sebuah foto kecil yang sudah mulai menguning.
"Pak..."
Profesor menoleh. "Ada foto."
Profesor berjalan mendekat. Begitu melihat foto itu, langkahnya terhenti.
Dalam foto tersebut tampak seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun sedang duduk di atas motor merah marun itu. Di sampingnya berdiri seorang perempuan muda yang tersenyum cerah. Keduanya tampak bahagia.
"Itu Bapak?"
Profesor mengangguk pelan. "Iya."
"Yang di samping?"
Beberapa detik berlalu. "Itu istri saya."
"Istri?"
"Iya."
Zain memperhatikan lagi foto itu. "Waktu itu Bapak masih mahasiswa ya?"
"Iya. Motor pertama. Dan..." Profesor tersenyum tipis. "...perjalanan pertama kami."
Ruangan kembali sunyi. Ada rindu yang begitu jelas di wajah profesor, meski ia tidak mengucapkan apa-apa. Zain mengembalikan foto itu ke tempat semula dengan hati-hati.
"Maaf ya, Pak."
"Tidak apa-apa. Justru saya senang foto itu masih ada."
Sore mulai menjelang. Motor itu kini tampak jauh lebih bersih. Cat merah marunnya kembali memantulkan cahaya lampu bengkel. Meski belum mengilap, setidaknya tak lagi tertutup debu.
"Jauh lebih ganteng," kata Zain sambil tersenyum puas.
Profesor mengangguk. "Terima kasih."
"Ah, saya cuma ngelap."
"Kadang..." Profesor memandang motor itu. "...yang paling dibutuhkan bukan orang yang hebat, tetapi orang yang mau meluangkan waktu."
Zain hanya mengangguk. Kalimat-kalimat profesor memang sering sederhana, namun selalu meninggalkan sesuatu untuk dipikirkan.
Sebelum pulang, Profesor Surya berkata, "Minggu depan, kalau kamu senggang... kita coba hidupkan mesinnya."
Mata Zain langsung berbinar. "Serius?"
"Iya. Saya pengin dengar lagi suara motor ini."
Zain tersenyum lebar. "Kalau soal ngoprek motor, saya siap bantu."
Ia sama sekali belum sadar bahwa suara mesin yang akan mereka bangunkan nanti bukan sekadar suara motor tua, tetapi langkah kecil menuju sebuah percobaan yang telah menunggu selama puluhan tahun.