Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Rahasia dan Luka
"Ibu menangis?"
Oma Suhui cepat-cepat menurunkan tangan dari sudut matanya. "Kena uap teh."
Keira melirik cangkir yang sudah tidak mengepulkan uap, tetapi tidak membongkar alasan itu. Sebelum mereka berpisah di lobi NusAir, Oma mengundangnya datang ke hotel malam nanti.
"Tidak perlu lama," kata Oma. "Oma cuma ingin punya teman minum teh. Moreno pasti pulang membawa laptop dan bicara soal rapat."
"Saya selesai bertugas pukul delapan. Kalau Ibu belum tidur, saya datang."
"Panggil Oma saja."
Malamnya, tepat pukul delapan lewat tiga puluh, Keira mengetuk pintu kamar hotel. Dia sudah berganti dari seragam pilot ke kemeja putih dan celana panjang. Di tangannya ada sebungkus kue almond dari toko dekat apartemen.
"Kenapa membawa makanan?" Oma menerima bungkusan itu sambil tersenyum.
"Mama bilang tidak sopan datang dengan tangan kosong."
"Mama kamu guru, ya?"
Keira berhenti melepas sepatu. "Oma tahu dari mana?"
"Tadi siang kamu bilang mamamu selalu mengingatkan makan. Nada seperti itu biasanya milik guru atau dokter. Oma menebak."
Itu bukan tebakan yang terlalu meyakinkan, tetapi Keira tidak memperpanjangnya.
Kamar suite itu terlalu besar untuk seseorang yang mengaku hanya oma dari seorang asisten. Ada ruang tamu terpisah, meja makan enam kursi, dan jendela lebar yang menghadap cahaya Jakarta. Keira memperhatikan semuanya tanpa bertanya harga atau fasilitas.
Oma menuangkan teh melati. "Moreno yang pesan kamar. Katanya lebih aman. Anak itu suka berlebihan."
"Ko Moreno pasti sayang sekali pada Oma."
Oma menahan senyum. "Lumayan. Tapi dia tetap kalah perhatian dari suamimu."
Keira menunduk pada cangkirnya. "Kai juga berlebihan."
"Kamu bilang dia menyembunyikan banyak hal."
Sendok kecil di tangan Keira berhenti bergerak.
Oma tidak mendesak. Dia membuka bungkusan kue, membelah satu menjadi dua, lalu meletakkan setengahnya di piring Keira. "Makan dulu, baru bicara."
Keira tersenyum tipis. "Kalimat Oma mirip Mama."
"Berarti kami sama-sama pintar."
Suasana kembali ringan untuk beberapa menit. Mereka membicarakan Mochi yang menggonggong pada mesin penyedot debu dan jadwal terbang Keira pekan depan. Setelah teh kedua, Oma bertanya dengan nada biasa, "Kenapa kamu begitu takut pada rahasia?"
Keira menatap lampu kendaraan di bawah sana. Garis-garis merah bergerak lambat seperti urat nadi kota.
"Karena satu rahasia pernah menghancurkan rumah saya."
Oma meletakkan cangkir.
"Papa saya bernama Hendry Wijaya." Keira mengucapkan nama itu tanpa panggilan sayang. "Dulu dia punya usaha sendiri. Dia sering pulang terlambat dan bilang sedang bertemu klien. Kalau teleponnya berbunyi, dia keluar kamar. Mama percaya karena Papa selalu punya jawaban yang terdengar masuk akal."
Keira menarik kedua tangannya ke pangkuan. Jemarinya saling mengunci.
"Suatu malam, Mama menemukan bukti bahwa klien itu perempuan lain. Bukan satu pertemuan, bukan satu kesalahan. Hubungan mereka sudah berlangsung lama. Papa sudah menyiapkan hidup lain sementara masih makan di meja yang sama dengan kami."
"Kamu melihat pertengkaran mereka?"
"Saya mendengar semuanya dari kamar."
Suara Keira tetap tenang. Hanya buku-buku jarinya yang memutih.
"Besok paginya Papa bilang kepada saya bahwa urusan orang dewasa rumit. Dia berjanji akan menjelaskan setelah keadaan tenang." Keira tertawa pendek tanpa rasa lucu. "Ternyata penjelasannya adalah pergi. Dia meninggalkan Mama menghadapi semua pertanyaan sendirian, lalu membangun keluarga baru seolah kami hanya halaman yang bisa disobek."
Oma ingin meraih tangannya, tetapi menunggu. Keira yang lebih dulu menggeser jemari di atas meja. Barulah Oma menutup tangan itu dengan kedua telapak tangannya.
"Mama membesarkan saya sendiri," lanjut Keira. "Dia mengajar sepanjang hari, masih memeriksa tugas murid sampai malam, lalu bangun paling pagi. Dia tidak pernah menyuruh saya membenci Papa. Justru itu yang membuat saya semakin tahu siapa yang benar-benar tinggal."
"Kamu memakai nama mamamu."
"Iya. Saya Keira Liem. Bukan karena ada dokumen pemutusan hubungan atau hal dramatis seperti itu. Saya hanya tidak mau hidup dengan nama orang yang memilih meninggalkan kami."
Oma mengusap punggung tangannya. "Kapan terakhir kamu bertemu dia?"
"Sudah lama. Saya tahu dia punya keluarga lain. Itu cukup."
Jawaban tersebut menutup pintu tanpa menguncinya. Di balik ketenangan Keira, luka itu masih menunggu siapa pun yang berani mengetuk.
"Apakah Kai tahu?" tanya Oma.
Keira menggeleng. "Belum selengkap ini."
"Kenapa?"
"Karena kalau saya cerita, itu berarti saya percaya dia akan tinggal." Tatapan Keira jatuh pada bayangan dirinya di kaca. "Saya ingin percaya. Tapi setiap kali dia menghindari pertanyaan soal pekerjaan, soal uang, soal siapa teman-temannya, saya ingat Papa."
Napas Oma terasa berat.
"Kai mungkin punya alasan," katanya hati-hati.
"Semua orang yang berbohong merasa punya alasan."
Kalimat itu tidak diucapkan keras. Justru karena pelan, setiap katanya terasa lebih tajam.
"Revan juga begitu," lanjut Keira. "Dia bilang menyembunyikan Wenny karena takut saya terluka. Padahal yang dia takutkan hanya akibat untuk dirinya sendiri. Saya bisa menerima kenyataan yang buruk. Saya bisa marah, menangis, lalu menentukan langkah saya. Yang tidak bisa saya terima adalah seseorang mengambil hak saya untuk memilih dengan menyembunyikan kenyataan."
Oma merasakan tekanan jemari Keira di bawah tangannya. Ini bukan luka seorang perempuan yang sekadar takut ditinggalkan. Keira takut hidupnya kembali diarahkan oleh kebenaran yang sengaja dipotong orang lain.
Keira mengangkat wajah. Matanya tidak basah, tetapi pertahanan di sana telah retak.
"Yang paling aku benci di dunia ini adalah dibohongi."
Oma terdiam.
Di benaknya muncul wajah Kaizan, cucu yang sejak kecil memilih menanggung luka sendirian. Dia memahami ketakutan Kaizan kehilangan Keira. Namun malam ini, dia juga melihat harga yang akan dibayar perempuan di depannya jika kebenaran datang terlambat.
"Kalau suatu hari Kai mengaku sesuatu yang besar, apa kamu akan mendengarkannya?"
Keira menarik tangannya perlahan. "Saya akan mendengar. Tapi mendengar tidak sama dengan memaafkan."
"Adil."
"Oma menanyakan banyak hal tentang dia."
"Oma sudah tua. Hiburan Oma cuma gosip, gim, dan ikut campur hidup anak muda."
Keira akhirnya tertawa. Ketegangan di bahunya sedikit longgar.
Pukul sepuluh, dia berdiri untuk pulang. Oma membekalinya sisa kue meski Keira mengingatkan bahwa kue itu miliknya sendiri.
"Besok kirim foto Mochi," pesan Oma di pintu.
"Siap. Selamat malam, Oma."
Setelah pintu lift menutup, senyum Oma lenyap.
Dia kembali ke kamar, mengambil ponsel, dan menekan nama Kaizan. Panggilan dijawab pada dering pertama.
"Oma sudah bertemu Keira?" tanya Kaizan tanpa salam.
"Sudah. Dia memilih kamu, bukan nama Tanujaya, bukan kekayaanmu, bukan legenda yang ditempel di dindingnya."
Di seberang, napas Kaizan terdengar lega.
"Jangan senang dulu," kata Oma. Suaranya berubah menjadi tegas, seperti saat memimpin rapat dewan. "Kamu tahu apa yang paling dia benci? Kebohongan. Ayahnya menghancurkan keluarga mereka dengan kebohongan."
Keheningan jatuh.
"Kamu harus memberitahunya. Sebelum terlambat."
Kaizan tetap diam.