Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Razia Dadakan dan Penemuan Ajaib
Ternyata drama di awal minggu ini tidak berakhir di kantin saja. Masih ada kelanjutan aksi kocak dari dua gadis manja itu.
Sepulang dari kantin, aku berkumpul bersama seluruh pengurus OSIS di ruang organisasi. Kami berdiskusi singkat dan sepakat untuk menggelar razia dadakan ke setiap kelas. Langkah ini diambil untuk menertibkan barang-barang terlarang yang kerap diselundupkan siswa ke dalam lingkungan sekolah.
Didampingi beberapa guru pembina, kami menyisir kelas demi kelas. Dan benar saja, hasil razia hari itu benar-benar di luar nalar. Kami menemukan beragam barang aneh dari dalam tas para siswa: mulai dari rokok, minuman beralkohol, paku, pisau lipat, hingga yang paling parah dan membuat geleng-geleng kepala—alat kontrasepsi merek Sutra. Untuk apa coba benda seperti itu dibawa ke sekolah? Bagi murid-murid yang kedapatan membawa barang terlarang tersebut, nama mereka langsung dicatat untuk dipanggil orang tuanya ke sekolah besok.
Setelah menyisir kelas 11 dan 12, giliran area kelas 10 yang kami datangi. Aku melangkah masuk ke kelas 10-A dengan gaya kepemimpinan yang wibawa, berdiri tegak di depan papan tulis seraya menatap seluruh siswa yang mendadak tegang.
"Jujur, Adik-adik, saya sebagai Ketua OSIS di sekolah ini merasa sang..."
Kalimatku terhenti seketika. Kata-kataku tertahan di tenggorokan saat pandanganku tertuju pada barisan meja tengah.
Di saat siswa-siswi lain duduk tegang mengkhawatirkan isi tas mereka, dua gadis cantik tapi bodoh itu—Clara dan Diana—malah asyik tertidur lelap! Kepala mereka bersandar santai di atas tumpukan buku, sama sekali tidak mempedulikan guru pengajar yang berdiri kaku di depan kelas maupun rombongan OSIS yang baru datang.
"Bisa-bisanya mereka tidur nyenyak di situasi seperti ini..." gumamku dalam hati, menahan gemas.
Aku melangkah perlahan mendekati meja mereka, diikuti pandangan heran dari pengurus OSIS lainnya. Aku mengetuk meja Clara dengan agak keras.
Brak! Brak!
"Bangun! Ada razia!" gertakku tepat di samping telinganya.
Clara mengucek matanya yang sembap, perlahan mendongak dengan wajah bantalnya yang menggemaskan sekaligus menyebalkan. Diana di sebelahnya ikut terbangun kaget, mengerjap-kerjakan mata dengan linglung.
"Apasih, Kak Arkan? Ganggu orang tidur aja!" sungut Clara dengan suara serak khas bangun tidur, sama sekali tidak merasa bersalah.
"Kamu pikir ini kamar hotel?" balasku tegas. "Ganti posisi, buka tas kalian berdua sekarang! Kami mau periksa!"
Dengan wajah cemberut maksimal dan bibir dipanyunkan,
Clara dan Diana merogoh tas mahal mereka lalu menuangkan isinya ke atas meja.
Jika murid lain menyembunyikan barang berbahaya, isi tas dua anak kaya ini justru makin membuatku prihatin. Di atas meja melimpah bermacam-macam jenis lipstik, cermin berbingkai emas, camilan impor, perlengkapan skincare, hingga alat catok rambut portabel yang masih terhubung dengan powerbank.
"Kalian mau sekolah atau mau buka salon?" tanyaku heran sambil memegang alat catok rambut milik Clara.
"Terserah kami dong! Biar tetap cantik pas sekolah!" balas Clara tak mau kalah, mencoba merebut catokan dari tanganku.
"Semua barang kosmetik dan alat elektronik non-pelajaran saya sita sampai jam pulang sekolah," kataku dingin sambil memasukkan semua barang-barang hiasan itu ke dalam kantong razia.
"Kak Arkan jahat! Kembalikan enggak?!" jerit Clara dan Diana kompak, melayangkan tatapan mata merah penuh dendam yang sudah menjadi ciri khas mereka setiap kali berhadapan denganku.
Aku hanya tersenyum tipis, berbalik badan, dan melanjutkan pemeriksaan kelas dengan perasaan puas.