"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Jejak CV Pusaka Abadi
Rizal tiba di Surabaya pada hari ke-10 dengan ransel kerja masih di punggung.
Ia tidak menyapa Hendra lebih dulu. Ia langsung berlutut di depan meja kos, membuka kotak Keris Nagasasra, lalu menyentuhkan punggung tangannya ke warangka seperti sedang memastikan seseorang yang hilang benar-benar telah pulang.
"Ini retaknya," katanya pelan. "Bapak pernah mau memperbaiki, tapi Mbah melarang."
Bayu menyerahkan laporan kondisi dan faktur lelang. "Pak Wiryo sudah memeriksa. Kita perlu mencatatkannya dan memindahkan ke tempat penyimpanan yang layak."
Rizal menutup kotak. Matanya merah, tetapi suaranya mantap.
"Keris ini nyawa keluargaku. Sekarang nyawaku ikut kamu."
Hendra mengangkat tangan. "Jangan kasih nyawa. Kasih tenaga dan kemampuan bikin laporan. Bayu sudah punya cukup masalah."
Bayu menepuk bahu Rizal. "Aku butuh teman. Kamu tidak berutang hidup kepadaku. Kita cari siapa yang menjualnya. Setelah itu, keputusanmu tetap milikmu."
Rizal mengangguk. "Kalau begitu aku ikut sampai selesai."
Mereka mulai dari satu nama yang tersimpan di ingatan Bayu: CV Pusaka Abadi.
Rizal membeli ekstrak resmi data badan usaha melalui layanan AHU. CV itu terdaftar sebagai perdagangan barang seni dan barang bekas. Sekutu pengurusnya seorang pria lanjut usia dari pinggiran Gresik, sedangkan alamat operasional mengarah ke satu unit di Balai Pusaka, kompleks toko antik di Surabaya lama.
"Perusahaan aktif, tapi tidak ada situs, tidak ada katalog, dan nomor kantornya hanya nomor prabayar," kata Rizal. "Laporan alamat pajaknya juga menggunakan jasa kantor bersama."
Pada hari ke-11, Rizal mendatangi alamat sekutu pengurus secara terbuka. Bayu dan Hendra menunggu di warung ujung jalan agar kedatangan tiga orang tidak terasa mengancam. Pemilik nama itu benar-benar seorang petani tua. Ia mengaku pernah diminta menandatangani dokumen pendirian dengan imbalan bulanan, tetapi tidak pernah mengelola perdagangan barang seni.
"Siapa yang meminta?" tanya Rizal.
"Orang dari Surabaya. Saya hanya kenal panggilannya, Pak Herman. Katanya usaha keluarga dan butuh nama lokal untuk administrasi."
Rizal tidak merekam diam-diam. Ia menuliskan jawaban, waktu, dan alamat, lalu meminta izin mencatat nomor telepon pria itu sebagai calon saksi. Pengakuan tersebut belum cukup menjadi bukti pidana, tetapi membuktikan satu hal: pengurus resmi CV tidak mengendalikan perusahaan.
Ketika Rizal kembali ke warung, Bayu berkata, "Kita jangan hubungi Herman dulu. Kalau petani itu tiba-tiba ditekan, kita lapor polisi dan minta perlindungan."
Mereka menyimpan ekstrak AHU, catatan wawancara terbuka, serta bukti alamat dalam satu map. Tidak ada peretasan, tidak ada data rekening yang dibeli dari orang dalam. Jejak pertama harus bersih jika kelak masuk berkas perkara.
Hendra menelusuri jalur pasar dengan caranya sendiri. Ia tidak membayar orang untuk mencuri data. Ia hanya berbicara dengan pedagang, tukang parkir, dan pengangkut barang yang mengenal Pak Karto.
Seorang penjaga parkir masih menyimpan video hari ketika lapak Karto menghilang. Video itu awalnya direkam karena sebuah mobil bak menutup pintu keluar. Di dalamnya terlihat seorang pria berbaju cokelat membantu memindahkan dua peti dari lapak Karto.
"Wajahnya tidak penuh," kata Hendra, memperbesar gambar. "Tapi jaket, tato kecil di leher, dan jalannya jelas."
Mereka tidak membawa tuduhan ke toko. Belum ada bukti bahwa CV Pusaka Abadi menerima Keris curian. Nama rekening yang terlihat di lelang dan alamat AHU hanya memberi alasan untuk mengamati.
Pada hari ke-12, Bayu masuk ke Balai Pusaka sebagai calon pembeli. Rizal menunggu di warung seberang sambil mencatat arus keluar-masuk. Hendra berkeliling seperti pelanggan biasa.
Unit CV Pusaka Abadi berada di lorong tengah. Papan namanya kecil. Etalasenya justru berisi barang bernilai tinggi: Keris, patung perunggu, keramik, jam tua, dan beberapa surat kolonial berbingkai.
Seorang pria berusia empat puluhan menyambut Bayu dengan senyum ramah.
"Silakan, Mas. Saya Herman Susilo. Cari benda tertentu?"
"Saya mulai mengumpulkan Keris dan keramik. Teman bilang di sini ada barang yang tidak masuk toko biasa."
Herman tidak tersinggung oleh kalimat itu. Senyumnya malah bertambah hangat.
"Kami memang punya akses koleksi pribadi. Kadang pemilik tidak ingin namanya diumumkan. Yang penting barang bagus dan pembeli mengerti."
"Ada provenance?"
"Tergantung barang. Untuk pelanggan serius, semuanya bisa dibicarakan."
Bayu berjalan di depan rak sambil membatasi penggunaan Mata Dewa. Cahaya emas beberapa benda kuat. Namun hampir sepertiga koleksi memancarkan cahaya kusam yang tidak sebanding dengan label harga.
Ia mengingat posisi setiap benda, harga, dan redaksi labelnya. Tujuh produk berbeda memakai kalimat provenance yang hampir sama: "koleksi keluarga lama, Jawa Timur". Nomor dokumen pendukungnya juga memiliki pola pengetikan seragam, padahal diklaim berasal dari keluarga dan tahun yang berbeda.
Bayu tidak memotret tanpa izin. Ia bertanya seolah pembeli pemula dan meminta melihat satu sertifikat. Herman hanya menunjukkan bagian depan, menutup nama penerbit dengan ibu jari, lalu segera memasukkannya kembali.
"Dokumen lengkap setelah uang muka," katanya.
"Kalau pemeriksaan ahli menyatakan palsu?"
"Kami ganti dengan barang lain. Di dunia antik tidak ada kepastian seratus persen, Mas."
Kalimat itu terdengar wajar, tetapi syarat penggantian tanpa pengembalian uang adalah cara sempurna membuat pembeli tetap terikat pada toko.
Sebuah Keris tampak tua dari luar, tetapi pola pamornya hanya berada di permukaan. Struktur baja di dalam terlalu seragam. Patung kecil memiliki patina asam dengan arah aliran yang sama seperti benda uji Pak Wiryo. Pada keramik, retak glasir dibuat setelah pewarnaan dan berhenti di lapisan terluar.
Kualitasnya tinggi dan jauh melampaui kemampuan pemalsu pasar biasa.
"Mas suka yang itu?" Herman menunjuk Keris palsu.
"Saya masih belajar. Guru saya bilang jangan membeli sebelum tahu siapa yang akan memeriksa."
Mata Herman berubah sepersekian detik. "Guru siapa?"
"Orang tua di Pacitan. Tidak terkenal."
Rasa dingin menyentuh tengkuk Bayu.
Di balik tirai menuju ruang dalam, dua pria duduk tanpa menyentuh minuman mereka. Salah satunya terus melihat tangan Bayu. Yang lain memandang pintu keluar, lalu ponselnya.
Bayu mengambil sebuah kotak tembakau kayu kecil dari rak murah.
"Yang ini saja. Berapa?"
"Dua juta."
Bayu membayar lewat transfer dan meminta kuitansi atas nama toko. Ia berbicara beberapa menit tentang pembelian berikutnya, lalu pergi tanpa tergesa-gesa. Kini ia memiliki bukti transaksi sah, nomor rekening toko, nama petugas penerima, dan alasan wajar untuk kembali.
Hendra menyusul setelah mereka berjarak dua lorong.
"Pria berjaket cokelat ada di ruang dalam," bisiknya. "Yang di video parkir. Tato lehernya sama. Dia orang yang angkut barang Karto."
Rizal bergabung di luar kompleks. "Herman keluar sekali untuk menerima amplop dari kurir. Dia tidak pernah menyentuh barang di depan kamera lorong. Hati-hati sekali."
Bayu menunjukkan kuitansi kotak kayu.
"Tiga dari sepuluh barang di dalam kemungkinan high-grade replica. Teknik penuaannya berulang. Pak Wiryo benar. Ada produksi terpusat."
Hendra memandang papan Balai Pusaka di atas gerbang.
"Bro, ini bukan level penipu pasar lagi."
Bayu mengangguk.
Pak Karto hanyalah mulut yang menelan barang dari orang miskin. Herman adalah perut yang menyortir dan menjualnya kembali. Di belakang keduanya masih ada tangan yang membuat salinan dan mengatur jalur keluar.
Mereka harus menangkap seluruh jaring sekaligus.