NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17 PENANTIAN TUJUH HARI

Lorong Depan Kamar Grand Duchess Iris von Draewyn

Lisa duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding batu dingin, kedua tangan menutupi wajahnya. Tangisnya belum juga mereda sejak beberapa waktu lalu. Beberapa pelayan lain berdiri terpaku, tak tahu harus berbuat apa, hanya sesekali saling bertukar pandang dengan cemas.

Tabib Eldric, dengan tangan menyilang di dada dan rahang mengeras, berdiri di depan pintu. Keringat menempel di pelipisnya meskipun suhu lorong begitu dingin. Pandangannya tak pernah lepas dari daun pintu itu, seolah mencoba menembus kayu tebal demi melihat apa yang terjadi di dalam.

“Kenapa lama sekali...” gumam Lisa pelan. “Kenapa belum ada suara? Grand Duke... dan Grand Duchess... apa mereka...?”

Tabib Eldric menarik napas dalam. “Jangan berpikir buruk, Lisa. Grand Duke Darian bukan pria biasa. Dan Grand Duchess... dia lebih kuat dari yang kita kira.”

Lisa menggeleng pelan. “Tapi... aku yang membiarkannya ke taman... aku yang meninggalkannya sendirian... aku—”

Klek.

Pintu kamar akhirnya terbuka perlahan dari dalam.

Sinar hangat dari lampu kristal di dalam ruangan menyebar keluar, dan dalam diam, sosok Grand Duke Darian muncul dari balik pintu.

Lisa menahan napas.

Darian berdiri di ambang pintu, tanpa mengenakan atasan, hanya celana panjang hitam dan sabuk kulitnya. Tubuh kekar yang biasanya tegap kini tertatih, penuh goresan luka merah dan memar biru tua yang baru saja muncul. Keringat membanjiri dada dan lengan berototnya, membuat kulitnya tampak mengilap di bawah cahaya. Rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi ke belakang kini berantakan, sebagian menutupi dahi dan mata kelabunya yang kini tampak sayu namun masih menyala.

Semua pelayan di lorong terdiam. Bahkan suara napas pun seolah menghilang.

Lisa berdiri dengan gemetar. “Yang Mulia Grand Duke... Anda... Anda—”

Darian menatap mereka. Satu tangan bertumpu pada kusen pintu untuk menahan tubuhnya yang limbung.

Lalu ia berkata dengan suara serak, “Aku berhasil.”

Seketika ruangan itu terasa seperti meledak dengan udara yang kembali bisa dihirup.

Darian melanjutkan pelan, “Sihirnya... kekuatan api itu sudah stabil. Tak lagi menyerangnya. Tapi... Iris...” Ia menunduk sebentar, suaranya parau. “Dia belum bangun.”

Lisa langsung menutup mulutnya, air mata kembali jatuh. Tabib Eldric hanya mendesah pelan, lalu maju cepat.

“Biar aku lihat keadaannya,” katanya tegas.

Darian mengnoduk lemah dan memberi jalan. Eldric dan Lisa masuk, diikuti oleh dua pelayan yang membawakan air bersih dan selimut.

Di dalam kamar, suasana sudah jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Iris kini terbaring di atas tempat tidur, tubuhnya dibalut dengan kemeja panjang milik Darian, tampak lebih kecil di tubuh mungilnya yang terlentang tenang.

Wajahnya tak lagi pucat seperti tadi, namun warnanya belum benar-benar kembali. Cahaya dari perutnya telah menghilang, digantikan dengan gerakan napas pelan dan teratur.

Lisa langsung menghampiri sisi tempat tidur, mengambil tangan Iris dengan pelan. “Nyonya... Nyonya, saya di sini... maafkan saya...”

Tabib Eldric mendekat, meletakkan tangannya di atas dahi Iris, lalu mengeluarkan kristal kecil lain dari kantung bajunya. Kali ini, kristal itu berkilau lembut tanpa pecah.

“Alirannya tenang,” gumam Eldric. “Tekanan sihir di dalam tubuhnya sudah menurun drastis... tubuhnya merespons dengan normal.” Ia memindai perut Iris dengan hati-hati. “Tidak ada reaksi aneh dari si bayi.”

Darian mendekat pelan. “Apa dia akan bangun?”

Eldric mengnoduk pelan. “Tubuhnya sedang memulihkan diri. Seperti setelah bertempur. Tapi... ini lebih seperti kelelahan jiwa.” Ia menatap Darian dengan serius. “Apa yang Anda lakukan tadi... itu bukan hanya penyerap kekuatan, dan Anda sekarang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Anda menyatukan jiwa sihir Anda dengan dia. Itu... bukan tindakan ringan, Tuan.”

Darian duduk perlahan di sisi Iris, matanya menatap wajah istrinya. “Jika itu yang membuatnya tetap hidup, aku akan melakukannya seribu kali lagi.”

Lisa menatap Darian dengan mata berkaca-kaca. “T-Tuan... saya belum pernah melihat Anda seperti ini... Anda... Anda seperti... bukan Grand Duke yang kejam dan dingin seperti yang semua orang katakan.”

Darian menoleh padanya. Sudut bibirnya naik sedikit. “Mungkin karena aku bukan lagi hanya Grand Duke... tapi seorang suami. Dan calon ayah.”

Suasana kamar menjadi hening sejenak.

“Bangunlah, Iris... aku sudah menepati janjiku. Sekarang giliranmu membuka mata... dan marahi aku karena mencium bibirmu tanpa izin di tengah krisis.”

***

Waktu terasa lambat di dalam kamar utama Kastil Ravengard. Cahaya pagi menyelinap melalui tirai tebal yang sengaja dibuka sebagian, menyorot pelan ranjang dengan kanopi lembut tempat Grand Duchess Iris masih terbaring dalam tidur panjangnya.

Sudah tujuh hari.

Dan selama itu pula, Darian tak pernah benar-benar meninggalkan sisinya.

Meja kerja besar dari ruang pertemuan pribadinya telah dipindahkan ke sudut kamar, lengkap dengan tumpukan dokumen dan laporan pertahanan yang terus berdatangan. Darian telah meminta izin langsung pada Kaisar Agung Severan Altharion—kakak kandungnya—untuk bekerja dari kediaman, dengan satu alasan yang tak terbantahkan:

“Iris... tetap belum membuka matanya.”

Dan tidak ada satu orang pun di seluruh kekaisaran Valeria yang cukup berani membantah seorang Grand Duke dalam mode seperti itu.

Pagi ini, Darian duduk di tepi ranjang, dengan satu tangan menggenggam jemari Iris yang hangat meski tak bergerak. Tangannya yang satunya memegang buku yang terbuka namun tak dibacanya. Ia lebih memilih mengamati wajah istrinya.

Rambut perak Iris dibelah rapi, disisir oleh tangan Darian sendiri setiap pagi. Wajahnya tenang. Damai. Tapi kosong.

“Sudah seminggu, Iris,” bisik Darian, suaranya serak. “Kau benar-benar membuatku seperti laki-laki yang kesepian di medan perang.”

Ia menghela napas, lalu tersenyum lemah.

“Dan anehnya... aku tidak ingin berada di tempat lain.”

Matanya turun pada perut Iris yang kini tampak lebih membuncit, bukti nyata bahwa bayi mereka tumbuh sehat di tengah badai besar itu.

Darian mengusapnya pelan.

“Dia masih aktif. Tabib Eldric bilang... ini pertanda baik. Tapi jujur saja, aku lebih ingin mendengar suaramu memarahi Lisa karena menuang teh terlalu panas, daripada terus bicara sendiri di ruangan ini.”

Ia terkekeh pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, ia bangkit dari duduk dan mengambil baskom air hangat di meja samping ranjang. Tangannya terlatih, meskipun besar dan kasar. Setiap hari, Darian sendiri yang membersihkan tubuh Iris. Ia tidak mengizinkan pelayan masuk terlalu lama. Bahkan Lisa, yang sangat dekat dengan Iris, hanya diizinkan membantu menyiapkan kain dan air.

Kini ia merendam handuk lembut, memerasnya, lalu dengan sangat hati-hati mengusap leher dan bahu Iris.

“Kalau kau sadar nanti,” gumam Darian sambil membersihkan telapak tangan istrinya, “kau mungkin akan malu setengah mati mengetahui aku melakukan ini setiap hari.”

Ia tersenyum kecil. “Tapi jangan khawatir... aku bahkan tidak keberatan.”

Darian berhenti sejenak. Matanya terpaku pada tubuh Iris yang terbaring dengan kemeja tidurnya, perutnya yang membulat pelan, kulitnya yang pucat tapi halus.

Matanya berkedip. Sorot itu bukan nafsu. Tapi kekaguman. Kesakitan. Dan kerinduan.

“Iris...” Ia duduk kembali, kedua tangannya meraih wajah istrinya. “Aku tahu kau masih di sana. Aku tahu kau bisa mendengarku.”

Tangannya menyentuh pipi lembut itu, lalu menunduk, menyandarkan kepalanya di sisi ranjang.

“Apa aku sudah terlalu lambat menyadari betapa berharganya dirimu? Apa aku... sudah terlambat untuk menyayangimu seperti ini?”

Suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan.

“Masuk,” ucap Darian tanpa menoleh.

Lisa muncul perlahan, membawa nampan sarapan dan surat dari ibu kota kekaisaran.

“Maaf, Tuan. Saya sudah buatkan teh. Dan... ini laporan dari pos perbatasan utara.”

Darian hanya mengnoduk. “Letakkan saja di meja.”

Lisa meletakkannya, lalu mencuri pandang pada Iris yang masih tak bergerak.

“Beliau... masih belum menunjukkan tanda-tanda?”

“Belum,” jawab Darian singkat.

Lisa menunduk. “Maaf, Tuan... saya tahu ini pertanyaan bodoh. Tapi... Anda tidak takut? Kalau-kalau... Nyonya tak akan bangun lagi?”

Darian menatap Iris.

“Tak ada satu hari pun aku tidak takut.”

Ia berdiri pelan dan mendekati jendela besar yang menghadap benteng.

“Tapi aku percaya. Dia telah menanggung rasa sakit yang tak bisa ditanggung siapa pun. Jika dia kuat melewati itu, maka dia cukup kuat untuk kembali.”

Lisa diam sejenak. Lalu berbisik, “Saya akan tetap berdoa, Tuan. Setiap hari.”

Darian menatap pelayan muda itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Darian berkata dengan lembut pada pelayan di luar keluarga bangsawan.

“Terima kasih, Lisa.”

Malam harinya, seperti biasa, Darian duduk kembali di kursinya, membuka dokumen laporan tentang perbatasan utara, namun pandangannya tetap mengarah ke ranjang.

Iris masih tidur.

Dan Darian tetap menunggu.

Tangannya tak pernah lepas dari jemari istrinya.

“Bangunlah, Iris. Aku takkan pergi ke mana-mana... sampai kau buka mata dan menyuruhku mencukur jenggot.”

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!