NovelToon NovelToon
Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.

Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.

Sejak saat itu, hidupnya berubah.

Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.

Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.

Dan ini baru permulaan.

Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjelajahi Goa

Setelah menjelaskan soal kekuatan bintang miliknya, Luc dan Lea akhirnya kembali ke goa yang mereka temukan beberapa hari lalu.

Kali ini mereka datang dengan persiapan yang jauh lebih baik.

Selama tiga hari terakhir, Luc hampir tidak melakukan apa pun selain berlatih pedang bersama Chiron. Meski begitu, saat berdiri di depan mulut goa, Luc tetap merasa sedikit gugup.

Goa itu terlihat sama seperti sebelumnya. Gelap, sunyi, dan entah kenapa selalu memberikan perasaan tidak nyaman setiap kali ia menatapnya.

Lea langsung meliriknya datar laku bertanya, "Kamu takut?"

"Nggak," balas Luc cepat.

Senyum kecil langsung muncul di wajah Lea. "Kalau gitu ayo masuk."

Mereka mulai berjalan memasuki lorong batu yang gelap itu.

Pada awalnya cahaya dari luar masih cukup membantu untuk melihat jalan. Namun semakin jauh mereka masuk, semakin pekat kegelapan yang menyelimuti lorong di depan.

Tak lama kemudian bentuk dinding mulai sulit terlihat. Beberapa menit setelahnya, bahkan cahaya dari luar sudah benar-benar menghilang.

Luc mencoba melihat ke depan, dan hasilnya nihil. Yang terlihat hanya warna hitam tanpa ujung. Bahkan suara langkah kaki mereka seolah ditelan oleh kegelapan yang sunyi.

Luc mulai merasa tidak nyaman. Ia benar-benar tidak bisa melihat apa pun. Kalau mereka terpisah sekarang, pasti akan menjadi hal yang merepotkan.

Luc menghela napas pelan sebelum tanpa sadar meraih tangan Lea.

"Kyaa?!" Lea langsung terkejut sampai sedikit melonjak.

Luc buru-buru mendesis. "Shhh! Jangan tiba-tiba teriak gitu!"

"Kenapa tiba-tiba pegang tanganku?!" bisik Lea panik.

Luc baru sadar apa yang baru saja ia lakukan. "Ah..."

"Ah?!"

"Aku cuma nggak mau kita kepisah," balas Luc berbisik.

Lea langsung terdiam. Untung suasana di sekitar benar-benar gelap. Kalau tidak, Luc pasti bisa melihat wajahnya yang mulai memerah.

"K-Kalau gitu bilang dulu!" bisiknya cepat.

"Kalau bilang dulu kan lama," protes Luc.

"Itu bukan alasan!" balas Lea kesal.

"Ya udah, maaf." Luc menggaruk pipinya sambil tertawa kecil.

Beberapa menit berlalu. Namun Lea tidak menarik tangannya. Luc juga tidak melepaskannya. Pada akhirnya mereka tetap berjalan berdampingan dalam diam. Bagi Luc, ini hanya cara paling praktis supaya mereka tidak terpisah.

Sayangnya Lea justru semakin sadar kalau ini pertama kalinya ia berjalan sambil bergandengan tangan dengan laki-laki lain. Dan yang membuatnya kesal... Luc sendiri terlihat biasa saja.

Dasar bodoh... Batinnya.

Lea memalingkan wajahnya meski tahu Luc tidak mungkin melihatnya dalam kegelapan.

Setelah berjalan beberapa saat, Luc akhirnya berhenti.

"Ya udah. Sekarang waktunya pakai ini." Ia mengangkat tangannya. Segel bintang di punggung tangannya berubah menjadi bentuk konstelasi Crux dan mulai memancarkan cahaya samar.

Lea langsung mengenali tanda itu. "Kamu mau pakai skill?" tanyanya penasaran.

"Iya," jawab Luc sambil mengangguk.

Energi mulai berkumpul di sekeliling tubuhnya.

"Wahai cahaya yang tetap menyala di ujung malam... wahai harapan yang tak pernah padam meski dunia tenggelam dalam kegelapan..."

Suara Luc bergema pelan di dalam goa.

"Saat bintang-bintang kehilangan sinarnya, saat langit menolak datangnya fajar, jadilah mercusuar terakhir yang menuntun mereka pulang."

Udara di sekitar perlahan berubah.

Segel Crux semakin terang.

"Acrux. Mimosa. Gacrux. Delta Crucis. Zeta Crucis."

Energi yang berkumpul terus bertambah.

"Bersinarlah melampaui malam yang tak berujung..."

"Crux — Dawn Beyond Darkness."

Sesaat setelah nama skill itu diucapkan, seluruh kegelapan di dalam goa seolah berubah menjadi lebih pekat dari sebelumnya.

Lea menahan napas.

Lalu satu titik cahaya muncul di atas. Disusul titik kedua hingga kelima. Lima bintang Crux perlahan bersinar sebelum membentuk simbol Salib.

Cahaya putih keemasan turun dari langit seperti fajar yang menyingsing dan menerangi seluruh lorong goa. Dalam sekejap, tempat yang sebelumnya gelap gulita menjadi terang benderang.

Lea menatap konstelasi itu tanpa berkedip. "Indah..." gumamnya pelan.

Baru setelah mengucapkan itu, ia menyadari sesuatu. Tangannya masih berada dalam genggaman Luc.

Wajahnya langsung memanas lagi. "Lu-Luc."

"Hm?" sahut Luc sambil menoleh.

"Sekarang udah terang... Ta-tangan..." ucap Lea terbata.

"Oh." Luc langsung melepaskan genggaman tangannya.

Entah kenapa Lea merasa sedikit kecewa saat tangannya dilepas begitu cepat. Dan itu justru membuatnya semakin kesal pada dirinya sendiri.

Sementara itu Luc sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Perhatiannya sudah beralih pada skill berikutnya. Ia kembali mengangkat tangannya.

"Wahai salib cahaya di langit selatan... tuntun langkah mereka yang tersesat dalam malam."

Segel Crux kembali bersinar.

"Guiding South."

Sebuah jalur cahaya putih muncul di depan mereka dan membentang jauh ke dalam goa.

Lea memperhatikan jalur itu dengan kagum. "Sebenarnya kamu punya berapa banyak skill sih?" ujarnya sambil tersenyum tipis.

Luc mengangkat bahu. "Entahlah, walaupun banyak sekalipun. Yang susah itu makenya."

Meski terdengar santai, tubuhnya mulai terasa berat. Mempertahankan Guiding South saja tidak terlalu sulit. Masalahnya sekarang ia juga mempertahankan Crux — Dawn Beyond Darkness secara bersamaan.

Energi terus mengalir keluar dari tubuhnya. Rasanya seperti berlari jauh sambil membawa tas yang semakin lama semakin berat.

"Anda mulai merasakan efeknya, Tuan?" tanya Chiron.

"Iya," gumam Luc. "Kayak habis lari muterin lapangan sekolah sepuluh kali."

"Itu masih dalam batas normal."

Luc langsung meringis. "Kalau kau bilang ini normal, aku nggak mau tahu yang nggak normal kayak apa."

Lea yang melihat Luc kembali berbicara sendiri hanya menggeleng pelan. Meski sudah mengetahuinya, pemandangan itu tetap terasa aneh.

"Kamu lagi ngobrol sama Chiron?" tanyanya.

Luc mengangguk. "Iya."

"Dia ngomong apa?"

"Katanya aku lemah."

Lea langsung terkekeh. "Kalau soal itu aku setuju sih."

"Huft~" Luc hanya bisa menghela nafas.

Mereka terus mengikuti jalur cahaya tersebut. Awalnya semuanya terasa tenang. Hanya suara langkah kaki yang bergema di sepanjang lorong. Namun beberapa menit kemudian, Lea tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Luc langsung menoleh. "Ada apa?" tanyanya heran.

Lea tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada salah satu lorong kecil yang bercabang dari jalur utama.

"Kamu denger nggak?" bisiknya pelan.

Luc memasang wajah bingung. "Denger apaan?"

Tak.

Tak.

Tak.

Suara langkah kaki kecil mulai terdengar dari dalam kegelapan. Kemudian muncul satu sosok berkulit hijau—Goblin. Awalnya hanya satu ekor, namun dalam sekejap jumlahnya terus bertambah. Lebih dari belasan goblin keluar dari berbagai lorong sempit yang ada di sekitar mereka.

Sebagian membawa tombak batu. Sebagian lagi menggenggam kapak karatan. Dan semuanya menatap Luc dan Lea seperti mangsa yang baru ditemukan.

"Yah... harusnya aku nggak nanya," gumam Luc sambil mencabut pedangnya.

Salah satu goblin mengangkat tombaknya tinggi-tinggi.

"GIIIIII!"

Teriakannya langsung disambut goblin-goblin lain. Dalam beberapa detik saja mereka sudah mulai mengepung dari berbagai arah.

Lea mengangkat Lunaria dan menarik tali busurnya. Anak panah kristal perlahan terbentuk di tangannya.

"Jumlah mereka lumayan banyak," ujar Lea sambil mengamati posisi para goblin.

Luc menoleh ke segala arah, dan benar saja mereka sudah terkepung.

Goblin pertama akhirnya menyerbu.

Luc langsung mengambil posisi bertarung. Meski tubuhnya terasa lebih berat akibat dua skill yang aktif bersamaan, cahaya Crux terus mengalirkan energi hangat ke seluruh tubuhnya. Kelelahan yang muncul perlahan berkurang. Napasnya juga terasa jauh lebih ringan.

Sementara itu para goblin yang memasuki wilayah cahaya Crux terlihat tidak nyaman. Gerakan mereka melambat. Ekspresi mereka mulai gelisah. Bahkan beberapa tampak ragu untuk mendekat.

Lea menyadarinya lebih dulu. "Mereka kena efek skillmu," ujar Lea.

Senyum kecil muncul di wajah Luc. "Yah, musuh yang masuk ke dalam area skillku akan terkena efek debuff, sebaliknya kita akan menerima buff."

Goblin terdepan mengayunkan tombaknya.

Luc melangkah maju sambil mengangkat pedangnya.

"Kalau gitu..." ujarnya sambil menarik napas panjang, "Ayo kita habisi mereka!"

...----------------...

Goblin terdepan mengayunkan tombaknya. Tombak batu itu meluncur lurus ke arah Luc. Luc mengingat semua yang diajarkan Chiron selama tiga hari terakhir.

Jangan panik... perhatikan gerakan lawan. Gunakan langkah kaki dan yang terpenting, jangan asal mengayun.

Clang!

Luc menepis tombak itu ke samping lalu membalas dengan tebasan horizontal. Pedangnya mengenai dada goblin tersebut dan menjatuhkannya ke tanah.

"Bagus, Tuan!" puji Chiron. "Setidaknya Anda tidak mengayun seperti sedang menebang pohon lagi."

"Itu pujian yang aneh!" balas Luc sambil mundur menghindari goblin lain.

Namun belum sempat ia bernapas lega, dua goblin lain langsung menyerbu dari kiri dan kanan.

"Eh?!"

Luc buru-buru menunduk. Kapak karatan melintas tepat di atas kepalanya.

Whoosh!

Sementara itu dari belakang, goblin lain mencoba menusuk punggungnya.

Swoosh!

Sebuah anak panah kristal melesat melewati bahunya. Kepala goblin itu langsung tertembus. Tubuhnya jatuh sebelum sempat menyentuh Luc.

Lea berdiri beberapa meter di belakang dengan Lunaria di tangannya. Ekspresinya terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dikeroyok monster.

"Perhatikan sekitarmu," ujar Lea santai sambil menarik tali busurnya lagi.

Panah kedua melesat. Kali ini mengenai mata goblin yang sedang berlari ke arah mereka. Goblin itu langsung terpental ke belakang.

Luc sampai melongo. "Buset..." ucapnya tanpa sadar.

Panah-panah kristal terus meluncur tanpa henti. Setiap kali Lea melepaskan panah, selalu ada goblin yang tumbang. Tidak ada yang meleset. Bahkan beberapa goblin yang mencoba bersembunyi di balik batu tetap berhasil ditembak dengan akurat.

Luc sampai merasa minder. "Kok kelihatannya kamu jago banget sih?!"

Lea tersenyum tipis. "Pake nanya?"

Luc kembali mengangkat pedangnya. Goblin lain melompat ke arahnya. Kali ini ia berhasil menghindar dan membalas dengan tebasan yang cukup rapi. Namun saat goblin itu tumbang, tiga goblin lain langsung muncul menggantikannya.

"Aduh..." Luc buru-buru mundur.

Jumlah mereka memang tidak sedikit. Meski terkena efek wilayah suci Crux dan gerakan mereka menjadi lebih lambat, tetap saja goblin yang menyerang dari banyak arah cukup merepotkan.

Terutama bagi seseorang yang baru belajar bertarung.

"Tuan, fokus pada langkah kaki Anda!" seru Chiron.

"Aku lagi fokus!"

"Tidak, Anda sedang panik."

"Ngh!"

Seekor goblin berhasil menebaskan kapaknya ke arah Luc.

Clang!

Luc menangkisnya tepat waktu. Namun benturan itu membuat tangannya mati rasa. Sebelum goblin lain memanfaatkan celah tersebut—anak panah Lea menembus tengkorak goblin itu.

Panah berikutnya mengenai goblin lain yang sedang mencoba mengelilingi Luc.

Dan satu lagi mengenai goblin yang hendak melempar tombak.

Luc sampai tidak tahu harus kagum atau malu. Lea benar-benar mendominasi pertarungan.

Di bawah cahaya Crux, rambut silvernya berkilau lembut. Busur Lunaria terus memancarkan cahaya putih setiap kali panah terbentuk. Gerakannya anggun namun mematikan.

Bahkan para goblin mulai menyadari siapa ancaman terbesar di antara mereka. Beberapa goblin mengubah target dan mulai berlari ke arah Lea.

"Lea!"

"Aku tahu." Lea melompat mundur.

Tiga goblin langsung mengejarnya. Namun sebelum mereka sempat mendekat, ia melepaskan tiga panah hampir bersamaan.

Tiga goblin itu tumbang dalam waktu kurang dari dua detik.

Luc hanya bisa berkedip. "Hebat..."

"Hmph biasa saja," ucap Lea dengan senyum bangga.

"Tuan," ujar Chiron tiba-tiba.

"Hm?"

"Lihat baik-baik."

Luc memperhatikan kembali pertarungan itu. Baru sekarang ia menyadari sesuatu. Lea tidak hanya mengandalkan akurasi. Ia selalu bergerak ke posisi yang sulit dijangkau. Selalu menjaga jarak. Dan selalu memilih target yang paling berbahaya lebih dulu. Setiap panah yang dilepaskan memiliki tujuan. Tidak ada yang sia-sia.

"Itulah perbedaan pengalaman," lanjut Chiron.

Luc mengangguk pelan. Ia mulai memahami maksudnya. Lea bukan sekadar lebih kuat. Ia lebih berpengalaman. Jauh lebih berpengalaman. Sementara Luc masih harus berpikir sebelum mengayunkan pedangnya. Sedangkan Lea sudah bergerak secara naluriah.

Pertarungan terus berlangsung selama beberapa menit. Satu demi satu goblin tumbang. Sebagian besar oleh panah-panah Lea. Sisanya oleh pedang Luc.

Meski masih terlihat kewalahan, Luc perlahan mulai menyesuaikan diri dengan ritme pertarungan. Setidaknya sekarang ia tidak lagi panik setiap kali dikeroyok. Dan ketika goblin terakhir akhirnya roboh ke tanah, Luc langsung menjatuhkan pantatnya ke lantai goa.

"Huft... huft..." Ia mengusap keringat di dahinya.

Lalu menatap tumpukan mayat goblin yang berserakan di sekitar. Kemudian menatap Lea. Lalu kembali melihat mayat goblin.

"Jujur aja..." ucap Luc dengan nafas terbata.

"Hm?" sahut Lea sambil melepaskan pemanggilan Lunaria.

"Kalau tadi aku sendirian, aku pasti udah mati," lanjutnya.

Lea terkekeh pelan. "Bagus. Berarti kamu mulai sadar diri."

"Haha..." Meski sedikit kesal, Luc tidak bisa membantahnya.

Kalau bukan karena Lea... Pertarungan barusan pasti jauh lebih berantakan.

1
Blueria
1 Vote untuk karyamu thor👍
Blueria
Ohhhh... gitu, terjawab sudah
Blueria
Konstelasinya manggil Ash Anda—... Apakah Ash atau Lucien punya indentitas tersembunyi ya
Blueria
Pakai bahasa formal—kayak sebelum-sebelumnya aja puh, nggak enak bacanya😁 Hanya saran🙏
Katsumi: Buat ngobrol ama bangsawan atau orang tua nanti pling pake bahasa formal. Selain itu pake informal, karena pengen kubuat santai
total 1 replies
Blueria
Recommended, alurnya mengalir dan percakapannya enak dibaca. Adapun yang paling membuatku ingin terus lanjut baca ialah konsep konstelasinya...
Blueria
Dari nama Ophiuchus di sinopsis, keinget Return The Disaster Class Hero. Lupa nama mc-nya karena udah lama gak baca manhwanya.
Deutsch
keren lanjut
Mr. Wilhelm
Sang Sepuh is Back! /Determined/
Katsumi: mana ada🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!