NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10- Status

Lanjut...

Lampu di atas ruang operasi akhirnya padam. Pintu terbuka, dan dokter pun keluar dengan wajah yang jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.

Melihat sang dokter, Max pun langsung berdiri tegak. “Dok?”

Bara yang duduk pun ikut bangkit, meski tubuhnya masih sedikit lemas setelah donor darah.

Dokter melepaskan masker dari wajahnya dan berkata, “Operasi berjalan lancar. Pasien berhasil melewati masa kritis.”

"Huuuuufffttthhhhh...."

Max menghembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar, seolah beban besarnya sudah menghilang. Bara pun menutup matanya sejenak dan mengucap syukur dalam hati.

“Namun,” lanjut dokter, hingga membuat keduanya kembali fokus, “pasien belum siuman. Saat ini akan dipindahkan ke ICU dan belum boleh dijenguk.”

“Yang penting… dia selamat," jawab Max seraya mengangguk anggukan kepalanya.

Sementara Bara hanya menatap pintu ruang operasi itu, seolah ingin memastikan dengan matanya sendiri.

Beberapa saat kemudian, ranjang pasien di dorong keluar dari ruang operasi. Diatasnya tubuh Alena terbaring lemah, wajahnya pucat, dengan berbagai alat medis yang terpasang. Nafasnya dibantu alat, dan perban tebal membalut bagian luka di tubuhnya.

Langkah para perawat sangat cepat dan terus mendorongnya menuju ICU. Max dan Bara pun hanya bisa mengikutinya dari kejauhan, meski sebenarnya mereka bisa saja lebih dekat dengan Alena.

Setelah Alena menghilang di balik pintu ICU, seorang perawat datang menghampiri mereka. “Keluarga Nona Alena?” tanyanya.

Max dan Bara saling bertukar pandang. Mereka merasa canggung dan bingung. Mereka tidak langsung menjawab, karena memang tidak ada hubungan keluarga di antara mereka.

Namun detik berikutnya...

“Saya keluarga pasien.”

Suara Bara terdengar mantap lalu melangkah maju satu langkah hingga Max langsung menoleh tajam ke arahnya dengan tatapan yang penuh tanda tanya.

Namun perawat itu tidak mempermasalahkan. Ia hanya mengangguk dan berkata, “Silakan ikut saya ke ruang administrasi.”

Bara pun mengangguk dan segera mengikuti langkah perawat yang lalu di ikuti Max yang berjalan di belakang.

Langkah kaki mereka bergema pelan hingga saat mereka hampir sampai Max mempercepat langkahnya dan mendekat ke Bara lalu sedikit menunduk dan berbisik tajam di samping telinga pria itu.

“Keluarga?” sindirnya. “Sejak kapan kamu jadi keluarganya?”

Namun Bara hanya tetap berjalan, tidak menoleh apalagi menjawabnya. Seolah kata-kata itu tidak pernah sampai ke telinganya hingga Max pun mengeraskan rahangnya.

“Jangan sok jadi pahlawan,” lanjut Max. “Kamu bukan siapa-siapa buat dia.”

Namun lagi-lagi Bara tidak merespon perkataan Max. Ia hanya tetap melangkah dengan tenang dan stabil, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

Bukannya mengerti, sikap itu justru membuat Max semakin kesal hingga perawat itu berhenti di depan sebuah pintu.

“Silakan masuk,” ujarnya.

Bara pun langsung masuk ke dalam sedangkan Max berhenti tepat di ambang pintu sambil menatap punggung Bara dengan tajam.

Saat ini Bara sedang berdiri di depan meja administrasi. Disanalah seorang petugas rumah sakit sudah menunggu dengan beberapa berkas di tangannya.

“Kami membutuhkan data keluarga pasien untuk proses administrasi dan persetujuan tindakan lanjutan,” jelas petugas itu, dan Bara pun mengangguk.

“Nama Anda?”

“Bara.”

“Hubungan dengan pasien?”

Pertanyaan itu membuat Bara diam sesaat lalu menjawab tanpa ragu-ragu.

“...Keluarga.”

Sementara di luar ruangan, Max berdiri sambil bersandar ke dinding. Tangannya terlipat di dada dan rahangnya pun mengeras setiap kali Bara berbicara.

"Pembohong!"

Bersambung...

Bagaimana ceritanya? Apakah dengan kebohongan Bara yang mengaku sebagai keluarga membuat cerita ini menarik? Atau peran keduanya yang sebagai penyelamat membuat penasaran?

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!