Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritme yang Terbentuk
Seiring bergantinya hari menjadi minggu, kehidupan satu atap mereka perlahan menemukan ritmenya sendiri.
Tidak ada lagi kecanggungan seperti pada malam pertama. Apartemen penthouse yang dulu terasa asing kini mulai dipenuhi rutinitas-rutinitas kecil yang terbentuk secara alami, seolah keduanya memang sudah lama tinggal bersama.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Gavin untuk tetap terjaga setiap kali jarum jam melewati angka sebelas malam.
Begitu suara klik pintu utama terdengar, pria itu hampir selalu muncul lebih dulu dari ruang keluarga sambil menguap lebar. Tidak peduli sedang menonton televisi, bermain gim di ponsel, atau sekadar bermalas-malasan di sofa, Gavin akan langsung bangkit menuju dapur begitu melihat Tiffany pulang dengan wajah lelah.
"Sebentar ya, Tante. Supnya tinggal dipanaskan."
Kalimat itu hampir selalu terdengar setiap malam.
Tak lama kemudian, semangkuk sup ayam herbal hangat atau secangkir teh krisan madu sudah berpindah ke atas meja makan. Gavin memang bukan koki profesional, tetapi makanan sederhana itu cukup untuk menghangatkan tubuh Tiffany setelah seharian bergelut dengan rapat dan tumpukan dokumen.
Tentu saja perhatian itu tidak pernah datang tanpa syarat.
Setiap kali meletakkan mangkuk di depan Tiffany, Gavin selalu memasang senyum paling percaya dirinya.
"Nah... beginilah rasanya punya suami yang perhatian. Beruntung sekali, kan, Tante?"
Balasan yang diterima hampir selalu sama.
"Cukup makan. Jangan banyak bicara."
Namun, jika dulu Tiffany masih sempat memelototinya atau membalas dengan omelan panjang, kini wanita itu hanya mendengus pelan sambil mengambil sendok.
Entah sejak kapan, godaan narsis Gavin mulai terdengar seperti suara latar yang sudah terlalu akrab untuk dipermasalahkan.
Bahkan kebiasaan memijat bahu Tiffany juga berubah menjadi rutinitas harian.
Setelah makan malam, Gavin akan berdiri di belakang kursi Tiffany tanpa diminta.
"Masih pegal?"
"Hm."
Hanya dengan satu gumaman pendek, Gavin sudah tahu itu berarti izin.
Jemarinya mulai menekan perlahan otot-otot bahu yang kaku akibat terlalu lama duduk di ruang rapat. Tiffany pun tetap membaca berkas di tangannya tanpa lagi merasa canggung.
Tak ada lagi teriakan.
Tak ada lagi ancaman.
Seolah kegiatan itu memang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Sebaliknya, ruang tengah apartemen hampir setiap hari dipenuhi suara omelan Tiffany.
"Gavin! Kenapa kulkas penuh minuman bersoda dan makanan seperti ini lagi ?"
"Gavin! Ini apa? Keripik tiga bungkus? Bukannya kemarin sudah kubuang?"
"Gavin! Kenapa belanjaanmu isinya barang-barang aneh tak berguna?"
Gavin hanya tertawa sambil mengangkat kedua tangan.
"Soalnya semua barang itu menarik dan aku suka."
"Kamu sedang menghancurkan kesehatanmu dan menghambur-hamburkan uang."
"Tapi semua barang ini lagi diskon besar."
"Itu bukan alasan."
Pelayan Zhang yang mendengar percakapan itu dari dapur hanya tersenyum geli.
Di mata wanita paruh baya tersebut, omelan Nona Tiffany terdengar persis seperti seorang istri yang sedang mengurus suaminya agar hidup lebih sehat.
Gavin tiba-tiba segera mengubah nada bicaranya.
"Iya, iya... Sayang. Aku janji besok beli makanan yang sehat dan beli barang yang berguna untuk kita."
Tiffany sempat terdiam sepersekian detik.
Lalu, tanpa mengubah ekspresi datarnya, ia ikut memainkan sandiwara itu.
"Kalau begitu, Suamiku, jangan lupa benar-benar ditepati."
Ternyata mereka tau Pelayan Zhang yang sedang berjalan mendekati mereka sambil membawakan teh untuk Tiffany.
"Nona dan Tuan muda benar-benar pasangan yang serasi," gumamnya pelan.
Begitu wanita itu kembali masuk ke dapur dan sosoknya menghilang dari pandangan, Tiffany langsung menyikut lengan Gavin pelan.
"Berhenti memanggilku 'Sayang'."
Gavin mengusap lengannya yang terkena sikutan sambil meringis.
"Lho, tadi kan ada Pelayan Zhang."
"Sekarang sudah tidak ada."
"Iya juga."
"Dan jangan keterusan."
"Baik, Tante."
Mereka kembali berbicara seperti biasa seolah percakapan manis beberapa detik lalu tidak pernah terjadi.
Meski begitu, baik Gavin maupun Tiffany sama-sama menyadari bahwa sandiwara mereka kini semakin alami.
Tidak lagi terasa dipaksakan.
Keesokan paginya, ketenangan ruang keluarga mendadak berubah.
Gavin sedang selonjoran santai di sofa sambil menikmati acara televisi ketika suara langkah sepatu hak tinggi mendekat dari lorong kamar.
Tiffany keluar mengenakan setelan blazer hitam yang rapi dengan rambut terikat sempurna.
Wanita itu berhenti tepat di depan sofa, lalu melipat kedua tangan di dada.
"Gavin Wijaya."
"Hadir."
"Pakai jas yang kubelikan kemarin."
Gavin mendongak bingung.
"Hah?"
"Mulai hari ini kamu tidak boleh lagi luntang-lantung di apartemen sepanjang hari."
Kalimat itu membuat Gavin langsung duduk tegak.
"Lho, kenapa, Tante?" protesnya spontan.
Sebelum menjawab, Tiffany melirik sekilas ke arah dapur.
Pelayan Zhang sedang sibuk mengelap gelas.
Menyadari ada orang lain, Tiffany kembali memasang wajah tenang.
"Suamiku," ucapnya datar, "bukankah sebaiknya kita membicarakan ini dengan serius?"
Gavin menangkap maksudnya.
"Iya, Sayang."
Pelayan Zhang mengangguk puas sambil melanjutkan pekerjaannya.
Barulah Tiffany melanjutkan penjelasannya.
"Pelayan Zhang melihatmu setiap hari di apartemen dan keluargaku memantau aktivitas perusahaan dari kantor pusat."
Tatapannya berubah serius.
"Sebagai pengusaha muda sukses asal Indonesia yang konon menginvestasikan dana besar ke Chen Corp, akan sangat aneh jika kamu hanya bermalas-malasan di rumah."
"Kalau Ayah mengetahui itu, beliau pasti mulai curiga."
Gavin menggaruk kepala.
"Ya... masuk akal sih."
"Karena itu, mulai hari ini kamu ikut denganku ke kantor pusat."
Senyum Gavin perlahan menghilang.
"...Ikut?"
"Kamu akan menemaniku bekerja."
Wajah Gavin langsung pucat.
"Hah?!"
Suaranya bahkan menggema sampai dapur.
"Aku ikut ke kantor?"
"Iya."
"Tante... eh... Sayang..." Gavin buru-buru mengoreksi panggilannya karena melihat Pelayan Zhang kembali muncul membawa makanan . "Aku bahkan tidak tahu bedanya laporan keuangan sama laporan stok gudang!"
"Aku tidak memintamu mengurus perusahaan."
Tiffany membuka tas kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah kartu akses berwarna hitam berlogo Chen Corp.
"Kamu hanya perlu terlihat seperti investor yang sedang meninjau perkembangan bisnis."
Kartu itu disodorkan ke tangan Gavin.
"Tugasmu sederhana."
"Datang."
"Duduk."
"Sesekali ikut rapat."
"Dan jangan membuat masalah."
Gavin memandangi kartu itu seolah sedang menerima surat panggilan wajib militer.
"Kalau ada yang bertanya soal bisnis?"
"Tersenyumlah."
"Kalau mereka bertanya lagi?"
"Jawab seperlunya."
"Kalau mereka terus bertanya?"
"Alihkan pembicaraan."
"Kalau masih bertanya juga?"
Tiffany menatapnya tanpa berkedip.
"Diam."
"..."
"..."
"Oke, strategi terakhir paling gampang."
Pelayan Zhang tidak bisa menahan tawanya.
Gavin menghela napas panjang.
Impian indahnya menikmati fasilitas penthouse sambil rebahan, menonton televisi, bermain gim, lalu tidur siang sepuasnya resmi berakhir pagi itu.
Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamar.
"Nasib jadi suami kontrak ternyata berat juga..."
Tiffany yang mendengarnya hanya menggeleng kecil.
"Sepuluh menit."
"Iya, Tante."
"Lima belas menit kalau mau pilih dasi."
"Baik, Tante."
Begitu Gavin menghilang di balik pintu kamar, Tiffany mengembuskan napas pelan.
Jemarinya saling bertaut di balik blazer.
Tatapannya mengarah ke jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi Kota Taipei.
Membawa Gavin ke kantor pusat bukanlah keputusan yang dibuat secara spontan.
Justru sebaliknya.
Ia sudah memikirkannya sejak beberapa hari terakhir.
Selama Gavin hanya berada di apartemen, sandiwara mereka memang berjalan mulus di hadapan keluarga.
Namun, cepat atau lambat, orang-orang di perusahaan akan mulai mempertanyakan keberadaan investor misterius asal Indonesia yang tidak pernah sekalipun muncul di kantor.
Itu terlalu berbahaya.
Jika identitas Gavin mulai dicurigai, semua rencana yang telah ia susun bisa runtuh dalam sekejap.
Dan mulai sekarang Gavin harus kembali menginjakkan kaki di dunia yang pernah begitu akrab baginya.
Dunia ruang rapat, jas formal, dan meja-meja penuh laporan bukanlah sesuatu yang asing. Semasa ayahnya masih hidup, Gavin beberapa kali diajak berkeliling kantor, diperkenalkan kepada para direktur, bahkan dipaksa duduk menemani rapat-rapat penting sebagai calon pewaris keluarga Wijaya.
Sayangnya, sebanyak apa pun ayahnya berusaha mengenalkan dunia bisnis, Gavin tidak pernah benar-benar menyukainya. Angka-angka membuatnya pusing, laporan keuangan membuatnya mengantuk, sementara pikirannya lebih sering melayang pada pesta bersama teman-temannya, liburan mewah, atau menghabiskan malam bersenang-senang dengan para wanita yang mengerubunginya saat ia masih menjadi pewaris keluarga Wijaya.
Kini, setelah bertahun-tahun meninggalkan kehidupan itu, takdir justru membawanya kembali ke lingkungan yang dulu selalu ingin ia hindari.
Bedanya, kali ini ia datang bukan sebagai pewaris keluarga Wijaya, melainkan sebagai seorang investor misterius sekaligus suami CEO Chen Corp.
Dan disinilah Gavin akan perlahan mulai memasuki dunia yang selama ini hanya menjadi milik Tiffany.