NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Usai makan siang, Alvar mendapati dapur sudah kembali lengang. Hanya ada ibunya yang berdiri di depan wastafel, tangannya sibuk mencuci piring-piring bekas makan mereka.

Ayahnya belum pulang dari kantor desa.

Alvar sempat membantu sebentar, lalu berniat keluar. Namun, langkahnya terhenti. Ia menoleh, wajahnya sedikit mengeras.

“Bu … anak kota yang manja itu ke mana?”

Sulastri langsung menoleh tajam. “Husss, kamu bilang apa sih, Alvar?” tegurnya. “Dia itu istrimu, perlakukan dia dengan baik.”

Alvar mendengus pelan. “Dia aja nggak ada sopan-sopannya sama aku, Bu.”

“Kamu yang harus banyak-banyak sabar, Var,” sahut Sulastri tanpa menoleh, suaranya tenang tapi tegas.

Belum sempat Alvar membalas, ponselnya bergetar di saku celana. Ia mengeluarkannya dan melihat layar. Alvar melirik ibunya sekilas sebelum akhirnya mengangkat.

“Halo, Bu.”

[Alvar?] suara Melati terdengar cemas.

[Kiara sudah sampai, kan? Dari tadi saya telepon dia nggak diangkat.]

“Iya, Bu. Kiara sudah di sini.”

[Nak, Ibu mau bilang … obat alerginya Kiara tertinggal di rumah. Ibu lupa kasih ke dia,] ucap Melati tergesa.

[Dia alergi berat, jadi Ibu khawatir.]

Alvar mengernyit. “Alergi apa, Bu?”

[Alergi ikan tawar. Terutama ikan nila.]

Kalimat itu seperti hantaman keras di kepala Alvar.

Bayangan makan siang tadi terlintas cepat, ikan nila goreng besar di piring Kiara, caranya sempat ragu, lalu tetap makan meski jelas tidak nyaman.

“Bu … saya tutup dulu,” ucap Alvar singkat, lalu langsung memutus panggilan tanpa menunggu jawaban.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Alvar menoleh ke arah ibunya.

“Bu, Kiara ke mana?”

Sulastri terkejut melihat perubahan raut wajah anaknya.

“Tadi katanya mau istirahat. Mungkin di kamar.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvar langsung melangkah cepat meninggalkan dapur. Langkahnya panjang dan tergesa, dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tidak ia akui cemas.

Ia membuka pintu kamar mereka tanpa mengetuk.

“Kiara—” Suara Alvar terhenti di tenggorokan.

Adegan di depan matanya membuat darahnya seolah berhenti mengalir.

Tubuh Kiara terkulai di atas ranjang. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Wajahnya tampak membengkak, terutama di sekitar mata dan bibir. Kulit putihnya kini dipenuhi bercak-bercak merah yang menyebar cepat hingga ke leher dan lengannya.

Alvar langsung masuk ke dalam kamar begitu melihat keadaan itu.

“Kiara!” suaranya meninggi, langkahnya tergesa mendekat.

“Kenapa kamu?”

Kiara membuka mata dengan susah payah. Suaranya lemah, hampir tak terdengar.

“Alergi ku … kambuh.”

Alvar menegang.

“Obatmu?”

Kiara menggeleng pelan, napasnya semakin berat.

“Aku lupa … masukin ke tas waktu berangkat tadi.”

Ucapan itu membuat Alvar terdiam sesaat. Rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun. Ingatannya kembali pada ucapan sinisnya saat makan siang, pada caranya mencibir makanan desa, pada tatapan kesal Kiara yang memilih diam dan menelan semuanya sendiri.

Tanpa berpikir panjang, Alvar langsung menyelipkan satu tangannya ke bawah lutut Kiara dan satu lagi menopang punggungnya. Ia menggendong gadis itu dengan sigap.

“Pegang aku,” ucapnya tegas meski suaranya bergetar.

Pintu kamar terbuka lebar saat Alvar keluar membawa Kiara.

“Ya Allah!” Sulastri langsung menutup mulutnya, panik melihat kondisi menantunya. “Kenapa ini, Var?”

“Alerginya kambuh, Bu. Parah,” jawab Alvar singkat, wajahnya tegang.

Saat mereka sampai di ruang tengah, pintu depan terbuka. Yono baru saja masuk, tubuhnya sedikit pincang, bertumpu pada tongkat karena kakinya belum pulih sepenuhnya.

“Ada apa ini?” tanya Yono kaget melihat Alvar menggendong Kiara yang tampak semakin lemah.

“Kita harus ke puskesmas sekarang, Pak,” ujar Alvar cepat.

“Kiara butuh pertolongan.”

Tanpa menunggu respon lebih lama, Alvar menoleh tajam ke arah ayahnya.

“Pak, kunci mobil.”

Yono tak banyak bicara. Ia segera merogoh saku celananya dan menyerahkan kunci mobil ke tangan Alvar.

“Bawa pelan-pelan, Var. Hati-hati,” pesan Yono.

Alvar mengangguk singkat, lalu melangkah cepat menuju halaman. Tangannya mencengkeram tubuh Kiara lebih erat, seolah takut gadis itu semakin menjauh darinya.

Di dalam dadanya, hanya ada satu pikiran yang berputar tanpa henti, Kiara tidak boleh kenapa-kenapa.

Begitu mobil berhenti di depan puskesmas Desa Tugu Utara, Alvar langsung membuka pintu dan turun lebih dulu. Tanpa menunggu siapa pun, ia menggendong Kiara keluar dari mobil. Wajah gadis itu semakin pucat, bibirnya tampak membiru, sementara bercak merah di kulitnya belum juga memudar.

“Dok!” teriak salah satu perawat begitu melihat kondisi Kiara.

Beberapa perawat dan seorang dokter umum segera keluar. Tatapan mereka serempak tertuju pada Alvar. Hampir semua orang di puskesmas itu mengenalnya, anak Pak Kades Yono, sekaligus dokter obgyn yang sempat menghebohkan desa karena menolak bekerja di puskesmas sendiri.

“Mas Alvar?” salah satu perawat terkejut.

“Ini kenapa?”

“Alergi berat,” jawab Alvar cepat, langkahnya tidak berhenti.

“Butuh penanganan sekarang.”

Tanpa banyak tanya, perawat itu langsung membuka pintu ruang pemeriksaan.

“Bawa ke sini, Mas.”

Alvar masuk dan meletakkan Kiara perlahan di atas ranjang periksa. Tangannya masih gemetar, dadanya naik turun tak teratur.

Dokter umum mendekat, mulai memeriksa tekanan darah dan pernapasan Kiara.

“Alergi apa?”

“Ikan tawar, nila,” jawab Alvar tanpa ragu.

Perawat menoleh cepat.

“Kami siapkan injeksi antihistamin dan oksigen.”

Alvar mengangguk. “Cepat.”

Saat masker oksigen dipasang di wajah Kiara, Alvar berdiri di sisi ranjang, matanya tak lepas dari wajah pucat itu. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras menahan emosi.

“Bertahan, Kiara,” gumamnya pelan, nyaris seperti doa.

“Jangan berani-berani kenapa-kenapa.”

Di luar ruang pemeriksaan, suara langkah kaki terdengar ramai. Beberapa warga berbisik-bisik, penasaran. Bagi mereka, ini pemandangan langka, melihat Alvar yang selalu tenang, kini tampak begitu panik dan kehilangan kendali.

'Bodoh, kamu Var!' gumam Alvar dalam hatinya.

1
Tamirah
kalau hari pertama praktek sdh banyak pasien ibu hamil ini bisa menjadi masalah bagi dokter senior.kok bisa dokter baru pasiennya bludak.
Tamirah
Kalau satu rumah sakit dgn dr Hesti yg status pasien bisa ada drama lagi.
Tamirah
Tidak diragukan lagi siapa yg ada dibalik peristiwa ini kalau bukan Si Yoga.kumpulkan bukti yang lengkap ttg keterlibatan Yoga dan bisa menjadi alasan untuk memecat Yoga.
Tamirah
Ini salah satu manusia berkelakuan Dajjal yg terdampar disebuah desa.
Tamirah
Drama menegangkan sudah selesai, masih ada kah drama lain yg sudah menunggu..... lanjut Thor.
Tamirah
Janggal aja Semua keluarga berkumpul kok bisa Kiara dapat kejutan dari dr Hesti dipukul dan di culik, terlalu dipaksakan alur cerita nya.kalau yg melakukan itu seorang pria wajar la.... ini seorang dokter perempuan di desa lagi, jenius banget dokter ini gak layak hidup di desa.Ada pembunuh berdarah dingin diantara orang orang desa yg hidup nya sederhana.
Tamirah
,Seorang dokter pun bisa jadi raja tega itu wajar, karena cinta nya sdh gak dapat tempat lagi dihati Avar.
Namun hukum alam tetap berlaku TABUR DAN TUAI itu pasti.
Tamirah
Hesti memanfaatkan situasi ini untuk balas dendam pada Alvar , dia gak rela Alvar hidup bahagia dgn istrinya.
Tamirah
wanita macam apa yg bangga hamil diluar nikah ,sayang nya mereka gak ngerti agama atau ngerti agama tapi gak peduli agama,karma akan berlaku bagi semua ummat didunia Ini. Dikala karma itu tiba doa doa yg kau panjatkan untuk sebuah pengampunan mungkin kamu harus antri untuk taubat mu.
Ayla Anindiyafarisa
udah kuliah jauh jauh keluar negri orang berpendidikan tapi kok bodoh y
Tamirah
Orang kota pun bisa beradaptasi kalau dia mau, sesuatu yang menjadi adat daerah bisa dipelajari siapapun kalau punya niat yg baik.
Mukeseh
darius oratama 🤣
Mukeseh
dih darting terus q 🤣🤣🤣 kayak nonton ikan terbang
Mukeseh
🤣🤣🤣
Musri'ah Isbee
novel yg super duper menguras emos jiwai👍👍👍,sukses selalu buat sang penulisnya🥰
Aisyah Alfatih: makasih kakak 🙏
total 1 replies
Rocky
Keren
Musri'ah Isbee
GK terasa air mataku menetes... semoga bahagia di endingnya...
Musri'ah Isbee
Alhamdulillah... Kiara dan calon debay nya selamat, tp deg degan dg cerita selanjutnya..
Musri'ah Isbee
iya, suka banget ceritanya... GK monoton, mencakup semua aspek kehidupan sosia.l sampe terbawa dlm ingatan meski sedang beraktifitas lain...
Aisyah Alfatih: makasih kakak udah mampir 💕
total 1 replies
pipi gemoy
itu jas dokter pinjam punya puskesmas ya🤔
Siti perlu di beri penghargaan karena jadi saksi berkali kali 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!