NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:372k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun

“Panggil tabib! Cepat!” seru Kaisar Zi Xuan dengan suara menggelegar, dipenuhi amarah dan kepanikan yang tak biasa.

Tatapannya tajam, membuat seluruh pelayan gemetar di tempat. Aura kekaisaran yang biasanya dingin kini berubah menjadi menakutkan.

Li Han yang baru saja tiba langsung tersentak mendengar perintah itu. Tanpa berani bertanya, ia segera berbalik dan berlari secepat mungkin keluar dari ruangan. Bahkan langkahnya nyaris terpeleset karena tergesa-gesa.

Sementara itu, Zi Xuan dengan hati-hati mengangkat tubuh Mo Yuuran. Ia membawanya menuju ranjang dengan gerakan yang jauh lebih lembut dari biasanya. Wajah sang permaisuri tampak pucat, membuat dadanya terasa sesak.

“Bertahanlah Yuuran,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Tangannya menggenggam tangan wanita itu erat, seolah takut kehilangannya lagi.

Ia berdiri di samping ranjang, gelisah dan tak bisa diam. “Kenapa tabib itu lama sekali?” geramnya, langkahnya mondar-mandir. Amarahnya semakin memuncak setiap detik berlalu.

“Akan kupenggal kepalanya jika dia terlambat satu detik lagi!” ancamnya dingin.

Para pelayan langsung menunduk lebih dalam, tak berani mengangkat kepala sedikit pun.

Di atas ranjang, Mo Yuuran tetap memejamkan mata. Meski tubuhnya tampak lemah, dalam hatinya ia justru merasa geli. Ia tidak menyangka Kaisar Zi Xuan akan menunjukkan kepanikan sebesar ini.

“Sepertinya aku harus menahan diri agar tidak tertawa,” batinnya, menahan senyum yang hampir muncul. Namun ia tetap mempertahankan wajah pucatnya dengan sempurna.

Zi Xuan kembali menggeram pelan. “Atau jangan-jangan Li Han berjalan seperti siput?” katanya kesal. “Sepertinya pelatihannya masih kurang.”

Ia menghela napas tajam, lalu menambahkan dengan nada mengancam. “Setelah ini, aku akan memberinya latihan dua kali lipat lebih berat.”

Tak lama kemudian, suara langkah tergesa terdengar dari luar. Tabib istana masuk dengan napas terengah-engah, membawa kotak peralatannya. Wajahnya sudah pucat sebelum melihat situasi di dalam.

Ia baru saja hendak memberi hormat. “Hamba memberi—”

“Tidak perlu basa-basi!” bentak Zi Xuan, memotong ucapannya dengan tajam. “Cepat periksa permaisuriku!”

Tabib itu langsung tersentak dan bergegas mendekat. Tangannya sedikit gemetar saat mulai memeriksa nadi Mo Yuuran. Ia mencoba tetap tenang, meski tekanan dari sang kaisar terasa begitu berat.

Ruangan kembali hening, hanya terdengar napas tegang yang tertahan. Zi Xuan berdiri tepat di samping, menatap setiap gerakan tabib itu tanpa berkedip. Wajahnya dingin, namun matanya dipenuhi amarah.

Beberapa saat kemudian, ekspresi tabib berubah. Ia menelan ludah sebelum akhirnya berani berbicara. “Yang Mulia Permaisuri terkena racun.”

Wajah Zi Xuan langsung mengeras. “Racun apa?” tanyanya tajam, suaranya rendah namun mengandung ancaman.

Tabib itu menunduk sedikit. “Racun ini bekerja perlahan, Yang Mulia,” jelasnya hati-hati. “Jika dikonsumsi terus-menerus, ia akan menggerogoti tubuh sedikit demi sedikit hingga akhirnya mematikan.”

Suasana langsung terasa membeku.

Tatapan Zi Xuan berubah mengerikan. “Berarti ini bukan pertama kalinya?” gumamnya, setiap kata terdengar jelas.

Tabib itu tidak berani menjawab, hanya menunduk lebih dalam. Namun keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Zi Xuan mengepalkan tangannya kuat, urat-uratnya terlihat jelas. Amarahnya kini mencapai puncak. “Berani sekali mereka.…” bisiknya penuh racun.

Di atas ranjang, Mo Yuuran perlahan menggerakkan jari-jarinya. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit. Ia mengerang pelan, seolah baru saja sadar dari pingsan.

“Yang Mulia .…” panggilnya lemah, suaranya nyaris seperti bisikan.

Zi Xuan langsung menoleh, wajahnya berubah dalam sekejap. “Yuuran!” Ia segera duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan wanita itu dengan hati-hati.

Mo Yuuran menatapnya dengan mata setengah terbuka. “Aku baik-baik saja,” ucapnya pelan, meski napasnya terdengar berat.

Zi Xuan menggeleng tegas. “Tidak, kau tidak baik-baik saja,” katanya dengan suara dalam. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi.”

Mo Yuuran menatapnya beberapa detik, lalu memejamkan mata kembali seolah kelelahan. Di balik sikap lemahnya, sudut bibirnya hampir tak terlihat terangkat.

Ia memang sengaja melakukan itu karena ingin membersihkan kaki tangan Mo Weiwei dan Bo Wen dari pihak dapur istana.

Mo Yuuran perlahan membuka matanya kembali, lalu menatap Zi Xuan yang masih menggenggam tangannya erat. Wajahnya masih tampak pucat, namun sorot matanya kini lebih sadar. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya berbicara.

“Yang Mulia … ini salahku,” ucapnya lirih, suaranya terdengar rapuh. Tatapannya meredup, seolah menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi.

Zi Xuan langsung mengernyit, jelas tidak setuju. “Apa maksudmu?” tanyanya, suaranya masih tegang namun penuh perhatian.

Mo Yuuran menunduk sedikit, seolah menahan rasa bersalah. “Aku tidak menyadari jika racun itu telah diberikan kepadaku sedikit demi sedikit,” katanya pelan. “Padahal aku adalah ahli racun.”

Ia tertawa kecil, namun terdengar getir. “Lucu, bukan? Seorang ahli racun justru tidak menyadari dirinya diracuni.”

Mo Yuuran benar-benar tidak menyadari hal itu karena terlalu percaya pada keluarganya.

Zi Xuan langsung menggeleng tegas, genggamannya pada tangan Mo Yuuran semakin erat. “Tidak,” ucapnya dingin, namun tegas. “Ini bukan salahmu.”

Tatapannya berubah tajam, penuh amarah yang ditekan. “Mereka yang terlalu licik,” lanjutnya, rahangnya mengeras. “Berani sekali bermain di dalam istanaku sendiri.”

Ia berdiri perlahan, aura membunuhnya kembali muncul. “Sepertinya aku harus membersihkan seluruh koki istana,” katanya tanpa ragu. “Tak akan kubiarkan satu pun dari mereka lolos.”

Mo Yuuran mengangkat wajahnya, menatap pria itu dengan ekspresi polos. Ia lalu mengangguk kecil, seolah setuju dengan keputusan tersebut. Namun matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam.

“Yang Mulia .…” panggilnya pelan.

Zi Xuan kembali menoleh, ekspresinya sedikit melunak saat melihatnya. “Apa lagi?” tanyanya, kali ini lebih tenang.

Mo Yuuran menarik napas perlahan. “Biarkan aku yang mengeluarkan racun dari tubuhku sendiri,” ucapnya mantap. “Aku tahu cara menetralisirnya.”

Zi Xuan terdiam sejenak, menatapnya dengan serius. “Apa kau yakin?” tanyanya, ada sedikit kekhawatiran yang terselip di balik nada suaranya.

Mo Yuuran mengangguk pelan. “Tapu aku membutuhkan beberapa bahan khusus,” lanjutnya. “Dan bahan-bahan itu tidak mudah didapatkan.”

Zi Xuan tidak ragu sedikit pun. “Sebutkan saja,” katanya tegas. “Apa pun itu, aku akan mendapatkannya untukmu.”

Tatapannya lurus, penuh keyakinan. “Aku janji.”

Mo Yuuran terdiam sesaat, menatap pria di hadapannya itu. Hatinya terasa bergetar dengan cara yang aneh dan tak ia pahami.

Ia tidak menyangka pria yang dulu ia abaikan justru berdiri di sisinya tanpa ragu. Tanpa syarat, tanpa perhitungan.

Perlahan, pandangannya melembut. “Terima kasih Yang Mulia,” bisiknya pelan.

Namun di dalam hatinya, sebuah penyesalan mulai tumbuh. Bagaimana mungkin dulu ia bisa begitu buta hingga tidak melihat semua ketulusan pria ini?

Kaisar, aku berjanji. Di kehidupan kedua ini, aku mencintaimu! Batin Mo Yuuran.

1
SENJA
hadeeeh kasian kalian 🤣
SENJA
tega sekali kalian ☹️
SENJA
hilih mokondo 😤
Leni Martina
Nemu LG cerita yang bagus,MC nya kuat dan ngk menye2,alur ceritanya nya ngk terlalu rumit,tp kapan ya thor pangeran yg 2 orng itu manggil ibu k mo yuuran,dan Kon jg tu mo yuuran di kasih hamil KLO bisa kembar jg,tp jgn lupa kasih kembar sepasang,Krn anak laki2 dari permaisuri akan JD putra mahkota, walaupun ada pengeran yg 3,.aku vote dah thor karya lu bagus,mantap👍👍
merry
gk di zaman kuno dan modern pasangan penghianat itu tega menghncurkan hati orang lain bhkn jdi pembunuh mrk pun tega,,,
Lyvia
suwun sak kebon thor crazy upnya tak kasih kupi biar makin semangat 💪😃
Quinza Azalea
bagusl
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Bener2 senjata makan tuan ini mah /Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Weeh siapa tuh 🤭
Irma Luthfah
baca maraton gk sadar udah beres aja nih. lanjut lagi thorr
Osie
🤣🤣🤣🤣senjata makan makan ini mah...gimana wei wei maknyus kan balasan dari yuuran
Sribundanya Gifran
lanjut
Atik Kiswati
keren....bikin puas yg bc......👍👍👍👍
Hary Nengsih
tuh namanya senjata mkan tuan🤣🤣🤣🤣
Biyan Narendra
mampuuus
Biyan Narendra
Para penipu yg tertipu
Biyan Narendra
Habislah kalian
Biyan Narendra
tegang
Mommy Ayu
rasain tuh, senjata makan tuan. kelakuan licik pemberontak akhirnya tidak sesuai rencana 😄😄😄 Mo Yuuran di lawan 🤣🤣🤣
Bunda Syifa
sangat menarik, gak bosen nunggu kelanjutan cerita nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!