NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Tangan Danish sudah terkepal erat. Matanya juga tak kalah tajam mengunci tatapan Rifki.

"Stop! Udah ya... Pak Danish... Dokter Rifki. Saya mohon jangan seperti ini. Malu di lihatin banyak orang!" pekik Hana berada ditengah-tengah kedua pria tadi.

Danish menatap Hana sebagai peringatan. "Karena kamu sudah bekerja dengan saya, maka kamu adalah tanggung jawab saya. Jadi, ayo kita pulang sekarang!" dengan penuh kepemilikan itu, Danish menggenggam tangan Hana, lalu diajaknya berjalan menjauh.

Dokter Rifki hanya mampu memukul angin sekilas.

"Brengsek! Dia bersikap semena-mena. Kasian Hana," umpat Rifki merasa kesal. Selepas itu, ia langsung saja segera masuk kedalam mobilnya.

Sementara Hana, wanita itu sudah duduk dengan tenang disamping kemudi Danish. Perlahan, ia menoleh kecil, memastikan Majikannya itu masih marah atau tidak.

"Sudah berapa lama kamu kenal sama Dokter gila itu?" tanya Danish dengan suara dingin. Dahinya masih berlipat dalam, tanda emosinya belum sepenuhnya hilang.

Hana menoleh hati-hati. Suaranya kecil, nyaris menjadi bisikan. "Semenjak sama hamil, Pak! Kurang lebih ya... Sudah 9 bulanan ini."

"Kamu menyukai Dokter itu?"

Hana tercengang. Mulutnya sampai melongo. "Suka? Bapak yang bener aja? Saya 'kan dulu masih bersuami. Mana mungkin saya suka sama pria lain?!"

Danish kembali menjawab. Namun kali ini kalimatnya lebih memekak telinga Hana. "Ya... Siapa tahu aja kamu menyimpan perasaan untuknya," bibir tipis itu mengulas senyum getir.

Dada Hana sudah naik turun. Ia menyerongkan sedikit tubuhnya, menatap Danish begitu tajam. "Bapak ini tanya atau mancing masalah sih?"

"Ngapain mancing masalah! Saya cuma tanya aja kok. Lagian, saya juga tidak mau terlalu ikut campur sama urusan orang lain... Termasuk kamu!" cetusnya.

Mata Hana yang sudah berselimut kabut amarah, rasanya ingin sekali meremat bibir lemes itu. Dan bersamaan itu, Danish menoleh sekilas. "Kamu ngapain natap saya kaya gitu?"

"Tenang, sabar Hana... Anggap saja pria didepanmu ini ODGJ yang baru keluar dari rumah sakit jiwa. Kamu juga harus terbiasa dengan mulut lemes itu setiap harinya," gerutu batin Hana yang masih menatap tajam kearah sang Majikan.

Saling bersitegang, tak lama itu mobil Danish sudah berhenti di depan perumahan Hana sesuai petunjuk sang wanita.

Hana bergegas turun. Wajahnya masih menahan kesal, hingga menatap Majikannya itu berasa tak sudi.

"Terimakasih-"

Brak!

Danish sampai melonjak kaget, hingga dadanya reflek menjerit mendapati Ibu susu putrinya itu membanting pintu. Akan tetapi, gerakan tubuhnya lebih mendominasi daripada kerja otaknya.

Danish sudah berdiri di depan mobilnya, namun Hana tetap saja tak peduli hingga masuk kedalam begitu saja.

"Apa tadi ucapanku menyinggung perasaanya ya? Kenapa sih, wanita selalu saja kaya gitu?" Danish menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa tak menemukan jawaban pasti, barulah ia segera masuk kedalam mobil dan segera pergi.

****

Pagi Harinya, tepat pukul 07.30 wib.

Hana sudah rapi dengan perpaduan celana hitam panjang, serta atasan blouse panjang bewarna biru pastel. Pagi ini, Hana hanya mengikat rapi rambutnya ke belakang, semakin memperlihatkan ketegasan pada wajahnya.

Sambil membawa tas lengan, beserta surat gugatan yang Dzaki berikan waktu itu, Hana bersiap mantab melangkahkan kakinya keluar dari kamar.

Sambil menunggu kakaknya datang, Hana membuat sereal terlebih dulu untuk mengganjal perutnya. Sambil membawa secangkir sereal tadi, ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa depan, menghidup dalam aroma serel tadi, sambil memejamkan mata sejenak.

Aroma khas gandum berpadu cream vanilla dengan susu, membuat Hana merasa lebih hangat sebelum memulai hari barunya.

Sementara di luar, mobil Madha baru berhenti. Pria berusia 30 tahun itu segera keluar, dan bergegas masuk kedalam rumah adiknya.

"Han, udah siap?" tanya Madha, tatapanya jatuh pada segelas sereal yang masih dinikmati adiknya.

Hana menoleh, ia turunkan gelas tadi diatas meja. "Udah, Mas! Mas Madha udah sarapan? Kalau belum, Hana tadi udah masak kok."

"Nggak, nggak usah! Tadi udah sarapan di rumah! Ya udah, kita berangkat aja sekarang, daripada kejebak macet," kata Madha yang mulai berjalan keluar lagi.

Hana mengangguk. Ia habiskan sejenak sereal tadi, lalu segera menutup pintunya.

Perjalanan menuju pengadilan cukup memakan waktu 1 jam lamanya. Dan hal itu membuat Hana merasa sedikit bosan. Wajah yang seharusnya tegang, kini seakan masa bodoh, dan tidak bereaksi apapun.

Dan pukul 08.30 itu, mobil Madha baru saja memasuki pengadilan.

~Pengadilan Agama Yogyakarta~

Begitu mobil Madha berhenti, dari arah gerbang masuk lagi dua mobil yang cukup mewah. Yakni Dzaki dan keluarganya juga turut datang dalam persidangan itu.

Madha menahan lengan adiknya, melempar isyarat-agar Hana dapat menjaga imagenya di depan keluarga Dzaki. Sebagai kakak, ia tak ingin adiknya menghamburkan air matanya pada tempat yang salah.

"Hana...." sapa Dzaki berdiri kikuk. Suaranya seolah tertahan, namun ketika melihat penampilan Hana lebih menarik, ada dorongan dari hatinya untuk mendekat.

Hana hanya melirik sekilas, ketika tanganya lebih dulu ditarik sang Kakak untuk beranjak masuk ke dalam.

"Dasar wanita angkuh! Biar bagaimana pun aku ini bekas mertuanya. Tapi bisa-bisanya bersikap acuh seperti itu," gerutu Bu Diah ketika menghampiri putranya.

Dzaki hanya mampu menghela napas berat. Tanpa menoleh Ibunya, ia juga bergegas masuk menyusul Istrinya.

Bahu Bu Diah dipapah Kayla, lalu keduanya juga bergegas masuk kedalam.

*

*

Hana dan Dzaki sudah diminta hakim ketua untuk duduk dikursi depan. Sementara pihak pendamping seperti keluarga, mereka duduk dikursi samping maupun belakang.

Tak ada guratan kecewa atau luka disana. Wajah Hana menegak, duduk dengan tenang tak terperngaruh. Sementara Dzaki, ia sejak tadi menoleh, memastikan Istrinya itu baik-baik saja atau tidak.

"Kamu bersiap sekali menghadiri sidang ini," seru Dzaki menolehkan wajahnya kembali.

Mendengar ada suara yang mengetuk pintu telinganya, reflek saja Hana menoleh. Wajahnya datar, suaranya juga begitu santai. "Tidak sopan sekali jika aku mengabaikannya! Aku menghargai usahamu... Dzaki!" tekanya.

Dzaki tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya, ketika Hakim Ketua sudah mulai membuka suara.

"Baik, saudari Hana Almira binti Bapak Teguh Wibowo... Saya akan membacakan gugatan yang saudara Dzaki Arya Gunawan bin Bapak Hardi Gunawan layangkan untuk Anda. Bagaimana, sudah siap saudari Hana?" tanya Hakim Ketua menatap kearah Hana.

Hana dengan wajah tegasnya mengangguk yakin. "Saya bersedia, Hakim Ketua!"

"Saya mulai dari poin pertama. Disini tertulis, jika pihak penggugat merasa sudah tidak menemukan kecocokan dalam hal komunikasi kepada pihak tergugat. Point ke-2, pihak penggugat selama di rumah sering merasa terabaikan karena pihak tergugat sibuk dengan urusan pribadinya. Point ke-3, pihak penggugat merasa hampa, sebab pihak tergugat tidak pernah lagi menunjukan sikap manisnya; contoh berdandan, mengurus tubuhnya, hingga melunjak ketika pihak penggugat merasa menegurnya. Dan disini tertulis, puncak pertengakarannya jatuh pada tanggal 23 bulan Oktober 2025 tahun lalu. Jadi, sudah 3 bulan berjalan pihak tergugat sudah tidak lagi memberikan nafkah batin sebagai kewajibannya," Hakim Ketua itu menarik napas dalam sebelum melanjutkan lagi. "Dan sesuai Undang-undang yang tertulis, pihak Penggugat sudah dapat melayangkan gugatan cerainya secara mutlak!" pandangan Hakim Ketua terangkat, pas kearah Hana. "Saudari Hana... Apa benar Anda memang melakukan 3 point yang tertulis? Mohon bisa di jelaskan terlebih dulu?"

1
akukaya
kau yg tak pandai baca situasi... dan tak pandai kawal diri... konon dingin padahal mengawal diri laaa tu ...ada rasa getaran chinnntaaa... ptuiiiiii 🤣🤣🤣
Dewi Sinta
aprilia atau shofi thor 😌
74 Jameela
wooooeeeeyyyy..jaman udh millenial kok msh trllu ngejunjung tinggi balas budi gk hrs gt jg keleeeessss🤮🤮..jijik banget sm si tentara...cinta kok meksoooo..iku jenenge terObsesi🤮
akukaya
Pikun? kan udah lihat DRAMA di Rumah Sakit kamu.
akukaya
ni selalu kesilapan ibu² muda... walau masih nifas, bersih²,kemas,wangi,rajin mandi itu wajib... lelaki memang mata lalat... tapi bila isteri tak pandai urus diri, si mata lalat ni hinggap ke tahi lain juga... sbb si mata lalat ni,. lihat betina/sampah lain tu wangi lebih dari isterinya sendiri... maka... dlm permasalahan pasangn dlm citer ni... keduanya sama² SALAH... itu saja.... lihat kan... sesudah ditinggalkan boleh pula melawa mempercantikkan diri... kenapa masa² nifas biarkan diri berdaster dn lambat mandi... tiada alasan tak sempat... ok faham perasaan sedang berkabung krn kehilangan bayi,.. silapnya Hana ni terbawa bawa rasa kehilangan itu... Kehilangan bayi ,ya aku simpati..... 😁.. jika pun ada kisah benar begini ... aku tak berani komen.... hahahahhahahahahahahahaha
akukaya
mana ada Eddah... talak 3 .. tak ada ruang buat rujuk dah... selain CINA BUTA... huhuhu
Elly Sukanti
nahh loh Hana ketemu sm masa lalunya
Nona aan Chayank
Maaf Thor, tapi bukannya Dzaky sdh menjatuhkan talak tiga ke Hana yaa? Kok bisa seenaknya masuk rumah Hana lagi dan dibiarkan pula oleh Hana??
Jumi Atin
padahal alurceritanya bagus,tp, banyak ngk relevan dgn cerita awal , skip
Rαtu Mαtchα🍿
Lanjut thor
echa purin
👍
An'ra Pattiwael
hana jgn terlalu oooonnnn
Anonim
masa lalu denis blm selesai2
Sativa Kyu
👍👍
Ana Burhaini
Hhh itu lukman knp histeris
Ana Burhaini
Mantap hana jgn mau di madu laki "mau enk ny aja ga berpikir sakit nya di khianati jgn goyah hana 💪💪
Ana Burhaini
Smgt hana raih kebhagiaan mu tanpa seorang suami pngkhianat percantik diri dan kesukses an mu hana
Ana Burhaini
Mona pelakor ga punya rsa belas kasihan sm temen sendiri yah begitulah kl pelakor ga peduli suami temen
Cut Dini
❤️❤️❤️
Alfa Hana
kayaknya madh pernah bilng kalau bapaknya pergi pas hana umur 1th dan belum bisa mengibgat bapaknya kok disisni hana umur 4th dan mengingat bapaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!