Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Wang chunniang refleks melirik ke arah Zhao Heng, tetapi Zhao Heng tidak bisa melihat. Tangannya yang tergantung di sisi tubuhnya sedikit terkepal.
A Bao sedang memegang mangkuk kecilnya sambil makan. Mendengar pertanyaan Lin Xiang, ia meletakkan mangkuknya. Tangan gemuknya menunjuk ke arah burung layang-layang yang berlindung di bawah balok atap di luar, dan berkata dengan serius, "bibi, lihat burung layang-layang. Kalau burung layang-layang terbang sangat rendah, berarti akan hujan. Semalam sebelum aku tidur, aku keluar untuk buang air kecil, di sini ... Banyak sekali burung layang-layang."
Lin Xiang mengangguk setuju, "burung layang-layang terbang rendah dan ular menyebrang jalan, pasti akan turun hujan lebat."
"Gawat, jangan-jangan kebun berry akan kebanjiran?" sifat Lin Xiang memang agak melankolis. Memikirkan kebun berry, ia sampai kehilangan selera makannya.
"Kakak ipar, dua petak tanah di dekat sungai itu, sepertinya akan terendam," Lin Xiang semakin kehilangan nafsu makan.
" Ah Xiang, jangan khawatir, makan dulu. Sebentar lagi pasti hujan reda. Kalau sudah reda, kita bisa pergi melihatnya."desak Wang chunniang agar Lin Xiang segera makan.
Lin Xiang menatap cemas ke halaman, lalu dengan enggan ia meminum sedikit bubur.
Benar saja, setelah mereka selesai makan, hujan berangsur-angsur berhenti.
A Bao yang sudah terkurung seharian sudah tak sabar lagi. Ia mengenakan sandal jerami dan ingin segera keluar bermain.
Ada keramaian besar di jalanan luar. A Bao penasaran dan bersembunyi di samping pintu halaman. Ia mengintip melalui celah pintu dan melihat banyak orang membawa jaring ikan menuju sungai.
" Kakak! Kakak!"A Bao melompat-lompat kegirangan. Ia menoleh dan berseru memanggil Zhao Xuan," ayo kita keluar tangkap ikan!"
Zhao Heng yang sedang duduk di bawah atap beranda mendengar ucapan itu, lalu ia berkata dengan nada dingin, "Zhao, A Bao!"
A Bao memanyunkan bibir, "ayah, aku kenapa?"
"Bukankah ayah sudah bilang, kamu tidak boleh sendirian ke dekat air? Apa yang ayah katakan masuk telinga kiri keluar telinga kanan?" nada bicara Zhao Heng terdengar sangat tidak menyenangkan.
"Ada kakak yang menemani kami," A Bao membela diri dengan suara pelan.
"Kakak mu baru berumur sembilan tahun, bukan sembilan belas tahun. Tanpa izin ayah, tidak ada yang boleh pergi menangkap ikan ke sungai." sikap Zhao Heng sangat tegas.
Karena hujan lebat selama ini, air sungai pasti meluap. Meskipun banyak orang pergi menangkap ikan, tempat itu tetap berbahaya.
A Bao merengek, matanya terus menatap penuh harap keluar pintu halaman.
Yang Dabao sedang berjalan menuju sungai dengan tukang besi Yang (ayah Dabao). Yang Dabao menoleh ingin melihat apakah A Bao ada, dan ia melihat A Bao sedang berjongkok di ambang pintu, menatap ke arahnya dengan penuh harap.
" A Bao, kalau duduk di ambang pintu nanti tumbuh ekor, "kata Yang Dabao sambil menjulurkan lidah ke arah A Bao, lalu dengan bangga mengayunkan jaring ikan kecilnya.
"Benarkah?" mendengar ucapan Yang Dabao, mata A Bao terbelalak kegirangan.
"Aku bisa menumbuhkan ekor harimau? Itu pasti gagah sekali!" A Bao melompat kegirangan.
Yang Dabao:"?"
"Ayah, sudah kubilang A Bao itu bodoh," kata Yang Dabao dengan bangga kepada tukang besi Yang.
Tukang besi Yang mengangkat kaki dan menendang Yang Dabao sekali, lalu lanjut berjalan ke depan.
"Paman tukang besi." melihat Yang Dabao dengan gembira menggendong jaring ikan kecil mengikuti tukang besi Yang, A Bao tiba-tiba berseru lantang memanggil tukang besi Yang, "paman tukang besi, ayahku bilang, anak kecil tidak boleh pergi ke sungai, itu berbahaya!"
Tukang besi Yang menoleh melihat gadis kecil yang duduk di ambang pintu itu. Ia tersenyum dan melambaikan tangan," tidak apa-apa."
Melihat pasangan ayah dan anak itu sudah menjauh, rasa penasaran A Bao tidak bisa dibendung lagi. Ia berlari seperti angin kembali ke dalam kamar. Menarik tangan Zhao Heng, "Ayah, aku tidak akan turun ke air. Bisakah ayah mengajakku keluar melihat? Banyak orang pergi tangkap ikan!"
Di samping, Zhao Xuan sudah mengangkat Jiang Ting.
"Suamiku, ayo kita keluar lihat-lihat," kata Wang chunniang pada Zhao Heng dan Lin Xiang sambil membawa beberapa keping uang tembaga.
Hujan akhirnya berhenti. Anak-anak pasti sudah jenuh terkurung seharian.
Satu keluarga itu pun berjalan menuju sungai. Sepertinya setiap keluarga berpikir hal yang sama. Ketika mereka tiba di tepi sungai, tempat itu sudah dipenuhi banyak orang. Para pria pemberani bahkan sudah turun ke air dengan jaring ikan.
" Tukang besi Zhang hebat sekali! "puji Zhao Xuan sambil berdiri di pinggir. Ia Melihat tukang besi Zhang baru saja turun ke air dan sudah berhasil menjaring banyak ikan.
" Dengar-dengar dari ibu goudan, sup ikan mas di sungai ini sangat enak. Nanti kita lihat apakah ada yang menjualnya," kata Wang chunniang sambil melihat ke sekeliling. A Bao menggandeng tangan Wang chunniang, matanya tak lepas dari sungai.
Tukang besi Zhang memang jago menangkap ikan. Tidak lama setelah turun ke air, ia sudah kembali ke daratan membawa sekeranjang penuh ikan. Wang chunniang berpamitan kepada Zhao Heng, lalu menarik A Bao yang suka melihat keramaian untuk mendekat.
Tukang besi Zhang sepertinya sudah terbiasa dengan pemandangan menangkap ikan setelah hujan seperti ini. Ia membersihkan diri sebentar, lalu memilih tempat di atas jembatan untuk mulai menjual ikannya.
Melihat itu, Wang chunniang segera mendekat sambil menggendong A Bao.
"Ayah Dabao, apa ada ikan mas yang bagus? Keluarga kami tidak ada yang berani turun ke air. Kami mau beli dua ekor untuk dibuat sup agar anak-anak bisa mendapat gizi," Wang chunniang berjongkok di samping keranjang ikan itu. A Bao memiringkan kepala kecilnya, mengamati keranjang besar berisi ikan dengan seksama.
"Ayahku, hebat kan?" kata Yang Dabao dengan bangga. "ayahku adalah yang paling jago menangkap ikan di desa ini.
A Bao menatap tidak senang pada Yang Dabao yang menarik-narik rambutnya. Ia mendengus, lalu berkata dengan suara manja," ayahku lebih hebat."
Saat Wang chunniang sedang sibuk membeli dua ekor ikan mas, A Bao dan Yang Dabao mulai berdebat. Zhao Heng tidak membawa tongkat penuntun dan juga tidak meminta Zhao Xuan menuntun nya. Ia hanya mengandalkan suara lantang A Bao untuk menentukan arah, berjalan selangkah demi selangkah menuju tempat A Bao berada.
A Bao masih dengan berapi-api memuji betapa hebatnya ayahnya, sementara Zhao Heng hanya bisa mengatupkan bibir, bingung harus berkata apa. tepat saat ia hampir mendekati A Bao, telinganya mendengar suara yang tidak biasa dan sangat samar.
Itu seperti suara gesekan batu.
Detik berikutnya, Zhao Heng tiba-tiba tersadar. Ia berteriak lantang, "chunniang, bawa A Bao lari! Jembatan akan runtuh!"
Hujan semalam terlalu deras, dasar jembatan pasti sudah terkikis air hingga kosong.
Wang chunniang mendengar teriakkan Zhao Heng. Ia mengabaikan ikan yang baru di belinya, dan langsung memeluk A Bao untuk melarikan diri. tukang besi Yang entah tidak menyadari atau memang tidak percaya, ia bereaksi jauh lebih lambat dari Wang chunniang.
Tepi sungai menjadi riuh. Namun suara Zhao Heng yang terlalu keras membuat semua orang terkejut.
Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi Booom! Jembatan batu yang tadinya baik-baik saja langsung runtuh, memercikan air dan debu yang sangat besar.
" Dabao! Dabao! "teriakan memilukan tukang besi Yang terdengar. Wang chunniang baru saja berhasil membawa A Bao lari dengan aman ke pinggir sungai. Tukang besi Yang berhasil menginjak salah satu batu jembatan yang patah, tetapi Yang Dabao jelas terjatuh ke bawah.
Jembatan sudah runtuh, tidak ada yang berani mendekat. Yang Dabao yang terjatuh, kemungkinan besar akan terbentur batu. seketika itu juga, tepi sungai di penuhi teriakan histeris tukang besi Yang.
"Tolong selamatkan anakku, tolong!" tukang besi Yang berteriak meminta pertolongan. sebagai pria dewasa, matanya memerah, suaranya terus melolong.
" Ibu, aku tidak akan sembarangan lari lagi. Kalau aku yang jatuh, apa ayah juga akan menangis?" A Bao membenamkan kepala kecilnya ke leher Wang chunniang, matanya memerah.
Saat semua orang kebingungan, terdengar suara teriakan kaget.
Zhao Xuan berteriak lantang, "Ayah."
Wang chunniang menoleh, dan melihat suaminya yang buta itu tiba-tiba melompat ke arah sungai....
Saat itu juga, jantungnya seolah berhenti berdetak...