NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Keira kembali ke Lim Group dua hari kemudian.

Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi langkahnya sudah stabil. Pak Hasan membekalinya termos kecil berisi air jahe, Jason mengirim pesan agar ia tidak naik lift umum kalau pusing, dan Richard tidak mengirim apa pun.

Tidak mengirim, tetapi ketika Keira masuk ke divisi proyek, meja kecilnya sudah berubah.

Ada humidifier mini di sudut meja. Ada botol air mineral besar. Ada kotak obat flu cadangan di laci teratas. Tidak ada kartu, tidak ada catatan, tidak ada nama.

Keira tidak perlu nama.

Ia tahu siapa yang memberi.

Pak Dharma juga melihat. Senyumnya pagi itu lebih tipis dari biasa.

"Sudah sehat, Nona Tan?"

"Sudah lebih baik, Pak."

"Bagus. Di sini pekerjaan tidak berhenti hanya karena satu orang demam."

"Saya mengerti."

Pak Dharma memberinya tugas baru: membaca kontrak vendor dan membuat ringkasan risiko. Kali ini tugasnya sungguhan, tetapi waktunya sengaja dipersempit. Keira menerima tanpa mengeluh. Dalam tiga jam, ia mengirim ringkasan lima halaman dengan catatan pasal bermasalah.

Sore hari, ringkasan itu sampai ke meja Richard.

Jason meletakkannya di atas tumpukan dokumen. "Dari divisi proyek. Nona Tan yang membuat."

Richard membaca cepat. "Dia menemukan pasal penalti yang dilewatkan tim legal."

"Iya."

"Kirim ke Arief untuk dicek ulang."

"Baik."

"Pak Dharma memberi tenggat wajar?"

Jason berhenti sejenak. "Tiga jam."

Richard mengangkat mata.

"Untuk kontrak vendor setebal seratus dua puluh halaman," tambah Jason.

Richard meletakkan ringkasan itu. "Catat."

"Sebagai?"

"Pola."

Jason mengangguk. Ia mulai memahami cara Boss-nya bergerak terhadap Pak Dharma. Belum menebas. Mengumpulkan. Sama seperti Keira. Dua orang itu, dalam hal membiarkan lawan merasa aman sebelum dijatuhkan, ternyata terlalu mirip.

"Ada lagi," kata Jason. "Nona Tan tidak mengadu sama sekali."

Richard menatapnya.

"Dia justru membuat ringkasan yang bisa langsung dipakai tim."

Richard kembali membaca halaman pertama. Di margin, Keira menulis catatan pendek: risiko tersembunyi bukan pada angka, tetapi pada hak pembatalan sepihak vendor. Tulisan itu rapi, tajam, dan tidak seperti anak magang yang sekadar ingin dipuji.

"Dia memang mampu," kata Richard.

Jason menangkap nada itu. Bukan kebanggaan bos pada bawahan. Lebih personal dari itu.

Jason hendak keluar ketika Richard bertanya, "Hari ini dia memanggilku apa?"

Jason berhenti.

"Maaf, Boss?"

"Di kantor."

Jason menyadari arah pertanyaan itu, lalu menjawab dengan sangat hati-hati. "Nona Tan tadi menyebut Boss sebagai Pak Lim saat bertemu di lift."

Richard menatap dokumen lagi, tetapi tidak membaca.

Malam itu, setelah jam kerja selesai, Keira dipanggil ke ruang kerja Richard.

Ia masuk membawa tablet. "Pak Lim memanggil saya?"

Udara ruangan langsung berubah.

Jason yang masih berdiri di samping meja perlahan menutup map. "Saya tunggu di luar."

Begitu pintu tertutup, Richard menatap Keira. "Kenapa di kantor kamu panggil aku Pak Lim?"

Keira berkedip, seolah pertanyaan itu tidak terduga. "Karena ini kantor Om."

"Di luar kantor?"

"Om."

"Lalu kenapa di kantor berbeda?"

Keira menunduk sedikit. "Supaya tidak memalukan Om."

Richard diam.

Keira melanjutkan, suaranya lebih pelan. "Orang-orang sudah bilang saya titipan. Kalau saya memanggil Om terlalu akrab di kantor, mereka akan semakin tidak suka. Saya tidak ingin membuat Om terlihat tidak profesional."

"Kamu bukan memalukan."

Keira mengangkat wajah.

Kalimat itu pendek. Datar. Namun ia masuk ke dada Keira dengan cara yang terlalu dalam.

"Tapi orang akan bicara."

"Orang selalu bicara."

"Saya tidak mau jadi masalah untuk Om."

Richard berdiri dari kursinya. "Kamu pikir masalahku sesederhana panggilan?"

Keira mundur setengah langkah tanpa sadar. Bukan karena takut, melainkan karena suara Richard turun. Ia tidak berteriak. Justru karena itu terasa lebih dekat.

"Saya hanya berusaha menjaga batas."

"Batas siapa?"

Pertanyaan itu membuat Keira terdiam.

Batas wali dan anak teman.

Batas paman dan keponakan yang bukan darah.

Batas rencana dan perasaan yang mulai berbahaya.

Ia tidak bisa menjawab semuanya.

"Batas saya," katanya akhirnya.

Richard menatapnya lama. Lalu, anehnya, ia tidak memaksa.

Keira sudah siap dengan beberapa air mata, tetapi air mata itu tidak jadi keluar. Richard tidak menuduh. Tidak mengejek. Ia hanya berdiri di sana, terlalu dekat untuk disebut aman, terlalu jauh untuk disentuh.

"Kalau itu batasmu," katanya, "aku tidak akan memaksamu melewatinya."

Keira seharusnya lega.

Yang muncul justru kecewa.

Ia membenci dirinya sendiri karena kecewa pada pria yang menghormati batasnya.

"Di depan staf, panggil Pak Lim kalau kamu mau. Di ruang ini, panggil Om."

Keira mengangguk. "Baik, Om."

Baru setelah kata itu keluar, ketegangan di rahang Richard sedikit mengendur.

Keira melihatnya.

Melihat dan menyimpan.

Panggilan itu penting baginya.

Malam itu, setelah Keira pulang, Richard duduk sendirian di ruang kerja. Dokumen kontrak vendor terbuka di depannya, tetapi pikirannya terus kembali ke satu hal.

Di luar ruangan, Jason bersandar sebentar pada dinding koridor. Ia sudah bekerja dengan Richard bertahun-tahun dan belum pernah melihat pria itu terusik hanya karena satu panggilan.

"Ini bukan hubungan paman-keponakan," gumam Jason sangat pelan.

Lalu ia berdiri tegak lagi sebelum ada orang lewat.

Keesokan paginya, Keira datang lebih awal dari biasa. Di meja proyek, Siska dari tim administrasi sudah menunggu dengan dua gelas kopi susu.

"Satu buat kamu," kata Siska. "Anggap suap supaya nanti kalau Pak Dharma ngamuk, kamu kasih kode dulu."

Keira tertawa. "Kamu berani dekat dengan anak titipan?"

"Kalau anak titipannya bisa baca kontrak lebih cepat dari senior, gue pilih dekat. Minimal hidup gue selamat."

Percakapan itu ringan, tetapi bagi Keira penting. Di kantor, satu sekutu kecil bisa menjadi saksi besar. Ia menerima kopi itu dan mengucapkan terima kasih.

Pak Dharma melihat dari ruang kaca. Wajahnya tidak senang.

Keira menatap pantulan pria itu di layar laptop, lalu tersenyum sopan.

Semakin Pak Dharma terganggu, semakin jelas ia akan membuat kesalahan.

Kesalahan itu datang lebih cepat dari perkiraan. Siang hari, Pak Dharma mengirim pesan ke grup kecil proyek: "Anak magang jangan merasa istimewa hanya karena dekat dengan lantai atas."

Tidak ada nama Keira.

Tidak perlu.

Keira mengambil tangkapan layar, lalu tetap membalas sopan, "Baik, Pak. Saya akan ikuti alur kerja divisi."

Siska di sebelahnya berbisik, "Lo sabar banget."

"Tidak. Aku cuma hemat tenaga."

Untuk membalas orang seperti Pak Dharma, tenaga harus dipakai pada saat saksi paling banyak dan bukti paling lengkap di depan semua orang yang selama ini pura-pura tidak melihat apa pun, termasuk atasan.

Kenapa panggilan Keira bisa membuatnya merasa kehilangan sesuatu?

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!