"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
"Kontrak baru Bapak berani membayar berapa?"
Enam map slip gaji tergeletak di meja kantor yang salah satu kakinya diganjal potongan kayu.
Raka belum sempat menjawab ketika Bima meletakkan laptop di samping map-map itu. Layar menampilkan garis merah yang turun tajam setelah bulan kedua.
"Kalau mengikuti angka pertama Pak Raka, kas kita habis sebelum produk lulus uji," katanya.
Enam pekerja duduk di kursi plastik. Tidak ada yang tampak terkesan oleh istilah kas atau proyeksi. Mereka sudah terlalu sering mendengar pemilik lama bicara tentang uang yang akan datang minggu depan.
Hendra berdiri, tidak ikut duduk.
"Kami tidak minta sedekah," katanya. "Tapi kalau angka baru lebih rendah daripada upah lama yang saja tidak dibayar, tidak ada alasan kami tinggal."
"Saya tidak akan meminta Bapak dan teman-teman melupakan tunggakan lama," kata Raka. "Bu Nadia akan membantu mengurutkan bukti dan jalur penagihannya. Tapi PT Arunika Karya Nusantara tidak mengambil alih utang itu. Kontrak baru dimulai dari nol."
Seorang pekerja muda mencibir. "Mulai dari nol biasanya berarti kami yang rugi dua kali."
"Karena itu semuanya ditulis."
Raka hendak menyebut angka lagi, tetapi Bima mengangkat tangan.
"Sebelum gaji, lihat seluruh biayanya."
Ia memutar laptop. Ada gaji dasar, BPJS Ketenagakerjaan, perlindungan kesehatan yang harus disiapkan sesuai hubungan kerja, uang makan, alat pelindung, pelatihan K3, bahan uji, listrik, dan cadangan untuk produk gagal.
"Gaji bukan satu-satunya biaya mempekerjakan orang," kata Bima. "Kalau kami memberikan angka tinggi di atas kertas lalu berhenti membayar pada bulan ketiga, kami hanya mengulang pemilik lama dengan presentasi lebih rapi."
Ruangan menjadi hening.
Raka tidak menyukai cara Bima membantahnya di depan calon karyawan. Namun ia lebih tidak menyukai kemungkinan Bima benar.
"Baik," katanya. "Kita pecah angkanya."
Ia mengambil spidol dan menulis di papan lama.
Gaji dasar.
Tunjangan keterampilan.
Insentif hasil.
"Gaji dasar tidak boleh turun hanya karena satu batch gagal," kata Raka. "Tunjangan keterampilan diberikan setelah ujian yang jelas. Insentif baru ada jika target yang bisa diukur tercapai. Tidak ada potongan sepihak dari gaji dasar untuk menutup kesalahan produksi."
Hendra menunjuk tulisan kedua. "Siapa yang menguji keterampilan?"
"Bapak membantu menyusun materi teknis, Bima memastikan ukurannya sama untuk semua orang. Saya tidak akan membuat ujian yang jawabannya berubah sesuai suasana hati."
"Kalau orang gagal setelah sudah menerima tunjangan?"
Bima membuka rancangan kontrak. "Tunjangan bisa dievaluasi untuk periode berikutnya melalui penilaian tertulis. Tidak boleh menarik kembali gaji dasar. Tidak boleh membuat orang berutang hanya karena hasil bulan ini buruk."
Pekerja yang tadi mencibir maju sedikit di kursinya.
"BPJS benar-benar didaftarkan?"
"Sebelum sistem internal kami menganggap hubungan kerja lengkap," jawab Bima.
Raka hampir menoleh ke arah panel SAT. Kalimat Bima tidak sengaja sangat dekat dengan aturan sistem.
Mereka membahas angka selama hampir dua jam.
Raka menaikkan beberapa gaji dasar dari usulan awal Bima, tetapi membatalkan tunjangan yang belum punya ukuran. Bima menambahkan masa penilaian, jadwal pembayaran, batas lembur, hari istirahat, dan hak menolak pekerjaan yang tidak aman.
Hendra membaca setiap halaman, bukan hanya angka terbesar.
"Di sini tertulis keterlambatan produksi tidak otomatis menjadi kesalahan pekerja," katanya.
"Karena mesin rusak dan bahan terlambat bukan dosa operator," jawab Raka.
"Kalau kesalahan operator?"
"Diperiksa. Diperbaiki. Kalau ada pelanggaran, gunakan prosedur. Bukan potong upah seenaknya."
Hendra meletakkan kertas.
"Saya mau satu tambahan. Semua alat yang dinyatakan sengketa tidak boleh dipakai, walaupun pesanan mendesak."
Raka menatapnya. Ia baru saja mendapatkan pabrik, dan orang pertama yang ingin direkrut sudah menambahkan larangan untuk menggunakan dua mesin penting.
Namun justru itu yang membedakan teknisi dari penjaga barang.
"Masukkan," katanya.
Bima mengetiknya.
Sore menjelang ketika dokumen selesai. Setiap calon karyawan menerima salinan. Tidak ada tanda tangan massal tanpa membaca. Satu per satu, mereka menanyakan jabatan, jadwal, nilai tunjangan, dan cara mengajukan keberatan.
Hendra menandatangani paling akhir.
"Saya tidak percaya penuh kepada Bapak," katanya kepada Raka.
"Bagus. Percaya setelah gaji masuk."
Proses administrasi bergerak. Data pekerja dimasukkan untuk hubungan kerja dan pendaftaran yang diperlukan. Bima mengunggah kontrak, bukti identitas, daftar gaji, serta rekening penerima. Fasilitas Pembayaran Usaha Terverifikasi memeriksa dokumen satu per satu.
Panel SAT tidak berubah selama kontrak baru hanya tersimpan sebagai draf.
Baru ketika data lengkap dan transfer gaji awal prorata dikirim ke rekening masing-masing, angka di panel bergerak.
[Hendra Wijaya terverifikasi sebagai karyawan.]
[Karyawan terverifikasi: 3/10.]
Nama-nama berikutnya menyusul.
[4/10.]
[5/10.]
[6/10.]
[7/10.]
[8/10.]
Ponsel di atas meja berbunyi hampir bersamaan.
Salah satu pekerja membuka aplikasi banknya. Ia melihat nominal yang masuk, lalu segera memperlihatkannya kepada Hendra. Bukan janji pembayaran akhir bulan. Bukan tangkapan layar buatan. Uang awal yang sesuai dokumen benar-benar ada.
Seorang operator yang dua minggu terakhir meminjam uang makan mengusap layar ponselnya pelan, memastikan angka itu tidak hilang ketika aplikasi dibuka ulang.
"Masuk," katanya pelan.
Yang lain memeriksa rekening mereka.
Wajah-wajah yang sejak pagi keras mulai berubah. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sumpah setia. Hanya beberapa orang yang duduk lebih tegak, seperti baru mendapat izin untuk berharap tanpa terlihat bodoh.
Raka membuka daftar belanja.
Bima menunjuk baris cat tembok dan meja direktur. "Dua ini dicoret."
"Aku bahkan belum memilih mejanya."
"Lebih mudah mencoret sebelum Anda jatuh cinta pada modelnya."
Uang pertama dari rekening perusahaan dipakai membeli helm, sarung tangan, pelindung telinga, masker kerja, kotak P3K, penanda lantai, dan gembok untuk mesin sengketa. Bukan papan nama besar. Bukan sofa kantor.
Ketika mobil pemasok datang menjelang malam, Raka ikut menurunkan kardus alat pelindung.
Pekerja muda yang tadi paling sinis mengambil satu kardus dari tangannya.
"Taruh di dekat ruang produksi saja, Bos. Biar kami yang susun."
Bos.
Kata itu keluar spontan, tanpa diperintah.
Raka melihat Hendra. Teknisi tua itu ia mengambil spidol dan mulai menandai area mesin yang tidak boleh digunakan.
Kepercayaan mereka belum penuh.
Namun sekarang kepercayaan itu memiliki bukti transfer, nomor pendaftaran, dan sepasang sarung tangan baru.
Setelah para pekerja pulang, panel SAT muncul di ruangan yang kembali sunyi.
[Karyawan terverifikasi: 8/10.]
[Syarat peningkatan berikutnya:]
[1. Sepuluh karyawan terverifikasi.]
[2. Satu pesanan nyata dari pelanggan nonafiliasi, diselesaikan dan dibayar.]
Raka memandang dua kursi kosong di seberang meja.
"Dua orang lagi," katanya.
Bima menutup laptop. "Dan satu produk yang belum ada."
Raka melihat lowongan kosong untuk konten dan penjualan. Besok, ia harus menemukan dua orang yang juga membuat pabrik yang baru diselamatkan terlihat hidup.