"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Mama
Beberapa hari setelah tawa pertamanya, Arkan menjerit dalam tidur.
Nadhira terbangun sebelum tengah malam. Suara itu datang dari ujung koridor, pendek dan tajam, disusul benda jatuh. Ia keluar kamar pada saat yang sama dengan Rayhan.
"Arkan," kata Rayhan.
Mereka berlari ke kamar bocah itu. Lampu malam masih menyala. Boneka beruang tergeletak di lantai, sedangkan Arkan duduk di ranjang dengan mata terbuka tetapi tidak benar-benar melihat. Kedua tangannya mencakar selimut.
"Jangan pergi," ia meracau. "Gelap..."
Itu pertama kalinya Nadhira mendengar suaranya lebih dari bunyi napas atau tawa. Suara seorang anak, kecil dan serak karena jarang dipakai.
Rayhan mendekat. "Arkan, Papa di sini."
Arkan justru mundur sampai punggungnya membentur kepala ranjang. Tatapannya melewati ayahnya, tertuju pada Nadhira yang berdiri dekat pintu.
Nadhira tidak langsung memeluk. Ia duduk di lantai agar tubuhnya tidak menjulang.
"Kamu di kamar. Lampunya menyala. Pintu terbuka."
Napas Arkan tersengal. Keringat membasahi rambut di pelipisnya. Ia meraih udara dengan tangan gemetar.
"Mama!"
Satu kata itu membuat seluruh ruangan diam.
Nadhira bergerak setelah Arkan sendiri mengulurkan kedua tangan kepadanya. Ia duduk di tepi ranjang dan membiarkan bocah itu menempel ke dadanya. Tubuh kecilnya panas karena ketakutan, bukan demam.
"Mama di sini," bisik Nadhira. "Tidak ada yang pergi."
Arkan mencengkeram bagian depan baju tidurnya. "Mama..."
Kata itu diulang seperti tali yang menjaga dirinya agar tidak jatuh kembali ke mimpi.
Nadhira mengusap punggungnya dengan irama tetap. Ia menyebut benda-benda yang ada di kamar.
"Ada lampu. Ada beruang. Ada Papa di pintu. Dengar suara pendingin? Kita di rumah."
Perlahan, napas Arkan mengikuti irama tangannya.
Rayhan tidak masuk lebih jauh. Ia berdiri di ambang pintu, satu tangan masih pada gagang, memandang putranya bersembunyi dalam pelukan perempuan yang baru dua minggu menjadi istrinya. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya memerah tipis.
Alif muncul dari koridor sambil menyeret selimut. "Mama?"
Nadhira membuka satu lengan. Alif memanjat ranjang dan duduk di sisi lain.
"Arkan takut," bisik Nadhira.
Alif menepuk kaki Arkan dengan telapak kecil. "Jangan takut. Arkan adik Alif."
Usia mereka hampir sama, bahkan Arkan sedikit lebih tua. Namun, bagi Alif, kata adik berarti seseorang yang akan ia jaga.
Arkan tidak membantah. Tangannya tetap memegang baju Nadhira, sementara kaki mereka bersentuhan di bawah selimut.
Rayhan mengambil boneka beruang dari lantai dan meletakkannya di dekat Arkan. "Saya ambil air."
Ia kembali dengan gelas, termometer, dan kain hangat. Nadhira memeriksa suhu Arkan. Normal. Setelah beberapa teguk air, kelopak mata bocah itu mulai berat.
"Tidur," bisik Nadhira. "Mama tetap di sini."
Arkan baru melepaskan bajunya setelah tertidur. Bahkan saat itu, jemarinya masih melingkar di pergelangan Nadhira.
Rayhan membawa Alif kembali ke kamar sebelah. Bocah itu sempat protes, tetapi tenang setelah pintu penghubung dibiarkan terbuka. Rayhan lalu kembali dan meletakkan selimut tipis di bahu Nadhira.
"Anda bisa membangunkan saya kalau lelah."
"Dia akan panik kalau tangannya kosong."
Rayhan memandang jari putranya yang memegang Nadhira. "Terima kasih."
Hanya dua kata. Suaranya lebih rendah daripada biasa.
Nadhira duduk di sisi ranjang sampai azan subuh terdengar jauh dari masjid kompleks. Setiap kali mimpi membuat Arkan bergerak gelisah, ia menyebut lampu, pintu, rumah, dan orang-orang yang masih ada. Menjelang pagi, tidur bocah itu akhirnya pulas.
Arkan bangun ketika cahaya tipis masuk dari celah tirai. Ia melihat tangannya sendiri masih memegang pergelangan Nadhira, lalu menatap wajah perempuan itu. Ingatan malam tadi tampak kembali sedikit demi sedikit. Pipinya memerah.
Nadhira tidak mengulang kata yang telah diucapkannya. "Kamu sudah aman."
Arkan melepaskan tangan dan menunduk.
"Tadi malam kamu memanggil karena takut," lanjut Nadhira. "Kamu boleh memanggilku Nadhira kalau belum siap. Kamu juga boleh tidak bicara. Tidak ada yang marah."
Bocah itu menatap pintu, seolah mencari jalan untuk melarikan diri dari rasa malu. Nadhira bangkit perlahan, tetapi ujung lengan bajunya tersangkut.
Arkan memegangnya.
Tidak ada kata kedua. Hanya jari kecil yang meminta ia tidak pergi.
Nadhira duduk kembali.
Rayhan muncul membawa baki sarapan ringan. Ia berhenti ketika melihat tangan putranya pada lengan Nadhira. Kali ini ia tidak menyembunyikan perubahan pada mata. Ia meletakkan baki, membalik wajah sesaat, lalu merapikan gelas yang sebenarnya sudah lurus.
Alif masuk sambil mengucek mata. "Arkan bangun?"
Ia naik ke ranjang dan menyodorkan setengah mobil merah yang retak. "Ini buat adik. Nanti Papa beli lem."
Kata Papa keluar begitu alami hingga Nadhira dan Rayhan sama-sama menoleh. Alif tidak menyadarinya. Ia sibuk menaruh mainan di pangkuan Arkan.
Rayhan berjongkok. "Iya. Nanti Papa perbaiki."
Arkan menyentuh bodi mobil yang patah, lalu menggesernya ke tengah agar bisa dipegang bersama Alif. Untuk pertama kalinya, dua anak itu berbagi benda yang bukan makanan atau buku.
Setelah salat dan sarapan ringan, kedua anak tertidur lagi di ruang keluarga. Nadhira hampir ikut terlelap di sofa ketika suara kendaraan berhenti di halaman.
Rayhan masuk membawa sebuah pet carrier.
Gerakan kecil terdengar dari dalam. Hidung hitam muncul di balik jeruji, disusul sepasang mata bulat dan bulu hitam kecokelatan.
Nadhira langsung teringat ucapan Dinda.
Anak anjing hitam.
"Kamu memang sudah merencanakan ini?" tanyanya.
Rayhan meletakkan carrier. "Sejak sebelum akad. Gilang membantu mencari tempat adopsi yang memeriksa kesehatan dan vaksin awalnya. Saya menunggu Arkan cukup pulih."
Dinda tidak mungkin mengetahui rencana yang bahkan belum diberitahukan kepada staf rumah.
Sebelum Nadhira sempat mengatakannya, suara kuku kecil membangunkan Alif. Ia turun dari sofa dengan mata masih sembap.
"Anjing?"
Arkan duduk pelan di sebelahnya. Ketika Rayhan membuka pintu carrier, anak anjing itu keluar, mengendus lantai, lalu menjilat jari kaki Alif.
Alif tertawa dan mundur. "Geli!"
Arkan menahan napas. Anak anjing itu mendekat tanpa menggonggong, hanya mengibaskan ekor. Nadhira berjongkok di samping Arkan.
"Kalau belum mau pegang, lihat dulu."
Arkan mengulurkan satu jari. Lidah kecil menyentuhnya. Senyum yang muncul kali ini lebih lebar daripada di taman.
"Namanya siapa?" tanya Alif.
Nadhira melihat warna bulunya. "Kopi?"
Alif mengulang dengan senang, "Kopi!"
Arkan mengusap kepala anak anjing itu. Bibirnya bergerak tanpa suara, tetapi tangannya tidak menarik diri.
Rayhan berdiri di belakang mereka. Untuk beberapa menit, ruang keluarga dipenuhi tawa anak, suara kuku Kopi, dan perintah sederhana agar Alif tidak menarik ekor. Rumah besar itu akhirnya terdengar seperti tempat tinggal, bukan hotel yang terlalu sunyi.
Gilang telah menyelipkan buku vaksin, catatan pemeriksaan, dan nomor dokter hewan di sisi carrier. Rayhan membacakan aturan sederhana kepada kedua anak meski belum tentu semuanya dipahami.
"Kopi tidak boleh ditarik telinga atau ekornya. Setelah bermain, cuci tangan. Makanannya bukan makanan kalian."
Alif mengangguk sangat serius. "Kopi tidak makan tempe?"
"Tidak dari piringmu," jawab Nadhira.
Arkan memegang tali kalung Kopi tanpa menarik. Nadhira menunjukkan cara membiarkan telapak tangan diendus lebih dulu. Koki rumah menyiapkan mangkuk air, sedangkan staf memindahkan kabel rendah dan benda kecil yang bisa digigit.
Tanggung jawab itu dibagi sejak awal. Kopi bukan hadiah yang akan dilupakan setelah satu foto lucu.
Ponsel Nadhira bergetar di meja.
Pesan WhatsApp masuk dari nomor tak dikenal. Lampirannya sebuah foto rumah Pradipta yang diambil dari luar pagar pagi itu.
Di bawah foto hanya ada satu kalimat.
`Kamu pikir bisa kabur?`