NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Keira Bersinar di Pesta

Rumah tua Hartono di Menteng menyala sejak sore.

Lampion emas tergantung di bawah pohon berusia puluhan tahun. Mobil-mobil hitam berhenti bergantian di depan tangga utama, menurunkan pemilik bank, pengusaha properti, keluarga industri, dan nama-nama lama yang biasa menentukan arah bisnis Jakarta dari meja makan pribadi.

Di lantai dua, Keira berdiri di depan cermin.

Gaun tulle merah muda jatuh ringan sampai mata kaki. Andy menyanggul rambutnya tanpa menarik kulit kepala, menyisakan beberapa helai lembut di sisi wajah. Satu untai mutiara berada di lehernya. Sepatu datar dengan penyangga khusus tersembunyi di balik rok.

Tubuhnya tetap kurus. Kaki kirinya tetap pincang. Tangan kirinya tetap hanya memiliki empat jari.

Andy tidak menyembunyikan satu pun dengan sarung tangan atau lapisan berat.

"Sakit?" tanyanya setelah memasang jepit terakhir.

"Tiga dari sepuluh."

"Kalau menjadi lima, masuk ruang istirahat. Jangan berdebat."

Amanda berdiri di dekat pintu dengan gaun hitam. Pisau kupu-kupunya tidak dibawa ke ballroom. Ia menggantinya dengan ponsel, obat Keira, dan kunci ruang istirahat di tas kecil.

"Jalur koridor staf kosong," katanya. "Kalau mau pergi, bilang satu kata."

Keira mengangguk.

Suara ratusan tamu naik dari lantai bawah. Tangannya mulai dingin. Di balik pintu itu akan ada orang-orang yang pernah membaca namanya sebagai terpidana dan menutup berita sebelum sampai pada bantahan. Akan ada keluarga Pratama. Akan ada kamera.

Rayhan mengetuk sebelum masuk.

Ia memakai setelan hitam. Sulaman peony buatan Keira berada di dada, kecil tetapi terlihat ketika terkena cahaya.

"Oma ingin memperkenalkanmu sebagai calon cucu menantu," katanya. "Kalau kamu tidak setuju, aku ubah pengumumannya sekarang."

"Semua orang sudah menerima kabar bahwa aku tunanganmu."

"Kabar bukan persetujuan."

Keira melihat pantulan mereka di cermin. Rayhan tidak mendekat sebelum ia menjawab.

"Untuk malam ini," kata Keira. "Sebagai perlindungan sosial, bukan perjanjian hukum."

"Baik."

"Dan setelah itu, keputusan kembali kepadaku."

"Selalu."

Rayhan mengulurkan lengan. Keira meletakkan tangan kanan di sana.

Mereka menuruni tangga utama perlahan.

Percakapan di ballroom melemah. Kepala-kepala menoleh ke arah yang sama. Cahaya lampu gantung memantul pada mutiara Keira, lalu bergerak di lapisan rok setiap kali ia menurunkan kaki kiri dengan hati-hati.

"Itu siapa?" bisik seorang tamu.

"Tunangannya Rayhan Hartono?"

"Bukankah dia putri keluarga Pratama yang baru keluar dari penjara?"

"Kasusnya berubah. Saksi sudah sadar."

Bisikan bergeser dari wajah, gaun, hingga cara Rayhan menyesuaikan langkah dengan Keira. Ia tidak menariknya lebih cepat. Ketika Keira berhenti sesaat di anak tangga terakhir, seluruh ballroom menunggu bersamanya.

Oma berdiri dari kursi utama. Kebaya merah tua dengan sulaman emas membuat tubuhnya yang berusia delapan puluh tahun tampak kecil, tetapi suaranya memenuhi ruangan.

"Kemari, Nak."

Keira berjalan menuju Oma.

Di sisi kiri ballroom, Edmond dan Yolanda berdiri membeku. Edmond menggunakan tongkat karena luka di paha belum pulih. Yolanda memakai berlian yang pernah ia katakan terlalu mahal untuk disentuh Keira.

Wajah keduanya kehilangan warna.

Mereka terbiasa melihat Keira dengan seragam kusut, kaus murah, atau pakaian sisa Vanessa. Di bawah perlindungan rumah Hartono, gadis yang mereka sebut tidak berguna berdiri seolah memang selalu memiliki tempat di antara keluarga lama Jakarta.

Kevin berada beberapa langkah dari mereka, tetapi datang dengan mobil terpisah. Tubuhnya lebih kurus setelah operasi. Ketika melihat Keira, matanya langsung merah.

Ia maju.

"Kei."

Langkah Keira tidak berhenti.

Kevin memegang undangan di tangannya, bukan hadiah. Ia telah membaca aturan tamu dan tidak mencoba menyentuh atau menghalangi jalan. Keira melewatinya seperti melewati seseorang yang pernah dikenal di tempat jauh.

Kevin menunduk. Ia tidak memanggil lagi.

Oma meraih empat jari kiri Keira dengan hati-hati, lalu menghadap para tamu.

"Ini calon cucu menantuku. Namanya Keira."

Beberapa orang bertepuk tangan. Sebagian lain hanya tersenyum karena melihat Rayhan. Oma mengetuk tongkat kecilnya ke lantai.

"Jangan bertepuk tangan karena dia berdiri di sebelah cucu Oma. Kenali dulu apa yang dia buat."

Tirai beludru di belakang panggung dibuka.

Bangau dan Pinus terbentang di dalam kotak kaca pengatur kelembapan. Benang abu-abu membentuk kabut yang berubah setiap dilihat dari sudut berbeda. Dua bangau hidup di antara akar pinus tua, satu berdiri dan satu terbang.

Di bawah karya itu ada pelat baru.

`Bangau dan Pinus`

`Seniman: Keira Pratama`

`Nilai lelang: Rp 50 miliar`

Hening jatuh sebelum suara kagum memenuhi ruangan.

Seorang kolektor mendekat sampai petugas museum meminta ia menjaga jarak. Pakar tekstil yang hadir menjelaskan enam lapis benang pada kabut dan teknik tusuk dua sisi yang jarang ditemukan. Tamu yang tadi menyebut penjara kini membaca nama Keira dua kali.

Kurator lelang naik ke panggung membawa salinan katalog asli. Ia menjelaskan bahwa penawaran dibuka tanpa nama pembuat dan diikuti empat kolektor dari tiga negara. Harga sudah mencapai Rp 42 miliar sebelum Rayhan memasukkan tawaran terakhir. Dengan demikian, nilai Rp 50 miliar bukan hadiah pribadi atau harga palsu untuk mengangkat calon pasangan.

"Penilaian konservatif setelah pemeriksaan serat justru lebih tinggi," katanya. "Masalah yang sedang kami koreksi adalah asal-usul dan hak senimannya."

Layar menampilkan riwayat perpindahan karya dari program kerja lapas, perantara pertama, koleksi privat, hingga rumah lelang. Bagian yang belum terbukti diberi tanda merah. Tidak ada lubang cerita yang disembunyikan hanya demi pesta.

"Karya ini dibuat di lapas," kata Oma. "Mereka mengganti nama senimannya dengan nomor dan membayarnya dengan dua bungkus mi. Keluarga Hartono sedang menelusuri hak ekonomi yang dirampas. Sampai selesai, karya ini tidak akan dipindahkan atau dijual lagi."

Keira memandang pelat itu.

Nama lengkapnya tercetak lebih besar daripada nomor lelang. Untuk pertama kalinya, hasil tangannya dipamerkan tanpa orang lain mengaku sebagai pemilik bakatnya.

Seorang perempuan dari keluarga perbankan bertanya, "Nona Keira, mengapa bangau kedua terbang menjauh?"

Keira menatap sulaman. "Karena burung yang terluka tetap berhak memilih arah setelah sayapnya pulih."

Jawaban itu menyebar lebih cepat daripada gosip gaunnya.

Tiga kartu nama diberikan kepadanya dalam waktu sepuluh menit. Seorang pemilik galeri meminta hak pamer. Seorang kolektor menawarkan komisi. Yang ketiga ingin membeli Peony Agung sebelum selesai.

Keira tidak menyerahkan kartu-kartu itu kepada Rayhan.

"Semua permintaan harus tertulis," katanya. "Hak cipta tetap atas namaku. Pembayaran masuk ke rekening kerjaku, bukan Pratama Group dan bukan Hartono Group. Peony Agung belum dijual."

Brandon menyiapkan alamat surel khusus di depan para tamu. Rayhan tidak memotong negosiasinya atau menetapkan harga. Pada malam yang dimaksudkan untuk memperkenalkan seorang calon pasangan, Keira lebih dulu memperkenalkan dirinya sebagai pekerja dan pemilik karya.

Rayhan tidak menjelaskan untuknya. Ia berdiri satu langkah di belakang, cukup dekat bila Keira membutuhkan tumpuan, cukup jauh agar semua orang melihat seniman di depan karyanya.

Edmond akhirnya bergerak mendekat.

"Keira, Papa perlu bicara."

Keira menoleh. "Nama itu cukup."

"Kamu masih anak keluarga Pratama. Semua yang kamu buat selama tinggal bersama kami dapat dianggap bagian dari aset keluarga."

Beberapa tamu mendengar. Yolanda segera menarik lengannya, tetapi Edmond sudah terlambat.

Keira menjawab tanpa meninggikan suara. "Bangau dan Pinus kubuat di lapas, ketika keluarga Pratama mencatat nol kunjungan dan tidak memberiku satu rupiah. Kalau mau mengklaimnya, ajukan di pengadilan. Bawa Kartu Keluarga yang bahkan tidak memuat namaku."

Mata para tamu beralih kepada Edmond.

Kevin menutup mata sesaat. Fakta KK kini tidak lagi berada di ruang keluarga. Seluruh lingkar konglomerat mendengarnya.

Yolanda mencoba tersenyum. "Nak, Papa sedang sakit dan banyak obat. Jangan mempermalukan keluarga di ulang tahun Oma."

"Tante Yolanda," kata Keira, "yang memalukan adalah lima tahun kebohongan. Bukan ketika korban mengucapkannya."

Kata Tante membuat senyum Yolanda runtuh.

Oma berdiri di samping Keira. "Kalau masih ada yang ingin meragukan tempat Nak Keira di rumah ini, bicara kepada Oma. Jangan berbisik di belakang gelas."

Tidak ada yang maju.

Musik kembali dimainkan. Bi Sari membawa semangkuk kecil sup untuk Keira sebelum jamuan utama. Andy memeriksa ujung rok dan memastikan tidak ada benang tersangkut. Amanda berdiri dekat jalur keluar, matanya tetap menyapu ruangan.

Keira duduk sepuluh menit di ruang istirahat ketika nyeri mencapai lima. Ia kembali bukan karena dipaksa, melainkan karena tubuhnya sudah siap.

Saat ia muncul lagi, para tamu menyebut namanya tanpa embel-embel penjara.

Mereka menyebut karya, teknik, dan keberaniannya berdiri di depan keluarga yang membuangnya.

Di sisi lain ballroom, Brandon mendekati Edmond dan Yolanda bersama dua petugas keamanan.

"Om Edmond, Tante Yolanda," katanya sopan. "Ko Rayhan meminta waktu di ruang samping."

"Untuk apa?" tanya Edmond.

"Beberapa urusan keluarga yang tidak pantas dibicarakan di depan Oma."

Kevin hendak mengikuti, tetapi Arief menghalangi dengan telapak terbuka.

"Hanya dua nama dalam permintaan, Pak Kevin."

Kevin melihat Keira sedang berbicara dengan kurator. Ia tidak ingin membuat keributan yang kembali menyeret namanya. Akhirnya ia membiarkan orang tuanya pergi.

Pintu ruang samping tertutup.

Dindingnya dilapisi panel tebal. Musik ballroom terdengar jauh.

Edmond baru menyadari tidak ada kursi untuk Yolanda. Dua petugas keamanan menekan bahunya ke kursi tunggal. Tongkat yang ia bawa jatuh ke karpet.

Rayhan mengambil tongkat itu.

"Om Edmond, Tante Yolanda, ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan."

"Ini penculikan," kata Edmond. "Aku akan memanggil polisi."

"Silakan setelah percakapan selesai."

Rayhan berdiri di depannya, memegang tongkat milik Edmond.

"Om Edmond, lima tahun lalu kamu melihat anakmu patah kaki dan diam saja. Sekarang..."

Tongkat itu terangkat tinggi.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!