NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: LOMBA MENGGAMBAR DAN HARGA DIRI

Sejak hari pertama masuk SD Sumbermulyo, Rangga menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Setiap pagi ia bangun lebih awal, membantu Nenek Saroh mengambil air dan membersihkan rumah, lalu berangkat ke sekolah dengan langkah cepat. Ia tidak pernah terlambat, tidak pernah bolos, dan selalu duduk di barisan depan dengan mata berbinar-binar mendengarkan penjelasan Bu Siti.

Bu Siti adalah guru yang luar biasa—muda, sabar, dan penuh dedikasi. Meskipun gajinya kecil dan fasilitas sekolah sangat terbatas, ia mengajar dengan sepenuh hati. Ia mengajari anak-anak membaca dengan metode yang menyenangkan, menulis di papan tulis hitam yang kapurnya sering habis, dan berhitung menggunakan batu kerikil yang dikumpulkan dari sungai. Rangga menyukai semua pelajaran, tetapi ia paling suka menggambar.

Di istana dulu, Rangga sering menggambar di buku sketsa mahal yang dibelikan ibunya—buku dengan kertas tebal bertekstur, pensil warna dari Jerman, dan spidol impor. Namun gambarnya selalu datar, tanpa jiwa, karena ia hanya menggambar benda-benda mati di sekitarnya: kolam renang, mobil mewah, atau pemandangan dari jendela kamar yang membosankan. Di desa, ia menemukan inspirasi baru: sawah yang menguning, gunung berkabut, sungai berkilau, ayam-ayam yang berlarian, dan wajah-wajah teman-temannya yang penuh ekspresi.

Suatu pagi, Bu Siti mengumumkan sesuatu yang membuat seluruh kelas bersorak. "Anak-anak, minggu depan ada lomba menggambar tingkat kecamatan di SD Negeri Kedungwungu. Setiap sekolah diutus satu wakil. Siapa yang mau ikut?"

Tangan-tangan kecil terangkat bersamaan. Joko, Ucok, Karti, Dullah—semua ingin ikut. Namun Bu Siti tersenyum dan berkata, "Kita akan adakan seleksi kecil di kelas. Siapa yang menggambar terbaik, dialah wakil kita."

Seleksi itu diadakan pada hari yang sama. Bu Siti memberikan tema: "Pemandangan Favoritku." Setiap anak diberikan selembar kertas bekas yang masih kosong di bagian belakang, dan satu batang pensil yang sudah pendek. Rangga duduk di bangkunya, memejamkan mata sejenak, lalu tangannya mulai bergerak. Ia menggambar pemandangan yang paling ia sukai: gubuk Nenek Saroh di atas bukit, dengan sawah di bawah, sungai berliku, dan matahari terbit di kejauhan. Di depan gubuk, ia menggambar sesosok nenek tua sedang duduk di teras, dan seorang anak kecil bermain dengan ayam-ayam. Itu adalah gambaran kehidupannya sekarang—sederhana, tetapi penuh cinta.

Bu Siti berkeliling melihat hasil karya anak-anak. Ia berhenti di meja Rangga, matanya membulat. "Rangga… ini… ini sangat bagus!" serunya, tidak bisa menyembunyikan kekaguman. "Kau benar-benar berbakat. Detailnya, komposisinya, ekspresi wajah nenekmu… ini seperti lukisan, bukan gambar anak kelas dua SD!"

Anak-anak lain berkerumun melihat gambar Rangga. Ada yang bersorak, ada yang cemburu. Ucok, yang gambarnya hanya berupa gunung segitiga dan matahari bulat, mengerucutkan bibir. "Wah, Rangga juara deh. Kita semua kalah telak."

Joko menepuk pundak Rangga. "Selamat, teman! Kau wakil kita ke kecamatan!"

Rangga tersenyum, tetapi di dalam hatinya ada kegembiraan yang meluap. Ia tidak pernah menang lomba apapun di istana dulu—semua piala dan penghargaan yang ia miliki adalah hasil pembelian orang tuanya, bukan hasil usahanya. Kini, untuk pertama kalinya, ia meraih sesuatu dengan tangannya sendiri.

Namun ada satu masalah. "Bu Siti, untuk lomba di kecamatan, kita butuh alat gambar yang lebih lengkap. Pensil warna, krayon, kertas gambar," kata Rangga pelan. "Saya… tidak punya."

Bu Siti mengerutkan dahi. Ia tahu kondisi ekonomi sebagian besar muridnya. "Kita akan meminjam dari sekolah. Aku punya beberapa krayon sisa, dan kertas gambar bekas. Cukup, kok."

Rangga mengangguk, tetapi ia tahu krayon sisa dan kertas bekas tidak akan cukup untuk bersaing dengan anak-anak dari sekolah yang lebih kaya di kecamatan. Namun ia tidak mau mengeluh. Ia hanya bertekad untuk memberikan yang terbaik.

Hari-hari menjelang lomba, Rangga berlatih setiap malam di bawah lampu minyak tanah. Nenek Saroh duduk di sampingnya, sesekali mengusap kepalanya. "Nak, Nenek tidak punya uang untuk membelikanmu alat gambar yang mahal. Tapi Nenek bisa memberi sesuatu yang lebih berharga," kata Saroh sambil mengambil sepotong arang sisa dari tungku. "Ini arang. Dulu, kakekmu suka menggambar dengan arang di atas daun pisang. Warnanya hitam pekat, dan kalau kau goreskan dengan lembut, bisa membuat efek bayangan yang indah."

Rangga mencoba. Ia menggambar dengan arang di atas kertas bekas, menciptakan gradasi hitam-putih yang menakjubkan. Ia menemukan bahwa arang bisa menghasilkan tekstur yang tidak bisa dibuat oleh pensil warna. Ia berlatih setiap malam, menggambar pemandangan yang sama berulang-ulang hingga sempurna.

Hari lomba tiba. Rangga berangkat pagi-pagi dengan Nenek Saroh yang berjalan kaki menemaninya ke SD Negeri Kedungwungu, sekitar lima kilometer dari desa. Di sana, ada puluhan anak dari berbagai sekolah di kecamatan. Mereka datang dengan perlengkapan mewah—kotak pensil warna 48 warna, krayon profesional, kertas gambar tebal bertekstur. Rangga hanya membawa kertas bekas dan arang sisa tungku.

Anak-anak lain menatapnya dengan heran. "Pakai arang? Kampungan sekali!" bisik seorang anak laki-laki berambut rapi dengan seragam baru. Teman-temannya tertawa.

Rangga menggenggam arangnya erat. Dadanya berdebar, tetapi ia mengingat kata-kata Nenek: "Yang penting bukan alatnya, Nak. Yang penting isi hatimu." Ia mengambil napas dalam, lalu mulai menggambar. Tangannya bergerak lincah, menciptakan garis-garis gelap yang perlahan berubah menjadi pemandangan sawah di pagi hari, dengan seorang nenek dan cucu sedang berjalan di pematang sawah. Bayangan dari arang memberi efek dramatis—cahaya matahari yang menyinari dari sudut, embun pagi yang berkilau di daun padi, dan senyum di wajah nenek yang ia gambar dengan penuh cinta.

Ketika waktu habis, semua karya dikumpulkan. Juri—tiga orang guru senior dari kecamatan—memeriksa satu per satu. Mereka berbisik-bisik, kadang mengangguk, kadang menggeleng. Rangga menunggu dengan hati berdebar.

Akhirnya, pengumuman tiba. "Juara pertama lomba menggambar tingkat kecamatan adalah… Rangga Hidayat dari SD Sumbermulyo!"

Rangga tidak percaya. Ia membeku di tempat, lalu melompat kegirangan. Anak-anak dari sekolah lain menatapnya dengan mulut ternganga—mereka tidak menyangka anak dengan arang sederhana bisa mengalahkan mereka. Rangga naik ke panggung, menerima piala kecil dan hadiah berupa satu paket buku tulis dan pensil warna lengkap. Ia menatap piala itu—terbuat dari plastik murah, tidak seperti piala emas di istananya dulu—tetapi baginya, itu adalah piala termahal di dunia.

Nenek Saroh yang menonton dari belakang menangis haru. Rangga berlari ke pangkuannya, memeluknya erat. "Nenek, aku menang! Aku menang!"

"Tentu, Nak. Nenek tahu kau bisa," bisik Saroh sambil mengusap air matanya. "Nenek bangga padamu."

Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Rangga memegang piala dan paket hadiah, dan untuk pertama kalinya ia merasa bahwa ia bisa menjadi seseorang—bukan hanya anak korban pembunuhan, bukan hanya anak buangan, tetapi Rangga yang memiliki bakat dan masa depan. Sepanjang jalan, ia bercerita tentang lomba, tentang gambarnya, dan tentang bagaimana ia menggunakan arang sisa tungku.

"Nenek, arang yang Nenek beri itu seperti sihir! Semua orang terkesima dengan efek bayangannya," kata Rangga bersemangat.

Nenek Saroh tersenyum. "Bukan sihir, Nak. Itu cinta. Kau menggambar dengan cinta, dan cinta itu terlihat oleh semua orang. Itulah yang membuat karyamu istimewa."

Malam harinya, Rangga membagi hadiahnya dengan teman-teman. Ia memberikan beberapa buku tulis untuk Joko, Ucok, Karti, dan Dullah. Mereka bersorak gembira. Ucok, yang dulu usil, kini memeluk Rangga. "Kau hebat, Rangga. Aku malu pernah mengejekmu. Besok kita main gasing, ya. Aku kasih kau gasing terbaikku."

Rangga tertawa. "Siap. Tapi kali ini aku yang menang, ya!"

Semua tertawa. Di bawah pohon beringin yang rindang, di antara teman-teman yang ia sayangi, Rangga merasa bahwa hidupnya mulai berwarna. Ia memiliki tujuan, ia memiliki impian, dan ia memiliki orang-orang yang mencintainya. Itu lebih dari cukup.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!