Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Pukul sepuluh pagi. Rumah bergaya minimalis modern milik Jesika di kawasan Jakarta Barat yang kemarin sunyi mencekam mendadak diguncang oleh ketukan keras di pintu pagar besi depannya.
Jesika, yang sejak semalam tidak bisa tidur nyenyak karena panik memikirkan nasib Mas Aris dan aksi nekatnya mengusir Mama Rahma kemarin sore, melangkah keluar dengan raut wajah kusam dan mata sembab. Ia baru saja selesai merias wajahnya tipis-tipis agar tidak terlihat kacau saat menyambut Reno suaminya dan Mama Reno yang dijadwalkan datang siang nanti untuk makan bersama.
Namun, begitu ia menggeser pintu pagar, bukan Reno atau mertuanya yang berdiri di sana.
Tiga pria berjas hitam tegap dengan map kulit tebal di tangan didampingi dua petugas kepolisian berpakaian dinas dan seorang jurusita dari Pengadilan Negeri berdiri tegak menatap Jesika dengan pandangan kaku tanpa kompromi.
"Selamat pagi. Benar dengan Saudari Jesika Pratama?" tanya pria berjas hitam yang berdiri paling depan dengan nada resmi.
Jesika terperanjat mundur setengah langkah, matanya membelalak panik. "I-iya, benar... Saya Jesika. Ada urusan apa ya? Kok sampai bawa-bawa polisi segala?!"
Pria berjas hitam itu merogoh tanda pengenal dari balik saku jasnya. "Saya Hendra, kepala tim eksekusi hukum dan perdata dari kantor hukum Tan & Partners, mewakili klien kami, Ibu Titania Pratama dan Glowinc Group."
Mendengar nama Titania dan Tan & Partners (kantor hukum milik Ko Felix), tubuh Jesika seketika gemetar hebat.
"M-Mbak Tita?!" bisik Jesika parau. "Mbak Tita mau apa lagi?! Kan yang bermasalah Mas Aris! Kenapa malah mendatangi rumah saya?!"
Pengacara Hendra tersenyum dingin, menyodorkan sekoper berkas tebal dan sebuah surat penetapan sita resmi berstempel basah dari pengadilan.
"Kami ke sini untuk menyerahkan dua hal, Saudari Jesika," ucap Hendra tegas. "Pertama, surat penetapan sita eksekusi atas rumah yang Saudari tempati ini serta satu unit mobil merah di halaman Anda."
Deg.
Darah di tubuh Jesika serasa berhenti mengalir. Wajahnya seketika seputih kertas. "A-apa?! Sita rumah dan mobil?! Nggak bisa gitu dong! Ini rumah saya! Mobil ini milik saya!"
"Rumah ini dibeli menggunakan dana down payment sebesar tiga ratus lima puluh juta rupiah yang bersumber langsung dari rekening operasional anak perusahaan Glowinc Group yang digelapkan oleh Aris Pratama," jelas Hendra tanpa emosi. "Sedangkan cicilan mobil dan seluruh biaya operasionalnya dibayar menggunakan aliran dana penipuan yang dialihkan ke rekening pribadi Saudari selama dua tahun terakhir."
"Tapi saya tidak tahu apa-apa! Saya cuma terima uang dari Mas Aris dan Mbak Tita!" jerit Jesika histeris.
"Ketidaktahuan Anda tidak menghapuskan tindak pidana penampungan dana hasil kejahatan atau Pencucian Uang, Saudari Jesika," potong Hendra tajam.
"Rekening bank Anda atas nama Jesika Pratama saat ini sudah resmi dibekukan oleh pihak kejaksaan."
"D-dibekukan...?" Jesika memegangi dadanya yang terasa sangat menyesak. Seluruh tabungan, uang simpanan, dan saldo di dalam rekeningnya... musnah dalam sekejap.
Namun, penderitaan Jesika tidak berhenti sampai di situ. Pengacara Hendra membuka map kulit kedua, mengeluarkan selembar dokumen berstempel hukum khusus.
"Dan yang kedua..." sambung Hendra, menatap Jesika dengan pandangan penuh intimidasi. "Kami menyerahkan Surat Tagihan Pelunasan Piutang dan Eksekusi Jaminan atas transaksi Voucher Belanja Butik La Rose senilai lima puluh juta rupiah yang Anda tanda tangani lima bulan lalu."
Jesika membelalakkan mata. Ingatannya mendadak terlempar kembali ke masa lalu saat Mama Rahma membawakan voucher belanja lima puluh juta rupiah dari Tita demi membeli tas bermerek untuk kado mertuanya.
"V-voucher itu...? Tapi... tapi kata Mama itu hadiah gratis dari Mbak Tita!" gagap Jesika dengan suara melengking panik.
"Di dalam klausul perjanjian pengalihan piutang di bawah tangan yang Anda tanda tangani saat menerima voucher tersebut," tegas Hendra, menunjuk baris tanda tangan Jesika di lembaran dokumen resmi itu, "disebutkan secara jelas bahwa voucher tersebut bersifat piutang mengikat pribadi yang wajib dilunasi penuh dalam jangka waktu sembilan puluh hari, atau dijaminkan dengan seluruh aset pribadi milik penerima jika terjadi gagal bayar."
Jesika membeku total. Jemarinya bergetar hebat saat membaca lembaran dokumen yang disodorkan. Di sana, tertera jelas tanda tangan basah miliknya sendiri! Dulu, karena terlalu gembira dan terbuai kemewahan semu, ia menandatangani berkas tersebut tanpa membaca satu klausul pun persis seperti jebakan manis yang dirancang Tita sejak awal.
"Karena batas waktu pelunasan sudah lewat dan Anda gagal membayar piutang lima puluh juta rupiah tersebut beserta bunga dan denda keterlambatan yang kini terakumulasi menjadi seratus dua puluh juta rupiah," lanjut Hendra dengan suara lantang, "maka seluruh barang pribadi, tas-tas bermerek, serta perhiasan milik Anda yang dibeli dari Butik La Rose dan dana hibah Tita... resmi disita negara dan diserahkan kembali kepada klien kami hari ini juga!"
"NGGAK! NGGAK BISA!" jerit Jesika bagaikan orang gila. "Itu tas-tas mahal saya! Itu perhiasan saya!"
Tanpa memedulikan jeritan histeris Jesika, tim eksekusi bersama petugas sipil langsung melangkah masuk menerobos pintu rumah. Mereka membawa label stempel penyitaan berwarna kuning bernaskah hukum resmi, menempelkannya di pintu utama, mobil merah Jesika, hingga melangkah naik ke lantai dua menuju kamar pribadi Jesika.
Jesika berlari kencang menyusul ke lantai dua. Namun pemandangan di dalam kamarnya membuat jiwanya hancur berkeping-keping.
Petugas dengan sigap membuka lemari kaca mewahnya, mengangkut puluhan tas desainer bermerek Chanel, Gucci, dan Louis Vuitton termasuk tas kado yang dibelinya dari voucher La Rose dulu serta kotak-kotak perhiasan emasnya ke dalam kotak kayu penyitaan.
"Jangan ambil barang-barang saya! Tolong!" tangis Jesika pecah, ia berlutut merayap mencoba menahan kaki petugas hukum. "Siang ini suami dan ibu mertua saya mau datang! Kalau barang-barang saya disita dan rumah ini distempel, saya bisa diceraikan! Tolong kasihanilah saya!"
Pengacara Hendra melangkah mendekati Jesika yang tergeletak di lantai, menatap wanita muda yang dulu sangat sombong dan selalu memeras Tita itu dengan pandangan dingin.
"Ibu Titania Pratama tidak pernah mengenal kata kasihan untuk keluarga penipu," ucap Hendra dingin. "Anda memiliki waktu tiga puluh menit untuk mengosongkan rumah ini dan memindahkan barang-barang pribadi luar Anda. Setelah itu, rumah ini akan disegel secara hukum."
"Titaaa! Kamu jahat banget, Tita!" histeris Jesika meraung-raung di atas lantai kamarnya yang dingin.
Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti di depan pintu pagar rumah Jesika. Mama Reno ibu mertua Jesika turun dari mobil bersama Reno untuk menghadiri acara makan siang yang sudah dijanjikan.
Namun, langkah kaki mereka terhenti seketika di depan gerbang.
Pemandangan di hadapan mereka sungguh sangat memalukan dan mengerikan.
Stempel garis kuning penyitaan dari Pengadilan Negeri dan Kepolisian terpasang silang di pintu pagar dan mobil merah Jesika. Di tepi jalanan konblok, Jesika duduk bersimpuh di atas tanah di samping dua koper pakaian lusuh.
Wajahnya sembab parah, rambutnya acak-acakan, dan makeup cantiknya luntur berantakan oleh air mata.
"J-Jesika?!" seru Reno kaget, melangkah mendekat. "Ini... ini ada apa?! Kenapa rumah kita dipasang stempel penyitaan pengadilan?!"
Mama Reno membaca tulisan besar di kertas stempel kuning tersebut. BARANG SITAAN NEGARA ATAS KASUS PENIPUAN DAN PENCIUCIAN UANG ARIS PRATAMA & JESIKA PRATAMA.
Seketika, raut wajah Mama Reno berubah menjadi sangat jijik dan penuh kemarahan.
"Berita di TV dan HP ternyata benar!" bentak Mama Reno dengan nada suara tajam merendahkan. "Keluargamu itu ternyata keluarga penjahat dan penipu. Abangmu masuk penjara karena penggelapan dana dan kamu sendiri ternyata ikut menikmati uang haram?!"
"Mama... tolong dengarkan penjelasan Jesi dulu, Ma..." panggil Jesika memohon, mencoba memegang ujung gaun ibu mertuanya sambil menangis terisak-isak. "Ini semua cuma salah paham... Jesi cuma korban..."
"Jangan sentuh baju saya dengan tangan kotor penipu!" kibas Mama Reno kasar, memukul tangan Jesika hingga terlepas. "Bikin malu keluarga saja! Dulu ngaku-ngaku orang kaya, ternyata cuma hasil meras menantu sah abangmu! Reno, ceraikan perempuan penipu ini sekarang juga!"
"Mama Reno! Mas Reno, tolongin aku, Mas!" jerit Jesika menatap suaminya.
Namun Reno, yang takut kehilangan fasilitas dan uang dari ibunya, justru menatap Jesika dengan pandangan penuh rasa malu dan marah. "Kita selesai, Jes. Aku nggak mau terseret kasus hukum kamu dan keluarga penipumu itu!"
Reno berbalik badan menyusul ibunya kembali masuk ke dalam mobil sedan mewah tanpa peduli lagi.
BRUAM!
Mobil sedan itu melaju kencang meninggalkan kompleks perumahan, memercikkan air genangan jalanan ke arah pakaian Jesika.
Jesika meremas konblok jalanan dengan jemarinya yang berdarah, menangis meraung-raung di bawah terik matahari Jakarta.
Niatnya mengusir Mama Rahma kemarin demi menyelamatkan posisinya di mata keluarga suami justru berujung sia-sia. Rumah mewahnya disita, barang-barang mahalnya diangkut, rekeningnya dibekukan, dan ia diceraikan secara menyedihkan. Karma atas keserakahan dan kesombongannya telah dibayar tuntas.
Sementara itu, di dalam kantor CEO Glowinc Group.
Aku duduk anggun di balik meja kerjaku, menyesap secangkir teh chamomile hangat yang disajikan oleh Siska. Di layar komputer depanku, pengacara Hendra baru saja mengirimkan laporan foto dan video proses eksekusi penyitaan rumah Jesika serta perceraiannya di depan rumah.
Klek.
Pintu ruang kerjaku terbuka. Kak Olan dan Ko Felix melangkah masuk dengan senyuman puas di wajah mereka.
"Laporan eksekusi piutang voucher La Rose dan penyitaan aset Jesika sudah selesai," ucap Kak Olan sembari mendudukkan dirinya di sofa ruangan. "Jesika sekarang sudah resmi ditendang oleh keluarga suaminya dan tidak punya tempat tinggal."
Aku mengangguk pelan, mematikan layar komputer.
"Voucher belanja lima puluh juta di Bab 2 dulu..." gumamku lirih dengan senyuman tipis yang sangat dingin. "Mungkin dulu Ibu Rahma dan Jesika tertawa karena mengira berhasil membodohi dan memeras aku. Tapi mereka tidak pernah sadar bahwa setiap rupiah uang yang keluar dari tanganku... sudah kusiapkan jerat hukumnya."
Ko Felix yang menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerjaku menyunggingkan senyuman miring yang sangat tipis.
"Keluarga Pratama sekarang sudah hancur total," bisik Ko Felix dengan suara beratnya yang menenangkan. "Aris di sel isolasi, ibunya terlunta-lunta di jalanan, dan adiknya jatuh miskin tanpa ada satu orang pun yang sudi menolong."
Aku memandangi pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta dari jendela kaca kantorku. Rasa sesak dan penderitaan yang kusimpan selama lima tahun pernikahan bersama Aris kini telah berganti menjadi kedamaian yang mutlak.
"Terima kasih, Kak Olan... Ko Felix," ucapku tulus, menatap dua pria pelindungku. "Permainan sudah berakhir. Dan keadilan sudah berdiri tegak di tempat yang seharusnya."
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣