Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Keesokan paginya, semburat cahaya fajar mengintip di balik gorden kamar losmen, perlahan mengusir kabut tebal Gunung Kawi.
Diaz membuka matanya perlahan, mendapati tubuhnya jauh lebih segar setelah istirahat semalaman.
Begitu menoleh, ia melihat Ganda baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi.
Ganda melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang.
Wajahnya menyiratkan rasa bersalah yang amat besar saat menatap istrinya.
"Sayang, maafkan Mas, ya..." ucap Ganda lembut, menggenggam tangan Diaz.
"Sepertinya bulan madu kita harus ditunda dulu. Papa Laura semalam menelepon dan memintaku untuk datang ke rumahnya hari ini. Mas harus menyelesaikan semuanya sampai tuntas agar tidak ada lagi ganjalan di antara kita. Ayo, kita pulang ke rumah dulu..."
Diaz menatap suaminya lekat-lekat. Tanpa banyak bicara atau mengeluh, ia menganggukkan kepalanya dengan dewasa.
Ia tahu, badai ini harus benar-benar diredam agar masa depan mereka bisa tenang.
Sepanjang perjalanan pulang membelah jalanan pegunungan yang berkelok, keheningan sempat menyelimuti kabin mobil.
Diaz menatap profil samping wajah suaminya yang fokus menyetir. Ada satu ketakutan yang sejak semalam mengusik benaknya.
"Mas..." panggil Diaz lirih, membuat Ganda menoleh sekilas.
"Kalau, nanti Laura meminta rujuk dan keluarganya menekanmu, bagaimana?"
Ganda tersenyum tipis, lalu meraih tangan kiri Diaz dan mengecup punggung tangannya dengan penuh keyakinan.
"Aku sudah menjatuhkan talak tiga, Sayang. Secara hukum agama, itu sudah mutlak dan tidak mungkin ada kata rujuk kembali. Kamu tidak perlu khawatir, fokus saja pada pemulihanmu, nggih."
Mendengar ketegasan Ganda, perasaan Diaz menjadi jauh lebih tenang.
Sesampainya di rumah baru mereka, Ganda memarkirkan mobil. Ia menuntun Diaz masuk ke dalam rumah dengan hati-hati.
"Kamu istirahat di dalam, ya. Kunci pintunya dari dalam dan jangan buka untuk siapa pun sampai Mas datang," titip Ganda protektif. Diaz mengangguk patuh dan langsung mengunci pintu begitu Ganda melangkah pergi.
Namun, tanpa sepengetahuan Ganda, sebuah mobil sedan perak terparkir agak jauh di ujung gang.
Dari balik kaca mobil yang gelap, sepasang mata milik Laura menatap kedatangan mereka dengan kilat kebencian yang mendalam.
Begitu melihat Ganda melajukan kembali mobilnya menuju rumah orang tuanya, Laura langsung menginjak gas, menghampiri rumah itu.
Tok! Tok! Tok!
Di dalam rumah, Diaz terkejut mendengar ketukan pintu yang tergesa-gesa.
Sesuai pesan Ganda, ia tidak langsung membuka pintu.
"Siapa?" tanya Diaz setengah berteriak dari balik pintu.
"Saya tetangga sebelah, Mbak! Ini mau mengantarkan hantaran acara syukuran kemarin," jawab sebuah suara wanita, sengaja dibuat cengkok medok khas warga sekitar agar Diaz terkecoh.
Berpikir bahwa itu benar-benar tetangga yang berniat baik, Diaz memutar kunci dan membuka pintu rumah.
Namun, begitu daun pintu terbuka, jantungnya nyaris copot.
Sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah tetangga, melainkan Laura dengan wajah yang sudah distorsi oleh dendam.
"Hallo maduku, sudah puas kamu sekarang?" desis Laura, melangkah maju secara paksa hingga Diaz terdesak mundur ke ruang tamu.
"Kamu, sudah menghancurkan pernikahan dan hidupku dengan Mas Ganda! Dasar jalang! Kamu seharusnya tidak pernah hadir di dalam pernikahan kami sejak awal!!"
"Laura, pergi!! Keluar dari rumahku, atau aku akan berteriak sekencang-kencangnya!" ancam Diaz, mencoba bersikap tegar meski tubuhnya yang baru sembuh masih terasa lemas.
"Teriaklah, Diaz! Teriak sepuasmu!! Tidak akan ada yang mendengarmu!" pekik Laura kesetanan.
Mata Laura melirik ke sudut teras, mendapati sebuah tongkat kayu pajangan yang cukup tebal bersandar di sana.
Dengan gerakan cepat dan kalap, Laura menyambar tongkat tersebut, mengangkatnya tinggi-tinggi, bersiap untuk menghantamkan benda keras itu ke tubuh Diaz.
Namun, Laura salah menilai lawannya. Diaz bukanlah wanita lemah yang akan pasrah menerima pukulan.
Sebelum tongkat kayu itu sempat mengayun turun, dengan refleks yang sangat cepat dan tak terduga, Diaz memutar tubuhnya.
Kaki kanannya melesat maju, melakukan sebuah tendangan melingkar yang telak dan sangat keras tepat menghantam ulu hati serta rahang Laura.
Brak!
"Akh!" jerit Laura tertahan.
Tubuh Laura seketika terlempar ke belakang, menabrak pot bunga sebelum akhirnya ambruk ke lantai teras.
Tongkat kayu di tangannya terlepas dan menggelinding jauh.
Laura tidak bergerak lagi; ia langsung jatuh pingsan di tempat akibat hantaman tendangan Diaz yang begitu presisi dan bertenaga.
Diaz berdiri terengah-engah, menatap tubuh mantan istri suaminya yang kini terkapar tak berdaya di lantai teras rumahnya.
Ganda baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tua Laura.
Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menata hatinya yang berkecamuk sebelum melangkah keluar dan mengetuk pintu rumah mantan mertuanya itu.
Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang pintu mobil, ponsel di saku bajunya bergetar hebat.
Layar ponselnya menampilkan nama "Diaz". Ganda segera menggeser tombol hijau.
"Assalamu'alaikum, Dek. Mas baru saja sampai—"
"Mas, pulang sekarang," potong Diaz dari seberang telepon.
Suaranya terdengar datar, dingin, namun ada deru napas yang terengah-engah menahan emosi.
"Laura ada di rumah kita."
Deg.
"Apa?!" pekik Ganda, jantungnya mencelos seketika.
"Bagaimana bisa dia ada di sana? Mas segera kembali!"
Tanpa menunggu jawaban Diaz, Ganda menutup telepon, menyalakan mesin mobilnya dengan kasar, dan langsung memutar balik kendaraan itu.
Ia melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mengabaikan segala ketakutan yang berkecamuk di kepalanya.
Pikirannya dipenuhi bayangan buruk tentang keselamatan Diaz.
Mobil Ganda berhenti dengan decitan ban yang memekik di depan pagar rumah.
Ia melompat keluar dari kursi kemudi, berlari kencang menuju teras.
Namun, pemandangan yang menyambutnya sungguh di luar dugaan.
Di atas lantai teras, Laura tergeletak pingsan tidak sadarkan diri di dekat pot bunga yang pecah.
Sementara Diaz berdiri beberapa langkah di dekat pintu, bersedekap dada dengan wajah sedingin es, menatap tubuh Laura tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Melihat kekacauan itu, rasa panik dan lelah yang menumpuk sejak semalam mendadak membuat kepala Ganda mendidih.
Ia tidak sengaja meninggikan suaranya, meluapkan kemarahan karena menganggap Diaz terlalu menuruti emosinya tanpa memikirkan konsekuensi hukum jika Laura terluka parah.
"Diaz! Apa-apaan ini?!" seru Ganda dengan nada tinggi, matanya menatap tajam ke arah istrinya.
"Kenapa kamu harus pakai kekerasan sampai dia pingsan seperti ini? Kamu selalu saja emosi, Dek! Kalau dia menuntutmu atau melaporkanmu ke polisi karena penganiayaan, bagaimana?! Kenapa tidak bisa bicarakan baik-baik atau tunggu Mas pulang?!"
Mendengar bentakan Ganda yang justru menyalahkannya, Diaz tidak membalas dengan teriakan.
Ia justru menyunggingkan senyum sinis yang teramat getir. Matanya menatap Ganda dengan kekecewaan yang teramat dalam.
"Ternyata, kamu memang tidak pernah mencintaiku, Mas," ucap Diaz, suaranya bergetar namun terdengar tajam bagai sembilu.
"Kamu menikahiku hanya karena kasihan. Dan sekarang, saat mantan istrimu yang jelas-jelas berniat mencelakaiku terkapar, kamu malah membentakku?"
"Dek, bukan begitu maksud Mas—"
"Diam!" potong Diaz tegas.
Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel, lalu dengan cepat mengirimkan sebuah rekaman suara Laura ke nomor Ganda. "Lihat ponselmu."
Ting.
Ganda membuka ponselnya dengan tangan gemetar. Itu adalah sebuah rekaman suara dari ponsel Diaz.
Di dalam rekaman suara berdurasi singkat itu, terlihat jelas bagaimana Laura membohongi Diaz dengan mengaku sebagai tetangga, merangsek masuk secara paksa, memakinya dengan kata-kata kasar, hingga puncaknya mengambil tongkat kayu tebal dan bersiap menghantamkannya ke arah Diaz.
Baru setelah itulah ia mendengar suara Diaz yang membela diri untuk melindungi nyawanya sendiri.
Ganda membeku. Lidahnya seketika kelu. Ia menyadari kesalahannya yang telah salah menilai dan menuduh istrinya sendiri.
"Besok, urus perceraian kita," ucap Diaz dingin, membuat dunia Ganda seolah runtuh dalam sekejap.
Diaz melangkah maju, mendekati Ganda yang masih mematung.
Ia menunjuk tubuh Laura yang masih pingsan dengan dagunya.
'Dan sekarang, mumpung dia masih pingsan, bawalah dia ke kamar atas. Segera lakukan hubungan intim dengan dia. Peluk cium dia, Mas!"
"Diaz, istighfar, Dek! Jaga bicaramu!" panggil Ganda, wajahnya memucat mendengar kalimat kasar yang keluar dari bibir istrinya.
"Aku yang bodoh karena mudah percaya dengan semua omongan manis kamu, Mas!"
Air mata Diaz akhirnya menetes, namun ia dengan cepat menyekanya dengan kasar.
"Kalau kamu memang masih suka dan peduli sama dia, rujuk saja! Aku ini ternyata cuma mainan kamu, kan? Kamu munafik, Mas Ganda!"
"Diaz, dengarkan penjelasanku dulu, demi Allah aku tidak—"
Diaz tidak memedulikan lagi pembelaan Ganda. Ia berbalik, menyambar tas ranselnya yang sudah ia siapkan di dekat pintu masuk.
Bersamaan dengan itu, sebuah taksi yang tampaknya sudah ia pesan sebelumnya berhenti tepat di depan pagar rumah mereka.
Diaz berlari keluar halaman, membuka pintu taksi, dan langsung masuk ke dalamnya tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
"Diaz! Diaz, tunggu!" teriak Ganda mencoba mengejar, namun langkahnya tertahan karena ia tidak bisa meninggalkan Laura yang masih pingsan di teras rumahnya begitu saja.
Ganda hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat, menatap nanar taksi yang membawa istrinya pergi menjauh, membelah jalanan dan meninggalkan dirinya dalam kubangan penyesalan yang teramat dalam.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡