Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Dengan langkah tegap, Adrian berjalan mendekati Kayla. Wajahnya dingin, tetapi sorot matanya dipenuhi amarah dan penyesalan. Setiap langkah yang diayunkannya terasa begitu berat. Saat melihat tubuh Kayla tergeletak dalam keadaan penuh luka, dadanya seolah diremas kuat oleh rasa bersalah.
Namun, baru beberapa langkah mendekat, Arif langsung menghadangnya. Dengan wajah merah padam, Arif mendorong dada Adrian sekuat tenaga.
"Hei! Kamu yang menghamili dia, kan?" bentaknya sambil menunjuk Kayla. Ia kembali mendorong Adrian, tetapi tubuh pria itu sama sekali tidak bergeser. "Dasar laki-laki brengsek! Beraninya kamu datang ke sini!"
Tatapan Adrian perlahan beralih kepada Arif. Kilatan dingin di matanya membuat siapa pun yang melihat akan bergidik. Kemarahan yang sejak tadi ia tahan akhirnya menemukan pelampiasan.
Bugh!
Satu pukulan keras mendarat tepat di wajah Arif. Tubuh Arif terhuyung beberapa langkah ke belakang. Ia memegangi wajahnya yang mulai berdenyut nyeri sambil menatap Adrian dengan mata penuh kebencian.
"Beraninya kamu memukulku!" bentaknya.
Arif kembali menerjang dengan emosi yang membara. Namun gerakan Adrian jauh lebih cepat. Dengan satu gerakan tegas, ia membuat Arif kehilangan keseimbangan hingga tersungkur di tanah.
Saraswati langsung panik. Niko dan Fendi refleks hendak maju membantu Arif. Namun beberapa pria bertubuh tegap sudah lebih dulu berdiri di hadapan mereka. Tatapan para pengawal itu begitu dingin hingga membuat keberanian mereka langsung ciut.
Tanpa memedulikan siapa pun lagi, Adrian segera berjongkok di samping Kayla. Saat melihat wajah wanita itu dari jarak dekat, hatinya terasa semakin perih. Pipi Kayla dipenuhi memar, sudut bibirnya robek, dan wajah cantiknya kini tampak begitu pucat.
Tanpa ragu, Adrian menyelipkan satu tangan di bawah lutut Kayla dan satu lagi menyangga punggungnya, lalu mengangkat tubuh wanita itu dengan hati-hati ke dalam pelukan.
Kayla sedikit tersentak. Dalam keadaan setengah sadar, ia mendongak menatap wajah Adrian. Mata mereka saling bertemu beberapa detik. Adrian hanya dipenuhi rasa bersalah karena merasa terlambat datang. Sementara itu, hati Kayla justru dipenuhi kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar percaya ada seseorang yang tulus ingin melindunginya.
"Ayo... kita ke rumah sakit," ucap Adrian. Suaranya bergetar, dipenuhi kecemasan dan kemarahan yang bercampur menjadi satu.
"Ba... bagaimana dengan kandunganku?" bisik Kayla lemah. Bahkan dalam kondisi seperti itu, yang paling ia khawatirkan tetaplah kedua bayi di dalam perutnya.
Adrian menggeleng pelan sambil mempererat pelukannya.
"Jangan takut," katanya mantap. "Aku berjanji akan menyelamatkan kamu... dan bayi-bayi kita."
Kayla mengangguk pelan. Senyum tipis menghiasi wajahnya sebelum akhirnya kelopak matanya tertutup perlahan. Tubuhnya benar-benar kehilangan kesadaran di dalam pelukan Adrian.
Melihat Kayla pingsan, rahang Adrian mengeras. Amarah yang sejak tadi ditahan kini benar-benar mencapai puncaknya.
"Aldo!" teriaknya tanpa menoleh.
"Siap, Pak."
"Siapa pun yang menyakiti Kayla, jangan biarkan lolos. Pastikan mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya."
"Baik, Pak."
Adrian tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia segera membawa Kayla menuju mobil yang telah menunggu untuk membawanya ke rumah sakit.
Namun, sebelum Adrian sempat masuk ke mobil, Fendi buru-buru menghadang.
"Berhenti!" bentaknya. "Aku sudah membayar tiga puluh juta untuk perempuan itu! Kamu tidak boleh membawanya pergi!"
Belum sempat Fendi mendekat, Aldo sudah lebih dulu menghadangnya dan mendorongnya menjauh hingga pria tua itu kehilangan keseimbangan.
"Berani sekali kamu masih mendekati Nyonya Adrian Wijaya," ucap Aldo dingin. "Apa kamu sudah bosan hidup?"
"Nyonya?" Arif yang masih kesakitan langsung berteriak. "Nyonya siapa? Dia cuma adik kami yang tidak berguna! Memangnya kalian ini siapa berani-beraninya datang ke sini?"
Aldo menatap Arif dengan tatapan penuh rasa iba.
"Kalian benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kalian sakiti?"
"Dia cuma hamil anak laki-laki bajingan!" balas Arif penuh kebencian.
Aldo mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya berkata dengan nada tegas.
"Anak yang dikandung Kayla adalah pewaris keluarga Wijaya."
Semua orang langsung terdiam.
"Ayah dari bayi-bayi itu adalah Tuan Adrian Wijaya, orang terkaya di kota ini."
Wajah Arif seketika memucat.
"Tidak... tidak mungkin," gumamnya. "Mana mungkin Adrian Wijaya tertarik kepada perempuan seperti Kayla?"
Aldo menggeleng pelan.
"Kalian benar-benar bodoh. Seharusnya keluarga kalian hidup berkecukupan karena memiliki hubungan dengan keluarga Wijaya. Tetapi karena keserakahan dan perlakuan kalian sendiri, kalian justru menghancurkan masa depan itu."
Ucapan Aldo membuat Saraswati terduduk lemas di tanah. Wajahnya kehilangan seluruh warna. Niko dan Arif saling berpandangan dengan napas memburu. Baru saat itulah mereka menyadari siapa sebenarnya pria yang baru saja mereka hadapi.
Aldo menatap mereka satu per satu dengan sorot mata dingin.
"Bawa mereka," perintahnya singkat.
Beberapa pengawal segera bergerak menghampiri Saraswati, Arif, Niko, dan Fendi. Mereka diseret menjauh dari kerumunan warga untuk mempertanggungjawabkan tindakan mereka.
Tak lama kemudian, suara jeritan memenuhi udara sore. Warga sekitar hanya mampu saling berpandangan. Tidak ada seorang pun yang berani ikut campur. Semua orang memahami satu hal—mereka baru saja menyaksikan kemarahan keluarga Wijaya kepada orang-orang yang berani menyakiti calon menantu dan pewaris keluarga mereka.
Sementara itu, Adrian langsung membawa Kayla menuju rumah sakit milik keluarga Wijaya. Dalam perjalanan, ia tidak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kayla. Selain memastikan kondisi Kayla dan kedua bayi di dalam kandungannya, Adrian juga meminta dokter segera melakukan pemeriksaan DNA untuk memastikan hubungan biologis dengan janin yang sedang dikandung Kayla.
Kedatangan Adrian Wijaya membuat seluruh tenaga medis bergerak cepat. Dokter, perawat, hingga petugas laboratorium bekerja tanpa berani menunda sedikit pun. Mereka memahami bahwa yang terbaring di atas brankar bukan sekadar seorang pasien, melainkan wanita yang sangat dipedulikan oleh pewaris keluarga Wijaya.
Selama proses pemeriksaan berlangsung, Adrian sama sekali tidak meninggalkan Kayla. Ia berdiri di samping brankar dengan wajah tegang. Berkali-kali pandangannya tertuju pada monitor pemeriksaan, lalu kembali kepada wajah Kayla yang masih belum sadarkan diri.
Waktu terasa berjalan begitu lambat. Setiap detik yang berlalu membuat hati Adrian semakin gelisah. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar merasakan ketakutan kehilangan seseorang yang begitu berarti.
Hingga akhirnya, jari-jari Kayla bergerak pelan.
Kelopak matanya bergetar beberapa kali sebelum perlahan terbuka. Napasnya terdengar sedikit berat. Begitu kesadarannya kembali, refleks kedua tangannya langsung memegang perutnya yang masih tampak rata.
"Anakku..." bisiknya panik. "Anak-anakku..."
Adrian yang sejak tadi menunggu langsung menghampiri tempat tidur Kayla. Raut wajahnya yang tegang perlahan berubah lega.
"Akhirnya kamu sadar," ucapnya lirih dengan senyum yang tulus.
Kayla menoleh pelan. Tatapannya bertemu dengan Adrian, tetapi hanya sesaat. Hal pertama yang memenuhi pikirannya tetaplah keselamatan bayi-bayinya.
"Bagaimana anak-anakku?" tanyanya dengan suara gemetar.
Adrian mengangguk mantap.
"Anak-anak kita selamat."
Kalimat sederhana itu membuat air mata Kayla langsung mengalir. Beban yang sejak tadi menghimpit dadanya perlahan terangkat. Ia memejamkan mata beberapa detik sambil mengusap perutnya dengan penuh syukur.
"Pak Adrian..." bisiknya pelan. "Terima kasih... sudah menyelamatkan aku."
Adrian menggeleng pelan. Senyum di wajahnya justru berubah menjadi rasa bersalah yang begitu dalam.
"Seharusnya aku yang meminta maaf," katanya lirih. "Aku datang terlambat. Aku gagal melindungi kamu."
Kayla menatap Adrian cukup lama. Bibirnya bergerak beberapa kali, seolah ingin mengatakan sesuatu yang selama ini disimpannya rapat-rapat.
"Sebenarnya..." ucapnya pelan. "Sebenarnya... anak ini...."
Belum sempat Kayla menyelesaikan kalimatnya, Adrian mengambil sebuah map bening yang sejak tadi berada di atas nakas di samping tempat tidur.
"Kamu masih ingin menyangkal kalau mereka bukan anakku?" tanyanya lembut.
Ia membuka map itu, lalu mengeluarkan selembar hasil pemeriksaan laboratorium.
"Hasil tes DNA sudah keluar," lanjut Adrian sambil menyerahkan lembar tersebut kepada Kayla. "Dokter sudah memastikan. Bayi-bayi yang kamu kandung adalah anakku."
Kayla membeku. Tatapannya berpindah dari wajah Adrian menuju lembar hasil pemeriksaan yang berada di tangannya. Jemarinya bergetar pelan ketika membaca setiap baris tulisan itu.
Tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan kebenaran. Rahasia yang selama ini berusaha ia pendam akhirnya terbuka dengan sendirinya