Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Harga Sebuah Kesepakatan
Chantika tidak langsung menjawab. Bayangan semalam kembali memenuhi kepalanya.
Ia masih mengingat dengan jelas Saras yang membawanya ke kamar Bryan, lalu pergi meninggalkannya berdua dengan pria itu.
Namun, ia belum memiliki bukti apakah Saras memang bersekongkol dengan Bryan atau hanya dimanfaatkan. Sebagai seorang polisi, ia tak boleh menyimpulkan sesuatu tanpa bukti.
Melihat Chantika terdiam, Enzo kembali bersuara. "Aku bisa membantumu mencari pelakunya."
Chantika terkekeh pelan. "Aku ini polisi. Masa harus minta bantuan warga sipil untuk mencari keadilan?"
Enzo menatapnya tenang. "Aku tetap akan membantumu kalau kau membutuhkannya."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Meski kau seorang polisi... kau tetap wanitaku."
Wajah Chantika kembali memanas. "Akan kuselidiki sendiri dulu."
Enzo mengangguk. "Baik. Tapi kalau suatu saat kau membutuhkan bantuanku, katakan saja."
"Hm."
"Tukar nomor ponsel?"
Chantika menggeleng pelan. "Ponselku hilang."
Enzo terdiam sesaat. Lalu ia kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Marko.
"Marko."
"Ya, Bos."
"Belikan ponsel baru."
Tut...
Lagi-lagi Enzo menutup sambungan telepon lebih dulu.
Sementara itu, Marko masih berada di sebuah butik yang menjual pakaian wanita.
Ia menatap layar ponselnya yang kembali gelap sambil mengembuskan napas.
"Selalu saja begitu. Memberi perintah, lalu langsung menutup telepon."
Ia menggeleng kecil sebelum kembali melihat daftar barang yang harus dibelinya.
Pandangannya tanpa sengaja jatuh pada label ukuran pakaian yang diminta.
"Hm... ukurannya sudah dicatat semua."
Marko terkekeh pelan.
"Bos benar-benar berubah."
Ia buru-buru menggelengkan kepala sendiri.
"Sudahlah. Jangan banyak berpikir. Cepat selesaikan belanjaan ini sebelum Bos menelepon lagi."
Lalu ia mengangkat salah satu bra di depannya dengan jari jempol dan telunjuknya. "Ukuran tiga puluh delapan." Ia mengamati benda yang bentuknya mirip kacamata itu. "Gede juga."
Ia buru-buru menggeleng. "Apa yang kupikirkan? Mending cepet kerjain."
Marco kembali mendorong keranjang belanja menuju kasir.
***
Sementara itu, Saras akhirnya terbangun di kamar Bryan. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Pria yang masih terlelap di sampingnya itu semalam bertindak begitu brutal hingga menyisakan nyeri di sekujur tubuhnya.
"Pria brengsek," umpatnya lirih.
Ingin rasanya ia mencekik pria itu karena telah merenggut mahkota yang selama ini ia jaga.
"Kalau bukan demi investasi itu..."
Saras menepis tangan Bryan yang masih melingkar di pinggangnya dengan perasaan jijik. Lalu, dengan langkah tertatih menahan perih, ia memungut pakaian yang berserakan dan berjalan menuju kamar mandi.
Tubuhnya terasa lengket. Ia masih mengingat bagaimana semalam Bryan sengaja menyiramkan wine ke tubuhnya, lalu menjilatinya.
"Menjijikan."
Ia menggosok tubuhnya lebih kuat seolah bisa membersihkan setiap bekas sentuhan Bryan di tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian, Saras keluar dari kamar mandi.
Bryan sudah terbangun. Pria itu duduk bersandar di kepala ranjang sambil menatap layar ponselnya, seolah semalam tidak terjadi apa-apa.
Bryan melirik sekilas ke arah Saras. "Sudah selesai?"
Saras mengangguk singkat. Tatapannya dingin. "Aku datang ke sini untuk memenuhi kesepakatan kita." Ia menarik napas panjang. "Sekarang giliran Tuan memenuhi janji."
Bryan meletakkan ponselnya di atas nakas. "Investasi?"
"Ya."
Bryan tersenyum tipis. "Kau memang berbeda dari wanita lain. Baru bangun, yang kau pikirkan langsung urusan bisnis."
"Karena itulah alasan aku datang," ucap Saras tegas.
Bryan bangkit dari ranjang lalu berjalan menuju meja kerja kecil di sudut kamar suite. Ia membuka sebuah map yang telah disiapkan sebelumnya.
"Kontraknya sudah ada." Bryan mengetuk pelan berkas itu dengan jarinya. "Tapi sebelum kutandatangani, ada beberapa syarat tambahan yang harus kita bicarakan."
Dahi Saras langsung berkerut. "Syarat tambahan?"
Sudut bibir Bryan kembali terangkat. "Dalam bisnis, kesepakatan bisa berubah kapan saja."
Bryan menyandarkan tubuhnya di kursi sambil mendorong map kontrak ke arah Saras.
"Bacalah."
Saras segera membuka halaman pertama. Nominal investasi masih sama seperti yang dijanjikan semula. Napasnya sedikit lega. Namun, beberapa lembar berikutnya membuat wajahnya berubah.
"Apa ini?"
Bryan tersenyum tipis. "Syarat kerja sama."
"Aku harus melapor setiap kali Tuan memanggil? Aku juga harus mendahulukan semua permintaan Tuan dibanding pekerjaan lain?" Saras mengangkat kepalanya.
"Benar." Bryan menjawab santai. "Itu jaminan."
Saras menggenggam berkas itu hingga jemarinya memutih. "Ini bukan lagi hubungan investor dan mitra bisnis. Ini sudah seperti aku harus selalu tunduk pada kemauan Tuan."
Bryan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku tidak suka menunggu. Kalau aku memanggilmu untuk membahas proyek, kau harus datang."
"Bagaimana kalau aku sedang bekerja?"
"Batalkan."
"Kalau aku sedang ada urusan penting?"
"Aku yang menjadi prioritas."
"Ini keterlaluan!" bentak Saras. "Aku tidak akan menandatanganinya."
Sudut bibir Bryan terangkat tipis. "Kau bebas menolak."
Harapan sempat muncul di mata Saras.
Namun senyum Bryan berubah semakin tipis.
"Tentu saja... kalau kau juga siap kehilangan investasiku."
Saras mengepalkan tangan. "Tuan tidak bisa mengubah kesepakatan seenaknya."
"Bisa." Bryan menatapnya datar. "Karena uang itu milikku."
Bryan membuka galeri di ponselnya. "Lihat ini."
Wajah Saras langsung memucat. Foto yang terlihat memang tidak vulgar, tetapi cukup jelas memperlihatkan mereka berada di kamar hotel pada pagi hari.
Nyatanya pria itu sudah bangun lebih dulu sebelum Saras, tetapi pura-pura tidur.
"Kalau kau merasa tidak membutuhkan investasiku, mungkin keluargamu atau rekan kerjamu ingin tahu kenapa kau menginap semalaman di kamarku."
"Kau memotretku?"
"Aku hanya menyimpan bukti."
***
Sementara itu, di ruang kontrol CCTV, Kepala Keamanan dan Manajer Hotel masih berjaga bersama dua orang operator.
"Pak, ada seseorang datang ke kamar Tuan Enzo," ujar salah seorang operator.
...🔸🔸🔸...
..."Cinta membuat seseorang ingin menjaga, sedangkan nafsu membuat seseorang ingin memiliki."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.