NovelToon NovelToon
DARAH PEWARIS DEWA

DARAH PEWARIS DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Penyelamat
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Darah Pewaris Dewa

Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.

Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.

Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.

Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...

sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bayangan di luar alam dewa

Tiga bulan telah berlalu sejak kebangkitan Sang Pencipta Pertama.

Alam Dewa kembali tenang.

Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun...

tidak ada perang.

Tidak ada retakan dimensi.

Tidak ada ancaman dari kehampaan.

Namun bagi para pewaris Aurelian...

kedamaian bukan berarti akhir dari tugas mereka.

Karena mereka telah belajar satu hal.

Setiap akhir...

selalu membuka awal yang baru.

PEWARIS KESEIMBANGAN

Di puncak Istana Langit, Atlas berdiri memandang seluruh Alam Dewa.

Dulu ia hanya seorang pria yang mengira dirinya manusia biasa.

Ia tidak pernah mengetahui darah yang mengalir di tubuhnya.

Ia tidak pernah membayangkan akan membawa pedang warisan leluhurnya.

Namun sekarang...

namanya dikenal sebagai salah satu Pewaris Keseimbangan.

Oliver datang menghampirinya.

"Kau masih memikirkan semuanya?"

Atlas tersenyum kecil.

"Kadang aku masih merasa aneh."

"Aku pernah hidup tanpa mengetahui semua ini."

Oliver melihat langit.

"Dan sekarang kita menjaga seluruh dunia."

KEDAMAIAN YANG RAPUH

Namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.

Di ruang pengawasan waktu...

Oliver menemukan sesuatu.

Sebuah gangguan.

Sebuah bayangan yang tidak seharusnya ada.

Oliver menatap aliran waktu.

Biasanya ia bisa melihat masa lalu dan masa depan.

Namun kali ini...

ada bagian yang kosong.

Bukan masa depan yang belum terjadi.

Bukan masa lalu yang hilang.

Tetapi sesuatu yang berada di luar waktu.

"Apa yang terjadi?"

Atlas bertanya ketika melihat ekspresi saudaranya.

Oliver menjawab:

"Ada sesuatu di luar aliran waktu."

PANGGILAN DARI LUAR DUNIA

Para penjaga Alam Dewa berkumpul.

Aeron juga datang.

Ia langsung mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah.

"Ini bukan energi dari dunia kita."

Kael menatap langit.

"Jadi ada sesuatu di luar sana?"

Aeron mengangguk.

"Ya."

"Dan sesuatu itu sedang memperhatikan kita."

PESAN TERSEMBUNYI

Di tengah rapat...

sebuah kristal kuno muncul.

Tidak ada yang mengirimnya.

Tidak ada yang membuka gerbang.

Kristal itu muncul dengan sendirinya.

Atlas mengambilnya.

Saat disentuh...

sebuah suara terdengar.

Bukan suara dewa.

Bukan suara pencipta.

"Kepada para pewaris Aurelian."

"Kalian telah melewati ujian dunia kalian."

"Sekarang waktunya mengetahui bahwa dunia kalian bukan satu-satunya."

Semua terdiam.

DUNIA-DUNIA LAIN

Kristal itu menunjukkan gambaran.

Ratusan dunia.

Ratusan alam.

Ratusan peradaban.

Semuanya memiliki cerita sendiri.

Namun di antara semua itu...

ada satu bayangan besar yang bergerak.

Oliver berbisik:

"Selama ini..."

"kita hanya melihat satu bagian dari semuanya."

PENJAGA ANTAR DUNIA

Suara dalam kristal kembali terdengar.

"Para pencipta bukan satu-satunya yang menjaga keseimbangan."

"Ada para penjaga antar dunia."

"Mereka mengawasi setiap alam yang tercipta."

Atlas mengerutkan kening.

"Lalu kenapa mereka baru muncul sekarang?"

Tidak ada jawaban.

Namun kemudian...

sebuah simbol muncul.

Simbol yang membuat Aeron membeku.

SIMBOL YANG DITAKUTI AERON

Kael memperhatikan wajah Aeron.

"Kau mengenalnya?"

Aeron diam cukup lama.

Lalu berkata:

"Ya."

"Karena simbol itu..."

"...berasal dari musuh yang bahkan Aurelian tidak pernah berhasil kalahkan."

Semua terdiam.

NAMA DARI ANCAMAN BARU

Aeron menatap simbol itu.

"Namanya..."

"Ordo Nihil."

Oliver mengerutkan kening.

"Apa mereka?"

Aeron menjawab:

"Mereka bukan penghancur dunia."

"Mereka lebih berbahaya."

Atlas bertanya:

"Apa yang mereka inginkan?"

Aeron menatap langit yang mulai berubah.

"Mereka ingin menentukan dunia mana yang pantas tetap ada."

Tiba-tiba seluruh Alam Dewa bergetar.

Bukan karena kehancuran.

Tetapi karena sebuah gerbang baru terbuka di langit.

Dari dalamnya muncul pasukan yang tidak pernah dikenal.

Pasukan dari luar dunia mereka.

Seorang prajurit melangkah keluar.

Ia melihat para pewaris Aurelian.

Lalu berkata:

"Kami datang untuk membawa keputusan."

Atlas menggenggam pedangnya.

"Keputusan apa?"

Prajurit itu menjawab:

"Apakah dunia kalian layak diselamatkan..."

"...atau harus dihapus."

Gerbang asing masih terbuka di langit Alam Dewa.

Cahaya dari dimensi lain memenuhi seluruh wilayah.

Para dewa berdiri dalam ketakutan.

Bukan karena mereka tidak memiliki kekuatan.

Tetapi karena mereka tahu...

makhluk yang datang kali ini bukan berasal dari dunia yang sama.

UTUSAN ORDO NIHIL

Prajurit yang keluar dari gerbang mengenakan zirah berwarna gelap.

Di dadanya terdapat simbol yang sama dengan kristal kuno.

Simbol yang membuat Aeron mengingat masa lalu.

Ordo Nihil.

Atlas maju.

"Kalian masuk ke wilayah kami tanpa izin."

Prajurit itu tidak menunjukkan kemarahan.

"Kami tidak datang untuk berperang."

"Kami datang untuk melakukan penilaian."

Oliver menatapnya.

"Penilaian?"

Prajurit itu mengangguk.

"Setiap dunia yang memiliki kekuatan penciptaan akan diperiksa."

"Jika dunia tersebut dianggap tidak stabil..."

"...maka dunia itu akan dihapus."

SEJARAH ORDO NIHIL

Aeron berjalan mendekat.

"Kalian masih melakukan hal yang sama."

Prajurit itu menatapnya.

"Kau mengenal kami."

Aeron tersenyum dingin.

"Aku mengenal kalian sejak zaman Aurelian."

Semua menoleh.

Atlas bertanya:

"Kenapa kau tidak pernah menceritakan ini?"

Aeron diam.

"Karena aku berharap mereka tidak pernah menemukan dunia ini."

MUSUH DI BALIK KESEIMBANGAN

Aeron menjelaskan.

"Ordo Nihil bukan dewa."

"Mereka bukan pencipta."

"Mereka adalah penjaga aturan antar dunia."

Oliver mengerutkan kening.

"Kalau begitu mereka seharusnya membantu."

Aeron menggeleng.

"Itulah masalahnya."

"Mereka percaya keseimbangan hanya bisa tercapai jika sesuatu yang dianggap gagal dihapus."

DUNIA DALAM PENILAIAN

Prajurit itu mengangkat sebuah kristal.

Sebuah gambaran muncul.

Mereka melihat sejarah dunia mereka.

Perang para dewa.

Pengkhianatan.

Kehancuran.

Kebangkitan Penghancur Lapisan.

Semuanya tercatat.

"Data telah terkumpul."

"Dunia ini memiliki terlalu banyak konflik."

Atlas mengepalkan tangan.

"Kalian hanya melihat kehancuran."

Prajurit itu menatapnya.

"Karena kehancuran adalah bukti kegagalan."

ATLAS MENOLAK

Atlas melangkah maju.

"Kalian salah."

Prajurit itu diam.

"Dunia ini memang penuh kesalahan."

"Tapi kalian tidak melihat bagaimana mereka bangkit."

"Kalian tidak melihat bagaimana mereka berubah."

Atlas menunjuk para pewaris di belakangnya.

"Dulu kami saling melawan."

"Sekarang kami berdiri bersama."

"Itu bukan kegagalan."

"Itu pertumbuhan."

UJIAN ORDO NIHIL

Prajurit itu menatap Atlas.

"Perkataan mudah."

"Tapi apakah kalian mampu membuktikannya?"

Sebuah lingkaran cahaya muncul.

"Ordo Nihil memberikan satu kesempatan."

"Jika kalian mampu melewati ujian kami..."

"maka dunia kalian akan diberikan kesempatan kedua."

Oliver bertanya:

"Dan jika gagal?"

Prajurit itu menjawab:

"Proses penghapusan dimulai."

UJIAN EMPAT PEWARIS

Lingkaran cahaya terbagi menjadi empat bagian.

Masing-masing bagian memiliki simbol darah Aurelian.

Atlas melihat bagian miliknya.

Oliver melihat miliknya.

Aeron dan Kael juga.

"Setiap pewaris akan menghadapi ujian."

"Kalian tidak akan diuji oleh kekuatan."

"Tetapi oleh alasan kalian mempertahankan dunia ini."

UJIAN ATLAS DIMULAI

Cahaya pertama menyelimuti Atlas.

Ia menghilang dari pandangan semua orang.

Di tempat lain...

Atlas berdiri di sebuah dunia yang damai.

Tidak ada perang.

Tidak ada penderitaan.

Tidak ada ancaman.

Namun ia segera menyadari sesuatu.

Tidak ada manusia.

Tidak ada makhluk hidup.

Hanya dunia kosong yang sempurna.

Sebuah suara bertanya:

"Jika dunia sempurna membutuhkan pengorbanan semua kehidupan..."

"apakah kau masih akan memilih dunia yang tidak sempurna?"

Atlas terdiam.

Karena kali ini...

jawabannya menentukan nasib seluruh dunia.

Di sisi lain...

Oliver, Aeron, dan Kael juga mulai menghadapi ujian mereka masing-masing.

Dan Ordo Nihil hanya menunggu satu hal.

Bukti bahwa darah Aurelian benar-benar pantas menjaga dunia.

Atlas berdiri di dunia yang sempurna.

Tidak ada perang.

Tidak ada penderitaan.

Tidak ada kehilangan.

Semuanya terlihat seperti tempat yang selama ini diimpikan oleh banyak makhluk.

Namun semakin lama ia melihat...

semakin ia merasa ada sesuatu yang salah.

DUNIA TANPA KEHIDUPAN

Di hadapan Atlas muncul sebuah kota besar.

Bangunan megah berdiri.

Jalanan bersih.

Namun tidak ada satu pun suara.

Tidak ada tawa.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada kehidupan.

Suara Ordo Nihil terdengar.

"Inilah dunia yang bebas dari kesalahan."

"Tidak ada konflik karena tidak ada yang bisa membuat kesalahan."

Atlas berjalan perlahan.

Ia menyentuh sebuah pohon.

Pohon itu indah.

Namun tidak memiliki kehidupan.

Tidak memiliki pertumbuhan.

Tidak memiliki perubahan.

Atlas akhirnya memahami.

"Dunia ini bukan sempurna."

"Ini hanya kosong."

JAWABAN ATLAS

Suara itu bertanya:

"Mengapa kau memilih dunia yang penuh luka?"

Atlas menjawab:

"Karena luka berarti masih ada sesuatu yang hidup."

"Kesalahan berarti masih ada kesempatan untuk berubah."

"Dan selama seseorang masih bisa memilih..."

"dunia ini masih pantas diselamatkan."

Cahaya memenuhi tempat itu.

Ujian Atlas selesai.

UJIAN OLIVER

Di tempat lain...

Oliver berdiri di tengah lautan waktu.

Ribuan pintu terbuka di sekelilingnya.

Setiap pintu menunjukkan masa lalu yang berbeda.

Ia melihat ibunya.

Ia melihat kehidupan yang seharusnya mereka jalani.

Ia melihat dunia di mana keluarganya tidak pernah kehilangan apa pun.

Suara Ordo Nihil berkata:

"Kau penjaga waktu."

"Bukankah lebih mudah mengubah semua yang menyakitkan?"

Oliver menatap semua kemungkinan itu.

Untuk sesaat...

hatinya ingin memilih salah satu.

Namun ia mengingat semua yang telah terjadi.

Jika ia menghapus masa lalu...

maka ia juga menghapus siapa dirinya sekarang.

"Aku tidak akan mengubah perjalanan yang membentuk kami."

"Waktu bukan musuh."

"Waktu adalah sesuatu yang harus dihargai."

Cahaya biru muncul.

Ujian Oliver selesai.

UJIAN AERON

Aeron berdiri di tempat yang penuh kegelapan.

Di sana ia melihat masa lalu.

Hari ketika para dewa mengkhianatinya.

Hari ketika ia dikurung.

Hari ketika namanya dihapus dari sejarah.

Suara Ordo Nihil berkata:

"Kau memiliki alasan terbesar untuk membenci dunia."

"Hancurkan semuanya."

Aeron menutup matanya.

"Aku pernah hampir melakukannya."

"Tapi kebencian hanya menciptakan rantai baru."

Ia membuka mata.

"Aku bukan tahanan masa lalu."

"Aku adalah seseorang yang memilih masa depan."

Cahaya hitam keperakan muncul.

Ujian Aeron selesai.

UJIAN KAEL

Kael berdiri sendirian.

Di hadapannya muncul dunia tempat ia tidak pernah disakiti.

Tidak pernah diburu.

Tidak pernah kehilangan ibunya.

Sebuah suara berkata:

"Tinggallah di sini."

"Tidak ada yang akan menyakitimu lagi."

Kael melihat dunia itu.

Dunia yang selama ini ia inginkan.

Namun kemudian ia melihat sesuatu.

Tidak ada Atlas.

Tidak ada Oliver.

Tidak ada Aeron.

Tidak ada orang-orang yang menerimanya.

Kael tersenyum kecil.

"Dulu aku ingin dunia tanpa rasa sakit."

"Tapi sekarang aku tahu..."

"rasa sakit bukan satu-satunya hal yang membuat hidup berarti."

Cahaya hitam muncul.

Ujian Kael selesai.

HASIL PENILAIAN

Keempat pewaris kembali ke Alam Dewa.

Prajurit Ordo Nihil menatap mereka.

Untuk pertama kalinya...

ia terlihat ragu.

"Keempat ujian..."

"berhasil."

Para dewa terkejut.

Atlas bertanya:

"Jadi dunia kami aman?"

Prajurit itu diam.

Lalu menjawab:

"Dunia kalian diberikan kesempatan."

Namun sebelum gerbang tertutup...

sebuah suara terdengar dari balik dimensi Ordo Nihil.

Suara yang membuat semua penjaga mereka berlutut.

"Jangan terburu-buru memberi keputusan."

"Aku belum melihat para pewaris secara langsung."

Prajurit itu menunduk.

"Yang Mulia..."

Sebuah bayangan muncul di balik gerbang.

Sosok yang menjadi pemimpin tertinggi Ordo Nihil.

AKHIR BAB 17

Sosok itu menatap Atlas dan tiga pewaris lainnya.

"Lulus dari ujian bukan berarti kalian menang."

"Kalian baru membuktikan bahwa kalian layak diuji."

Gerbang perlahan tertutup.

Namun sebelum hilang...

ia meninggalkan satu kalimat.

"Aku akan datang sendiri untuk melihat apakah dunia kalian pantas hidup."

Atlas menatap langit.

Oliver merasakan aliran waktu berubah.

Aeron dan Kael berdiri bersiap.

Karena mereka menyadari...

ujian sebenarnya baru akan dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!