Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##18
Sinar matahari pagi yang hangat dan cerah menerobos masuk melalui celah tirai tipis Penthouse, membiaskan pendar keemasan di atas lantai marmer dan melingkupi area kamar utama. Udara Los Angeles di hari Minggu ini terasa begitu tenang, seolah turut memberikan ruang bagi sepasang pengantin baru yang telah menghabiskan malam pertama mereka dengan gelombang gairah yang tak menyisakan sisa.
Di area dapur bersih berdesain modern yang menyatu dengan ruang makan, Braxton berdiri tegap di depan kitchen island.
Pria itu hanya mengenakan celana training abu-abu santai, membiarkan dada bidang dan perut berototnya terbuka begitu saja. Wajah tampannya tampak amat segar, sama sekali tidak memperlihatkan jejak kelelahan meski ia baru benar-benar terlelap menjelang fajar. Sebaliknya, senyum puas dan binar kebahagiaan terpancar jelas dari sepasang mata cokelatnya.
Braxton sedang berurusan dengan alat-alat dapur—sebuah pemandangan langka yang hampir tak pernah terlihat dari seorang putra mahkota keluarga Valerio-Desmon.
Dengan gerakan yang luwes namun tetap memperlihatkan sisa-sisa gaya narsisnya, Braxton sibuk memanggang dua potong roti gandum, mengocok telur untuk dibuat scrambled eggs, serta memotong buah stoberi dan alpukat segar.
Aroma harum mentega lelehan dan seduhan kopi hitam pekat membumbung memenuhi udara Penthouse, menciptakan atmosfer rumah tangga yang begitu hangat dan sempurna.
Braxton melirik jam dinding digital. Pukul delapan pagi.
Pria itu menyunggingkan senyum miring yang teramat seksi seraya membayangkan istrinya yang masih terlelap lelah di dalam kamar. Permintaan "sampai pagi" yang diucapkannya semalam benar-benar ia wujudkan tanpa ampun, memanjakan sekaligus menguras seluruh tenaga wanita yang kini resmi menjadi pusat semesta hidupnya.
"Selesai," gumam Braxton puas, menata nampan kayu berisi sarapan penuh gizi, secangkir kopi hangat untuk dirinya, dan segelas susu hangat untuk Lux.
Braxton mengangkat nampan tersebut, melangkah penuh percaya diri menuju kamar utama untuk mengejutkan sang istri dengan sarapan romantis di atas tempat tidur.
Namun, baru saja langkah kaki Braxton mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka, sebuah suara isakan pelan namun terdengar amat nelangsa menangkap pendengarannya.
Langkah Braxton seketika terhenti. Keningnya berkerut rapat.
Isak tangis itu makin jelas—suara tangisan yang sangat tertahan, pendek-pendek, dan sarat akan keputusasaan.
Braxton mendorong pintu kamar dengan cepat. "Lux?"
Di atas tempat tidur king-size yang berantakan, Lux terduduk di tepi kasur dengan selimut sutra abu-abu yang tergulung menutupi bagian dadanya. Rambut panjangnya berantakan, dan kedua telapak tangannya menutup wajahnya secara utuh. Bahunya naik-turun memburu seiring dengan aliran air mata yang menetes deras membasahi jemarinya.
Braxton seketika panik setengah mati. Rasa percaya diri dan sifat narsisnya melenyap dalam satu detik, berganti menjadi rasa cemas yang membakar dada. Ia meletakkan nampan sarapan secara terburu-buru di atas meja nakas, lalu berlutut di atas lantai di hadapan Lux, memegang kedua lutut istrinya yang tertutup selimut.
"Sayang...? Kenapa menangis?" tanya Braxton cepat, suaranya dipenuhi getaran cemas yang tak bisa disembunyikan. "Apa yang sakit? Katakan padaku, Lux... Kau membuatku takut!"
Lux tidak langsung menjawab. Gadis itu justru makin terisak melengking, menarik tangannya dari wajah dan menatap Braxton dengan mata abu-abu yang sembab, memerah, dan dipenuhi kilat amarah bercampur rasa malu yang luar biasa.
"Kau... kau brengsek, Braxton Desmon!" jerit Lux dengan suara parau yang tersedak air mata.
Braxton tertegun, membelalakkan matanya ragu. "A-Apa? Kenapa aku brengsek? Apa yang kulakukan?"
"Lihat ini!" tangis Lux pecah secara dramatis.
Dengan gerakan kasar dan penuh emosi, Lux menurunkan sedikit lipatan selimut yang menutupi bahu dan dadanya, lalu menyingkap bagian bawah selimut yang menutupi paha mulusnya.
Mata Braxton melotot kaku.
Di atas kulit putih mulus Lux—terutama di area leher, tulang selangka, dada atas, hingga merambat turun ke paha dan pinggulnya—terpampang puluhan jejak kemerahan yang amat pekat. Hickey, bercak memar halus, dan jejak gigitan gemas yang ditinggalkan Braxton semalam tercetak nyata di mana-mana, berselang-seling dengan ukiran tato liar yang melilit tubuh istrinya.
"Lihat tubuhku!" jerit Lux melengking, air matanya kian deras membasahi pipinya yang merona merah padam. "Aku... aku sudah tidak seperti manusia lagi, Braxton! Aku sudah seperti macan tutul dengan corak kemerahan di seluruh tubuhku! Bagaimana bisa kau menggigitku sebanyak ini, Pria Gila?!"
Braxton menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Antara rasa bersalah, cemas, dan rasa ingin tertawa karena melihat cara unik istrinya meluapkan emosi, Braxton berusaha keras menahan garis bibirnya agar tidak tersenyum.
"Sayang... ma-maafkan aku," gagap Braxton, tangannya terangkat hendak menyentuh bahu Lux, namun langsung ditepis kasar oleh istrinya.
"Jangan sentuh aku!" tangis Lux makin meluap, memegangi dadanya yang terasa berdenyut. "Gigitanmu semalam... semuanya baru terasa perih dan ngilu pagi ini! Kau benar-benar tidak punya rasa kemanusiaan!"
Braxton mengusap wajahnya gusar, berlutut lebih dekat dan menatap istrinya dengan pandangan seribu persen penuh rasa bersalah. "Aku benar-benar minta maaf, Lux... Semalam aku... aku benar-benar kehilangan kendali karena kau begitu cantik dan—"
"Dan bukan cuma itu!" potong Lux histeris, menyela ucapan Braxton dengan bentakan yang tersedak tangis nelangsa.
"A-Apa lagi, Sayang?" tanya Braxton lembut, mencoba meraih jemari Lux.
Lux menatap pintu kamar mandi yang berjarak sekitar lima meter dari tempat tidur, lalu menatap Braxton dengan raut wajah yang amat hancur dan kesal.
"Aku... aku mau ke kamar mandi!" tangis Lux memilukan, kepalan tangan kecilnya memukul dada bidang Braxton berulang kali tanpa tenaga. "Tapi aku tidak bisa jalan! Seluruh persendian dan kakiku serasa lumpuh! Rasa sakit dan lemasnya baru menghantamku saat aku mencoba berdiri tadi!"
Dua alasan besar yang membuat cewek paling galak di Fakultas Seni itu menangis sesenggukan di hari Minggu pagi: tubuhnya berhias corak "macan tutul" akibat keagresifan suaminya, dan ketidakmampuannya untuk melangkah ke kamar mandi karena rasa lemas yang luar biasa.
Braxton menangkap kedua tangan Lux yang memukul dadanya. Pria itu mengunci jemari lentik istrinya, lalu menarik tubuh tipis Lux perlahan ke dalam pelukan hangatnya.
"Sshh... sudah, jangan menangis lagi, Sayang," bisik Braxton tepat di telinga Lux. Tangan kekarnya mengelus punggung mulus istrinya yang hangat, menyapukan kecupan-kecupan bersalah di rambut berantakan Lux. "Maafkan aku... Ini sepenuhnya salahku. Aku yang terlalu serakah dan tidak sabaran semalam."
Lux menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Braxton, membasahi kulit leher suaminya dengan air mata dan napasnya yang terengah parau. Rasa malu karena ketahuan lemas dan tidak berdaya membuat gengsi tinggi Lux hancur berkeping-keping di depan suaminya.
"Kau jahat..." gumam Lux lirih di leher Braxton, isakannya perlahan mulai mereda akibat kehangatan dekapan suaminya. "Kau bilang... kau bilang kau akan melakukannya dengan lembut..."
"Iya, aku jahat. Aku suami yang sangat jahat," aku Braxton tulus tanpa membantah sedikit pun. Pria itu merenggangkan pelukannya sedikit, mengusap air mata di pipi Lux dengan ibu jarinya secara amat perlahan dan penuh kelembutan. "Tapi berhentilah menangis, ya? Hati suamimu ini rasanya mau hancur melihatmu menangis seperti ini."
Lux menatap Braxton dengan mata abu-abunya yang masih basah, bibirnya yang bengkak alami merengut makin menggemaskan. "Lalu bagaimana dengan tubuhku? Bagaimana kalau bekas ini tidak hilang dalam seminggu?!"
Braxton menyunggingkan senyum hangat yang amat menawan—sebuah senyuman penuh cinta yang seketika meluluhkan hawa dingin di kamar tersebut.
"Kalau bekas ini tidak hilang, biar seluruh dunia tahu kalau kau adalah milik Braxton Desmon," bisik Braxton dengan nada manis yang teramat seksi. "Tapi jangan khawatir, aku punya salep khusus di lemari medis. Aku sendiri yang akan mengoleskannya di seluruh tubuhmu sampai sembuh."
"Gombal..." gerutu Lux pelan, meski rona merah di pipinya kian membakar manis.
"Dan soal tidak bisa berjalan ke kamar mandi..." Braxton berdiri tegak dari posisinya berlutut. Tanpa memberikan peringatan sedikit pun, pria itu menyusupkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Lux dan satu tangannya lagi di punggung istrinya, lalu mengangkat tubuh tipis Lux ke dalam gendongan bridal style secara utuh.
"Braxton!" kaget Lux, refleks melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Braxton. Selimut sutra yang membungkus tubuhnya hampir meluncur turun, namun dengan sigap ditahan oleh kuncian tangan Braxton.
"Tugas suami adalah melayani dan merawat istrinya, Nyonya Desmon," ujar Braxton seraya menatap lurus ke dalam mata Lux dengan binar cinta yang meluap-luap. "Jika kau tidak bisa berjalan hari ini, esok hari, atau seminggu ke depan... maka aku yang akan menjadi kakimu."
Mendengar ucapan tulus, pria narsis di hadapannya itu mendadak menjelma menjadi sosok pelindung paling hangat yang pernah ada. Ketakutan, rasa malu, dan emosi meluap yang dirasakan Lux sejak bangun tidur seketika menguap tanpa bekas, berganti menjadi getaran cinta yang amat pekat di dalam dadanya.
Braxton melangkah pelan membawa Lux masuk ke dalam kamar mandi berlantai marmer yang hangat. Pria itu mendudukkan Lux dengan amat hati-hati di atas tepi bathtub berukir indah, lalu berlutut kembali di hadapan istrinya.
Dengan kesabaran luar biasa, Braxton mengisi bathtub dengan air hangat, menuangkan cairan aroma terapi vanila, lalu membilas wajah sembab istrinya menggunakan handuk kecil yang telah dibasahi air hangat.
"Masih sakit?" tanya Braxton lembut, mengusap pipi Lux yang merona.
Lux menggelengkan kepalanya pelan, menatap suaminya dengan pandangan yang penuh dengan rasa percaya dan kepasrahan utuh.
"Sudah tidak begitu sakit..." bisik Lux lirih. Tangannya terangkat, mengusap rahang tegas Braxton yang sedikit ditumbuhi janggut tipis. "Terima kasih, Braxton..."
Braxton tersenyum lebar, menyapukan kecupan hangat di telapak tangan Lux. "Sama-sama, Sayangku. Sekarang bersihkan dirimu dengan air hangat. Setelah itu, aku akan membawamu kembali ke tempat tidur dan kita akan sarapan bersama."
"Kau buatkan sarapan untukku?" tanya Lux terkejut kecil.
"Tentu saja," balas Braxton dengan gaya narsisnya yang mendadak kembali. "Dibuat langsung oleh tangan tampan suamimu. Makanan paling lezat di seluruh Los Angeles."
Lux tak sanggup lagi menahan senyum cantiknya. Sebuah terkekeh renyah meluncur dari bibir meronanya, membuat keindahan wajahnya meningkat seratus kali lipat di mata Braxton.
"Kau benar-benar narsis, Tuan Desmon," gumam Lux, menyapukan kecupan singkat yang amat manis di bibir Braxton.
"Tapi kau mencintai pria narsis ini, kan?" goda Braxton seraya berdiri.
"Sangat..." bisik Lux tulus, menatap suaminya dengan binar mata yang memancarkan janji abadi.
Pagi yang dimulai dengan isak tangis dan kekesalan manis itu bertransformasi menjadi momen paling romantis dalam lembaran awal rumah tangga mereka.
Di balik bekas-bekas kemerahan dan rasa lelah yang tertinggal, Braxton dan Lux makin menyadari bahwa tak ada lagi sekat di antara mereka—hanya ada dua hati yang saling melengkapi, saling merawat, dan siap mengarungi setiap detik kehidupan bersama sebagai sepasang suami istri yang sejati.
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux