Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
Nyala api dari sisa-sisa bangunan yang terbakar memantulkan cahaya merah berkelebat di atas permukaan genangan air di alun-alun Pulau Toroa. Asap tipis mengepul dari reruntuhan markas darurat, sementara para prajurit Angkatan Laut di bawah pimpinan Letnan Roka masih tertegun, menatap sosok raksasa Kapten Barts yang terkapar tak berdaya di tanah.
Namun, ketegangan itu tidak mereda. Udara justru semakin menipis, seolah tersedot oleh kehadiran seorang pemuda berambut hijau lumut yang berdiri dengan postur santai namun penuh ancaman di ujung jalan.
Roronoa Zoro. Sang Pemburu Bajak Laut.
Tiga bilah katana tersarung rapi di sisi kanan pinggangnya, terikat erat oleh *haramaki* hijau. Mata tajam bagaikan binatang buas miliknya menatap lurus ke arah Giyu Tomioka. Tidak ada rasa gentar melihat pemandangan mengerikan di sekelilingnya—hanya ada binar antusiasme yang membara di dalam diri seorang pendekar yang selalu haus akan pertarungan melawan yang kuat.
"Aku tidak peduli dengan bajak laut gendut itu," gumam Zoro pelan, suaranya terdengar berat dan tegas di tengah kesunyian malam. Ia melangkah maju perlahan, bunyi sepatu botnya beradu dengan batu jalanan terdengar ritmis. "Yang kutarik minatnya adalah tebasanmu tadi. Gerakan itu... bersih, tanpa keraguan, dan memiliki beban yang tidak biasa."
Zoro meletakkan tangan kanannya di atas gagang pedang utamanya, *Wado Ichimonji*, sementara dua tangan lainnya bersiap memegang sisa katana standar di pinggangnya. Aura tajam mulai terpancar dari tubuh pemuda berambut hijau itu, sebuah manifestasi dari tekad baja seorang pria yang bercita-cita menjadi pendekar pedang terkuat di dunia.
Di atas menara lonceng tua yang terletak di seberang alun-alun, tersembunyi dalam kegelapan dan bayang-bayang, Muzan Kibutsi mengawasi semuanya melalui sudut pandang *dual-vision* Giyu.
Muzan mengerutkan keningnya tipis. Sakit kepala akibat transfer kesadaran tingkat lanjut tadi masih menyisakan denyutan kecil di pelipisnya.
*Roronoa Zoro,* batin Muzan menganalisis dengan dingin. *Berdasarkan timeline canon, dia seharusnya sudah bergabung dengan kelompok Monkey D. Luffy. Kenapa dia ada di sini sendirian? Ah, kemungkinan besar mereka terpisah saat kekacauan di pelabuhan atau dia sedang berjalan-jalan sendiri untuk mencari makanan atau pedang baru. Apapun alasannya, pria ini adalah salah satu variabel berbahaya di East Blue.*
Secara kekuatan fisik dan teknik, Zoro pada tahap ini (setelah insiden Arlong Park) adalah salah satu manusia terkuat di lautan timur. Mengadunya dengan Giyu Tomioka akan menjadi tontonan spektakuler, namun Muzan bukanlah tipe orang yang mengambil risiko yang tidak perlu jika tidak ada keuntungan finansial atau strategis di baliknya.
Namun, tepat saat Muzan hendak membuat Giyu mundur atau menghindari konfrontasi yang tidak penting itu, sebuah notifikasi sistem berkedip terang di sudut pandang mentalnya.
«"DING!"»
«"Misi Tersembunyi Terpicu: Benturan Takdir Para Pendekar Pedang."»
«"Tujuan: Hadapi atau kalahkan Roronoa Zoro dalam duel pedang."»
«"Hadiah Penyelesaian Misi: 1 Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu), 100.000 Belly, dan Peningkatan Daya Tahan Boneka +10%."»
Mata hitam Muzan melebar sedetik. *Tiket Gacha Karakter Kuat.* Hadiah itu bernilai setara dengan tarikan 100.000 Belly di sistem. Di dunia di mana setiap sen sangat berharga untuk membangun pasukan, melewatkan kesempatan mendapatkan tiket tingkat tinggi secara cuma-cuma adalah sebuah kebodohan.
Terlebih lagi, sistem baru saja memberikannya peningkatan kapasitas: ia kini dapat mengendalikan **dua boneka secara bersamaan**.
Sebuah seringai tipis terukir di bibir pucat Muzan yang tersembunyi di dalam kegelapan menara.
"Kapasitas dua slot... dan aku masih menyimpan tiga Tiket Gacha Karakter Menengah dari misi sebelumnya di inventory," gumam Muzan pelan di dalam hatinya. "Mari kita uji batas sistem ini."
Ia memfokuskan pikirannya ke dalam tab **[Inventory]**. Di sana, tiga buah tiket berwarna hijau perak tersusun rapi.
"Sistem, gunakan satu Tiket Gacha Karakter Menengah sekarang."
Di dalam ruang mentalnya, roda roulette berputar cepat. Warna hijau dan biru berbaur, sebelum akhirnya jarum penunjuk berhenti dengan bunyi *klik* pada warna biru terang—tingkat Menengah Atas.
«"DING!"»
«"Gacha Selesai. Selamat, Host mendapatkan Boneka Tingkat Menengah (Tier Biru)!"»
«"Mengekstrak data karakter... Menyesuaikan dengan hukum fisika dunia One Piece..."»
«"Ekstraksi selesai."»
Sebuah kartu holografik melayang di hadapan kesadaran Muzan. Di atas kartu itu tergambar seorang pemuda berambut kuning cerah dengan garis merah, mengenakan seragam pemburu iblis berwarna cokelat gelap, serta *haori* segitiga berwarna kuning terang. Di pinggangnya tersarung sebuah pedang bermata nichirin dengan pola petir.
«"Boneka Diperoleh: Zenitsu Agatsuma"»
«"Asal Dunia: Demon Slayer (Kimetsu no Yaiba)"»
«"Afiliasi Asli: Demon Slayer Corps"»
«"Gaya Bertarung: Thunder Breathing (Pernapasan Petir - Bentuk Pertama: Thunderclap and Flash)"»
«"Status Boneka: Tersimpan di [Puppet Storage]"»
Muzan sedikit tertegun, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh perhitungan. *Zenitsu Agatsuma. Pendekar yang hanya menguasai satu bentuk pernapasan, namun bentuk pertama itu memiliki kecepatan setara kilat yang melampaui batas mata manusia normal jika ia berada dalam kondisi tidak sadar—atau dalam kasus ini, dikendalikan secara mutlak oleh sistem.*
Dengan dua boneka di tangannya—Giyu yang memiliki fleksibilitas pertahanan dan serangan menyeluruh, serta Zenitsu yang memiliki kecepatan ledakan tunggal yang mengerikan—Muzan memiliki kombinasi taktis yang sempurna.
"Keluarkan Zenitsu Agatsuma," perintah Muzan dalam hati.
Di samping tubuh asli Muzan yang duduk di lantai menara lonceng, partikel cahaya biru berkumpul, membentuk sosok pemuda berambut kuning yang tertidur lelap dengan posisi berdiri. Ya, Zenitsu dipanggil dalam kondisi tertidur (kondisi di mana potensi sejatinya aktif), dan karena dikendalikan oleh Muzan, ia tidak akan rewel atau menangis ketakutan seperti sifat aslinya di anime. Ia adalah boneka patuh yang siap meledak dalam kecepatan cahaya kapan saja.
Muzan membagi kesadarannya menjadi tiga bagian: 5% untuk menjaga tubuh aslinya, 45% untuk mengendalikan Giyu di alun-alun, dan 50% untuk mengendalikan Zenitsu yang berada di dekatnya. Sensasi pusing sempat menghantam kepalanya, namun dengan ketahanan mentalnya yang tinggi, ia berhasil mengatasinya.
Kembali ke alun-alun Pulau Toroa.
Zoro berdiri hanya berjarak lima meter dari Giyu Tomioka. Angin malam meniup rambut hijau lumutnya.
"Kau tidak berniat mencabut pedangmu?" tanya Zoro menyipitkan mata, merasa sedikit tersinggung karena Giyu tetap membiarkan tangan kanannya bersandar santai di dekat gagang pedang tanpa berniat mengambil sikap bertarung yang serius.
Melalui kendali Muzan, Giyu membuka mulutnya. Suaranya datar dan dingin menusuk udara malam.
"Jika kau ingin melihatnya, cabut tiga pedangmu dan tunjukkan padaku apa yang bisa kau lakukan."
Seringai di wajah Zoro melebar hingga memperlihatkan deretan giginya. "Sombong sekali... Aku suka itu!"
*SRAATT!*
Zoro menarik ketiga pedangnya sekaligus dalam satu gerakan fluid yang sangat terlatih. *Wado Ichimonji* digigit di antara giginya, sementara dua katana standar di tangan kanan dan kirinya diangkat membentuk posisi diagonal yang khas. Tiga gaya pedang—*Santoryu*.
Tekanan udara di sekitar mereka mendadak berubah berat. Letnan Roka dan para prajurit Angkatan Laut yang menonton dari pinggir lapangan harus mundur beberapa langkah karena tidak tahan dengan aura tekanan psikologis yang dipancarkan oleh dua pendekar pedang tersebut.
"Jangan berkedip," bisik Zoro pada dirinya sendiri.
**"Santoryu Ogi: San-zen Sekai (Three Thousand Worlds)!"**
Zoro melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Kakinya menghantam tanah hingga batu-batu kecil berhamburan ke udara. Tiga bilah pedangnya berputar cepat bagaikan baling-baling helikopter, menciptakan bilah angin tajam yang mengarah langsung untuk merobek tubuh Giyu menjadi serpihan kecil.
Di mata orang biasa, serangan itu tidak terlihat selain kilatan cahaya perak yang menyilaukan.
Namun di mata Muzan yang mengendalikan Giyu, gerakan itu terpetik jelas dalam bingkai demi bingkai.
*Kecepatan tinggi, momentum putaran yang sempurna, memanfaatkan kekuatan otot dada dan bahu secara maksimal,* analisis Muzan dalam sepersekian detik. *Tapi sudut serangannya memiliki sedikit celah di sisi kiri bawah.*
"Giyu," perintah Muzan dalam benaknya.
**"Pernapasan Air, Bentuk Kelima: Musim Dingin
yang Berkah (Blessed Rain After the Drought)."**
Giyu bergerak. Gerakannya tidak lagi agresif seperti saat melawan Barts, melainkan berubah menjadi gerakan yang sangat anggun dan pasrah—sebuah tebasan pedang yang dirancang khusus untuk menghentikan pertarungan tanpa rasa sakit ketika musuh menyerah atau menyerang dengan niat murni.
Bilah *Nichirin* biru milik Giyu terayun lembut, membelah angin puting beliung dari teknik *San-zen Sekai* milik Zoro.
*CLANG! CLANG! CLANCING!*
Suara benturan logam bergemang nyaring memecah malam. Percikan bunga api menyembur liar di titik pertemuan pedang mereka.
Zoro melebarkan matanya. Saat tiga bilah pedangnya berbenturan dengan pedang tunggal milik Giyu, ia merasakan gelombang tenaga yang luar biasa besar dan padat, seolah-olah ia sedang mencoba menebas aliran air terjun yang kokoh. Setiap kali ia mencoba menekan lebih dalam, energi dari pedang Giyu memantulkan kembali tekanannya dengan presisi mutlak.
*Kekuatan apa ini?!* batin Zoro terkejut. *Dia hanya menggunakan satu pedang, tapi rasanya aku sedang melawan dinding besi yang mengalir!*
Mereka berdua saling dorong selama beberapa detik, menciptakan gelombang kejut kecil yang menyapu debu di sekeliling mereka.
"Kau lumayan juga, Pendekar Berhaori," geram Zoro dari balik giginya yang menggigit *Wado Ichimonji*.
"Kau juga tidak buruk," jawab Giyu datar, suaranya tetap tenang tanpa sedikit pun perubahan napas.
Muzan, yang mengawasi dari menara, menyadari satu hal. Jika pertarungan ini dibiarkan berlarut-larut secara seimbang, itu hanya akan membuang energi dan menarik perhatian lebih banyak orang dari Angkatan Laut atau bajak laut lain yang mungkin mendengar keributan ini. Ia harus mengakhiri tes ini dengan cepat, sekaligus menyelesaikan misi sistem.
Di sinilah kartu as keduanya masuk.
Di atas menara lonceng yang gelap, tubuh Zenitsu Agatsuma yang tadinya berdiri tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya. Mata madu itu tertutup rapat oleh bayangan rambut kuningnya, namun postur tubuhnya berubah kaku. Seluruh otot di kakinya menegang secara drastis, bersiap melepaskan energi potensial yang masif.
Muzan mengalihkan sebagian besar fokus mentalnya ke tubuh Zenitsu.
*Giyu akan memicu jarak. Zenitsu akan mengeksekusi penutup,* rancang Muzan dalam otaknya yang dingin.
Di alun-alun bawah, Giyu tiba-tiba melompat mundur sejauh tiga meter dengan gerakan melayang yang ringan, memutuskan kontak pedang dengan Zoro.
Zoro, yang kehilangan keseimbangan sejenak akibat dorongan mendadak itu, mengerutkan kening. "Mau lari?" teriaknya, bersiap mengejar.
Namun, sebelum kaki Zoro sempat melangkah maju, sebuah suara sambaran angin yang sangat aneh dan tajam terdengar dari arah kegelapan menara lonceng di atas gereja seberang.
Suara itu mirip dengan suara petir yang menyambar bumi di tengah badai, disertai kilatan cahaya kuning terang yang menyilaukan mata seluruh orang yang hadir di alun-alun.
*ZZZZTTTT—BAMMM!*
Belum sempat Zoro memproses apa yang terjadi, sebuah bayangan kuning telah melesat menembus udara dalam garis lurus sempurna dengan kecepatan yang melampaui akal sehat manusia. Itu bukan lagi kecepatan lari; itu adalah teleportasi berbasis momentum petir.
**"Pernapasan Petir, Bentuk Pertama: Petir Kilat dan Kilatan (Hekireki Issen)!"**
Zenitsu Agatsuma—yang sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan—melesat turun dari menara lonceng, melintasi jarak ratusan meter dalam waktu kurang dari satu detik, dan melintas tepat di sebelah Zoro.
Zoro merasakan hembusan angin yang begitu tajam hingga pipinya terasa tersayat. Insting bertahan hidupnya yang sangat tajam menjerit ketakutan. Tanpa sadar, Zoro memutar tubuhnya dan mengangkat *Wado Ichimonji* ke samping untuk menangkis bayangan kuning yang lewat.
*CLANG!*
Sebuah benturan keras terjadi. Zenitsu mendarat dengan mulus di tanah berjarak dua meter di belakang Zoro, pedangnya masih tersarung setengah di pinggangnya, sementara asap tipis mengepul dari bilahnya akibat gesekan kecepatan tinggi.
Zoro terdiam kaku di tempatnya. Ia berdiri mematung dengan posisi setengah berputar.
Beberapa detik kemudian, tali ikatan *haramaki* hijau di pinggang Zoro terpotong rapi menjadi dua, dan sehelai rambut hijau dari poninya terkelupas melayang jatuh ke tanah.
Zoro menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya membasahi lehernya. Ia tidak melihat gerakan pemuda berambut kuning itu saat melompat dari menara. Ia hanya melihat kilatan petir, dan dalam sepersekian detik itu, lehernya atau perutnya sebenarnya bisa ditebas jika pemuda itu berniat membunuhnya.
Letnan Roka dan para prajurit Angkatan Laut di pinggir lapangan jatuh berlutut karena shock. Dua monster pendekar pedang dalam satu malam? Dari mana asal para pria aneh ini?!
Di atas menara lonceng, Muzan menghela napas lega. Sinkronisasi dua boneka sekaligus menguras kapasitas mentalnya, namun hasilnya sempurna.
Sebuah layar holografik biru terang langsung muncul di hadapan Muzan.
«"DING!"»
«"Misi Selesai: Benturan Takdir Para Pendekar Pedang."»
«"Evaluasi: Pertunjukan taktis yang luar biasa. Menggunakan dua boneka untuk mendominasi medan pertempuran."»
«"Hadiah didistribusikan: 1 Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu), 100.000 Belly, Peningkatan Daya Tahan Boneka +10%."»
Muzan menutup panel sistemnya sejenak. Ia melihat ke arah alun-alun bawah melalui mata Zenitsu dan Giyu.
Zoro perlahan menurunkan pedangnya, lalu menoleh ke belakang, menatap tajam ke arah Zenitsu yang berdiri kaku, dan kemudian beralih ke Giyu yang berdiri tenang di dekatnya. Seringai di wajah Zoro perlahan berubah menjadi senyuman tipis penuh rasa hormat dan penasaran yang membuncah.
"Kalian..." Zoro tertawa kecil, meski napasnya masih sedikit terengah-engah. "Kalian benar-benar kumpulan monster yang tidak masuk akal. Siapa sebenarnya master di balik kalian?"
Baik Giyu maupun Zenitsu tidak menjawab. Mereka tetap berdiri diam tanpa emosi, menunggu perintah selanjutnya dari dalang yang bersembunyi di dalam kegelapan menara.