Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Aku Bukan Pembantumu
Arini menatap satu per satu wajah yang ada di hadapannya. Wajah-wajah yang seharusnya menjadi keluarganya. Wajah-wajah yang seharusnya melindunginya.
Namun nyatanya, merekalah yang sedang menginjak harga dirinya tanpa belas kasihan.
Dadanya terasa sesak, tetapi ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak.
Sejak kecil hidup memang tidak pernah ramah kepadanya. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Tidak ada satu pun kerabat yang benar-benar menginginkannya. #Bahkan tantenya sendiri lebih memilih menyerahkannya ke panti asuhan setelah berhasil menguasai rumah peninggalan orang tuanya.
Arini masih ingat bagaimana dirinya menangis di depan gerbang panti saat itu. Seorang anak kecil yang kehilangan semuanya dalam waktu bersamaan.
Keluarga. Rumah. Dan tempat pulang.
Sejak saat itu ia belajar satu hal. Jangan berharap terlalu banyak kepada manusia. Karena orang-orang terdekatlah yang sering kali meninggalkan luka paling dalam.
Kalau dulu ia hanya bisa diam saat diperlakukan tidak adil, kali ini tidak. Arini menarik napas panjang. Mengisi paru-parunya hingga penuh.
Mengumpulkan keberanian yang selama ini terkubur di dalam dirinya.
"Maaf, kalian tidak bisa seenaknya mengatur hidupku."
Semua orang langsung menoleh ke arahnya.
"Kamar pribadiku tidak akan pernah aku berikan kepada siapa pun. Itu milikku. Kalau Mayang butuh tempat tidur, silakan gunakan kamar tamu."
Mayang langsung memasang wajah tidak suka.
Sementara Galang menatap istrinya tajam.
"Kalau begitu aku juga akan tidur di ruang tamu."
Arini menatap suaminya tanpa gentar. "Silakan!"
Meski suaranya sedikit bergetar, ia tidak menundukkan kepala. Tidak kali ini. Ia memilih membela dirinya sendiri.
Suasana mendadak canggung. Bu Sumarni segera berdeham. "Ya sudah, ayo kita makan. Saya sudah lapar."
Wanita itu langsung melangkah menuju ruang makan. "O iya, ayo makan!" sambung Pak Hardi seolah tidak terjadi apa-apa.
Arini memandang mereka dengan getir. Hebat sekali. Baru saja menghancurkan perasaannya, sekarang mereka bisa bersikap santai seperti sedang merencanakan liburan keluarga.
"Wooow! Makan besar, nih!" seru Vera antusias begitu melihat meja makan.
Arini tidak berniat ikut. Ia ingin langsung naik ke kamar dan mengunci diri sampai pagi. Namun baru beberapa langkah berjalan, suara Bu Sumarni menghentikannya.
"Riiinnn! Sini kamu!" Arini mengepalkan tangannya sebelum akhirnya berbalik.
Ia berjalan menuju ruang makan. Namun sesampainya di sana, langkahnya terhenti.
Galang dan Mayang duduk berdampingan. Sangat dekat. Sangat mesra. Pemandangan yang membuat dadanya seperti ditusuk berkali-kali.
"Kamu ikut makan di sini!" perintah Bu Sumarni.
Arini tetap berdiri. "Layani kami!"
Arini tertawa pendek. Sebuah tawa yang lebih terdengar seperti ejekan. "Makan ya makan aja. Pakai minta dilayani segala."
Wajah Bu Sumarni langsung memerah. "Kamu jangan kurang ajar, Rin! Galang masih suamimu dan aku masih ibu mertuamu!"
"Terus aku harus melayani apa?" balas Arini tajam. "Itu kan tinggal ambil sendiri. Apa susahnya?"
"Ya sudah, Bu. Saya sudah lapar. Nggak usah berdebat lagi!" Pak Hardi akhirnya menghentikan pertengkaran itu.
Bu Sumarni mendengus kesal. Namun beberapa detik kemudian wanita itu kembali membuka suara.
"O ya, Rin." Arini berhenti melangkah. "Mulai besok kamu yang harus melayani kami. Masak, menyiapkan makanan, mencuci, dan mengurus kebutuhan rumah."
Arini menatap ibu mertuanya tanpa ekspresi.
"Karena Mayang tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar." Bu Sumarni melirik Mayang yang tersenyum manis. "Dia wanita kaya." Lalu wanita itu melanjutkan kalimatnya dengan nada merendahkan. "Kalau kamu, kan sudah biasa kerja kasar sejak tinggal di panti asuhan."
Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada yang menegur.
Tidak ada yang membela. Bahkan Galang hanya diam. Arini tersenyum tipis. Bukan karena senang.
Tetapi karena akhirnya ia sadar. Di mata mereka, dirinya memang tidak lebih dari pembantu yang kebetulan berstatus istri.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arini berbalik. Ia tidak ingin mendengar hinaan berikutnya.
Namun sebelum kakinya mencapai tangga, suara Bu Sumarni kembali terdengar.
"O ya, mulai besok yang mengelola keuangan rumah tangga adalah Mayang."
Arini berhenti.
"Biar dia yang mengaturnya dengan adil."
Kali ini Arini tersenyum. Senyuman yang membuat Galang tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Oh, baik, Bu." Jawabannya terlalu tenang.
Terlalu mudah. "Dengan senang hati."
Galang langsung mengernyit.
"Aku akan siapkan dulu laporannya." Arini menoleh ke arah mereka.
"Besok pagi semua data keuangan akan aku serahkan. Lengkap dengan daftar tagihan, cicilan, dan seluruh kewajiban yang harus Mas Galang bayar setiap bulan."
Wajah Galang langsung berubah. Untuk pertama kalinya sejak tadi, pria itu terlihat panik.
Arini menangkap perubahan itu. Dan ia sangat menikmatinya. Sementara yang lain masih belum memahami maksud ucapannya. Mereka mengira Arini sedang menyerahkan kekuasaan. Padahal yang akan mereka terima besok pagi bukanlah kekuasaan.
Melainkan kenyataan. Kenyataan yang selama ini sengaja disembunyikan Galang dari keluarganya.
Arini menyeringai tipis sebelum melanjutkan langkah menuju lantai atas. Besok pagi akan menjadi hari yang sangat menarik.
Pagi itu Arini sudah bangun sejak subuh. Seperti biasanya. Kebiasaan yang selama ini tidak pernah dihargai oleh siapa pun di rumah itu. Ia membersihkan dirinya, salat, lalu masuk ke dapur.
Di sana masih terlihat jelas sisa kekacauan makan malam tadi. Piring kotor bertumpuk di wastafel.
Gelas-gelas bekas minuman berserakan di meja.
Sisa makanan masih tergeletak begitu saja.
Biasanya semua itu sudah dibereskan Arini sebelum tidur.
Namun kali ini tidak. Ia hanya melirik sekilas lalu mengabaikannya. Bukankah mulai sekarang Mayang yang akan mengatur rumah tangga? Biarlah mereka belajar. Arini membuka kulkas dan menemukan nasi sisa semalam.
Tak lama kemudian aroma bawang putih dan bawang merah yang ditumis mulai memenuhi dapur.
Beberapa menit kemudian sepiring nasi goreng hangat sudah tersaji. Lengkap dengan telur mata sapi dan kerupuk.
Sederhana. Tetapi cukup membuat perutnya kenyang. Setelah selesai memasak, Arini membawa sarapannya ke ruang keluarga.
Ia makan dengan santai sambil menikmati acara televisi pagi. Sudah lama ia tidak menikmati pagi setenang ini.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh tepat.
Namun seluruh penghuni rumah masih tertidur lelap. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara orang mandi. Tidak ada suara kesibukan seperti biasanya.
Arini tersenyum tipis. Hari ini ia tidak akan membangunkan siapa pun. Biarkan saja mereka bangun sendiri.
Bukankah Mayang wanita kaya yang tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar? Mungkin wanita itu juga tidak terbiasa bangun pagi.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka. Vera muncul sambil mengucek matanya.
Hidungnya langsung mengendus-endus udara.
"Emmm... ini kayaknya nasi goreng buatan Mbak Arini, deh. Baunya enak banget."
Tak lama kemudian Bu Sumarni juga keluar dari kamarnya.
Wanita itu menguap lebar. "Iya, harum banget. Jadi lapar."
Keduanya langsung berjalan menuju ruang makan.
Namun beberapa detik kemudian terdengar suara teriakan. "Mbak Ariiiin! Mana sarapannya?"
Arini tetap tenang menyendok nasi gorengnya.
Lalu suara Bu Sumarni menyusul dengan nada tinggi. "Arin! Sini kamu! Mana sarapannya?"
Arini mengunyah makanannya dengan santai sebelum menjawab. "Mau sarapan, Bu?"
"Iya lah! Masa nanya lagi!" bentak Bu Sumarni.
Arini mengangguk pelan. "Ya bikin sendiri!"
Semua orang langsung terdiam. "Apa?" Vera melotot.
Arini menatap mereka tanpa rasa takut. "Aku bukan pembantu."
Wajah Bu Sumarni langsung merah padam. "Kamu berani sekali ngomong begitu sama orang tua!"
Arini berdiri dari kursinya. "Yang bilang aku harus melayani kalian siapa?"
Bu Sumarni terdiam sesaat.
"Ibu sendiri, kan? Nah, sekarang aku menolak."
"Kurang ajar kamu!"
"Bukan kurang ajar, Bu. Aku cuma sedang mengikuti aturan baru."
"Aturan apa?"
Arini tersenyum tipis. "Kata Ibu, sekarang Mayang yang mengatur rumah tangga."
Tatapan semua orang langsung beralih ke Mayang yang baru saja keluar dari kamar bersama Galang.
Rambutnya masih berantakan. Wajahnya terlihat bingung.
"Jadi silakan minta sarapan kepada pengelola rumah tangga yang baru."
Mayang langsung pucat. "Eh... aku nggak bisa masak."
"Ya belajar!"
Jawaban Arini membuat wajah Mayang semakin kaku.
Bukankah semalam mereka begitu bersemangat mengambil alih semua urusan rumah? Sekarang saat baru dimulai, semuanya malah saling pandang.
Arini kembali duduk. Ia melanjutkan sarapannya dengan tenang. Sementara di ruang makan, tidak ada satu pun makanan yang tersedia.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, keluarga Galang merasakan bagaimana rasanya tidak dilayani oleh Arini.
___________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.