NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 17

BAB 17: Bisikan di Tengah Malam

​Siska melangkah menyusuri lorong hotel melati yang remang-remang dengan hati yang terasa sangat kosong. Bungkusan plastik berisi nasi bungkus yang dibelinya di warung depan gang terasa berat di tangannya, seberat keputusasaan yang baru saja dia bawa dari rumah Pak Cahyo. Jejak untuk menghentikan teror itu telah terputus total. Tidak ada pasak bumi, tidak ada senjata pusaka, dan tidak ada mantra sakti. Yang tersisa hanyalah sebuah peringatan untuk lari seumur hidup.

​Ketika Siska membuka pintu kamar nomor 204, suasana di dalam ruangan terasa sangat pengap. Gorden jendela hotel sengaja ditutup rapat, membuat kamar itu terasa seperti gua yang gelap gulita meskipun jam dinding baru menunjukkan pukul empat sore.

​Ferdi masih berada di posisi yang sama seperti saat Siska pergi tadi. Dia meringkuk di atas kasur tua, menghadap ke dinding tembok yang berjamur.

​"Mas... Siska sudah kembali. Ini Siska bawakan nasi goreng kesukaan Mas Ferdi. Makan sedikit ya, Mas? Dari kemarin perut Mas kosong terus," kata Siska dengan nada suara yang selembut mungkin. Dia meletakkan bungkusan makanan itu di atas meja kecil, lalu duduk di tepi ranjang.

​Ferdi tidak bergerak. Dia tidak mengeluarkan suara sepatah pun.

​Siska menghela napas panjang, air matanya hampir kembali menetes melihat kondisi kakaknya yang hancur. "Mas... Siska tadi pergi menemui Pak Cahyo lagi," bisik Siska akhirnya jujur. "Pak Cahyo cerita semuanya. Dia dulu cuma penjaga kebun di rumah itu, Mas. Dia juga tidak tahu bagaimana cara menghentikan bayi... maksud Siska, makhluk itu. Pak Cahyo cuma menyuruh kita untuk pergi dari kota ini. Lari sejauh mungkin."

​Mendengar kata 'lari', tubuh Ferdi tiba-tiba bergerak sedikit. Dia perlahan membalikkan badannya, telentang menatap langit-langit kamar hotel yang kusam. Wajah Ferdi tampak sangat mengerikan dalam beberapa hari ini. Matanya cekung dan dikelilingi lingkaran hitam yang tebal, pipinya kempot, dan bibirnya pecah-pecah hingga mengeluarkan sedikit darah kering.

​"Lari ke mana, Sis?" tanya Ferdi dengan suara yang teramat sangat serak, hampir menyerupai bisikan angin. "Ke mana pun kita pergi, bau darah kita tidak akan pernah berubah. Dia akan tetap bisa menemukan kita."

​Siska tertegun. Ini adalah kalimat terpanjang yang diucapkan Ferdi sejak pemakaman Mbak Selfi. "Kita coba dulu, Mas. Kita pindah ke luar pulau, atau ke tempat yang ramai. Kita tidak boleh menyerah di sini."

​Ferdi tidak menjawab lagi. Dia kembali memejamkan matanya, membiarkan keheningan yang mencekam kembali menguasai kamar hotel mereka.

​Malam pun tiba dengan sangat cepat, membawa kembali hawa dingin yang selalu membuat bulu kuduk Siska berdiri. Pukul sebelas malam, Siska mencoba untuk memejamkan mata di atas sofa kecil yang terletak di sudut kamar. Tubuhnya sangat lelah, namun otaknya terus menolak untuk tidur. Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan bayi Doni yang mengunyah jantung Mbak Selfi langsung terlintas dengan jelas.

​Di tengah kesunyian malam hotel yang sepi, Siska mendadak mendengar suara desisan halus yang sangat kaku dari arah tempat tidur Ferdi.

​Siska membuka matanya sedikit, mencoba mengintip dalam kegelapan. Di atas ranjang, Ferdi tampak duduk tegak. Posisinya sangat kaku, membelakangi Siska. Kedua tangan Ferdi memegangi kepalanya sendiri dengan sangat erat, seolah-olah dia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam otaknya.

​"Pergi... Jangan bicara lagi... Pergi..." bisik Ferdi dengan suara yang gemetar dan penuh ketakutan.

​Siska seketika merinding. Dia perlahan menegakkan duduknya di atas sofa. "Mas Ferdi? Mas kenapa? Ada yang sakit?" tanya Siska dengan suara pelan, takut mengejutkan kakaknya.

​Ferdi tidak menoleh. Dia justru mulai memukul-mukul kepalanya sendiri dengan telapak tangannya. BUGH! BUGH! BUGH!

​"Mas! Hentikan, Mas! Jangan begitu!" jerit Siska panik. Dia langsung berlari menghampiri ranjang dan menahan kedua tangan Ferdi agar berhenti menyiksa dirinya sendiri. Saat Siska memegangi tangan kakaknya, dia terkejut karena suhu tubuh Ferdi sangat dingin, sedingin es yang membeku.

​Ferdi mendongak, menatap Siska dengan sepasang mata yang melotot lebar dan dipenuhi oleh urat-urat merah yang tegang. "Sis... kamu dengar nggak? Dia memanggilku, Sis... Dia ada di luar..." kata Ferdi dengan napas yang memburu dan tidak teratur.

​"Siapa yang memanggil, Mas? Nggak ada siapa-siapa di sini. Ini kamar hotel, kita aman," sahut Siska, mencoba menenangkan kakaknya padahal jantungnya sendiri berdegup sangat kencang.

​"Doni... Anakku Doni..." bisik Ferdi lagi, suaranya mendadak berubah menjadi sangat kekanak-kanakan, lalu berubah lagi menjadi serak. "Dia berbisik di dalam telingaku, Sis. Dia bilang dia haus... Dia bilang susu ibunya sudah habis, dan sekarang dia mau meminta darah ayahnya... Suaranya dekat sekali, Sis. Tepat di dalam otakku!"

​Siska membekap mulutnya sendiri. Depresi berat yang dialami Ferdi tampaknya telah membuka celah bagi sisa-sisa energi gaib dari kutukan pesugihan itu untuk merasuki pikirannya. Makhluk itu tidak perlu datang secara fisik untuk meneror mereka; dia bisa mengirimkan bisikan gaib yang merusak akal sehat korbannya dari kejauhan.

​"Jangan didengarkan, Mas! Itu bukan Doni! Itu iblis yang berpura-pura!" teriak Siska sambil menggoyang-goyang pundak Ferdi, mencoba mengembalikan kesadaran kakaknya. "Ayo istighfar, Mas! Ingat Mbak Selfi!"

​Mendengar nama Selfidisebut, Ferdi mendadak terdiam. Tubuhnya yang kaku perlahan-lahan mengendur. Air mata kembali mengalir deras dari sepasang matanya yang merah. Dia merosot jatuh ke atas bantal, menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis terisak-isak seperti anak kecil.

​"Aku gagal, Sis... Aku gagal menjaga mereka..." ratap Ferdi di sela-sela tangisnya.

​Siska ikut menangis, dia duduk di lantai samping ranjang sambil memegangi tangan kakaknya yang dingin. Suasana malam itu terasa begitu menyiksa. Di luar jendela kamar hotel, angin malam berembus kencang, sesekali memukul kaca jendela dengan suara ketukan yang ritmis.

​Siska menatap ke arah jendela hotel yang tertutup gorden. Di balik kain gorden yang tipis itu, dia seolah-olah bisa melihat sesosok makhluk kecil berkaki bengkok sedang duduk mematung di atas dahan pohon di luar hotel, menatap lurus ke arah kamar mereka dengan sepasang mata merah yang menyala dalam kegelapan, menunggu dengan sabar sampai akal sehat Ferdi runtuh sepenuhnya.

​Malam itu, Siska menyadari satu kenyataan baru yang teramat sangat pahit. Melarikan diri ke ujung dunia sekalipun tidak akan pernah berguna jika makhluk itu sudah berhasil menanamkan bisikan setannya di dalam kepala Mas Ferdi. Waktu mereka untuk bertahan hidup kini bukan lagi dihitung dalam hitungan hari, melainkan dalam hitungan sisa akal sehat yang dimiliki oleh kakaknya.

​jangan lupa like dan komen ya suy 🤗 biar author semangat berkarya 🥰

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!