Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Adu Banteng di Altar Putih
_____________________________
Deru roda-roda besi yang menggilas rel membeku di palung es Murmansk bergema bagai genderang perang apokalips. Angin badai kutub utara melolong kian gila, menyemburkan jutaan kristal salju yang tajam, membutakan pandangan, dan membekukan sisa-sisa uap napas menjadi serpihan es seketika. Namun, di atas gerbong kargo terbuka lokomotif militer kuno berlapis baja hitam peninggalan Uni Soviet itu, atmosfer justru terasa mendidih oleh letupan emosi yang melampaui batas kegilaan manusia.
Arunika palsu mencengkeram erat leher Haryo Valentino dengan jemari tangan kirinya yang berpendar amber murni. Kekuatan biologis baru yang mengalir di pembuluh darahnya setelah menyuntikkan sel progenitor Eclipse Omega murni membuat cengkeramannya sekeras tang baja militer. Di bawah tumit sepatu bot taktisnya yang kaku, tubuh Haryo Valentino yang asli—sang mentor agung dengan wajah barunya yang penuh kerutan tegas hasil bedah radikal—terkapar kaku di atas lantai gerbong yang dilapisi es licin.
Pistol saku perak di tangan Haryo telah terlempar, jatuh berdenting ke dalam celah rel yang berputar cepat di bawah mereka. Pria tua yang selama dua belas tahun memalsukan kematiannya di Indonesia untuk bertindak sebagai sutradara global dunia hitam itu kini menatap salinan yang dia buang ke desa Jawa Tengah dengan sepasang mata elang yang memancarkan perpaduan antara ketakutan murni dan obsesi ilmiah yang patah.
"Kau... kau tidak akan pernah bisa merebut takhta ini, Produk Gagal!" kutuk Haryo, suaranya parau, terputus-putus akibat sumbatan darah segar di tenggorokannya yang kian tercekik.
Arunika palsu tidak menjawab dengan makian. Wajah cantiknya begitu porselen, bersih, dan hampa. Kosmetiknya telah luntur disapu badai salju, meninggalkan sepasang mata yang berkilat amber pekat—sebuah tatapan dari sesosok malaikat maut yang telah kehilangan seluruh kemanusiaannya setelah berkali-kali dihancurkan oleh labirin kepalsuan silsilah darah Valentino.
"Takhtamu sudah runtuh di Zurich, Haryo," bisik Arunika palsu, suaranya begitu luwes, datar, dan sarat akan racun kematian sedingin kutub Rusia. "Dan malam ini, aku tidak datang untuk menuntut hak asuh sebagai anakmu. Aku datang untuk memastikan bahwa cermin terakhir yang kau ciptakan ini... akan menusuk jantungmu hingga berhenti berdetak."
### Tabrakan Dua Kerajaan
Tepat di saat ujung belati ganda di tangan kanan Arunika palsu berada satu milimeter di atas pembuluh darah leher Haryo, bumi Murmansk seolah-olah terbelah oleh raungan sirene mekanik raksasa dari arah depan jalur rel.
Ckiieeeekkk!!! Blam!
Dari balik kabut putih badai es yang tebal, sebuah lokomotif militer raksasa kedua milik faksi Volkov internasional yang sepenuhnya berwarna putih salju melaju berlawanan arah dengan kecepatan lebih dari seratus lima puluh kilometer per jam. Jalur ganda rel di lembah es itu ternyata telah dikunci pada satu jalur tunggal yang sama oleh sabotase sistem darurat tertinggi Rusia. Jarak di antara kedua lokomotif baja itu menyusut drastis dari lima puluh meter menjadi kurang dari dua puluh meter dalam hitungan milidetik.
Letupan emosi pembaca dipastikan akan naik turun dengan ekstrem di bagian krusial ini. Ketakutan, kemarahan defensif, dan keputusasaan yang mendalam bergolak hebat di dalam dada. Di dalam kabin kemudi lokomotif hitam, Arsen Valentino yang baru saja menghabisi dua pengawal elit Rusia dengan pisau taktis bermata gandanya, terbelalak melihat monster besi putih yang siap menghantam mereka dari depan. Sepasang mata elang sang raja mafia baru berkilat gila; egonya menolak runtuh oleh tabrakan adu banteng, dan dominasi mutlaknya menuntut sebuah jalan keluar taktis yang mustahil.
"Valeria! Melompat!" teriak Arsen, suaranya menggelegar membelah lolongan badai es, menggunakan nama palsu itu dengan konsistensi mutlak untuk memutus dosa inses terencana yang dirancang paman mereka.
Namun, arus angin dari pergerakan dua lokomotif raksasa yang saling mendekat menciptakan tekanan udara negatif yang mengunci tubuh Arunika palsu di atas lantai gerbong. Dan dari balik jendela kabin lokomotif putih salju yang kian mendekat, sesosok wanita paruh baya dengan pakaian taktis hitam yang dipenuhi luka bakar parah menatap mereka.
Katarina Vane yang asli—atau klonasi bayangan rahasia yang digerakkan dewan tetua Rusia tertinggi—menyunggingkan sebuah senyuman manipulatif yang paling mengerikan. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah perangkat detonator nirkabel yang terhubung langsung dengan tangki bahan bakar cair di dalam lokomotif putihnya.
BRANGPOOOOOMMMM!!!
Benturan adu banteng dua lokomotif militer raksasa itu meledak dengan kekuatan destruktif yang luar biasa dahsyat. Hantaman moncong baja hitam dan baja putih menghancurkan struktur lokomotif dalam sekejap, melemparkan ribuan ton serpihan besi, roda-roda raksasa, dan lempengan baja ke udara seperti badai kristal maut yang menyayat kegelapan malam. Ledakan sekunder dari tangki bahan bakar memicu bola api jingga raksasa yang membubung tinggi menembus badai salju, menguapkan hamparan es di sekitarnya dalam radius seratus meter.
Daya dorong ledakan melemparkan tubuh Arsen Valentino, Arunika palsu, dan Haryo Valentino terpelanting ke arah yang berbeda, meluncur jatuh bebas ke dalam jurang es terdalam di bawah jalur rel yang runtuh berantakan.
### Kehampaan di Palung Es Terdalam
Kesadaran Arunika palsu menipis drastis saat tubuhnya menghantam dinding es pembatas jurang sebelum akhirnya terenyak ke atas gundukan salju tebal di dasar palung es yang gelap gulita. Rasa sakit yang luar biasa menyengat seluruh persendian tubuhnya, namun sel progenitor Eclipse Omega di dalam pembuluh darahnya bekerja dengan kecepatan militer, memicu regenerasi sel darurat yang memancarkan pendar cahaya amber terang dari balik pori-pori kulit leher kirinya, mencegah kematian organ akibat benturan masif tersebut.
Dia terbatuk-batuk hebat, memuntahkan sisa darah encer ke atas salju putih yang kini ternoda merah pekat. Ketika dia membuka matanya yang kuyu, suasana di dasar palung es itu begitu sunyi, terisolasi, dan hanya diterangi oleh pendar kobaran api sisa reruntuhan gerbong kereta yang jatuh dari atas langit jurang.
Berjarak lima meter di depannya, Arsen Valentino tampak sedang mencoba bangkit berdiri dengan bertumpu pada sebilah pisau taktisnya yang tertancap di tanah es. Kemeja putih di dadanya telah hancur sepenuhnya, menampilkan luka gores menganga yang berdarah, namun sepasang mata elangnya tetap memancarkan aura dominasi seorang predator tertinggi dunia hitam yang menolak tunduk pada maut. Koper perak di dadanya kini telah ringsek, menyisakan satu tabung cairan amber terakhir yang bergetar rapuh di balik kompartemen kaca yang retak.
Namun, kejutan paling mengerikan di dasar palung es malam ini datang dari arah balik bayang-bayang bongkahan es raksasa di ujung jurang.
Haryo Valentino yang asli ternyata masih hidup. Meskipun kaki kanannya tampak patah kaku dan wajah barunya dipenuhi darah segar, pria tua itu merangkak dengan kegilaan obsesi ilmiah yang telah mencapai batas tertingginya. Tangannya yang berlumur darah mencengkeram erat tas diplomatik hitam yang berisi seluruh cetak biru pemulihan jaringan bisnis global dinasti mereka.
"Proyek... Proyek Eclipse tidak boleh berakhir di dalam jurang ini, Arsen..." ratih Haryo dengan suara parau yang rusak.
Tiba-tiba, dari arah kepulan asap hitam reruntuhan gerbong lokomotif putih yang jatuh di dekat mereka, sesosok wanita melangkah keluar dengan langkah kaku yang sangat mekanis. Katarina Vane. Tubuh taktis hitamnya terbakar sebagian, namun wajahnya yang dipenuhi luka bakar parah tetap memancarkan senyuman dingin yang sarat akan intrik politik tingkat tinggi. Dia tidak mengarahkan senjatanya ke arah Haryo, melainkan berjalan mendekati Arsen dan Arunika palsu dengan sebuah perangkat monitor biosensor baru di tangan kirinya.
"Sandiwara dua generasi Valentino selesai di palung es ini, Arsen," ucap Katarina Vane, suaranya terdengar begitu luwes namun beresonansi aneh melalui pengeras suara helm taktisnya.
> "Kalian mengira aku datang sebagai utusan dewan tetua Rusia untuk merampas cairan amber itu? Kalian salah besar. Faksi Volkov internasional, faksi barat, hingga proyek klonasi tiga wadah di Indonesia... semuanya hanyalah anak perusahaan dari sebuah konsorsium militer global baru yang bernama **'The Genesis Consortium'**... Dan malam ini, perintah tertulis yang kuterima dari markas pusat Jenewa adalah menghapus seluruh silsilah darah Valentino asli dari muka bumi, termasuk kau... Haryo!"
>
### Mahkota Tiga Cermin
Katarina Vane menekan satu tombol pada perangkat monitor biosensor di tangannya. Detik itu juga, dari arah langit-langit jurang es yang menganga lebar di atas kepala mereka, ratusan lampu sorot laser putih berdaya tinggi dari barisan helikopter militer siluman tanpa logo kenegaraan mendadak menyala secara serentak, menembus kabut malam dan mengunci koordinat dasar palung es dengan tingkat presisi militer yang mutlak.
Suara gemuruh langkah kaki ratusan pasukan khusus dengan pakaian zirah taktis berat berwarna putih salju—pasukan elit Genesis yang belum pernah terdeteksi oleh jaringan intelijen Marco—mulai turun menggunakan tali evakuasi cepat dari helikopter, mengelilingi posisi Arsen, Arunika palsu, dan Haryo Valentino dengan moncong senapan mesin otomatis yang terkunci mati.
Emosi pembaca kembali diaduk-aduk hingga ke titik nadir ketegangan yang paling mematikan di bagian ini. Transformasi psikologis Arunika palsu telah mencapai puncaknya yang paling hampa. Dia melihat dirinya kembali terkunci di dalam sangkar emas baru yang jauh lebih besar dan berdarah dari sekadar dinasti Valentino.
Arsen Valentino melangkah setapak ke depan, memangkas jarak di antara dirinya dan Arunika palsu. Dengan tangan kirinya yang menggenggam koper perak ringsek, dia menyandarkan punggung tegapnya pada pilar es, menatap ratusan moncong senjata di sekeliling mereka dengan sebuah seringai kejam penuh dominasi mutlak yang tidak tertandingi. Pria itu menolak menjadi budak dari konsorsium mana pun.
"Kau ingin menghapus namaku dari sejarah dunia bawah tanah, Katarina?" desis Arsen, suaranya merendah menjadi frekuensi maut yang paling mengintimidasi. "Kau lupa satu hal... aku adalah Arsen Valentino yang membangun faksi barat dari genangan darah ibuku. Dan jika tempat ini harus menjadi altar pembantaian, maka aku akan memastikan seluruh helikopter Genesis-mu ikut jatuh terbakar bersama sisa napas kami!"
Arunika palsu berdiri di samping Arsen, tangan kirinya yang memancarkan pendar cahaya amber Eclipse Omega terangkat tinggi di depan wajah Katarina Vane. Garis-garis urat cahaya di lehernya berdenyut ekstrem seirama dengan detak jantungnya yang telah menyatu dengan sel progenitor murni, menciptakan resonansi elektromagnetik lokal yang mulai mengganggu stabilitas indikator biosensor di gawai tangan Katarina.
"Mari kita mulai pembersihannya, Ibu palsu..." bisik Arunika palsu, suaranya renyah, datar, dan sarat akan kematian murni yang sanggup membekukan sisa keberanian pasukan khusus di sekeliling mereka.
Namun, tepat di saat komandan pasukan khusus Genesis bersiap memberikan aba-aba eksekusi tembakan massal untuk memusnahkan mereka semua di dasar jurang, lantai es tebal di bawah kaki Arsen dan Arunika palsu mendadak berderit keras, memperlihatkan sebuah rekahan raksasa baru yang memancarkan pendar cahaya ungu neon dari arah kompleks laboratorium tersembunyi lapis keempat yang berada jauh di bawah palung es Murmansk.
Dan dari balik celah rekahan es yang mulai jeblos terbuka secara mekanik tersebut, sesosok wanita muda dengan gaun mantel sutra hitam yang sepenuhnya bersih tanpa noda abu—**Aurora Valentino**, sang Wadah Murni Ketiga yang seharusnya tersegel di dalam ruang inkubator pusat lantai atas—mendadak melangkah keluar menembus kabut es dengan memegang sebuah koper hitam kedua yang identik, dikelilingi oleh belasan anjing pelacak jenis Siberian Husky bermata merah mekanik yang siap menerkam.
Aurora menatap Arunika palsu dan Arsen dengan sepasang mata porselennya yang berkilat pendar amber murni yang jauh lebih pekat, lalu membisikkan sebuah kalimat pendek melalui pengeras suara nirkabel frekuensi rendahnya tepat sebelum lantai es tempat mereka berdiri runtuh sepenuhnya ke bawah.
> **“Kalian mengira Haryo Valentino adalah pemilik tunggal dari cetak biru dinasti ini, Arsen? Pria tua yang kalian bawa itu hanyalah klonasi bayangan generasi kedua yang sengaja ditumbalkan oleh Haryo yang asli... yang saat ini sedang menanti kedatangan kita di markas pusat Genesis Konsorsium di Swiss dengan memegang wajah lamaku.”**
_____________________________
**Bersambung ke Bab 35...**
* Apakah runtuhnya lantai es palung Murmansk akan membawa Arsen dan Arunika palsu masuk ke dalam labirin lapis keempat yang dikendalikan langsung oleh Aurora Valentino?
* Siapakah sebenarnya Haryo Valentino yang asli jika pria tua yang sekarat di atas es tersebut hanyalah produk klonasi generasi kedua yang memiliki wajah baru hasil rekonstruksi radikal?
* Dan rahasia biokimia gila apa lagi yang tersimpan di dalam koper hitam kedua milik Aurora yang sanggup membalikkan seluruh peta otoritas dunia hitam internasional di bab berikutnya?
Jangan lewatkan badai intrik politik dan letupan konflik luar biasa yang kian memuncak di bab berikutnya!