NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Satu Ranjang

Malam sudah semakin larut.

Lampu kamar hanya menyala redup dari sisi meja kecil di dekat ranjang. Cahaya kuningnya jatuh lembut di dinding, membuat bayangan di kamar itu tampak tenang. Di luar, angin malam bergerak pelan, menggoyangkan dedaunan di taman bunga samping rumah.

Jenna sudah berbaring di sisi kanan ranjang.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal di rumah baru, wajahnya tidak lagi tertutup cadar. Hanya khimar tidurnya yang masih menutupi rambut dan tubuhnya dengan rapi. Wajah lembutnya tampak damai, meski matanya masih sesekali terbuka karena belum benar-benar terlelap.

Di sudut kamar, Shaka berbaring di sofa.

Atau lebih tepatnya, berusaha tidur.

Tubuh tingginya terlalu tidak cocok untuk sofa itu. Kakinya harus sedikit ditekuk. Bahunya tidak bisa benar-benar rileks. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, punggungnya terasa pegal. Ia mengubah posisi ke kanan, lalu ke kiri, lalu telentang, kemudian kembali miring.

Sofa itu terlalu sempit.

Shaka menghela napas pelan.

Ia mencoba tidak membuat suara, tetapi gerakannya tetap terdengar di kamar yang hening.

Di ranjang, Jenna terusik.

Matanya terbuka perlahan. Ia menoleh ke arah sofa dan melihat Shaka kembali mengubah posisi tidur untuk kesekian kalinya. Wajah laki-laki itu tampak datar seperti biasa, tetapi jelas sekali ia tidak nyaman.

“Mas Shaka?”

Shaka berhenti bergerak.

Ia menoleh ke arah ranjang.

“Kamu belum tidur?”

“Jenna sempat tidur. Tapi Mas dari tadi bergerak terus.” Jenna bangun sedikit, bersandar pada kepala ranjang. “Kenapa, Mas?”

Shaka diam sebentar.

Gengsinya hampir membuat ia menjawab tidak apa-apa. Namun tubuhnya sudah terlalu pegal untuk berpura-pura.

“Sofanya terlalu sempit,” jawabnya akhirnya. “Susah buat tidur.”

Jenna menatap sofa itu.

Memang benar. Sofa di kamar mereka tidak kecil, tetapi tetap saja tidak cukup nyaman untuk dijadikan tempat tidur seorang laki-laki setinggi Shaka. Sudah dua malam Shaka tidur di sana. Jenna baru benar-benar menyadari betapa tidak nyamannya posisi itu saat melihatnya bolak-balik seperti sekarang.

Rasa kasihan perlahan muncul di hati Jenna.

Ia masih terluka.

Masih belum sepenuhnya nyaman.

Namun ia tidak tega melihat Shaka terus memaksakan diri seperti itu.

Jenna menunduk sebentar, menggenggam ujung selimut.

“Mas…”

“Hm?”

“Tidur di ranjang saja.”

Shaka langsung terdiam.

Ia menatap Jenna, memastikan ia tidak salah dengar.

“Apa?”

Jenna merasakan wajahnya menghangat, tetapi ia tetap berusaha bicara tenang.

“Maksud Jenna, Mas bisa tidur di ranjang. Sofanya memang tidak nyaman.”

Shaka duduk perlahan di sofa.

“Kamu yakin?”

Jenna mengangguk pelan, meski jantungnya mulai berdebar lebih cepat.

“Iya. Ranjangnya cukup besar.”

Shaka masih terlihat ragu.

Bukan karena ia tidak ingin. Justru karena ia terlalu sadar bahwa jarak di antara mereka baru saja mulai melunak. Ia tidak ingin membuat Jenna merasa terpaksa. Ia tidak ingin satu langkah kecil yang sudah Jenna berikan berubah menjadi ketakutan baru.

“Jenna,” ucap Shaka rendah, “kalau kamu tidak nyaman, saya tetap bisa tidur di sini.”

Jenna menatapnya.

Ada sesuatu dalam nada Shaka yang berbeda. Kali ini, ia tidak terdengar memerintah. Ia benar-benar memberi ruang untuk Jenna memilih.

Dan itu membuat Jenna sedikit lebih tenang.

“Tidak apa-apa, Mas. Tapi…” Jenna berhenti sebentar, lalu menunduk malu. “Mas tetap menjaga batas, ya.”

Shaka menatapnya cukup lama.

Lalu ia mengangguk.

“Saya janji.”

Janji itu diucapkan pelan, tetapi cukup tegas.

Jenna menggeser tubuhnya sedikit ke sisi kanan ranjang, memberi ruang di sisi kiri. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika Shaka berdiri dari sofa, mengambil bantalnya, lalu berjalan mendekat ke ranjang.

Kamar itu tiba-tiba terasa jauh lebih sempit.

Shaka berbaring di sisi kiri, menjaga jarak sebisa mungkin. Punggungnya menghadap langit-langit, kedua tangannya terlipat di atas perut. Ia tampak kaku, seolah takut bergerak sedikit saja akan membuat Jenna tidak nyaman.

Jenna juga tidak kalah kaku.

Ia berbaring membelakangi Shaka pada awalnya, menarik selimut sampai dada. Napasnya terasa tidak sepenuhnya teratur. Ini pertama kalinya mereka benar-benar tidur di ranjang yang sama.

Bukan hanya berada di kamar yang sama.

Bukan Shaka di sofa dan Jenna di ranjang.

Melainkan benar-benar satu ranjang.

Keheningan turun di antara mereka.

Namun keheningan malam itu berbeda.

Tidak dingin seperti malam-malam sebelumnya.

Lebih seperti canggung yang dipenuhi debar diam-diam.

Shaka menatap langit-langit kamar, mencoba mengatur napasnya. Ia bisa mencium samar aroma lembut dari tubuh Jenna. Wangi bersih bercampur sedikit aroma bunga yang sejak awal selalu melekat padanya.

Di sisi lain, Jenna memejamkan mata, tetapi ia terlalu sadar bahwa Shaka berada tidak jauh darinya. Ia bisa merasakan keberadaan laki-laki itu. Tenang, besar, dan asing, tetapi tidak lagi terasa mengancam seperti jarak pertama yang mereka bangun.

Beberapa menit berlalu.

“Mas Shaka?” panggil Jenna pelan.

“Iya?”

“Terima kasih karena tidak memaksa Jenna.”

Shaka menoleh sedikit.

Jenna masih membelakanginya.

Kalimat itu membuat dadanya terasa berat.

Seharusnya hal seperti itu tidak perlu Jenna ucapkan. Seharusnya rasa aman memang menjadi sesuatu yang ia berikan sejak awal, bukan sesuatu yang membuat Jenna merasa perlu berterima kasih.

“Saya yang seharusnya minta maaf,” ucap Shaka rendah.

Jenna membuka mata.

Namun ia tidak menoleh.

“Untuk apa?”

Shaka terdiam sebentar.

Untuk banyak hal.

Untuk kata-kata setelah akad.

Untuk batas yang terlalu dingin.

Untuk membuat Jenna merasa sendirian di hari pertama pernikahan mereka.

Namun semua itu terasa terlalu sulit ia ucapkan sekaligus.

Akhirnya Shaka berkata, “Untuk membuat kamu merasa harus takut berada dekat dengan saya.”

Jenna diam.

Lama.

Jantung Shaka berdetak sedikit lebih cepat menunggu jawaban.

Kemudian Jenna menjawab lirih, “Jenna masih belajar, Mas.”

“Belajar apa?”

“Belajar percaya.”

Shaka menatap punggung Jenna yang tertutup selimut.

Kalimat itu sederhana, tetapi menusuk tepat di bagian hatinya yang paling diam.

“Saya juga,” ucap Shaka pelan. “Saya juga masih belajar.”

Setelah itu, mereka kembali diam.

Namun kali ini, diam itu tidak terasa menyakitkan.

Perlahan, tubuh Jenna mulai rileks. Lelah seharian membuat matanya berat. Ia memiringkan tubuh tanpa sadar, berbalik menghadap Shaka. Wajahnya kini terlihat jelas dalam cahaya remang lampu tidur.

Tidak lama kemudian, Jenna tertidur pulas.

Napasnya pelan dan teratur.

Shaka masih terjaga.

Awalnya ia mencoba memejamkan mata. Tetapi ketika ia menoleh, ia melihat wajah Jenna yang begitu dekat dengannya.

Dan Shaka lupa caranya tidur.

Ia menatap Jenna lama.

Terlalu lama.

Wajah itu benar-benar sama seperti yang ia lihat samar-samar di sepertiga malam kemarin. Kulitnya putih halus. Alisnya lembut. Bulu matanya lentik, jatuh tenang di bawah kelopak mata. Hidungnya kecil dan anggun. Bibirnya merah alami, tertutup diam dalam tidurnya.

Shaka merasa tenggorokannya kering.

Ia pernah melihat banyak perempuan cantik.

Di dunia bisnis, di acara keluarga, di pertemuan sosial, bahkan di lingkungan elite yang selalu penuh orang-orang berpenampilan sempurna. Tetapi kecantikan Jenna terasa berbeda.

Tidak ramai.

Tidak berusaha menarik perhatian.

Justru karena itu, ia lebih berbahaya bagi ketenangan Shaka.

Cantik yang lembut.

Cantik yang diam-diam membuat seseorang ingin menjaga.

Shaka menelan ludah pelan.

Matanya tanpa sadar berhenti pada bibir Jenna.

Merah lembut.

Tenang.

Menggoda dengan cara yang sama sekali tidak Jenna sengaja.

Pikiran Shaka menjadi kacau sesaat.

Ia pasti sudah dibuat gila oleh kecantikan istrinya sendiri.

Tangannya bergerak sedikit di atas selimut, seolah ingin menyentuh. Namun sebelum benar-benar melakukannya, Shaka berhenti.

Janji.

Ia baru saja berjanji akan menjaga batas.

Jenna tertidur pulas. Ia mempercayainya cukup jauh untuk membiarkannya tidur di ranjang yang sama malam ini. Kepercayaan itu masih rapuh. Sangat rapuh. Dan Shaka tidak ingin menghancurkannya hanya karena ia tidak mampu mengendalikan dirinya.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Namun wajah Jenna tetap terlalu dekat.

Terlalu indah.

Terlalu membuat dadanya sesak.

Shaka menunduk perlahan, begitu pelan seolah takut membangunkan udara. Jarak mereka semakin dekat. Matanya masih tertuju pada wajah Jenna.

Untuk satu detik, ia hampir benar-benar mencium bibir itu.

Namun tepat sebelum bibirnya menyentuh bibir Jenna, Shaka memejamkan mata dan menahan diri.

Ia mengubah arah.

Kecupan yang sangat ringan jatuh di kening Jenna.

Pelan.

Nyaris tidak terasa.

Lebih seperti doa yang tidak berani ia ucapkan keras-keras.

Jenna tidak terbangun. Ia hanya bergerak sedikit dalam tidurnya, lalu kembali tenang.

Shaka menjauh perlahan.

Dadanya berdebar keras.

Ia menatap Jenna dengan perasaan campur aduk. Kagum. Tertarik. Bersalah. Takut. Dan sesuatu yang jauh lebih lembut dari semua itu.

Ia ingin mencintai perempuan ini dengan benar.

Bukan dengan mengambil apa yang belum siap Jenna beri.

Bukan dengan memanfaatkan status suami untuk membuatnya patuh.

Tetapi dengan membuat Jenna merasa aman berada di dekatnya.

Shaka menatap wajah Jenna sekali lagi.

“Cantik sekali,” bisiknya sangat pelan.

Suara itu tenggelam dalam malam.

Jenna tetap tertidur.

Shaka mengusap wajahnya pelan, berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Setelah itu, ia memiringkan tubuh sedikit menjauh, memberi ruang lebih banyak untuk Jenna.

Untuk pertama kalinya, sofa sempit itu tidak lagi menjadi penghalang.

Mereka berada di ranjang yang sama.

Jarak mereka masih ada, tetapi tidak setinggi sebelumnya.

Dan malam itu, Shaka menyadari sesuatu yang membuatnya hampir takut pada dirinya sendiri.

Jenna bukan hanya membuatnya penasaran.

Bukan hanya membuatnya kagum.

Perempuan itu mulai menguasai pikirannya dengan cara yang tidak pernah ia rencanakan.

Ia datang perlahan, tanpa memaksa.

Melalui doa di sepertiga malam.

Melalui semangkuk sop iga.

Melalui secangkir kopi pahit.

Melalui keberanian kecil membuka cadar di hadapannya.

Dan kini, melalui tidur tenang di sampingnya yang membuat Shaka sadar bahwa hatinya yang beku mulai retak.

Pelan-pelan.

Tanpa suara.

Namun nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!