Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oma Sesil
"Totalnya seratus..."
"Seratus ribu kan, Kak? Gampang, Callie punya banyak." seru Callie tiba-tiba memotong ucapan seorang kasir yang hendak mengatakan total harga barang.
Bahkan Callie langsung menyerahkan satu lembar uang seratus ribu kepada kasir itu. Kasir tersebut hanya bisa melongo tak percaya melihat uang yang diberikan padanya. Laptop atau CCTV satu buah saja sudah lebih dari seratus ribu, apalagi ini sampai beli banyak. Rose, Ben, dan Ricko yang berada di belakang Callie langsung pura-pura tak melihat juga mendengar. Apalagi hampir semua pengunjung di toko itu melihat ke arah mereka. Kasir tersebut merasa dipermainkan oleh Callie.
"Kenal nggak sama dia?" tanya Ben pada Rose.
"Enggak," Rose pun memilih sibuk dengan ponselnya dan tak mengakui Callie sebagai temannya. Tentu saja itu hanya candaan semata. Baginya, Callie bukan lagi teman atau kenalan melainkan saudara.
"Mohon maaf, Nona. Totalnya seratus juta dua ratus ribu. Bukan seratus ribu," ucap kasir itu dengan sopan. Walaupun dia sedikit kesal juga harga laptop mahal dianggapnya berharga seratus ratus ribu, tapi kasir itu harus melayani Callie dengan sopan.
"Oh... Callie kira harganya seratus ribu," Callie hanya cengengesan saja mendengar ucapan kasir itu. Callie pun mengeluarkan kartu hitamnya untuk membayar semua barangnya. Para pengunjung dan penjaga toko yang tadi sedikit meremehkan Callie pun begitu tercengang.
Anak sekecil itu punya kartu hitam,
Anak orang kaya itu sepertinya,
"Callie punya duit ya. Tadi cuma bercanda aja kali," ucapnya menyindir semua orang di sana.
"Kasihan itu kasirnya, stress menghadapi pembeli kaya kamu." ucap Ricko dengan pelan.
"Maaf ya, Kak. Tadi bercanda," Callie yang biasanya ceplas-ceplos, mau untuk minta maaf jika memang bersalah.
Pasalnya Callie melihat kasir tersebut seakan tertekan menghadapinya. Jika keluarganya yang tertekan menghadapinya, dia tidak peduli. Namun ini oranglain yang mungkin jantungnya akan copot karena tadi dia sudah membuka segel barang dan melakukan uji coba. Namun malah hanya akan dibayar seratus ribu saja. Kasir itu menganggukkan kepala sambil tersenyum. Diam-diam, kasir itu menghela nafasnya lega karena Callie jadi membeli barang tersebut. Jika tidak, pasti akan ada drama lebih lanjut.
"Nih... Bawa barangnya," Callie langsung menyuruh Ricko untuk membawakan barangnya.
"Astaga... Bodyguard nih aku," gumam Ricko saat melihat beberapa tas dan paper bag berisi laptop juga CCTV. Namun Ricko langsung meminta Ben dan Rose yang membawa.
"Enak banget itu orang. Bisa-bisanya dia disuruh Callie tapi malah kita yang bawa," gerutu Ben saat melihat Ricko asyik melenggang di samping Callie.
"Nasib... Mau beli juga nggak mampu," ucap Rose sambil menggelengkan kepalanya. Laptop saja Rose dibelikan oleh keluarga Callie. Jika tidak, mungkin dia belum mampu beli laptop canggih.
"Kalau nanti sama aku, pasti kamu mampu beli apapun itu." ucap Ben tiba-tiba.
Dugh...
"Nggak mau sama Om-Om," seru Rose yang langsung berlari mendekati Callie setelah menendang kaki Ben.
"Callie, tolong ada Om-Om yang gombalin aku." teriaknya lagi membuat Callie memelototkan matanya.
"Siapa Om-Omnya, Rose?" seru Callie yang langsung membalikkan badannya.
Rose menunjuk ke arah Ben membuat Callie langsung berkacak pinggang. Bisa-bisanya Ben menggombali Rose yang notabene sangat polos dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan cowok. Ricko yang melihat akan ada perang dunia pun langsung menarik tangan Callie. Jangan sampai Callie berteriak di dalam mall yang membuat perhatian semua orang mengarah pada mereka.
"Ben itu cuma bercanda. Maklum aja sih belum pernah dekat sama cewek. Pasti dia tadi lagi cari topik pembicaraan," ucap Ricko mencoba menenangkan Callie.
"Bercandanya enggak banget ya. Jadi bikin takut Rose," ucap Callie dengan tatapan sinisnya.
"Lagi..."
Copet... Copet...
Ada copet tolong...
Dugh...
Brugh...
Argh...
Mendengar ada seorang wanita paruh baya berteriak meminta tolong karena ada copet, Callie pun dengan sigap menolong. Apalagi pencopet yang tengah dikejar satpam dan wanita paruh baya itu melintas di depannya. Callie menendang kakinya hingga pencopet itu jatuh. Bahkan Callie langsung menginjak punggung pencopet itu dan melompat-lompat seperti anak kecil.
"Rasain nih badan kurus Callie," seru Callie sambil melompat kecil.
"Kaya ditimpa gajah," seru pencopet itu yang merasa kesakitan. Apalagi sekarang dia dikerumuni oleh orang banyak. Jika tidak bonyok, mungkin dia akan langsung dibawa ke kantor polisi.
"Turun," Ricko membantu Callie turun dari badan pencopet itu karena sudah ada satpam dan pengunjung lainnya yang akan mengamankan.
"Terimakasih, Nona." ucap satpam itu kemudian membawa pencopet tersebut.
Huuuu...
Ricko...
Ben...
Oma Sesil...
Tak disangka oleh Ricko dan Ben, mereka bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang dipanggil Oma Sesil atau Sesilia Arum Ganis. Beliau adalah istri dari Tuan Brixy atau Oma dari Ricko. Saat ini Ricko dan Ben tampak kebingungan harus apa. Ternyata yang mengalami kejadian pencopetan itu adalah Oma Sesil. Callie dan Rose tampak bingung dengan interaksi mereka. Apalagi keduanya tidak mengenal wanita paruh baya itu.
"Jadi kamu ke negara ini, ha? Kenapa telfon Oma nggak dijawab?" seru Oma Sesil yang langsung mengomeli Ricko. Bahkan Oma Sesil menarik telinga Ricko dan Ben sambil berjinjit karena tinggi dari dua laki-laki itu.
Ampun, Oma.
"Kami ada pekerjaan di sini, Oma." ucap Ben memberikan alasan dengan raut wajah datarnya. Walaupun telinganya terasa panas dan nyeri juga ditarik oleh Oma Sesil.
"Walaupun ada pekerjaan kan tetap bisa angkat telfon Oma," seru Oma Sesil semakin menarik kencang telinga dari keduanya.
"Ayo jewer itu telinganya sampai lebar, Oma. Jangan kasih kendor," seru Callie berjingkrak bahagia seperti mendapatkan sebuah mainan.
Eh...
Oma Sesil langsung tersadar setelah mendengar seruan bahagia dari seorang perempuan. Tanpa disadari, interaksi semua orang di sana menjadi pusat perhatian pengunjung mall. Bahkan seorang satpam yang masih tinggal di sana pun sampai bingung ingin mengonfirmasi kejadian pencopetan tadi. Dia memilih diam sambil menunggu drama keluarga ini berakhir.
"Boneka..." seru Oma Sesil saat melihat Callie. Pipi bulat dan mata belo dengan kulit putihnya itu membuat Callie mirip seperti boneka. Tarikan pada telinga Ricko dan Ben seketika terlepas saat Oma Sesil mendekati Callie.
"Ini pipi atau apa? Kok kenyal banget kaya squishy," serunya lagi sambil memainkan pipi Callie sampai memerah. Padahal Callie sudah memelototkan matanya agar Oma Sesil takut.
Huaaaa...
"Tuan Rickodok ini Omanya tolong," seru Callie langsung berteriak meminta tolong pada Ricko. Tanpa dijelaskan pun Callie tahu kalau Oma Sesil adalah keluarga dari Ricko, apalagi tadi saat mendengar percakapan mereka. Callie bisa saja menepis tangan Oma Sesil, tapi tidak tega.
Aduh...
Drama macam apa ini, Tuhan?
Hahaha...
Selamat datang di hidup anda yang baru, Tuan Ricko.