Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
Jarum jam terus berdetak tanpa henti, dan kini jarum pendeknya telah bergeser melewati pukul tiga dini hari. Keheningan memenuhi setiap sudut apartemen, hanya suara dengungan pendingin ruangan dan napas pelan Amara yang terlelap menjadi teman malam yang kian larut.
Namun di tengah sunyi itu, Abimanyu masih setia terjaga. Seusai memindahkan Amara tadi kemudian menghabiskan wedang jahe yang dibuatkan istri bocahnya, Abimanyu tak kunjung bisa memejamkan mata. Ia menopangkan tangannya di dahi, menatap langit-langit kamar tanpa berkedip seolah berharap lelah dapat memaksanya terlelap.
Tubuhnya terasa letih, bahkan demam yang belum sepenuhnya reda membuat setiap persendian terasa berat. Akan tetapi, rasa kantuk seakan enggan menghampiri. Selain suhu tubuhnya yang belum normal, ia juga tak leluasa menggerakkan badan. Ada kegelisahan yang terus mengusik, membuat pikirannya tetap terjaga meski malam hampir menyerahkan dirinya kepada fajar.
Sesekali ia mengembuskan napas panjang, memejamkan mata hanya untuk kembali membukanya beberapa detik kemudian. Waktu terus berjalan tanpa belas kasihan, sementara dirinya masih terjebak dalam pergulatan batin yang tak mampu ia jelaskan.
Semakin ia memaksa diri untuk tidur, semakin sadar bahwa malam ini bukan tubuhnya yang menolak beristirahat, melainkan hatinya yang belum menemukan ketenangan. Pelukan erat Amara membuat tubuhnya tak karuan, terlebih saat merasakan beberapa bagian tubuh gadis itu yang menonjol, seolah kian menghimpitnya.
Bahkan bagian sisi perut dan sebelah paha-nya tertin-dih pa-ha Amara.
Shit...
Umpat Abimanyu dalam hati, ia meringis merasakan kepalanya yang semakin berdenyut. Bahkan tak hanya itu, bagian lain dalam tubuhnya pun ikut berdenyut membuat seluruh aliran darahnya terasa seperti mendidih.
Tak ingin terus menerus tersiksa sendirian, Abimanyu akhirnya menyentuh tangan Amara yang berada di atas dadanya, kemudian menggesernya perlahan. Namun belum juga tangan itu ia letakkan di atas kasur, Amara bergerak.
"Engh..." Amara menggeliat, namun bukannya menjauh melainkan makin merapat. Ia sedikit menarik tubuh Abimanyu seperti anak kecil tengah menarik guling yang hampir lepas dari pelukannya.
Tak sampai di situ, Amara menyusupkan wajahnya ke dada samping Abimanyu seperti bayi yang tengah mencari kehangatan pada ibunya.
"Argh.... Mara, bangun!" E-rang Abimanyu frustasi saat hidung mancung Amara menyentuh ketiaknya bahkan sekujur tubuhnya merinding tak karuan.
Napas Abimanyu semakin tak beraturan, ia memutar leher ke samping sedikit menunduk. Menatap wajah Amara yang terlihat tenang dalam lelapnya, ia menarik napas kemudian memejamkan matanya sesaat.
Abi, dia istrimu. Tubuhnya... Semua milikmu.
Batin Abimanyu terus bergejolak, antara ego dan nurani. Amara memang istrinya, baik secara agama maupun secara negara. Namun ia tak ingin membuat Amara tidak nyaman dan tersakiti, bahkan dirinya tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Apakah hanya sekedar naf-su atau benar-benar sudah memiliki rasa pada istrinya.
"Arrgghh!" Abimanyu kembali menge-rang, kali ini lebih keras bersamaan dengan mata Amara yang mengerjap. Namun belum juga kesadaran gadis itu benar-benar terkumpul, Abimanyu telah lebih dulu membalikkan badan.
Pria itu mengung-kungnya. "Maafkan aku Mara." Ucap Abimanyu serak, napasnya panas menyapu leher Amara yang membeku. Namun tak lama kemudian kedua mata gadis itu membola, ia menggigit bibir bawahnya saat merasakan sensasi aneh yang berawal dari rasa geli di lehernya yang diciptakan Abimanyu.
"O-om..." Panggil Amara lirih, suaranya bergetar menahan napas yang tiba-tiba menderu. "Ba-dan om mas-sih pan-nas." Ucapnya terbata. Namun Abimanyu menulikan telinga, pria itu bak singa yang kelaparan setelah berjam-jam memburu mangsanya. Ia terus mengeksplor bagian atas tubuh Amara dengan indera pengecapnya tanpa ada yang terlewat.
Amara yang mendapat perlakuan seperti itu hanya diam meski sekujur tubuhnya meremang, usianya memang baru delapan belas tahun namun ia paham betul apa yang diinginkan Abimanyu. Bahkan karena sentuhan pria itu, tubuhnya pun ikut bereaksi.
Ada rasa takut, namun rasa penasarannya lebih besar. Terlebih saat ini, sentu-han demi sentu-han Abimanyu membuatnya seperti melayang bahkan menginginkan hal yang lebih dari itu.
"Om... Ba-dan om pan-nas, nan-ti ma-kin parah!" Racau Amara kembali bersuara. Ia berusaha mengingatkan kondisi tubuh sang suami. Namun anehnya, saat bibirnya meracau meminta berhenti tangannya malah menarik leher Abimanyu supaya kembali tenggelam di dadanya.
"Jangan menyesal, karena kamu juga menginginkannya." Bisik Abimanyu dalam dan serak. Pria itu perlahan menyingkirkan satu persatu kain yang membungkus tubuhnya dan Amara hingga benar-benar bersih tanpa penghalang.
Tak sampai disitu, tangan Abimanyu bergerak lembut menyentuh tangan Amara kemudian membawanya untuk menyentuh pusakanya yang sudah siap tempur. "Pegang!" Ucapnya pelan namun penuh keharusan.
Mata Amara yang sayu seketika membola saat tangannya menyentuh pusaka Abimanyu. "Om, ini!" Ucapnya kaget, tak menyangka sesuatu yang bahkan belum pernah terbayangkan sebelumnya ternyata memiliki ukuran di luar dugaannya. "I-ini, kok be-gini?"
Abimanyu memejamkan mata sesaat merasakan lembutnya telapak tangan Amara, kemudian pria itu menundukkan kepala dan berbisik si samping telinga istrinya. "Bantu dia, tunjukkan jalannya." Bisiknya kian parau.
"Ja-jalan? Jalan kemana?"
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
siapaaaa ini dateng sekeluarga.
ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️