NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3. Tuduhan Yang Sama Kejamnya

Klek.

Suara kunci cadangan yang diputar oleh Nyonya Sarah dari luar membuat jantung Nadia serasa copot. Dengan sisa-sisa tenaga dan air mata yang terus mengalir, Nadia menyambar pakaian lusuhnya yang robek. Tanpa memperdulikan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, ia membuka pintu kaca balkon kamar Axel, lalu menyelinap keluar tepat saat pintu utama kamar itu terbuka lebar.

Nadia melompati pembatas balkon lantai dua yang untungnya terhubung dengan tangga besi darurat menuju area cuci belakang. Namun, malang tak dapat ditolak. Saat kakinya yang gemetar menapak anak tangga terakhir, keseimbangannya goyah.

Krak!

"Ahg..." Nadia memekik tertahan, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar suaranya tidak lolos. Pergelangan kaki kanannya tertekuk parah. Rasa nyeri yang luar biasa menjalar seketika. Kakinya keseleo.

Dengan kondisi fisik yang hancur, pakaian berantakan yang ditutupi jaket seadanya, serta kaki yang cedera, Nadia terpaksa berjalan dengan terseok-seok, menyeret langkahnya menuju kamarnya sendiri di dekat area belakang. Langkahnya pincang, menyisakan rasa perih di setiap seretan kakinya. Kondisi psikisnya jauh lebih mengenaskan. Ia merasa kotor, terhina, dan jiwanya seolah direnggut paksa dari tubuhnya.

Namun, di rumah sebesar itu, Nadia tidak sendirian. Keluarga Pramoedya memiliki asisten rumah tangga lain, yaitu Bi Sumi, yang tugasnya berfokus di area dapur dan sumur belakang.

Pagi itu, Bi Sumi sudah terbangun untuk menjerang air. Pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang aneh dan berat di koridor belakang.

"Nadia...?" panggil Bi Sumi, muncul dari balik sekat dapur dengan daster batiknya.

Nadia langsung mematung, mencoba menyembunyikan sisi tubuhnya yang kotor dan kakinya yang pincang di balik bayangan pintu. "I-iya, Bi..." jawab Nadia, suaranya parau dan bergetar hebat.

Bi Sumi mengernyitkan dahi, melangkah mendekat karena melihat gelagat Nadia yang sangat mencurigakan. "Kamu kenapa jalannya menyeret begitu? Ya Tuhan... wajahmu pucat sekali, Nad! Kamu sakit? Terus itu... kenapa jaketmu dikancing sampai atas begitu, gerah loh ini."

Nadia semakin panik, ia meremas ujung jaketnya untuk menutupi kerah kemejanya yang robek di dalam. "Eng-enggak apa-apa, Bi. Tadi... Nadia kepleset di tangga waktu mau ambil jemuran yang tertinggal semalam. Kaki Nadia keseleo, agak susah jalan," bohong Nadia, matanya bergerak gelisah, tidak berani menatap mata Bi Sumi.

Bi Sumi menatap Nadia dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menyelidik. Sebagai wanita yang lebih tua, dia merasa ada yang tidak beres dengan tatapan mata Nadia yang kosong dan ketakutan, seolah baru saja melihat hantu.

"Beneran cuma kepleset? Tapi kok sampai gemetaran begitu tubuhmu? Nad, kamu nggak apa-apa, toh?" tanya Bi Sumi lagi, melangkah satu kali lagi ke depan, berniat menyentuh dahi Nadia.

"Nadia beneran nggak apa-apa, Bi! Nadia... Nadia mau ke kamar mandi dulu, mau kompres kaki," potong Nadia setengah histeris karena takut rahasianya terbongkar, lalu dengan cepat ia memaksa kakinya yang pincang dan tersorot nyeri untuk melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Bi Sumi yang berdiri termangu di koridor dengan sejuta rasa curiga.

Bi Sumi menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil berjalan kembali ke dapur, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di atas lantai ubin yang tadi dilewati Nadia. Ada noda setitik darah kering yang terjatuh dari robekan kain, serta kancing kemeja kecil berwarna putih yang tergeletak di dekat tangga darurat.

Bi Sumi memungut kancing itu, dahinya berkerut dalam. ‘Ini... bukan kancing baju Nadia. Ini seperti kancing kemeja mahal…’

**

Sementara itu, di lantai dua, pintu kamar tidur Axel akhirnya terbuka sempurna. Nyonya Sarah melangkah masuk dengan anggun, namun ekspresi wajahnya langsung berubah drastis begitu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Kamar yang biasanya rapi itu kini bak kapal pecah. Kacamata Axel tergeletak di lantai marmer, dasinya tercampak di dekat sofa, dan aroma alkohol serta parfum maskulin yang pekat masih tertinggal di udara, menyesakkan dada.

"Astaga, Axel! Kenapa kamarmu berantakan sekali seperti gudang?" omel Nyonya Sarah sambil berkacak pinggang. Matanya yang tajam menatap sang putra tunggal yang kini berdiri membelakanginya di dekat balkon, masih mengenakan jubah mandi dengan sisa-sisa wajah pening.

Axel memijat pelipisnya, berusaha bersikap setenang mungkin meski jantungnya berdegup kencang. "Aku mabuk semalam, Ma. Pusing. Jangan mengomel dulu pagi-pagi begini," sahut Axel dingin, mencoba mengalihkan perhatian ibunya agar tidak melangkah lebih jauh ke dalam kamar.

Namun, naluri seorang Nyonya Sarah yang perfeksionis tidak bisa dibendung. Langkah kakinya justru mendekat ke arah ranjang king-size, berniat untuk merapikan selimut yang bergulung tidak beraturan.

"Kamu ini sudah besar, Axel! Sebentar lagi mau pegang perusahaan Papa, jangan keseringan mabuk-mabukan…."

Kalimat Nyonya Sarah terputus di udara. Tangan kanannya yang baru saja hendak menarik selimut tiba-tiba membeku. Matanya membelalak sempurna, menatap sprei putih sutra yang kini tampak kusut masai. Di atas kain putih bersih itu, terdapat sebuah noda merah muda yang sudah mengering.

Noda darah.

Bukan hanya itu, pandangan Nyonya Sarah yang jeli menangkap sepotong robekan kain katun murahan berwarna biru pudar yang terselip di bawah bantal. Jenis kain yang sangat ia kenali karena ia sendiri yang membelikan lusinan pakaian murah itu untuk... Nadia.

Napas Nyonya Sarah tercekat. Wajahnya yang dilapisi riasan tebal seketika menegang, dipenuhi rasa terkejut sekaligus murka yang luar biasa.

"Axel..." Suara Nyonya Sarah mendadak merendah, namun sarat akan intimidasi yang mematikan. Ia berbalik, menatap putranya dengan pandangan menghunus. "Noda apa ini di atas sepreimu? Dan... kain siapa ini?!"

Axel menoleh, dan sedetik kemudian wajahnya memucat melihat potongan kain kemeja Nadia yang tertinggal di atas ranjangnya. Sial, dia melewatkan detail itu karena panik menyuruh Nadia kabur tadi.

"Itu... bukan apa-apa, Ma. Mungkin aku terluka semalam saat mabuk, aku tidak ingat," bohong Axel, suaranya terdengar agak gugup walau ia mencoba mempertahankan rahang tegasnya.

"Jangan bohongi Mama, Axel!" bentak Nyonya Sarah, amarahnya meledak. Ia melempar potongan kain itu ke dada Axel. "Mama tahu ini kain baju siapa! Ini kain baju si anak pungut sialan itu, kan? Nadia semalam masuk ke kamarmu?"

Pikiran Nyonya Sarah langsung berputar cepat. Sebagai wanita yang licik, ia tidak memikirkan bahwa putranyalah yang bersalah. Otaknya langsung menyimpulkan skenario terburuk, Nadia, gadis miskin yang menumpang di rumahnya, telah sengaja merayu Axel yang sedang mabuk demi menaikkan derajat sosialnya.

"Gadis tidak tahu diri..." desis Nyonya Sarah, kedua tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. "Dia sengaja menjebakmu, Axel! Dia ingin menjadi nyonya di rumah ini dengan cara menjijikkan seperti ini!"

"Ma, sudah, jangan dibahas…."

"Tidak bisa!" potong Nyonya Sarah dengan mata menyalang merah karena murka. "Mama tidak akan membiarkan anak pungut itu merusak masa depanmu dan rencana pernikahan besar kita! Berani-beraninya dia menaruh noda di keluarga Pramoedya!"

Tanpa memedulikan Axel lagi, Nyonya Sarah berbalik dengan langkah menghentak kasar. Ia berjalan cepat keluar kamar, menuruni anak tangga dengan urat-urat leher yang menegang. Tujuannya hanya satu, paviliun belakang, tempat kamar Nadia berada. Dia akan memberi pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan oleh anak pembantu yang dituduhnya sebagai wanita penggoda itu.

**

Sebelum badai murka Nyonya Sarah menghantam paviliun belakang, mari kita mundurkan waktu sejenak. Siapa sebenarnya Nadia? Mengapa dia bisa berada di rumah megah keluarga Pramoedya dengan status yang begitu mengambang?

Nadia bukanlah anak yang diadopsi dengan penuh kasih sayang. Statusnya di rumah itu lebih tepat disebut sebagai utang budi yang mengikat leher.

Dua belas tahun yang lalu, ibu kandung Nadia adalah seorang janda miskin yang bekerja sebagai asisten rumah tangga setia di rumah keluarga Pramoedya. Saat itu, Nadia masih kecil, seorang anak perempuan kurus yang sering duduk di sudut dapur sambil memandangi Axel kecil yang hidup bergelimang kemewahan.

Nyonya Sarah sejak dulu memperlakukan ibunya Nadia dengan keras, namun beliau tetap bertahan demi membiayai sekolah Nadia. Hingga sebuah tragedi besar terjadi.

Suatu malam, kebakaran hebat melanda area dapur dan paviliun belakang akibat kebocoran gas. Di tengah kobaran api yang membumbung tinggi, Ibu Rahma, ibunya Nadia melihat Axel kecil yang saat itu berusia sepuluh tahun terjebak di dalam ruang keluarga yang terkepung asap pekat. Tanpa memikirkan nyawanya sendiri, Ibu Rahma menerobos api, memeluk Axel, dan membawanya keluar hingga anak tunggal kaya raya itu selamat tanpa luka berarti.

Namun, harga yang harus dibayar terlalu mahal. Ibu Rahma menderita luka bakar yang teramat parah di sekujur tubuhnya. Di ambang sakaratul maut di rumah sakit, dengan sisa-sisa napas terakhirnya, Ibu Rahma menggenggam tangan Nyonya Sarah dan Tuan Pramoedya. Ia menangis, memohon satu hal, "Nyonya... Tuan... Saya mohon... Tolong jagalah Nadia... Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini... Tolong jangan telantarkan anak saya..."

Disaksikan oleh para dokter dan demi menjaga nama baik keluarga sebagai orang yang 'tahu balas budi', Tuan Pramoedya akhirnya menyanggupi permintaan itu. Nadia yang yatim piatu pun resmi dibawa ke rumah besar tersebut.

Namun, "dipungut" karena utang nyawa ternyata tidak membuat hidup Nadia seindah dongeng Cinderella.

Begitu Nadia menginjak usia remaja, Nyonya Sarah mulai menunjukkan sifat aslinya. Rasa bersalah dan utang budi itu lama-lama berubah menjadi rasa risih. Nyonya Sarah enggan menganggap Nadia sebagai anak angkat resmi di mata hukum atau memperkenalkannya ke kehidupan sosial sebagai bagian dari keluarga Pramoedya. Bagi Sarah, darah Nadia tetaplah darah seorang pembantu.

"Kami sudah berbaik hati memberikanmu atap untuk berteduh dan membiayai sekolahmu, Nadia. Jadi, sudah kewajibanmu untuk membalasnya dengan bekerja di rumah ini," Begitulah kalimat yang selalu ditanamkan Nyonya Sarah ke kepala Nadia sejak remaja.

Alhasil, Nadia tumbuh menjadi gadis yang serba salah. Di satu sisi, Tuan Pramoedya sesekali membiayai sebagian uang kuliahnya di kampus negeri karena mengingat jasa ibunya. Namun di sisi lain, di dalam rumah itu, Nadia diperlakukan tak lebih dari seorang pelayan tanpa gaji yang sah. Dia harus mencuci, menyapu, dan membersihkan rumah dari subuh hingga larut malam di sela-sela waktu kuliahnya yang padat.

Nadia bertahan hanya demi satu impian, lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan yang layak, mengumpulkan uang, dan keluar dari rumah neraka itu demi membebaskan harga dirinya yang selama bertahun-tahun telah diinjak-injak.

Namun kini, malam jahanam bersama Axel telah menghancurkan seluruh rencana masa depan yang ia bangun dengan susah payah.

**

Kembali ke masa kini...

Langkah kaki Nyonya Sarah yang menghentak kasar di atas lantai keramik koridor belakang seketika membuyarkan lamunan masa lalu. Wajah wanita paruh baya itu merah padam, memegang robekan kain biru milik Nadia dengan tangan yang gemetar karena murka.

Brak!

Pintu kamar Nadia didobrak kasar hingga membentur dinding.

Nadia, yang saat itu sedang duduk di tepi ranjangnya sambil mengompres pergelangan kakinya yang bengkak dan membiru, tersentak hebat. Ia membelalak ketakutan, refleks menarik selimut lusuhnya untuk menutupi tubuhnya yang gemetaran.

"Nadia!!! Dasar anak pelayan tidak tahu diuntung!" teriak Nyonya Sarah melengking, suaranya memenuhi seluruh sudut paviliun belakang.

***

1
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
orang kan cuma bisa menilai dari luar, mereka gak perlu tau kebenarannya,sudah nad jgn terlalu dipikirkan
Safitri Agus
jadi terharu kan nad,😊
Safitri Agus
gak apa-apa nad, jangan sungkan 😊
tati st🌼🌼
banyak yg tertipu dan berpikir buruk sama penampilan ubay,padahal dia baik
S.R ciplux
nadia. km jg jujur sama ubay kalo tadi km keceplosan. kasian ubay gk tau apa2
Anna Annawaliana
untung Nadia punya teman Keysha yang baik hati ,,biarin Nadira temanmu mau bilang apa tentang Ubay ,yang penting di kampus sudah aman nanti perutmu semakin beras ada mas Ubay ,
Afternoon Honey
ide ceritanya bagus ⭐
Afternoon Honey
the best Ubay ⭐💖👍
Enisensi klara
Ubay bertanggung jawab sama kamu Nadia ,jadi jgn sungkan ya 😇😇😇😇Ubay kasihan kamu sendirian 😇
Enisensi klara
Ikut aja Nadia dianterin mas ubay ke kampus sekalian sarapan bareng kasihan baby utunnya laper loh ,mas ubay mau jadi suami siaga 😍😍
Anna Annawaliana
mas Ubay lama" berubah cinta sama Nadia .
Enisensi klara
Makanya Ubay temanin Nadia dong saat ngidam kasihan dia sendirian😓
Enisensi klara
makasih up nya kk rie 😇
partini
dikit dikit lama" jadi something between two of them so sweet
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran/Heart/
Sriharyanti 80
Bagus banget ceritanya dan bikin penasaran
Rini Muharni
Makasih ya Mas Ubay, udah mau nurutin Drama Ngidam Tengah Malam Nadia.. 🤭
Safitri Agus
terimakasih mas Ubay 🙏🥰
Safitri Agus
wes kelamutan 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!